Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 13, Mental 3 bulan lalu hingga saat ini



Mereka semua pun beranjak masuk kedalam mobil bersama dengan sang papah Johan. Mereka pun duduk di kursi mereka masing masing bersama dengan payung bawaan mereka sendiri. Papah Johan pun segera tancap gas dan meninggalkan rumah sakit tersebut. Dikarenakan papah Johan masih belum tau dimana letak rumah semua teman Johan, maka dari itu masing masing dari mereka membimbing jalan kerumah mereka masing masing.


Sampai pada akhirnya, hanya Emilia yang tersisa di dalam mobil bersama dengan sang papah Johan. Saat Emilia telah sampai ke depan rumahnya, Emilia pun membuka pintu hendak keluar dari mobil. Namun, saat itu juga sang papah Johan pun mengunci pintu mobil itu dan ingin bicara dengan Emilia.


“ma-maaf, nak Emilia. Apa kita bisa ngobrol sebentar. Ini masalah Johan” ucap sang papah Johan seraya mematikan mesin mobilnya.


“emm, apa om nggak masuk rumah aja?” tanya Emilia.


“tidak, tidak usah. Om hanya mau kasih tau sesuatu” ucap papah Johan.


“ehh, ada apa om? Kenapa mendadak banget?” tanya Emilia.


“tidak apa, om hanya mengumpulkan keberanian untuk bisa mengatakan hal seperti ini. Dan sekarang om sudah membulatkan tekad untuk mengatakan ini” ucap sang papah Johan.


“ada apa om?” tanya Emilia.


“jadi, om tau kenapa Johan mengalami strees saat tiga bulan lalu” ucap papah Johan.


“ehh? kenapa om?” tanya Emilia.


“sebenarnya, perempuan yang sekarang menjadi ibu dari Johan, bukanlah ibu kandung Johan” ucap papah Johan.


“hahh? Yang bener om? Maksudnya?” tanya Emilia begitu terkejut.


“om pernah bercerai dengan ibunda kandung Johan tiga bulan lalu, dan saat itulah om menikah dengan mamah Johan yang sekarang. Dari saat itu Johan sama sekali tidak bisa menerima ibu kandungnya itu. Johan bener bener memberontak bahkan kita sama sekali tidak pernah makan di satu meja makan yang sama. Johan hanya mengurung diri di kamarnya sendiri. Kemudian, kemarin lusa, kita mendengar tentang nenek Johan yang sedang sakit. Mendengar itu papah dan mamah Johan sangat ingin membantu proses pengobatan nenek Johan. Tapi saat itu pula kita tidak memiliki cukup uang. Maka dari itu, dengan paksaan kita menjual komputer dan laptop milik Johan. Mendengar hal itu Johan seketika memberontak dan pada akhirnya dia kabur dari rumah” ucap sang papah Johan.


“jadi, benar apa yang dikatakan oleh dokter itu. Johan benar benar menyayangi ibu kandungnya tapi saat tiga bulan lalu keluarga yang sangat ia sayangi tersebut terpecah. Mungkin itu alasan mengapa Johan menangis di gudang sekolah. Kalau boleh tau, kenapa om dan ibu kandung Johan bisa bercerai?” tanya Emilia.


“om tidak bisa menjawabnya” ucap papah Johan dengan muka bersalah.


“maaf, itu sudah melanggar privasi keluarga” ucap Emilia.


“tidak, itu tidak apa” jawab papah Johan.


Sesaat setelah itu, Emilia pun membuka pintu mobilnya dan kemudian turun keluar dari mobil. Sebelum Emilia menutup pintu mobil itu, dengan senyum yang tulus serta tatapan mata yang sayu, sang papah Johan berkata “kalau apa yang dikatakan oleh dokter itu benar mengenai Johan yang terkena stress, aku ingin kau yang menemaninya saat dia kesepian. Om pamit dulu. Om akan menjemput nenek dan kakek Johan”


“ba-baik om” ucap Emilia seraya memberikan hormat.


“ehh? Menjemput nenek kakek Johan? Maksudnya?” fikir Emilia dalam hati.


Emilia pun menutup pintu mobil tersebut dan kemudian berjalan ke dalam rumahnya. Begitupula dengan sang papah Johan yang saat itu seketika menyalakan mesin mobilnya dan kemudian menancapkan gas utnuk kembali ke rumah sakit. Saat itu, hujan sudah reda. Langit malam tidak tertutup awan hujan dan membuat cahaya belasan bintang menghiasi langit malam.


Hanya ada tetesan embun yang menempel di mobil sang papah Johan. Tetesan air hujan yang terpantul dengan cahaya merah dari lampu rambu lalu lintas menghiasi mobil berwarna putih papah Johan. Aspal jalan yang licin pun ikut memantulkan cahaya dari lampu jalanan yang terang menerangi sunyi nya malam itu.


Sesampainya papah Johan di rumah sakit, seketika papah Johan menelfon sang ibunda. Didalam pembicaraan telefonnya, sang ibunda mengatakan bahwasanya dirinya telah bersama dengan Johan di kamar rumah sakit lantai 3 di kamar nomer 43B. Seketika sang papah Johan pun menaiki lift dan kemudian mencari kamar nomer 43B di lantai 3.


Setelah sang papah menemukan kamar rawat inap milik Johan, sang papah pun masuk kedalam kamar tersebut. Hanya ada satu ranjang dimana ranjang tersebut diperuntukkan untuk pasien atas nama Johan. Disisi lain, sang ibunda tengah duduk dengan memegang telapak tangan kiri Johan serta mengelus elus telapak tangannya itu.


“bagaimana kondisinya?” tanya sang papah menghampiri Johan dan ibunda.


“demamnya masih tinggi serta pernafasannya masih tidak teratur. Johan memiliki kemungkinan terkena kejang jika demamnya tak kunjung turun” jawab sang ibunda.


“apakah Johan sudah diberi obat?” tanya sang papah.


“sudah” jawab sang ibunda.


“kapan Johan bisa bangun dan sadar?” tanya sang papah.


“kata perawat, kemungkinan besar ia akan terbangun besok pagi seperti tidur pada biasanya” jawab ibunda.


“kalau begitu, kamu pulang aja. Biar papah yang jagain Johan disini” ucap sang papah mengelus kepala sang ibunda.


“papah gamau kamu ikutan sakit” sahut papah Johan.


“muka kamu udah mulai pucat dan juga tanganmu mengigil. Di ruangan ini banyak AC dan kamu kedinginan karena baju kamu yang sedikit basah gara gara kehujanan tadi. Lebih baik kamu pulang dulu dan buat minuman hangat dirumah. Bawa mobil papah dan hati hati” ucap sang papah seraya memberikan kunci mobilnya itu.


“seharusnya yang istirahat itu kamu. Kamu baru aja pulang kerja dan masih capek. Kamu masih belum tidur lama tapi kamu udah terbangun gara gara Emilia yang tiba tiba telefon mamah dan kasih tau kalo Johan pingsan di taman. Mending kamu aja yang istirahat, nanti kita gantian” ujar sang ibunda menyahut kunci mobil yang berada di tangan papah dan kemudian meletakannya di saku kemeja milik papah.


“hmm, iya kamu bener juga. Kamu baik baik di sini. Kalau kamu mau minum hangat, beli aja di kantin rumah sakit. Disana banyak kok. Minum air putih yang banyak dan jangan sampai kelelahan. Papah akan pulang, terimakasih banyak. Jaga Johan baik baik” ucap sang papah seraya mengelus kepala sang ibunda.


“iya, siap” ucap sang ibunda.


Sang papah pun kemudian kelaur dari ruangan dan kemudian pergi ke lantai bawah tanah hanya untuk mengambil mobil dari parkiran. Setelah itu, sang papah pun mulai menancapkan gas dan kemudian berjalan meninggalkan rumah sakit beranjak menuju rumah. Disisi lain, ibunda yang tengah duduk di samping Johan pun seketika berjalan keluar ruangan hanya untuk pergi ke kantin rumah sakit.


Dirinya membeli segelas susu hangat di supermarket kantin dan membawanya ke kamar Johan. Hangatnya susu setidaknya bisa menghangatkan tubuh sang ibunda. Jam 1 malam, dimana sang ibunda masih tidak bisa tidur dan bermain hp di samping tempat tidur Johan. Hanya sekedar scrol beranda instagram, itulah hiburan sang ibunda saat mengawasi kondisi dari Johan.


Tidak lama setelah itu, dengan begitu terkejutnya sang ibunda, ia melihat Johan yang secara tiba tiba membuka matanya lebar lebar dan melihat langit langit kamarnya. Melihat itu, sang ibunda pun seketika mendekati Johan yang tengah terbaring lemah di sana.


“nak Johan, apa kamu sduah bangun?” tanya ibunda.


“mamah? Kenapa aku disini? dan kenapa aku tidak tidur di kamarku sendiri?” tanya Johan.


“kamu abis pingsan gara gara kehujanan” jawab ibunda seraya menggosok gosokkan tangannya ke telapak tangan kiri Johan.


Dengan perlahan, Johan melepaskan genggaman tangan ibundanya itu dan mengangkat tangan kirinya itu. Johan pun melihat di telapak tangannya itu masih terdapat tato, maka dari itu Johan berfikir kalau ini bukanlah mimpi dan memang benar adanya jika Johan sedang di rawat di rumah sakit.


“jadi, kenapa kamu malah ke taman malam malam begitu dan kamu ngga buru buru pulang padahal udah mau hujan” tanya sang ibunda.


“tidak apa apa, aku hanya pengen hujan hujan kok mah” jawab Johan dengan senyum paksanya itu.


“jangan bohong, kenapa kamu malah hujan hujanan di taman?” tanya sang ibunda.


“beneran mah, karena di kamar udah gaada komputer, jadi aku gabisa main game. Jadi aku lebih pilih jalan jalan di taman sama minum minuman di sana. Ehh ngga taunya aku malah kehujanan” ucap sang Johan dengan paksa tawanya.


“udah mamah bilang jangan bohong, kenapa kamu ngga kasih tau papah dan mamah kalo kamu dapet surat dari pemerintah daerah?” tanya sang mamah dengan tatapan tajamnya.


Mendengar hal itu, Johan pun seketika berfikir kalau dirinya tidak mungkin bisa menutupi kesedihannya lagi. Pada akhirnya, Johan pun meneteskan air matanya dan mengalir mengenai daun telinga.


“Johan fikir, Johan akan kasih tau papah kalo papah udah bangun. Lagipula itu berita yang bener bener mendadak. Aku pusing saat membaca surat itu. Aku selalu berdoa kalau surat itu hanyalah mimpi” ucap Johan dengan suara serak basahnya mulai meneteskan air matanya.


“tidak apa, mamah ini keluarga kamu. Dirumah juga ada papah kamu. Kenapa kamu malah menyembunyikannya sendiri?” tanya sang mamah mulai melemahkan tatapannya.


“kalau Johan kasih tau, Johan takut akan mendengar suara tangisan lagi. Aku sudah cukup mendengar suara tangisan dari orang yang kusayang” ucap Johan.


“aku sudah tidak mau lagi mendengar suara tangis air mata semenjak mamah kandungku menangis di depanku. Sejak saat itu, aku benar benar tidak ingin bahkan tidak akan pernah mendengar suara tangisan lagi. Namun berita di selembaran kertas itu malah mendorongku agar aku mendengar suara yang paling ku benci. Entah kenapa, tapi aku membenci tangisan” sahut Johan seraya menutupi kedua matanya menggunakan lengan kanannya.


“apa nak Johan memang tidak berniat untuk memberitahukannya kepada mamah dan papah?” tanya sang mamah.


“kenapa aku harus memberikannya? Aku malah berniat untuk membakarnya dan membiarkannya menjadi abu” teriak Johan seraya memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Johan pun menjadi aneh. Johan menutupi kedua matanya menggunakan kedua telapak tangannya itu. Johan juga menarik keras semua rambut di kepalanya dengan begitu kencang.


“heh, nak Johan? Ada apa? apa nak Johan baik saja?” tanya sang mamah begitu terkejut dengan perubahan karakter Johan.


“aku akan membakarnya, sekalipun itu adalah uang. Kenapa mereka meninggalkanku? aku berteriak, aku melotot, aku pusing. Mamahku meninggalkanku. kakek dan nenekku meninggalkanku. aku tidak ingin kehilangan papah dan mamahku sekarang. Aku tidak mau. Aku ingin menyelamatkan papah dan nenek” teriak Johan histeris di kamar tersebut.


Melihat hal itu, seketika sang mamah pun memencet tombol darurat yang menggantung di atas ranjang Johan agar para perawat datang kesana. Selepas itu semua, beberapa perawat pun mendatangi kamar Johan dan kemudian melakukan penangan terhadap tubuh Johan yang perlahan memberontak. Kedua tangan dan kaki Johan pun di cekal oleh para perawat disana dan kemudian salah satu dari mereka menyuntikkan cairan ke lengan kiri Johan.


Seketika Johan pun terdiam dan berhenti untuk memberontak. Melihat hal itu, sebagai orang tua, walaupun bukan ibu kandung, sang ibunda pun seketika menangis meneteskan air matanya saat melihat kondisi anaknya yang begitu diperlakukan kejam. Namun apa daya, petugas medis memang diharuskan untuk melakukan hal penanganan seperti itu.


“a-apa yang terjadi? ada apa dengan anakku Johan?” fikir sang ibunda bertanya tanya.