Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 38, Terbangunnya Johan



“hey, itu tidak benar” teriak Jehian.


“iya, itu benar. Dia mendapatkan nilai 50 di ujian tengah semester kemarin. Itu membuat Jehian di pukuli habis habisan oleh mamahnya di rumahnya” ucap Farel.


“hey, aku tidak mendapat nilai 50 di ujian tengah semester kemarin. A-aku ha-hanya mendapatkan 52” ucap Jehian menyembunyikan wajahanya karena malu.


“itu sama saja, sama sekali tidak berpengaruh” lantang Kahfi diikuti oleh senda tawa semua orang disana.


“dan juga, aku sangat yakin kalau niali 2 dari 52 nilai mu itu hanya karena pengawas ujian kasihan kepadamu” ucap Emilia dengan tawanya.


“Lia, kau jahat banget. Padahal aku mengira kalau kau tidak akan membullyku” jawab memelas Jehian diikuti oleh semua tawa teman temannya.


Disisi lain, disaat mereka semua sedang bersenda gurau, Johan di dalam mimpinya tengah bertemu dengan greisha, sang dewi alam. Johan mendapati Greisha tengah rebahan santuy di padang rumput yang hijau nan luas bersama dengan hembusan angin yang hangat.


“kita bertemu lagi” ucap Johan.


“yaps, aku selalu mengunjungi mimpimu” ucap Greisha.


“kalau aku selalu ada di mimpiku, apa kau tau bagaimana perilaku sehari hari di dunia?” tanya Johan.


“sudah jelas aku tidak bisa. Aku adalah dewi alam yang selalu menjaga alam dan tidak memiliki waktu untuk hal yang merepotkan seperti itu. Bagaimanapun juga, aku tidak memiliki hubungan seara langsung dengan para insan manusia” jawab Greisha.


“kalau begitu, bagaimana kau bisa masuk kedalam mimpiku?” tanya Johan.


“emm, kenapa ya?” ucap Greisha seraya mengelus dagunya.


“sudahlah itu tidak penting, aku sudah membuktikan perkataanmu mengenai tato itu, dan alhasil aku melihat tanganku sendiri. Ternyata kau benar benar memberikannya” ucap Johan begitu senang.


“syukurlah kau kelihatan begitu senang” ucap Greisha.


“apa aku sekarang bisa kembali? kalau tidak salah aku tertidur karena aku terjatuh dari tangga” ucap Johan.


“silahkan saja, kau bisa menggigit tanganmu sendiri untuk bisa kembali ke dunia” ucap Greisha.


“tapi aku sedikit takut. bagaimana kalau-” ucap Johan tersaut henti.


“tenang saja. ini adalah dunia mimpi dan gigitlah tanganmu sendiri untuk bangun” sahut Greisha dengan pembawaan begitu tenang.


“i-iya terimakasih banyak” jawab Johan menganggukkan kepalanya.


“sama sama” jawab Greisha tersenyum tulus.


Saat itu pula, Johan menggigit tangan kirinya sendiri dan membuat sekeitka kesadarannya berpindah ke tubuhnya yang tengah terlentang di kasur kamarnya itu.


Disaat Johan terbangun, Johan hanya mengingat jika saja dirinya sedang terjatuh di rumah sakit tanpa ada yang menolong. Saat Johan membuka matanya dan melihat langit langit kamarnya, Johan mendengarkan pembicaraan canda tawa teman temannya yang ada di dalam kamarnya itu. Johan sedikit melirik ke arah teman temannya yang tengah duduk di lantai tersebut. Dengan begitu memaksakan diri, Johan pun melirik ke arah teman temannya yang tengah duduk di tikar samping ranjang miliknya itu.


Namun saat itu, Farel menyadari jika ada yang janggal. Saat itu, pembicaraan mereka tengah membicarakan mengenai cerita hantu. Dikarenakan Farel adalah lelaki yang benar benar penakut dan berbanding kebalik dengan sifat Kahfi, maka dari itu Farel selalu berteriak saat ketakutan.


“apa kau yakin?” tanya Kahfi.


“iya, aku melihatnya sendiri, perempuan itu menangis dan memasang raut muka benar benar menyeramkan saat aku ingin membuang sampah di depan pohon tersebut” jawab Nyoman mendramatisir keadaan.


“makanya, jangan suka buang sampah sembarangan. Apalagi di bawah pohon. Siapa tau di pohon itu ada penunggunya” ucap Emilia menegur Nyoman.


“bagaimana denganmu sendiri, Emilia?” tanya Nyoman.


“aku? aku tidak pernah mengalami kejadian menyeramkan. Tapi mungkin aku punya satu cerita seram” ucap Emilia.


“ceritakan cepat” ucap Jehian seraya memakan sebuah chips snack yang ia beli sebelumnya.


“iya, aku ingat. Kita semua di pulangkan lebih awal saat itu” sahut Farel dengan tangan yang sedikit bergetar ketakutan.


“saat itu juga, saat aku dirumah, aku mendapatkan pesan dari Kahfi kalau dia akan lembur karena tugasnya menjadi ketua OSIS. Saat itu, aku berniat pulang sekolah bersama dengan Johan melelewati rumah ini. Saat Johan baru saja membuka pagar rumah ini, aku melihat sesosok bayangan hitam sedang meliahtku dari jendela kamar ini. Kupikir itu hanyalah sebuah poster Johan, maka aku pun mengabaikannya. Saat aku menjemput Kahfi di sekolahnya, saat itu aku iseng untuk melewati rumah ini. Saat itu pula, di tengah malam, aku melihat sesosok perempuan yang melayang sedang mengintip jendela kamar ini dari luar. Dengan tatapan yang begitu tajam, perempuan itu berniat untuk menggedor jendela ini. Melihat itu, aku pun segera menancapkan gas secepat mungkin dari sana. Namuns aat aku melihat kaca spion, aku melihat jika perempuan itu sedang melirikku dengan begitu menyeramkan” ucap Emilia mengarang cerita seolah olah agar Farel ketakutan.


“be-benarkah itu? apa kau tidak mengada ada?” tanya Farel dengan begitu ketakutan.


“aku harap kau tidak berjalan seorang diri malam malam melewati rumah ini. Apalagi Farel yang penakut” ucap Emilia menakut nakuti Farel.


“hei, jangan begitulah. Nanti aku tidak bisa tidur” ucap Farel mulai kesal.


“nanti malam, kalau tidur, aku harap kau jangan memeriksa kolong bawah kasurmu, atau kalau tidak seseorang di bawah kasurmu itu bisa marah dan memandangmu dengan tatapan marah dengan merah menyala” ucap Emilia.


“dan juga, kalau mau tidur janga \=n melihat di atas lemari. Nanti yang ada disana sedikit marah dan melihatimu dari atas lemari” sahut Jehian menakut nakuti Farel.


“stoppp, hentikan itu. Aku udah merinding setengah mati. Lebih baik jangan cerita seram seperti ini. nggak seru ahh” ucap Farel mulai gelisah.


“kalo begitu, aku mau menenangkan diri terlebih dahulu. Aku mau ambl minum air putih di galon bawah” ucap Farel seraya beranjak dari tempat duduknya.


Farel pun seketika membalikkan tubuhnya dan hendak beranjak dari tempat tidurnya. Saat dirinya membalikkan tubuh, saat itu pula di belakangnya adalah ranjang milik Johan. Hal itu karena Farel sedikit bersandar ke ranjang milik Johan. Farel membalikkan badannya dan kemudian mendapati jika Johan sedang melirik dan menatap tajam kedua matanya. Tatapan itu benar benar mengagetkan dan meakutkan. Farel begitu terkejut setengah mati hingga nyawa Farel hampir saja keluar dari tubuh tersebut melewati lubang telinga.


Farel pun seketika menjerit ketakutan. Jeritan lelaki macho yang benar benar melambangkan suara laki laki sejati. Teriakannya yang begitu sexy mengejutkan semua teman temannya.


“hiiyaaaaaaaa‼‼” teriak Farel begitu terkejut ketakutan.


“hah?” ucap semua teman temannya secara spontan menatap Farel yang tengah berteriak sangat amat kencang disana.


“Jo-Joha-Jojo-Jajoh? Johjoh-Joah. Di-di-di-diooaaa bangun!” teriak Farel begitu ketakutan dengan suara yang tergagap.


Seketika itu pula Johan mengangkat tangan kanannya dan kemudian mengarahkannya kearah Farel. Johan sedikit demi sedikit meraih tubuh Farel dan pada akhirnya Johan pun bisa menggapai tubuh Farel.


“aaaaaahhhh! Tolong jangan makan aku. Tubuhku kurus dan tidak ada daging. Isi otakku hanyalah anime dan game. Darahku berwarna biru dan beracun. Tolong jangan makan ak-“ ucap Farel terhenti.


“dasar penakut” ucap Johan memaki Farel dengan tawa lepasnya.


“waahh, Johan udah bangun” ucap Jehian spontan berdiri dan berjalan ke arah Johan.


“dari kapan kau bangun?” tanya Emilia seketika beranjak berdiri menuju ke arah Johan.


Semua teman temannya pun seketika menghampiri Johan yang tengah lemas di ranjangnya. Farel pun merasa bersalah karena telah menganggap jika saja Johan saat itu sedang kerasukan roh jahat.


“ma-maaf, aku cuma kaget” ucap Farel menundukkan kepala.


“tidak apa, dasar penakut. Jangan mudah percaya dengan orang lain. Lagipula sejak kapan aku dan Lia pernah pulang bareng” ucap Johan sedikit tertawa.


“ehh? Benarkah?” tanya Farel begitu terkejut.


“memangnya aku pernah pulang bareng sama Johan? Tidak pernah. Padahal aku udah menceritakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, tapi kau malah percaya. Dasar bodoh” ucap Emilia sedikit tertawa.


“dari kapan kau siuman?” tanya Kahfi kepada Johan.


“sejak kalian bercerita horor” jawab Johan.


“jadi bagaimana? Apa kau udah baikan?” tanya Jehian.


“udah, aku udah enakan kok. Sekarang sudah waktunya untuk pergi ke desa” ucap Johan dengan begitu semangat.