Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 65, Mendinginnya suasana Rumah



Seketika saat itu pula, hal yang tidak bisa dipercaya terjadi. Nyatanya sang ibunda memasuki kamar sembari membawa satu mangkok besar berisi bubur hangat.


“ayo nak Johan, bangun dahulu bentar. Mamah tau kamu masih tidak bisa tidur di kamar. Jadi mamah membawakanmu bub-“ ucap sang ibunda terhenti saat berjalan masuk dan mendapati jika Johan tengah berdiri di atas meja belajarnya.


“waahh, pas banget mamah kasih aku bubur. Aku memang tidak bisa tidur. Hahahahaha” ucap Johan dengan tawa lepasnya sedang berdiri di atas meja belajarnya.


“astaga, apa saja keributan yang kau lakukan. Aku tidak habis fikir” fikir sang ibunda seraya memegang kepalanya dan menggeleng geleng kepalanya yang sedikit menunduk.


“sudah selesai. Aku sudah tidak melakukan apa apa lagi. janji” ucap Johan melompat dari meja belajar.


“apa sudah selesai? Apa mainanmu sudah selesai dan kamu mau tidur?” tanya sang ibunda.


“baru saja selesai. Semua Action Figure ku sudah ku pasang dan ku pajang. Sekarang waktunya tidur. Tapi sebelum itu, aku ingin bubur milik mamah” ucap Johan.


“tapi janji, setelah makan bubur, kamu harus tidur” ucap sang ibunda.


“janji” jawab Johan.


“kalau begitu, mamah akan panggilkan Emilia untuk menyuapimu makan. Mamah akan masak sesuatu di bawah untuk paman Surya dan temannya” ucap sang ibunda.


“nggak usah mah, Johan bisa makan sendir-“ ucap Johan terhenti.


“nak Emilia! Kesini bentar nak!” panggil sang ibunda dengan begitu kencang.


“baik te” jawab Emilia.


Saat itu pula Emilia pun berlari menaiki tangga dan kemudian menemui sang ibunda yang memanggilnya dari kamar Johan. Emilia pun masuk ke dalam kamar Johan dalam keadaan memakai celemek dapur.


“iya, ada apa tante?” tanya Emilia seraya mengaduk adonan tepung.


“biar tante yang masak, kamu suapi Johan makan. ingat! Harus di suapi! Kalau tidak di suapi, Johan tidak akan mau makan” tegas sang ibunda.


“haahh? Apaansih nih orang. Padahal aku bisa makan sendiri dan aku juga agak laper” fikir Johan begitu heran.


“ba-baik” jawab Emilia.


“lepaskan celemek mu dan berikan adonanmu. Suapi Johan nomer satu” ucap sang ibunda mendramatisir keadaan.


“sumpah gajelas” fikir Johan.


“baik” tegas Emilia.


Emilia pun melepaskan celemek nya dan kemudian memberikan adonannya kepada sang ibunda. Seketika itu pula sang ibunda memberikan satu mangkuk berisi bubur ayam hangat kepada Emilia. Sang ibunda pun kemudian berjalan pergi beranjak dari kamarnya dan meninggalkan Emilia dan Johan seorang diri di dalam kamar.


“kamu tau sendirikan, aku sudah bisa makan sendiri. Cepat berikan buburku dan bantu mamah di bawah” ucap Johan.


“tapi kan-“ ucap Emilia terhenti.


“tenang aja, kali ini aku akan diam” ucap Johan.


“tidak boleh, kamu pasti nggak mau makan. Pokoknya aku harus ngeliat kamu makan sampe habis, baru akau bisa keluar dari kamar ini” tegas Emilia.


“hmm, kalau begitu aku akan makan sendiri” ucap Johan.


“jahattt, padahal aku mau suapin” ucap Emilia dengan memasang raut muka sedikit kecewa.


“ehh?… Emm… AHHHH‼. Yaudahlah suapi aku” ucap Johan dengan nada terpaksa.


“yeayy” ujar Emilia.


Emilia pun duduk di ranjang bersama dengan Johan. Perlahan, Emilia mengambil bubur tersebut menggunakan sendok dan kemudian menyuapkannya kepada Johan. Namun, dengan tatapan tajam dan ekspresi yang marah, Johan menatap mata Emilia dengan begitu tajam.


“apa yang kau lakukan?” tanya Johan.


“ehh? Ada yang salah?” tanya Emilia sedikit terkejut.


“kamu nggak aduk buburku” ucap Johan dengan tatapan begitu tajam.


“ehhh? Jadi kamu kalo makan bubur di aduk?” tanya Emilia begitu terkejut.


“memangnya kenapa? Bubur di aduk lebih mantap tau” ucap Johan.


“lebih mantap bubur nggak di aduk lah!” ucap Emilia sedikit ngegas.


“lebih enak di aduk” ucap Johan ngegas.


“lebih enak nggak di aduk” ucap Emilia ngegas.


Seketika, datanglah Jehian yang seketika masuk ke dalam kamar Johan dengan membawa sepiring bubur berisi bubur. Dengan lahap, Jehian menyuap bubur tersebut menggunakan tangan kosong tanpa bantuan sendok.


“apa yang kalian ributkan?” tanya Jehian.


“jadi kau sekte bubur menggunakan tangan?” teriak Johan dan Emilia bersamaan.


“Lia,semenjak aku melihat sekte Johan, kurasa sekte kita berdua tidak terlalu buruk” ucap Johan kepada Emilia.


“kita sepemikiran” ucap Emilia.


“sebenarnya apa yang terjadi di hutan?” tanya Emilia.


“kamu udah denger sendiri kan” jawab Johan.


“iya, tapi entah kenapa kamu sekarang sudah berubah. Kamu yang sekarang sudah kembali di karaktermu yang 3 bulan lalu” ucap Emilia.


“ehh? Memangnya iya? Aku tidak sadar” jelas Johan.


“kamu nggak akan sadar, tapi orang lain yang merasakan langsung sifatmu itu yang sadar dan faham kalau kamu yang sekarang sudah kembali. Apa ada seseorang yang merubahmu? Apa kamu ketemu sama seseorang disana? apa itu teman kakekmu?” tanya Emilia.


“ehh, a-aku hanya ketemu sama anak anak di desa itu. Dan itu membuatku senang karena aku bsia menghibur mereka” ucap Johan.


“dan aku juga bisa memastikan kalau Odessa baik baik saja” fikir Johan dalam hati seraya tersenyum lebar.


“ohh, jadi begitu. Aku tau kalau kamu pasti sangat ingin kembali ke sana. Aku mengerti perasaaanmu dan aku juga ingin kamu bisa mewujudkan keinginanmu itu. Tapi aku tidak suka Johan yang kabur dari rumah dan pergi ke sana sendirian. Kalau boleh, aku akan ikut” tegas Emilia menatap mata Johan.


“tidak perlu” jawab Johan dengan gampangnya.


“sudah kuduga” gumam Emilia.


“padahal aku hanya ingin memastikan kalau keadaanmu itu baik baik saja disana. Barangkali kamu melawan para penebang hutan lagi seperti kemarin” ucap Emilia dengan tatapan sedikit khawatir.


“tidak apa apa. Kalau aku tidak di perbolehkan untuk kesana lagi, mungkin aku akan beralasan untuk pergi ke rumahmu atau ke rumah yang lainnya. Selama itu kalian harus jaga rahasia. Oke!” ujar Johan memberikan ibu jarinya.


“o-oke” jawab Emilia dengan sedikit khawatir.


Saat itu pula, Johan menyelesaikan makanannya dengan perut yang sudah penuh dengan bubur ayam. Disitulah Johan merasa kalau Johan sudah sedikit mengantuk. Johan pun meneguk air putih dan kemudian memasukkan kedua kakinya ke dalam selimut. Johan pun rebahan santuy di kasur dengan menatap langit langit kamarnya.


“apa kamu udah ngantuk?” tanya Emilia.


“hehehe, tolong” jawab Johan.


“baiklah, aku tidak akan ganggu. Kalau ada apa apa langsung telfon aku aja” ucap Emilia seraya berjalan keluar dengan membawa piring bubur Johan.


“makasih banyak” ujar Johan seketika menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.


“hmm, dasar anak kecil” fikir Emilia dalam hati.


Emilia pun meninggalkan Johan seorang diri di kamar untuk membiarkannya beristirahat. Emilia masih tidak habis fikir dengan apa yang di lakukan oleh Johan di desa. Emilia masih sedikit bingung dengan apa yang terjadi di desa hingga Johan bisa berubah secepat ini. Bahkan Emilia merasa kalau Johan yang sebenarnya sudah lahir.


“syukurlah, Johan yang ku sukai sudah kembali” fikir Emilia dalam hati.


Emilia pun berjalan menuruni tangga dan hendak menuju ke dapur berniat untuk membantu sang ibunda memasak. Emilia meletakkan piring yang ia bawa ke wastafel di dapur dan kemudian memakai celemek masak bersama dengan sang ibunda yang tengah mencincang bawang.


“apa Johan sudah baik baik saja?” tanya sang ibunda.


“kurasa dia sudah lelah. Aku membiarkannya sendirian istirahat” jawab Emilia.


“kalau begitu, tolong bantu tante ambil sawi di dalam kulkas. Biar tante yang potong sementara kamu siapkan bahan bahan untuk sup” ucap sang ibunda.


“ba-baik tante” ucap Emilia berjalan menuju ke kulkas.


“emm, anu tante. Apa kita akan memakai sosis juga?” tanya Emilia saat membuka dan melihat isi kulkas.


“sebaiknya jangan, soalnya sosis itu milik Johan. Jadi tante tidak berani menggunakannya” jawab Emilia.


“kalau begitu, apa harus menggunakan jamur dan baso? Mungkin kita akan menggunakan tahu susu dan brokoli” jelas Emilia.


“ehhh, jadi kamu mengerti banyak saat memasak ya” puji sang ibunda.


“bukan begitu tante, aku hanya mengucapkan bahan bahan yang ada di kulkas ini” jawab Emilia.


“kalau begitu, ambil semua barang barang itu dan cuci di wastafel. Biar tante yang potong semuanya” ucap sang ibunda.


“baik” jawab Emilia.


“apa kamu suka labu?” tanya sang ibunda.


“ehh? Labu? Emilia alergi labu, tante” jawab Emilia.


“kalau begitu, apa kamu suka kacang?” tanya sang ibunda.


“ehh, aku sangat suka kacang kacangan” jawab Emilia.


“waahh, sifatmu terbalik sekali dengan Johan. Dia alergi dengan kacang kacangan namun malah menyukai labu. Jadi aku harus memasukkan apa lagi di dalam sup?” ucap sang ibunda.


“ehh, emm. Tante bisa masukin labu di dalam sup. Aku yakin Johan pasti suka” tegas Emilia.


“ehh? Kamu nanti tidak bisa makan” ujar sang ibunda.


“tenang aja tante, aku bisa makan yang lainnya” jawab Emilia.


“tidak asik kalau tidak makan bersama. Aku akan mengganti dari labu menjadi kubis” ucap sang ibunda kepada Emilia.


“terserah tante aja lah” jawab Emilia dengan begitu pasrah.