
Mereka semua menaiki lift yang sama. mereka menuju ke lantai 2 nomer 29 tempat Johan beristirahat. Pada akhirnya, mereka semua pun berdiri di depan pintu kamar Johan. Satu persatu dari mereka pun memasuki kamar Johan dan mendapati kalau saja Callysta sedang duduk disamping Johan.
Hal yang mengejutkan adalah di dalam kamar itu masih dalam keadaan gelap gulita. Jendela kamar tertutup rapat sementara lampu kamar pun mati. Hanya cahaya matahari siang yang menembus gorden selambu jendela kamar tersebut yang mampu menerangi kamar itu.
Mereka melihat Johan yang hanya menunduukkan kepalanya seraya duduk dengan punggung begitu menunduk. Disampingnya terdapat Callysta yang hanya melihat Johan dengan tatapan begitu tajam dan penuh dengan kerisauan. Johan sama sekali tidak peduli dengan siapapun yang menjenguknya. Ia hanya bersikap dingin dan datar kepada mereka semua seraya menundukkan kepalanya tanpa melihat raut wajah mereka sekalipun.
“permisi, kami masuk” ucap Emilia bersama dengan semuanya berjalan memasuki kamar.
“kalian semua datang?” tanya Johan.
“silahkan masuk” jawab Callysta.
“bagaimana kondisimu, Johan? Apa baik baik saja?” tanya Emilia.
“lumayan” jawab Johan singkatnya.
“hey, bro. Apa kau sudah mulai bosan di kamar ini?” tanya Jehian.
“tidak juga” jawab Johan dengan suara begitu datar.
“apa kau sudah makan? aku membawakan sesuatu untukmu” ujar Farel.
“udah kenyang” jawab Johan.
“apa kau udah merasa baikan, may bradah” tanya Adam.
Mendengar suara Adam Abraham, Johan pun spontan mengangkat kepalanya. Johan memperlihatkan wajah yang begitu datar dan biasa saja namun dengan mata yang begitu memerah. Johan menatap ke arah Adam yang berada di samping kiri Emilia.
“Adam, apa itu kau?” tanya Johan.
“iya, ini aku” jawab Adam.
“bagaimana dengan Odessa?” tanya Johan.
“sayangnya dia tidak akan bisa diselamatkan. Pohonnya sudah tertebang dan menyisakan batang bekas tebangan itu” jawab Adam.
“hmm, jadi begitu. Apa aku boleh menanyakan sesuatu?” tanya Johan.
“silahkan saja” jawab Adam.
“apa itu dunia willsh?. Greisha berkata di dalam mimpiku kalau dunia willsh adalah tempat roh yang sudah meninggal di bumi. Dan hanya orang yang memiliki simbol Jalesveva Jayamahe saja yang bisa masuk kedalam sana” ucap Johan.
“Jalesveva adalah nama dari danau yang dijaga oleh Riana Dassilva sementara Jayamahe adalah salah satu sungai yang mengaliri air menuju danau tersebut. Lantas? bagaimana dengan Jamehaya? Sungai itu sudah tidak dijaga lagi oleh roh sungai karena para warga desa membunuh roh tersebut namun tidak mencemari sungai” jawab Adam.
“apa hubungannya dengan Willsh?” tanya Johan.
“itu karena, Willsh bukanlah dunia paralel, melainkan dunia yang diciptakan oleh Greisha sebagai ujian manusia. Manusia yang bisa masuk dunia Willsh harus menjalani ujian 3 hari 3 malam disana. Jika manusia itu gagal, maka manusia itu akan diubah menjadi roh sungai dan akan menjadi roh penjaga sungai Jamehaya. Sampai pada akhirnya, danau Jalesveva, sungai Jamehaya dan Jayamahe memiliki roh penjaganya” jawab Adam.
“bagaimana caramu tau semua itu?” tanya Johan.
“aku membaca buku yang telah ditulis oleh kakekmu sendiri di desa. Aku membawa buku kuno yang berdiam berdebu di desa” jawab Adam.
“maksudmu, buku kuno yang berada di kantor desa itu? aku sudah pernah membacanya, tapi aku tidak bisa memahami maksud dari bahasa yang dituliskan oleh kakek. Bagaimana kau bisa tau dan faham akan isi dari buku itu?” tanya Johan.
“aku meminta tolong kepada Riana untuk mengartikannya kepadaku. Itu karena bahasa itu adalah bahasa yang hanya bisa dipahami oleh para roh alam dan dewi alam saja” jawab Adam.
“bagaimana kakek bisa tau bahasa dari roh alam?” tanya Johan.
“itu karena, nenekmu adalah roh alam. Nenekmu adalah roh dari sungai Jamehaya” jawab Adam.
Mendengar hal itu, Johan begitu terkejut bukan main. Dirinya sama sekali tidak tau mengenai hal itu. Bahkan Johan tidak tau menahu mengenai sungai yang dijaga oleh neneknya. Johan tidak menyangka kalau kebenaran dari neneknya akan terbongkar saat itu juga.
“ja-jangan bercanda!” teriak Johan begitu membentak Adam dan membuat semua teman temannya begitu terkejut.
“kakekmu yang sangat kau agung agungkan itu terkena mental saat melihat istri roh sungainya itu dibunuh dan dieksekusi oleh para warga karena para warga merasa terancam dengan kehadiran roh. Melihat hal itu, kakekmu pun keluar dari sistem kepemimpinan dan keluar dari desa. Setelah itu, kakekmu menyuruh papah kandungmu untuk membakar seisi desa karena untuk balas dendam”
“namun saat itu juga, dengan sengaja kakekmu masuk kedalam rumahnya yang saat itu dalam keadaan terlelap api. Kakekmu bunuh diri di tempat tersebut. Setidaknya itu yang dituliskan oleh kakekmu di dalam buku tua itu” jawab Adam..
“i-itu tidak mungkin. Itu sama sekali tidak benar. Mana mungkin kakekku dan papahku melakukan hal itu?. Itu adalah satu kebohongan” ucap Johan menutup kedua telinganya.
“tidak ada orang lain yang bisa menuliskan bahasa roh alam selain kakekmu yang telah diajari oleh nenekmu” jawab Adam.
“untuk sebentar saja, apa aku bisa sendiri di kamar ini?” tanya Johan.
“baik, kita semua akan keluar” jawab Farel.
“terimakasih” ucap Johan.
Pada akhrinya, Johan menyruuh mereka untuk keluar dari kamar dan memilih utuk menyendiri di kamarnya yang gelap dan sepi itu. Johan memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Adam kepadanya mengenai nenek dan kakeknya di desa.
“aku tidak percaya mereka semua melakukan itu. Aku tidak percaya kalau aku masih tidak tau apa apa. Aku fikir, aku sudah mengetahui segalanya, namun diatas langit masih ada langit. Kebenaran diatas rahasia dan kebohongan diatas realita. Bagaikan fatamorgana, kebenaran dan cinta kasih tidak akan pernah ada. Walau itu dengan orang yang tersayang, itu semua tidak akan membuatmu benar dalam mencintai maupun sedih sebab kehilangan. Bukan karena tidak cukup ikhlas untuk merelakan, namun faktanya kita tidak pernah mengharapkan adanya kehilangan. Lambat laun kesedihan pasti akan sirna, namun perasaan kehilangan akan selalu ada. Bagaikan kembang api di tahun baru, terbang, melayang, menyala, meredup, kemudian selesai. Itu membuktikan tidak ada yang abadi di dunia yang fana akan ketenangan”
“aku sudah memutuskannya. Aku akan menyelamatkan Odessa. aku sudah berjanji kepadanya untuk menjemputnya. Dan aku harus menepati janjiku” ucap Johan dalam hati seraya membulatkan tekadnya.
“kalau aku terus terusan bersedih, aku tidak akan disukai oleh teman temanku lagi. Jika aku terus terusan bersedih, aku akan kembali seperti Johan yang 3 bulan lalu. Yang selalu mengurung diri di dalam kamar karena merasa sedih sebab kehilangan mamah. Namun, Odessa telah mengajarkanku satu hal. Menusia memiliki hak untuk bersedih, namun bersedih tidak membuatmu benar. Odessa telah menyemagatiku untuk selalu ceria dan bahagia di setiap keadaan walau keadaanku begitu terpuruk sekalipun. Dia selalu menghiburku dan menemaniku. Jika dia ada disini, dia akan menamparku karena aku nyaris hampir terlelap dan tenggelam dalam kesedihan layaknya waktu lalu”
“aku tidak akan menyia-nyiakan perlakuan Odessa kepadaku. Odessa sudah merubah karakter dan sifatku, maka dari itu aku harus menjaganya dan terus memperbaikinya sebaik mungkin. Aku tidak akan mengecewakan Odessa dan akan menjemputnya” ucap Johan dalam hati dengan begitu semangat.
Saat itu pula, Johan pun menyeret kursi roda di samping ranjangnya itu dan kemudian duduk disana. Hampir saja Johan terjatuh saat itu. Johan mengalbil infusnya dan memasang infus tersebut ke tiang infus yang sudah menempel di kusi roda. Setelah itu, Johan mendorong kursi roda tersebut hanya menggunakan tangan kanan karena tangan kirinya masih begitu sakit. Johan mendorong kedua roda kursi tersebut yaitu roda kanan dan roda kiri hanya menggunakan tangan kanan yang saat itu sedang dipasang infus.
Pada akhirnya, Johan berhasil membuka pintu menggunakan tangan kananya itu. Melihat Johan yang susah payah keluar kamar menggunakan kursi roda. Dengan teriak begitu kencang dan memasang raut muka begitu bersemangat, Johan berteriak kencang di lorong yang menggema itu.
“aku sudah bosan di dalam kamar. Ayo kita pergi ke taman” teriak Johan.
“ehh?” gumam mereka semua begitu terkejut heran.
“di dalam rumah sakit ini, ada sebuah taman sekaligus kantin. Ayo kita kesana. Aku laper banget parah mau mampus” teriak Johan begitu bersemangat.
“a-apa yang terjadi? kenapa suasana hati dan emosinya cepat sekali berubah?” tanya Emilia.
“kurang tau juga, tapi menurutku lebih baik seperti ini” jawab Adam sedikit tertawa.
“kalian benar, kita lebih baik melihat sisi Johan yang seperti ini” jawab paman Surya.
“apa yang sedang kalian bicarakan? Aku tidak medengarnya dari sini” ucap Johan bernada sedikit kesal.
“ti-tidak,kita hanya terkejut dengan perilaku mu yang benar benar cepat berubah. Apa yang terjadi?” tanya Jehian.
“tidak terjadi apa apa kok. Semua berkat Odessa. Dia adalah satu satunya perempuan yang menyemangatiku ketika aku sedih. Pada akhirnya, aku akan merasa bersalah jika aku terlihat menyedihkan di hadapannya. Aku tidak mau terlihat sedih di hadapannya. Aku tidak ingin mengecewakannya dan tidak ingin pula memembuat perjuangannya untuk merubah perilaku dan sifat ku ini sia sia” jawab Johan dengan senyum begitu tulus.
“yaahh, lebih baik seperti itu” jawab bayangan Odessa yang berada di ujung lorong seraya meneteskan air mata dan tersenyum begitu tulus.
“kalau begitu, ayo kita berangkat!” teriak paman Surya.
“ayo kita berangkaatttt‼!” teriak Nyoman.
“ayoo kita berangkaaaaaaaatttt!” teriak Jehian.
“AAAAYYYYOOOOOHHH KKIIITTTAAAAHHH BBUUEERRRANGGKKAAATTTT” teriak Johan luar biasa kencang di dalam lorong yang menggema itu.
“woyy!, jangan teriak teriak di rumah sakit!” teriak salah seorang lelaki di ruangan lain.
“ma-maaafff pakdeee” teriak Johan balik.
“sudah kubilang jangan teriak teriak!” teriak lelaki tersebut.
“kau juga teriak teriak!” teriak Johan balik.
“dasar kurang ajarrr‼” teriak lelaki tersebut membuka pintu kamar miliknya.
“ehh, om itu membuka pintu kamarnya” teriak Adam.
“LA-LAARRRIIIIIIII‼‼” teriak Johan diikuti oleh mereka semua dengan tawa begitu gelagak.
Sembari lari, Johan seperti melihat Odessa yang sedang melihatnya dari arah lain yang Johan tidak mungkin bisa lihat. Johan merasakan adanya Odessa yang masih menatapnya saat itu. Johan merasakan hawa kehadiran Odessa di satu lorong yang sama.
“tunggu aku, Odessa, aku pasti akan menjemputmu, aku tidak akan lari dari janji kita. Janji Hanabi, pasti akan terus hidup. Aku akan menjemputmu dimanapun dan kapanpun. Tunggu aku, Odessa. aku mencintaimu” ucap Johan dalam hati seraya meneteskan air mata dan tertawa terbahak bahak di lorong tersebut.
-Cerita masih Berlanjut-