Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 77, Perasaan mereka Berdua



“mumpung kita ada di supermarket, apa kamu tidak beli?” tanya Johan.


“ohh iya, aku tidak sempat pergi ke supermarket dan langsung kerumahmu. Aku akan membeli barang barang disini” jawab Callysta.


“kamu mau beli apa?” tanya Johan.


“seperti biasa, belanja bulanan. Aku akan beli detergen, sabun piring, sabun mandi, pasta gigi, dan lain lain” jawab Callysta.


“kalau begitu, aku akan ikut” jelas Johan.


“terserah, ikut saja” jawab Callysta.


Mereka berdua pun memasuki supermarket dan kemudian meletakkan semua barang belanjaan Callysta di keranjang basket tersebut. Saat itu pula, Johan pun memesan kepada mbak mbak kasir supermarket untuk memesan teh dan kopi hangat serta beberapa roti panggang disana.


Saat itu pula, Johan pun mengeluarkan dompet dari sakunya dan membayarkan semua bahan belanjaan milik Callysta. 150 ribu rupiah adalah total belanjaan mereka berdua. Melihat hal itu, Callysta merasa tidak enak karena 150 ribu bukanlah angka yang kecil.


Mereka berdua keluar dari supermarket dan duduk di kursi samping. Johan meletakkan kedua minuman dan dua roti tersebut di atas meja sementara Callysta meletakkan semua belanjaannya di lantai bawah.


“aku akan menggantinya” tegas Callysta mengeluarkan dompetnya dari saku.


“tenang saja, kamu akan membayarnya dengan masakanmu yang enak bersama dengan teman temanmu minggu depan” ucap tulus Johan.


“ka-kalau begitu, terimakasih banyak” jawab Callysta menyaku saku celananya kembali.


“kalau begitu, minum teh mu dan makan roti panggangmu. Nanti keburu dingin” ucap Johan.


“hmm, makasih banyak” jawab Callysta.


“untuk sementara, kita akan menunggu sampai hujannya reda. Selama itu, kita akan menunggu disini. Apa kamu tidak keberatan?” tanya Johan.


“hmm, ti-tidak. Asalkan itu bersama Johan, aku tidak keberatan” gumam Callysta.


“hah? apa? Aku tidak dengar” ucap Johan mendekatkan telinganya.


“hmm, tidak apa apa. Aku juga tidak ingin kehujanan dan membasahi jaketmu ini” ucap Callysta.


“kalau sudah agak gerimis, kita akan melanjutkan pulang kerumahmu. Maaf karena sudah mengajakmu jalan jalan dan membuat kita terjebak disini” ucap Johan.


“hmm, tidak masalah” jawab Callysta menggelengkan kepalanya.


Callysta pun seketika menyeruput teh hangatnya itu dengan begitu nyaman. Callysta juga menyuap roti panggangnya yang masih sedikit panas tersebut. Terlihat dari ekspresinya, Callysta benar benar menyukai roti panggang tersebut.


“waaahh, ini enak banget parah” ucap Callysta dengan nada begitu ceria.


“benarkah? Itu rasa apa?” tanya Johan.


“aku pilih yang vanila” jawab Callysta.


“kalau begitu, kamu masih belum tau rasa dari toping alpukat. Coba punya ku, pasti kamu ketagihan” ujar Johan seraya menyeruput kopi nya.


“apa aku boleh mencoba roti milikmu?” tanya Callysta.


“silahkan saja” jawab Johan.


Callysta pun menggigit roti milik Johan yang dalam keadaan masih panas. Namun Callysta tidak memperdulikannya dan memilih untuk menikmati makanan yang masih panas. Suapan pertama yang Callysta makan dari roti milik Johan membuat Callysta benar benar tidak bisa berkata kata akan nikmatnya toping dari alpukat.


“waaahh, ini jauh lebih enak” jelas Callysta dengan nada begitu bersemangat.


“makan saja milikku, aku juga sudah kenyang” tegas Johan.


“waahh benarkah? Asyiikk!” ujar Callysta dengan ekspresi muka yang begitu gembira.


“neh Johan, apa kopi mu itu juga se enak roti pilihanmu?” tanya Callysta dengan mulut yang masih mengunyah makanan.


“ku-kurasa kamu tidak akan suka dengan kopiku ini, hehehe” jawab Johan memasang raut muka sedikit khawatir.


“aku pengen coba” ujar Callysta.


“yaudahlah kalau begitu, nih coba” ucap Johan memberikan kopi nya kepada Callysta.


“yess makasih” jawab Callysta menerima gelas kopi tersebut.


Callysta pun menyeruput perlahan kopi panas milik Johan tersebut. Saat beberapa Mililiter saja kopi tersebut mengenai lidah Callysta, spontan tubuh dan kepala Callysta bergetar terkejut akan pahit dan kuatnya dari kopi tersebut.


“bwweeekkk, ini apaaaa? Paaiiitt bangettt” ucap Callysta menjulurkan lidahnya.


“sudah kubilang jangan minum kopi. Bagaimana kalau nanti kamu tidak bisa tidur. Lagipula ini memang kopi yang pahit. Mungkin kamu tidak akan suka” ucap Johan.


“apa kamu suka dengan kopi ku? kalau suka minum saja” ujar Johan.


“heehhh, tidak usah, kamu butuh kopi agar terjaga” tegas Callysta.


“tenang saja. Tempat desa ku lahir terdapat kopi yang khas. Kopi yang menurutku jauh jauh jauh jauh jauh lebih enak dari apa yang kamu minum sekarang. Aku akan membiarkanmu mencoba kopi dari desa ku itu. Pasti kamu akan ketagihan” ucap Johan.


“benarkah? Aku jadi tidak sabar” jawab Callysta.


“beneran pahit banget dan mantep banget. Bahkan pak Abdi beli stok disana sebanyak 4 kardus. Kalau nggak salah pak Abdi kasih sekardus kopi ke papahmu saat aku pertama kali kerumahmu kemarin hari” ucap Johan.


“ohhh, itu kopi dari desa mu?” tanya Callysta.


“benar, kalau mau coba saja sendiri dirumahmu” jawab Johan.


“aku akan coba nanti di rumah” ujar Callysta seraya menyeruput kopi milik Johan.


“baiklah, sekarang sudah lumayan mendingan. Tidak se deras hujan tadi. Tapi masih gerimis sedikit. Apa kita lanjut aja?” tanya Johan.


“hmm, iya” jawab Callysta menganggukkan kepalanya.


“cepat habiskan roti mu dan teh mu. Kita akan pulang” ujar Johan seraya memakai helm nya.


“i-iya” jawab Callysta seketika melahap habis rotinya itu dan meneguk teh hangatnya.


Saat itu pula Callysta pun memakai helm nya kembali. Mereka berdua pun berjalan menuju motornya dan mulai menaikinya. Johan menyalakan mesin motor dan kemudian beranjak pergi dari sana. Seperti biasanya, Callysta memeluk tubuh Johan dengan begitu erat.


Kehangatan tersendiri yang tercipta di tengah tengah gerimis malam hari yang dingin begitu mencekam. Sesampainya di depan rumah Callysta, dirinya turun dari motor dan membiarkan Johan tetap duduk di atas jok motornya.


“rumahmu kosong banget, mungkin papahmu masih dirumahku” ucap Johan.


“gapapa. Kalau begitu, aku masuk dulu ya” ujar Callysta.


“emm, anu. Sebelumnya, kamu tanya kepadaku apakah besok hari aku ada acara atau tidak” sahut Johan.


“ohh iya, kalau kamu besok kosong, apa kita bisa keluar?” ucap Callysta.


“besok? Besok adalah hari minggu” ucap Johan.


“iya benar” jawab Callysta.


“besok aku akan membawa Odessa ke mall yang di maksud Kahfi tadi. Mungkin aku akan menolak ajakan Callysta” fikir Johan dalam hati.


“maaf, besok aku akan keluar. Sekali lagi aku minta maaf” ucap Johan sedikit menundukkan kepalanya.


“ohh, jadi begitu. Tidak apa apa, malam ini benar benar seru kok. Kalau bisa, lusa juga tidak apa apa” ucap Callysta.


“aku akan menculikmu dan membawamu menggunakan motor ini untuk berkeliling kemanapun kamu mau” bujuk Johan dengan nada begitu semangat.


“maka dari itu, aku akan menyerahkan diriku sendiri agar aku diculik olehmu” jawab Callysta sedikit tertawa.


“siapp. Sekarang sudah malam. Masuklah dan tidur. Jangan minum kopi!” ujar Johan kembali menyalakan mesin motornya.


“hmm, makasih banyak ya” jawab Callysta seraya tersenyum tulus.


“sama sama. Aku akan menunggu masakanmu dan membayarku dengan itu. Buatlah masakan yang enak sampai bisa mengalahkan masakan buatamu” ujar Johan mengelus kepala Callysta dengan begitu halus.


“hmm, siaapp boskuh” jawab Callysta dengan ekspresi muka begitu ceria.


“aku akan kembali” jelas Johan.


“hati hati di jalan” jawab Callysta sedikit melambaikan tangannya.


“hmm, iya” ucap Johan.


Callysta memberikan helm Johan yang berada di tangan kanannya kepada Johan. Johan pun menggantungkan helm tersebut di lengan kirinya. Saat itu pula, Johan menarik gas nya dan kemudian mulai beranjak pergi dari sana. Johan melihat dari kaca spionnya dan mendapati jika Callysta maish saja melambaikan tangan ke arahnya. Hingga sampai Johan tidak dapat melihat rumah Callysta karena jarak, Johan masih merasa kalau dirinya sedang dipeluk dari belakang.


“benar benar menyenangkan. Benar benar seru jika aku memiliki adik perempuan sepertinya. Aku bisa memanjakannya sesuka hatiku” fikir Johan dalam hati.


“benar benar menyenangkan. Aku harap Johan bisa mengerti perasaanku. Aku menyukainya dan aku berharap Johan memiliki perasaan yang sama sepertiku” fikir Callysta dalam hati seraya berjalan menuju dalam rumahnya.


Malam itu juga, Johan sudah merasa begitu kedinginan hingga sampai dekat rumahnya. Johan membuka pagar rumahnya dan kemudian membuka pagar garasi hanya sekedar memarkirkan motor miliknya itu. Selepas memarkirkan motornya, Johan keluar dan kemudian mengunci garasinya dari luar.


Johan pun menutup pagar rumahnya dan kemudian berjalan memasuki rumahnya.


“aku pulangggg” teriak Johan.