Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 81, Pagi menjemput Odessa



*tok tok tok


“apa ada orang?” tanya Johan seraya mengetuk pintu kamar mandi.


“bentar, mamah masih ada didalam” jawab sang ibunda.


“apa mamah masih lama?” tanya Johan.


“mamah baru aja masuk. Mungkin agak sedikit lebih lama” jawab sang ibunda dari dalam.


“hmm, okelah” jawab Johan.


Saat itu pula, Johan segera berjalan ke arah kulkas di dapur dan melihat lihat isi dari dalam kulkas tersebut. Johan berniat untuk membuatkan sarapan untuk mamahnya pagi itu.


Dalam waktu 10 menit, Johan berhasil membuat sayur sop segar dan beberapa gorengan sosis tempura ikan. Ia juga kehabisan beras namun di dalam karung masih terdapat nasi merah. Johan pun memanaskannya dan memasukkannya kedalam penanak nasi.


Saat sang ibunda keluar dari kamar mandi dengan dalam keadaan begitu segar, saat itu pula Johan menyelesaikan semuanya. Johan melepas celemek masaknya dan kemudian menghampiri sang ibunda yang berada di depan kamar mandi.


“aku udah masak, jadi mamah tinggal makan dan minum obat aja. Kalo paman Surya dan pak Abdi kesini, mereka juga suruh makan. Abis ini aku berangkat” jelas Johan.


“makasih ya nak Johan” jawab sang ibunda mengelus rambut Johan.


“aku mau mandi dulu” ucap Johan.


“pemanasnya mati lagi. Sebentar lagi paman Surya akan memperbaikinya. Apa kamu tidak menunggu paman Surya saja?” tanyas sang ibunda.


“tenang aja, aku sudah kebiasa mandi air dingin kok” jawab Johan.


Saat itu, Johan pun berjalan memasuki kamar mandi dan membasuh seluruh tubuhnya ditempat itu. 15 menit Johan membersihkan tubuhnya, Johan pun keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sebagai penutup bagian bawahnya saja. Saat Johan berjalan keluar dari kamar mandi, Johan mendapati sang ibunda yang tengah makan di meja makan seorang diri seraya memainkan ponselnya.


“apa enak?” tanya Johan dari pintu kamar mandi.


“Kalau nak Johan yang buat, tidak akan pernah tidak enak” jawab sang ibunda.


“mamah bisa aja” jawab Johan.


“apa paman Surya akan kesini?” tanya Johan.


“iya, sebentar lagi orangnya akan dat-“ ucap sang ibunda terhenti.


“permisi, aku masuk” teriak paman Surya dari ujung pintu depan membuka pintu tersebut.


“tuhkan, baru aja di bilangin, orangnya udah dateng” ucap sang ibunda.


“panjang umur paman Surya” teriak Johan kepada paman Surya yang tengah berada di ruang tamu.


“apa yang kalian berdua bicarakan tentangku? Aku harap kau tidak membicarakan ukuran celana dalamku” tanya sang paman Surya berjalan menuju ke ruang tengah bersama dengan pak Abdi.


“pak Abdi, kau juga kemari” ucap Johan.


“daripada aku harus menunggu di kantor perusahaan dan menunggu kiriman barang, lebih baik aku makan masakanmu saja. ada masakan apa hari ini?” jawab pak Abdi.


“apa bapak ada kerjaan hari ini?” tanya Johan.


“kerjaanku menumpuk malam nanti. Untuk pagi dan siang, aku lagi nganggur” jawab pak Abdi.


“kalau begitu, apa pak Abdi tau apa yang aku maksud?” tanya Johan.


“aku akan menunggumu di depan rumah. Cepat pakai pakaianmu” jawab pak Abdi seraya berjalan ke arah teras rumah.


“sipp” jawab Johan.


Saat itu pula, Johan pun segera berjalan menuju kamarnya hanya untuk sekedar memakai pakaiannya saja. Saat itu pula, Johan kembali turun ke bawah dan kemudian menemui pak Abdi yang tengah berdiri bersandar di tembok teras rumahnya. Sebelum itu, dirinya mendapati jika sang ibunda dan paman Surya sudah mulai menikmati hidangan yang telah dirinya sajikan.


“pak Abdi, permisi” ucap Johan berjalan kearahnya.


“kau mau kemana?” tanya pak Abdi.


“seperti biasa” jawab Johan.


“apa yang akan kau lakukan di desa?” tanya balik pak Abdi.


“untuk menjemput Odessa” jawab Johan.


“hah? menjemput Odessa? Pacarmu itu?” tanya pak Abdi.


“hehehe, iya” jawab Johan.


“aku tidak memiliki waktu untuk membuang buang waktu melakukan hal yang tidak penting seperti itu” tegas pak Abdi mengeluarkan seputung rokok dari kemasan rokoknya itu.


“ayolah pak, hanya sebentar. Kita akan kesana dan kemudian kembali dengan membawa Odessa” ucap Johan dengan begitu memohon.


“aku akan menyediakan rokok dan kopi beserta gorengan di dalam mobil. Aku yang akan membayar uang tol dan uang bensin” sahut Johan.


“siapkan barang barangmu, kita akan berangkat sekarang juga” sahut pak Abdi memasang kacamata hitam dari saku kemejanya itu.


“naahh gitu dong. Kita hanya akan menjemputnya. Tidak perlu membawa barang, cukup uang” jawab Johan.


“cepat siapkan” tegas pak Abdi.


“siapppp” jawab Johan.


Saat itu pula, Johan pun kembali ke dalam rumahnya hanya untuk memakai sepatunya dan kemudian memakai jaketnya. Tidak lupa, Johan membawa dompetnya dan kemudian berjalan kembali ke lantai bawah menemui pak Abdi. Di tengah tengah tangga, sang ibunda menanyakan akan kemana Johan akan pergi.


“nak Johan mau kemana?” tanya sang ibunda.


“ma-mau berangkat dan di anter sama pak Abdi. Katanya pak Abdi, sekalian mau anter barang” jawab Johan.


“hmm, begitu. Hati hati di jalan dan jangan lupa minum obat” ucap sang ibunda.


“makasih ya mah” jawab Johan.


“kalau begitu, Johan berangkat dulu. Paman Surya juga makan yang banyak” ujar Johan.


“aku tidak akan menyisakan makanan ini untuk dibuang karena basi. Sampai tetes terakhir, kuah sup ini akan sangat langka dan tidak akan bisa ditemukan dimanapun” ucap paman Surya.


“paman bisa aja” jawab Johan.


Sebelum itu, Johan mengambil kunci motornya dan kunci pintu garasinya. Saat itu pula, Johan berjalan keluar dari rumah dan kemudian menutup pintu rumah dari luar.


“jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya pak Abdi.


“aku akan membawa motorku hingga rumah paman Surya. Dan aku akan meletakkannya disana. Kemudian aku akan masuk kedalam mobil pak Abdi dan kemudian berangkat menjemput Odessa. Selepas itu, jika kita sudah kembali di kota, bapak berhenti di rumah paman Surya. Aku dan Odessa akan turun disana. Aku sudah memberitahu paman Surya dan mamah kalau pak Abdi sedang ada kerjaan” jelas Johan.


“jadi, aku akan mengantarmu dan menjemput Odessa dari desa. Kemudian kalian berdua akan turun di rumah paman Surya. Apa begitu?” tanya pak Abdi.


“mantap” jawab Johan.


“kalau begitu, aku akan mengeluarkan motorku dan kemudian mendorongnya sedikit lebih jauh dari rumah ini agar suara knalpot motorku tidak terdengar oleh paman Surya dan mamah” ucap Johan.


“cepat!” tegas pak Abdi.


Saat itu pula, Johan melakukan apa yang telah direncanakan. Johan membuka perlahan pintu garasi dan kemudian mengeluarkan monsternya itu. Johan mendorongnya keluar dari pagar rumah dan kemudian terus mendorognya hingga kemungkinan suara knalpot motornya tidak terdengar lagi dari rumahnya.


Saat itu pula, Johan menyalakan mesin motornya. Dengan begitu berisik, Johan kemudian menarik gas dan kemudian segera beranjak menuju rumah paman Surya diikuti oleh mobil pak Abdi dari belakang. hingga sampai Johan meletakkan motornya di halaman pagar rumah paman Surya, Johan melihat jam tangannya dan mendapati jika saat itu sudah pukul 5.45 pagi.


Pak abdi pun berteriak dari dalam mobil kearah Johan yang sedang berdiri di samping motornya di depan halaman rumah paman Surya.


“ayo masuk cepat, keburu jalan tol nya macet” teriak pak Abdi.


“siappp” jawab Johan.


Saat itu pula, Johan mengunci setir motornya dan kemudian berjalan meninggalkan motornya. Johan memasuki mobil pak Abdi. Pak Abdi seketika menancapkan gas dan kemudian berjalan ke arah gerbang tol.


Saat itu, Johan sudah menyiapkan semuanya untuk pak Abdi. Pak Abdi seketika menancapkan gas dan kemudian berjalan ke arah gerbang tol. Saat itu, Johan sudah menyiapkan semuanya untuk pak Abdi. Di mulai dari kopi hitam, gorengan, dan rokok. Semuanya sudah Johan siapkan hanya untuk pak Abdi seorang.


Perjalanan di dalam jalan tol pun dimulai. Nyatanya mereka hanya membutuhkan dua setengah jam untuk menuju ke ke desa Engkobappe. Selama di perjalanan, Johan tidak kuasa menahan detak jantungnya yang begitu cepat berdebar itu. Bayangan wajah Odessa yang selalu berada di langit biru yang begitu segar nan cerah itupun tidak bisa di hilangkan.


Telapak tangan Johan terus menerus berkeringat karena terus menerus di teror oleh perasaan gugup dan malu. Dengan kata lain, Johan benar benar baru pertama kali ini mengajak seorang perempuan untuk kencan. Dan itu membuat Johan tidak pernah merasa kalau dirinya akan berhasil membahagiakannya.


Rasa percaya diri Johan yang begitu rendah membuat Johan tidak telalu bisa menatap mata lawan bicaranya. Namun kali ini, Johan sudah benar benar berniat untuk menatap mata Odessa dengan tatapan begitu percaya diri.


“apa kau sudah siap, anak muda?” tanya pak Abdi.


“sangat siapp” jawab Johan.


“dasar anak muda, kau sangat menikmatinya. Aku jadi teringat saat saat aku masih sma dan mengajak seorang perempuan untuk kencan bersamaku malam hari. Saat aku berada di perjalanan menuju rumahnya, hatiku berdegup kencang. Aku yakin kau juga seperti itu saat ini” jelas pak Abdi.


“hehehe, iya” jawab Johan.


“temuilah Odessa dengan tatapan begitu percaya diri. Ulurkan tanganmu dan genggam tangannya. Jangan lepaskan tangannya. Tataplah matanya dan kemudian katakan padanya kalau kita akan bersenang senang hari ini. Aku yakin perempuan akan sangat menikmati saat saat itu” uelas pak Abdi.


“makasih pak, itu sangat membantuku. Pak Abdi berhentilah di depan gapura. Aku yang akan masuk ke dalam hutan walau itu sedikit jauh. Kita akan masuk kedalam mobil” ucap Johan.


“santai saja. kalian duduklah di kursi belakang. aku akan menunggu kalian berdua disini sambil menikmati kopi dan gorengan mantap jiwa buatanmu itu. lumayan buat sarapan” jawab pak Abdi.


“mantap jiwa luar biasa, hehehe” jawab Johan mengacungkan jempolnya itu.


5 menit kemudian, mereka sampai di depan gapura desa Engkobappe. Mobil pak Abdi berhenti di depan gapura tersebut sementara Johan turun dari mobilnya. Johan berjalan lumayan jauh untuk menuju ke kantor desa. Membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit untuk berjalan dari gapura hingga kantor desa.