Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 79, Firasat buruk Emilia



Saat itu pula, Johan pun men-charge ponselnya dan kemudian meninggalkan kamarnya. Johan berjalan kembali ke ruang tamu hendak menemui mereka semua di ruang tamu.


“huffttt, ponselku baterainya habis” jawab Johan.


“lama banget” jawab Jehian.


“aku baru aja liat video di YouTube mengenai Informasi Turnamen game. Tapi aku lupa kalau aku sudah tidak memiliki komputer” jawab Johan.


“ehh? Kemana komputermu?” tanya Jehian.


“yaahhh, jangan dibahas lagi. Itu sudah lalu” jawab Johan.


“sayang banget, padahal kau bisa dapet duit dari turnamen game” jawab Farel.


“kalau sudah begini, kau bermain dengan apa?” tanya Nyoman.


“aku bermain di HP seperti biasa” jawab Johan.


“tapi itu kurang luas” sahut Jehian.


“bodoamat, yang penting bisa main” jawab Johan.


“kalian bisa membicarakan game kalian di rumah kalian masing masing lewat pesan WhatsApp. Sekarang kalian semua pulanglah” tegas paman Surya.


“yaaaahh, tapi paman. Ini masih jam-“ ucap Jehian dengan nada mengeluh.


“tidak ada tapi tapian. Kalian harus pulang sekarang juga” tegas paman Surya.


“itu benar. Menginaplah disini minggu depan” jawab Johan.


“hmm, okelah” jawab mereka semua dengan nada lesu.


Saat itu pula, secara bersamaan mereka semua berdiri dari tempat duduknya dan kemudian berjalan beramai ramai menuju ke kamar Johan bersama dengan Johan itu sendiri. Mereka semua pun memasuki kamar Johan dan mengenakan jaket mereka yang mereka letakkan sebelumnya di kamar Johan.


Mereka mengambil ponsel dan barang bawaan mereka semua seraya merapihkan kamar Johan. Mereka semua kembali melipat futon yang sebelumnya mereka gunakan untuk perang bantal. Dan juga mereka membuang semua sampah snack yang mereka beli disupermarket saat lalu.


Hingga sampai semua kamar Johan berhasil di kemas dan dirapihkan, mereka semua memakai jaket dan berniat untuk pulang. Namun sebelum mereka keluar dari kamar, mereka semua di hadang oleh Johan yang berdiri di depan pintu.


“sebelum kalian pulang, aku ingin membahas sesuatu dengan kalian” ucap Johan.


“sesuatu? Apa itu?” tanya mereka semua.


“aku besok akan pergi ke desa lagi bersama dengan pak Abdi. Aku tau mamahku tidak akan pernah mengijinkanku untuk pergi ke desa. Maka dari itu, aku akan beralasan untuk bermain pergi ke rumah kalian hanya sekedar untuk mengerjakan tugas. Aku akan beralasan ke rumah Nyoman” ujar Johan.


“heeehhh? Kok rumahku?” tanya Nyoman begitu terkejut.


“karena rumahmu yang paling jauh” jawab Johan.


“padahal rumahku dan rumah Farel selisih 1 meter” jawab Nyoman.


“sudah, jangan membantah. Aku akan beralasan untuk pergi kerumahmu besok pagi. Dan jika mamahku dan paman Surya bertanya keberadaanku, bilang saja kalau aku berada di rumah Nyoman. Aku serahkan tugas suci ini kepada kalian semua” tegas Johan.


“kenapa jadi kami yang begitu beresiko?” tanya Jehian.


“tenang saja, jika mamah dan paman Surya benar benar sudah curiga kepada kita semua, dan saat itu kalian sudah terpojokkan dan tidak bisa mengelak lagi, kalian bisa jujur kepada mereka semua. Aku yakin aku akan dipukuli habis habisan dengan paman Surya dan mamah seperti kemarin hari. Tapi itu tidak apa apa” jawab Johan.


“apa kamu yakin?” tanya Emilia.


“tenang saja. Anggap saja aku kan menyelamatkan hutan sama seperti apa yang telah aku lakukan dahulu. Dan aku memang akan melakukannya” jelas Johan.


“apa yang akan kau lakukan disana?” tanya Kahfi.


“aku sudah mengatakannya kepada kalian kalau aku sudah membuat sebuah komite di desa itu untuk menjaga keamanan hutan dan desa” jelas Johan.


“setelah itu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Kahfi.


“setelah itu, aku akan langsung pulang” jawab Johan.


“benar benar pembohong yang buruk” fikir Kahfi dalam hati.


“aku tidak ingin kau kembali ke kota dalam keadaan kedua kaki yang tertembak pistol” sahut Emilia.


“ti-tidak apa apa. Itu hanya perumpamaan” jawab Emilia.


“entah kenapa, aku berfirasat buruk esok hari” fikir Emilia dalam hati.


“pokoknya, aku tidak mau tau. Aku tidak ingin kau kembali ke kota dalam keadaan tubuh tergeletak di kasur rumah sakit” tegas Emilia.


“tenang saja” jawab Johan.


“kalau begitu, kalian bisa pulang sekarang” jawab Johan kepada mereka semua.


“baik” jawab mereka semua.


Saat itu pula, mereka semua berjalan di tangga beramai ramai dan kemudian berjalan ke arah pintu luar rumah. Begitupula dengan paman Surya dan pak Abdi yang sudah memakai jaket dan sepatu hendak pulang kerumah mereka masing masing.


“kalau begitu, kita akan pulang” ucap pak Abdi kepada Johan dan sang ibunda yang berada di dalam rumah.


“hati hati di jalan” ucap sang ibunda dan Johan bersamaan.


“terimakasih atas semuanya” ujar mereka semua.


“mampir lagi kapan kapan” jawab Johan melambaikan tangannya.


Satu persatu dari mereka pun memasuki mobil pak Abdi begitupula dengan paman Surya. Mereka semua memasuki mobil dan kemudian menyalakan mesin mobil. Saat itu juga pak Abdi menancap gas dan kemudian beranjak menjauhi rumah tersebut.


Saat itu pula, gerimis sudah reda. Johan mengunci pintu pagar menggunakan gembok dan rantai dan kemudian mengecek pintu garasi. Johan pun segera masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rumah dari dalam. Saat itu pula, terdapat sang ibunda yang tengah memakai celemek masak dan kemudian mencuci piring di atas meja.


Johan pun pergi menuju ke kamar mandi hanya untuk sekedar pipis. Dan selepas itu, Johan pun membantu sang ibunda untuk mengeringkan piring dan meletakkannya di rak piring. Sang ibunda memberi piring yang masih basah untuk dikeringkan oleh Johan menggunakan lap bersih dan kemudian di letakkan ke rak piring.


“mah” ucap Johan seraya mengelap piring tersebut.


“hmm?” jawab sang ibunda menggumam seraya membasuh piring piring tersebut.


“besok aku akan menuntaskan semua tugas tugasku yang sudah lobang 3 bulan di rumah Nyoman” jelas Johan.


“jadi? apa kamu minta uang saku?” tanya sang ibunda.


“bukan begitu, cuma pengen bilang aja dan cuma ingin pamit ke mamah” jawab Johan.


“kenapa tidak mereka aja yang kesini?” tanya sang ibunda.


“rasanya tidak enak jika kita semua harus ketemu di rumah ini. Kita butuh suasana baru. Rumah Nyoman jauh dengan perkotaan yang berisik dan berdebu. Disana bener bener tenang” jawab Johan.


“tersereah nak Johan. Tapi mamah cuma mau bilang kalau jangan terlambat minum obat dan jangan terlalu lelah” tegas sang ibunda.


“siapp mamah” jawab Johan.


Setelah melakukan semua pekerjaan tersebut. Johan memastikan jika pintu sudah di kunci. Johan mematikan lampu ruang tamu dan ruang tengah. Johan pun berjalan di tangga atas hendak menuju ke kamarnya.


“selamat malam” ucap sang ibunda memasuki kamarnya yang berada di lantai bawah.


“selamat malam juga. Jangan lupa minum obat mamah” jawab Johan seraya berjalan ke arah kamar atas.


Sesaat setelah itu, Johan pun membuka pintu kamarnya dan kemudian mengunci pintu kamarnya dari dalam. Saat itu pula, Johan membuka jendela kamar tersebut dan meletakkan kursi meja belajarnya di depan jendela tersebut dan kemudian mendudukinya.


Sebelum itu, Johan sudah mengambil ponselnya. Johan pun duduk di kursi tersebut dalam keadaan tubuh yang tertiup udara malam yang segar nan lembab. Johan membuka aplikasi WhatsApp di ponselnya dan kemudian melihat profile nomer dari Adam Abraham.


“apa orang itu belum tidur? Apa aku harus menelfonnya sekarang?” fikir Johan dalam hati.


“setidaknya, aku harus menelfonnya untuk berbincang. Aku akan mengajaknya ketemuan besok malam setelah aku bermain main dengan Odessa” ucap Johan membulatkan niatnya.


Saat itu pula, Johan pun menelfon Adam dimalam itu juga. Namun sayangnya, sudah 3 kali Johan menelfon, Adam sama sekali tidak menjawab.


“yaahhh, mau bagaimana lagi. Aku menemukan nomer telfon ini dari akun facebooknya yang sudah dibuat 1 tahun lalu. Pasti dia sudah memiliki nomer baru” ucap Johan dengan menghela nafas begitu panjang.


Johan pun berdiri dari tempat duduknya. Johan menjulurkan tangannya jauh ke luar jendela hendak menutup kaca jendela yang jauh terbuka di depan. Saat itu pula, ponsel Johan yang berada di dalam saku celananya itupun berdering. Nyatanya, Johan di telfon oleh seseorang.


Saat Johan membuka ponselnya, dengan benar benar terkejut Johan mendapati jika Adam menelfon balik dirinya itu. Spontan Johan begitu terkejut dan begitu senang akan Adam yang menelfonnya. Seketika Johan pun menjawab panggilan tersebut dengan begitu cekatan.


“ha-halo” ucap Johan di dalam telefon.