Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 6, Kepulangan Johan



Jam 9 pagi, dimana seperti biasa, di jam seperti ini Johan usdah tertidur pulas di ranjangnya sendiri. Namun, ini adalah hal untuk pertama kalinya setelah sekian lama dimana dia tertidur di ranjang milik seorang perempuan. Agak sedikit risih namun tetap membuat nyaman, itulah yang difikirkan Johan saat merebahkan tubuhnya di kamar tersebut.


“jam 9, biasanya aku udah tidur di kamarku yang bau dan pengap, tapi sekarang aku sedang rebahan santuy di kamar perempuan. Bener bener aneh” gumam Johan dalam hati.


Sesaat setelah Johan menggumam, tepat pada jendela ruangan Emilia, ia mendapati angin yang keluar masuk kedalam kamar tersebut. Seketika itu ia teringat akan perkataan Dewi Alam dimana Dewi Alam menyuruhnya untuk meminta maaf kepada kedua orangtuanya walaupun mereka berdua bukanlah orang tua kandung dari Johan.


“apakah memang sang Dewi Alam memberikan pertanda untukku agar aku bisa berbaikan dengan papah? Tapi bagaimanapun juga aku masih benar benar nggabisa terima dengan nenek nenek tua itu” fikir Johan seraya menatap jendela luar.


Jam 9.30 tepatnya pada saat itu, masakan dari sang ibunda Emilia pun akhirnya matang. Di dapur rumah Emilia yang bersih nan rapih, terdapat koki yang hebat dalam memasak, yaitu sang ibunda dari Emilia. Khusus untuk Johan pada pagi ini, beliau membuat bubur agar Johan bisa mengkonsumsi makanan dengan mudah.


“nak Kahfi! kesini sebentar nak!” teriak ibunda Emilia kepada Kahfi.


“iya mah!” jawan Kahfi seraya berteriak kencang dari lantai dua.


Kahfi pun turun dari kamarnya yang berada di lantai dua dan menemui sang mamah yang memanggilnya barusan. Sang ibunda pun menyuruh Kahfi untuk memberikan bubur tersebut kepada Johan yang berada didalam kamar Emilia berharap setelah memakan bubur tersebut, Johan dapat meminum obatnya dan kemudian kembali istirahat.


Pada awalnya, Kahfi menolak akan perintah dari sang mamah, tapi karena paksaan serta suruhan mamah yang memang tajam setajam silet, pada akhirnya Kahfi pun dengan terpaksa harus memberikan bubur tersebut kepada Johan yang berada di dalam kamar Emilia. Ia pun membawa sepiring berisi bubur hangat dengan segelas air putih.


Untuk lebih menghargai privasi Johan, maka Kahfi pun mengetuk beberapakali pintu kamar dari Emilia berharap Johan bisa mengijinkan Kahfi untuk masuk. Namun setelah berlama lama Kahfi menunggu, Kahfi sama sekali tidak mendapati balasan dari Johan di balik pintu tersebut. Hingga pada akhirnya, ia sedikit kesal dan memutuskan untuk tidak memperdulikan mengenai privasi Johan dan seketika membuka pintu kamar tersebut.


“aku masuk” ucap Kahfi seraya melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.


Nyatanya, Kahfi hanya mendapati tubuh Johan yang tertutup selimut seutuhnya. Tidak satupun tubuh Johan terlihat kecuali semua bagiannya telah tertutup oleh selimut. Kahfi perlahan meletakkan sepiring bubur dan gelas berisi air putih tersebut di meja samping ranjang tersebut.


“aku udah tinggalin makananmu disini, cepatlah makan atau bubur ini akan dingin” ucap Kahfi berjalan hendak keluar dari kamar.


“hey, apa kau tuli? Cepatlah makan atau makananmu akan dingin!” ujar Kahfi berdiri di pintu kamar.


“terserahmu, kenapa juga aku harus khawatir denganmu” ucap Kahfi merasa tak acuh.


“CEPATLAH MAKAN SEKARANG JUGA!” teriak Kahfi


Dengan kesabaran yang sudah melewati batas, nyatanya Kahfi benar benar sudah tidak tahan lagi. Kahfi tersulut emosi hanya karena Johan tidak membalas perkataannya barusan. Kahfi pun berjalan ke ranjang milik Emilia hanya untuk menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Johan itu.


“dasar tuli, apa kau mendengarku!?” ucap Kahfi seketika menarik selimut penutup tubuh Johan tersebut.


Namun, hal mengejutkan terjadi. Kahfi benar benar terkejut akan apa yang ia lihat. Ia hanya mendapati beberapa guling yang menumpuk dibalik selimut tersebut tanpa adanya Johan. Ia pun kebingungan dan terheran kemana Johan pergi. Ia pun mulai melihat lihat dan mengamati sekitar, nyatanya dia berspekulasi kalau Johan telah benar benar kabur melewati jendela kamar Emilia tersebut.


Ia pun seketika berlari menuju dapur untuk memberitahukan semuanya kepada sang ibunda. Mendengar itu, sang ibunda seketika terkejut bukan main. Mereka berdua pun mencari cara bagaimana mereka bisa menemukan kemana Johan berada.


“tubuhnya masih belum fit, aku sangat yakin kalau dia maish benar benar belum bisa berjalan cukup jauh. Mending kamu cari dia sampai ketemu” ucap sang ibunda.


“heh? Kok jadi aku yang harus cari dia sih?” tanya Kahfi.


“udah, cari aja, nanti mamah bakal kasih uang jajan lebih” ujar sang ibunda.


Kahfi pun seketika mengambil sepeda kayuh miliknya dan mencari Johan di sekeliling rumahnya dan bahkan di seluruh komplek rumahnya. Disisi lain, Johan yang memang berusaha kabur dari kamar tersebut merasa kelelahan akan apa yang ia lakukan barusan. Secara tidak sadar, Johan merasa kalau dirinya memang tidak ingin kabur, namun entah kenapa perasaan serta fikirannnya memaksa dirinya untuk kabur dari rumah tersebut.


“kenapa aku malah kabur? Padahal aku udah bilang sama mamahnya Emilia untuk tidak melakukan hal yang berat. Kenapa aku malah lari? Dasar Johan bodoh!” fikir Johan dengan nafas ngos ngosan.


Johan pun bersinggah di salah satu taman dekat danau dimana taman tersebut adalah tempat terakhir kali Johan pingsan. Dirinya pun bersinggah di kursi yang sama seperti kemarin sore dengan tubuh yang masih kelelahan. Keringat deras pun membasahi tubuh Johan dan membuat Johan merasakan dingin angin pagi itu di setiap helai kain yang ia kenakan.


Johan pun mengusap keringat yang membanjiri jidat dan juga leher. Tanpa disadari, terdapat satu tato yang berada di telapak tangan Johan yang membentuk seperti pohon dengan dedaunan yang mirip dengan helai rambut singa. Ia pun benar benar terkejut dengan apa yang ia temukan di telapak tangan kirinya itu.


“ko-kok bisa? Aku ada tato di telapak tangan kiriku? Dan juga bentuknya keren banget!” ucap Johan seraya mengelus tato miliknya itu.


“kalo dipikir pikir, aku sama sekali tidak pernah memasang tato di tubuhku. Tapi kenapa ada tato di telapak tanganku? Apa jangan jangan, ini adalah simbol karena aku pernah bersentuhan tangan dengan Dewi Alam di dalam dunia mimpiku barusan?” fikir Johan betanya tanya.


Pada dasarnya, simbol itu diberikan oleh dewi alam karena dia adalam insan yang selalu menjaga alam dengan baik tanpa merusak alam sedikitpun. Dengan kata lain, Johan adalah salah satu manusia yang benar benar beruntung bisa bertemu dengan dewi alam didalam mimpinya.


“apa yang bisa aku lakukan dengan tato ini? apa jangan jangan aku bisa mengendalikan alam?” tanya Johan terkagum.


Maka Johan pun segera membuka lebar lebar telapak tangan kirinya dan mulai mengibaskan kencang ke seluruh tubuhnya. Ia melakukan itu berharap agar angin sepoi sepoi datang meniupnya. Namun, tidak ada sedikitpun angin yang berhembus saat itu. ia pun sedikti kecewa dengan apa yang telah ia ekspetasikan. Karena pada dasarnya, Johan yang terlalu menghayal tentang adanya kekuatan super.


“bener bener ngga guna” gumam Johan seraya menatap telapak tangan kirinya sendiri.


Johan pun seketika itu berdiri dan kemudian beranjak pergi dari taman tersebut. Perlahan namun pasti, dirinya dengan santainya berjalan menuju rumahnya sendiri dengan pakaian tidur tersebut. Hal itu membuat orang orang yang ada di komplek rumah Emilia memandangi Johan yang saat itu tengah berjalan di jalanan tanpa menggunakan alas kaki dan memakai pakaian tidur bersamaan dengan tubuh yang masih lusuh karena belum mandi dan mencuci muka.


Jam 10 pagi, dimana matahari sudah benar benar menerangi tanah bumi dengan sinarnya. Johan pun berjalan pulang tanpa alas kaki satupun. Dengan pakaian lusuh serta muka yang masih sedikit pucat, dirinya mengetuk pintu rumah dan sekeitka melangkahkan masuk kedalam pintu rumah.


“permisi, aku pulang!” teriak Johan memasuki rumah.


Mendengar suara anak mereka, sang papah dan mamah tiri Johan seketika berlari menuju ke ruang tamu untuk melihat apakah benar anak yang mereka cari itu sudah kembali. Dengan begitu terkejutnya, mereka berdua melihat anak mereka Johan dalam keadaan pucat dan penampilan yang berantakan.


“nak Johan?kamu habis kemana aja nak?” tanya sang ibunda dengan raut wajah begitu terkejut.


“abis nginep di rumah temen” jawab Johan dengan nada juteknya.


“padahal mamah kamu khawatir banget sama kamu. Kemarin malem bener bener hujan deres banget dan kamu masih belum pulang. Mamah kamu menelfonmu berkali kali tapi kamu malah ninggalin hp kamu di dalem kamar” ujar sang papah dengan begitu khawatir.


“papah kamu cari kamu di mana mana tapi tetep ngga ketemu. Papah kamu bener bener panik karena memang sebelumnya kamu nggapernah keluar sendiran” ucap sang ibunda.


Seketika saat itu pula, sang mamah pun berjalan ke arah Johan di pintu depan. suara langkah kaki sang ibunda membuat jantung Johan berdebar kencang karena sedikit takut.


“aku pasti bakal di marahi habis habisan, tapi apa boleh buat, memang aku yang bersalah dari awal” fikir Johan dalam hati.


Johan pun memejamkan kedua matanya itu karena takut. nyatanya Johan merasa kalau dirinya akan di tampar oleh sang ibunda dengan begitu keras. Maka dari itu Johan pun memejamkan kedua matanya karena sedikit takut dan mempersiapkan diri untuk menerima tamparan keras dari sang ibundanya itu.