
Udara semakin dingin. Untungnya mereka berdua memakai jaket yang tebal nan hangat. Mereka sampai di rumah tepat pukul jam 7 malam. Mobil pak Abdi sudah berada di depan pagar rumah Johan dan hendak menjemput Johan bersama dengan Odessa.
Johan lalu memasukkan motornya kedalam garasi. Mereka berdua pun berjalan ke dalam rumah dengan dalam kondisi tangan dan kaki yang begitu dingin. Disana, terdapat sang ibunda dan pak Abdi yang tengah berada di depan laptop.
“apa Odessa akan pulang?” tanya pak Abdi.
“i-iya” jawab Odessa.
“kalau begitu, biar pak Abdi yang mengatar” sahut pak Abdi.
“aku juga akan ikut mengantarkan Odessa” sahut Johan.
“terserahmu” jawab pak Abdi.
“hati hati di jalan, jangan ngebut dan jangan lupa membawa payung. Takutnya hujan” ucap sang ibunda.
“tidak usah, pasti tidak hujan kok” sahut Johan.
“Terserahmu” ucap sang ibunda.
“tante, Odessa pulang dulu” ucap Odessa seraya berjalan ke arah sang ibunda.
“ohh, iya nak Odessa. Hati hati di jalan ya” ucap sang ibunda.
“Odessa pamit pergi” ucap Odessa mengecup tangan sang ibunda.
“kapan kapan mampir lagi kerumah. Berjanjilah, kamu dan Johan yang akan memasakkan makanan buat tante” ucap sang ibunda.
“siapp tante” jawab Odessa.
“kalau begitu, ayo kita berangkat” ajak pak Abdi.
“baik” jawab mereka berdua.
Mereka bertiga pun berjalan keluar rumah tersebut dan memasuki mobil. Seperti biasa, merkea tidak melupakan keamanan saat berkendara. Mereka bertiga memakai sabuk pengaman. Johan dan Odessa duduk di kursi tengah sementara pak Abdi menyetir mobil tersebut.
Seperti apa yang telah direncanakan, pak Abdi mengarahkan mobilnya ke taman kota terlebih dahulu dan mempersilahkan Johan untuk pergi menemui Adam. Sesampainya disana, Johan pun membuka pintu mobil tersebut dan hendak keluar.
“kamu mau ngapain?” tanya Odessa menarik kain baju milik Johan.
“aku kebelet pipis. Aku mau mampir ke toilet umum dahulu” jawab Johan.
“cepetan” ucap Odessa.
“iya, aku cepet kok” jawab Johan.
Johan pun berjalan ke arah tengah dari taman kota tersebut. Johan mengeluarkan ponselnya di saku celana dan menelfon Adam disaat itu juga. Adam pun menjawab telfon dari Johan dengan begitu cepat.
“iya, halo?” ucap Adam.
“kau sekarang ada dimana?” tanya Johan.
“aku ada di tempat samping danau taman kota” jawab Adam.
“aku otewe kesana” ucap Johan.
“cepetan, dingin banget disini” tegas Adam.
Johan mematikan telfonnya dan spontan seketika berlari ke arah yang akan di tuju. Saat Johan menuju ke tempat yang telah dituju, Johan mendapat ada seorang lelaki yang tengah berdiri menatapi danau tersebut.
“apa kau yang bernama Adam Abraham?” teriak Johan.
Lelaki itupun menoleh kebelakang dan melihat ke arah suara yang sedang memanggilnya. Adam Abraham membalikkan tubuhnya dan melihat Mahesa Johan dengan tatapan tajam.
“apa kau yang bernama Mahesa Johan?” tanya balik Adam.
“benar, itu aku” jawab Johan.
“ternyata kau tidak se tampan yang ku fikirkan” ucap Adam.
“dasar kurang ajar” jawab Johan dengan nada begitu kesal.
“katakan apa maumu” tegas Adam.
“aku ingin menanyaan semua hal mengenai roh alam kepadamu” ucap Johan degan begitu terburu buru.
“semua hal mengenai roh alam? Mungkin aku tidak bisa menceritakan semua hal mengenai roh alam, tapi aku berani bertaruh kalau apa yang aku katakan itu benar benar jujur dan terjadi di dunia nyata” tegas Adam.
“katakan padaku” ujar Johan.
“satu hal yang perlu diingat. Roh alam tidak akan mengandung dan selamanya tidak akan pernah mengandung. Roh alam tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak istirahat, tidak sakit, tidak lelah, tidak lapar dan haus, tidak pusing dan lain lain” jelas Adam.
“apa kau bisa menceritakannya lebih spesifik mengenai pemikiran mereka?” tanya Johan.
“pemikiran roh alam? Menurutku mereka begitu pintar. Roh alam terlahir dengan kecerdasan manusia umumnya. Bisa dikatakan kalau roh alam itu sama pintarnya dengan manusia yang bersekolah” jawab Adam.
“maksudmu, roh alam tidak perlu sekolah agar menjadi pintar?” tanya Johan.
“mereka terlahir dengan kepintaran orang seumurannya. Jika dirinya sedang berusia 15 tahun, mungkin dia memiliki kecerdasan seperti anak SMP” jawab Adam.
“apa kau tau mengenai roh alam yang lainnya?” tanya Johan.
“roh alam tidak akan pernah meninggalkan tugasnya. Contohnya, jika kau bertemu dengan roh pohon, maka roh pohon tersebut tidak akan pernah meninggalkan pohonnya walau hanya beberapa meter saja” jawab Adam.
“roh pohon tidak akan pernah meninggalkan pohonnya walau bebeapa meter saja? itu berbeda dengan Odessa. Kalau dia adalah seorang roh pohon, dia tidak mungkin mau makan dan minum, dia tidak akan pernah tidur dan tidak pernah lelah, dia juga seharusnya tidak meninggalkan pohonnya” fikir Johan.
“tapi kalau dipikir pikir lagi, mungkin Odessa meningalkan pohonnya, itu karena aku mempersiapkan keamanan yang ekstra di pohonnya itu. Apa mungkin dia akan meninggalkan pohonnya karena menurutnya, pada pemuda di Engkobappe sudah cukup untuk melindungi pohonnya?” fikir Odessa dalam hati.
“aku ingin menanyakan sesuatu. Apa roh pohon bisa menyuruh manusia lain agar menjaga pohon nya?” tanya Johan.
“roh pohon akan percaya kepada manusia yang menurutnya adalah manusia yang jujur dan dapat dipercaya. Namun untuk mendapatkan kepercayaan dari roh alam, menurutku itu mustahil” jawab Adam.
“sudah kukatakan sebelumnya. Roh pohon tidak akan pernah meninggalkan pohonnya sekalipun itu hanya bebeapa meter saja” jawab Adam.
“itu berarti, apa roh alam tidak bisa meninggalkan apa yang telah ia jaga sebelumnya?” tanya Johan.
“bukan berarti seperti itu juga. Roh pohon bisa saja meninggalkan pohonnya demi sesuatu yang mereka anggap lebih penting. Tapi aku yakin sekali kalau mereka tidak akan pernah menolak apa yang dikatakan oleh dewi alam, Greisha” jawab Adam.
“seperi yang kau katakan barusan, meeka seperti mesin yang di pekerjakan paksa oleh dewi alam” ucap Johan.
“kau benar, mereka dilatih untuk bekerja sedari kecil” jawab Adam.
“bagaimana kau bisa tau semua itu?” tanya Johan.
“karena aku pernah membaca satu buku kuno. Di dekat danau yang Riana jaga. Disana, terdapat seorang kakek pemimpin desa dekat danau tersebut. Setelah aku membaca buku tersebut, aku memperoleh banyak pengetahuan dari buku tersebut. Salah satunya adalah tentang dewi alam dan roh alam” jawab Adam.
“jadi begitu, aku faham sekarang” jawab Johan menganggukkan kepalanya.
“sekarang, ceritakan perempuan yang kau fikir sebagai roh alam” suruh Adam.
“baik. Namanya adalah Odessa Ai. Seperti apa yang pernah kau lakukan, aku juga melakukan hal yang sama. Aku memberikan nama kepada perempuan itu. Aku memberikan nama kepadanya karena dia mengaku tidak diberi nama oleh ibunya”
“tapi berbeda dengan apa yang barusan kau katakan, dia ikut denganku ke kota. Dia bersih keras untuk membawanya ke kota. Dan sampai sekarang, dia masih ada disini” jawab Johan.
“apa Odessa pernah mengaku kalau dia adalah roh alam?” tanya Adam.
“dia mengaku kalau dia tidak tau apa apa mengenai roh alam maupun dewi alam” jawab Johan.
“ceritakan bagaimana kronologi yang kau lakukan dengan Odessa” tegas Adam.
“mungkin ini agak sedikit lama, tapi dikarenakan aku terburu buru, aku akan menceritakannya degan padat dan jelas”
Maka Johan pun menceritakan semua hal kepada Adam dengan begitu jelas tanpa adanya pengurangan maupun penambahan cerita. Johan menghabiskan sekitar 5 menit untuk menceritakan cerita yang panjang itu. Dimulai dari pertamakali Johan bertemu dengan Odessa, kematian keluarganya, dan apa saja yang dilakukan oleh Johan bersama dengan Odessa.
“hmm, jadi begitu. Kau bilang kalau kau pernah menghajar dua penebang hutan yang akan menebang pohon Hornbeam milik Odessa. Tapi apa kau tau pembicaraannya?” tanya Adam.
“tidak, aku tidak tau sama sekali” jawab Johan.
“dan kau bilang kalau kau sudah mempersiapkan para pemuda dari desa mu itu agar menjaga pohon milik Odessa. Apa kau yakin kalau para pemuda itu memang benar bisa menjaga pohon itu?” tanya Adam.
“aku yakin mereka bisa menjaga pohon itu” jawab Johan.
“apa kau yakin?. Mereka hanya bekerja sesuai dengan keinginan mereka tanpa dibayar. Aku tidak yakin kalau mereka bisa melawan para penebang hutan itu. walau mereka terlihat meyakinkan, tapi kau terlalu ceroboh karena mempercayakan kehidupan seorang roh alam kepada manusia yang begitu lemah” jawab Adam.
“tapi Odessa bersih keras untuk memaksaku membawanya untuk pergi ke kota” jawab Johan.
“aku tidak tau motif apa yang dilakukan oleh Odessa dan kenapa Odessa begitu bersih keras untuk menyuruhmu membawanya untuk pergi ke kota. Tapi sepertinya, aku sedikit faham apa yang terjadi” jawab Adam.
“apa yang kau katakan?” tanya Johan.
“percayalah, dari semua cerita yang kau katakan itu, aku bisa menyimpulkan sesuatu” jawab Adam.
“apa itu?” tanya Johan.
“sebagai orang yang pernah bertemu dengan roh alam selama kurang lebih 1 bulan lamanya, aku bisa menyimpulkan kalau Odessa adalah roh pohon” tegas Adam.
“a-apa kau yakin? bagaimana kau tau itu?” tanya Johan.
“aku lebih mengerti situasi dan kondisi darimu. Karena aku memang sudah bertemu dengan roh alam lebih dulu darimu. Tapi yang masih mengangguku dari awal adalah, mengapa Odessa harus meninggalkan pohonnya demi berlibur ke kota” ucap Adam.
“dia benar benar ingin menghabiskan waktu denganku di kota” jawab Johan.
“atau jangan jangan” ucap Adam mengelus dagunya.
“ada apa?” tanya Johan begitu penasaran.
“aku hanya berspekulasi dan mencoba untuk membaca isi fikiran dari roh alam. Odessa begitu mencintaimu, dan dia tidak ingin melihatmu terluka. Kalau sampai kau tau kalau akan ada orang yang menyerang pohon Odessa, pasti kau akan ikut menjaganya, dan kau tidak akan pernah memawa Odessa untuk berlibur ke kota hanya karena menjaga pohon” jawab Adam.
“apa yang kau maksud?” tanya Johan.
“apa mungkin, Odessa berusaha melindungimu dari para penebang hutan agar kau tidak terluka saat ikut melindungi pohon milik Odessa?” tanya Adam.
“kurasa itu tidak mungkin, itu karena aku sudah pernah menangkap para penebang hutan sebelumnya” jawab Johan.
“tapi itu tidak menutup kemungkinan untuk para penebang hutan menebang pohon milik Odessa. Seperti yang kau katakan, pohon hornbeam adalah pohon yang berasal dari Ukraina. Dan mungkin para penebang htuan itu begitu berambisi untuk mengambil batang dari pohon langka itu”
“sekali lagi, aku hanya berusaha untuk membaca isi fikiran dari para roh alam. Jangan begitu percaya kepada ucapanku karena aku bahkan tidak tau apa perkataanku ini benar atau tidak” jelas Adam.
“aku sangat berterimakasih kepadamu. Aku percaya kepadamu kalau Odessa adalah roh pohon. Tapi aku masih bimbang untuk memastikan apakah memang akan ada penebang pohon yang akan mengincar pohon hornbeam milik Odessa” jawab Johan.
“itu tidak masalah” jawab Adam.
“sekarang, kau akan kemana?” tanya Johan.
“aku ingin sekali mengunjungi Riana di danau. Letaknya memang sangat jauh dari sini” jawab Adam.
“kalau begitu, aku juga akan pergi ke desa untuk mengantar Odessa kembali pulang. Sekali lagi, aku sangat berterimakasih banyak” jawab Johan.
“sama sama” jawab Adam.
Johan segera berjalan meninggalkan Adam seorang diri disana. Saat itu, Johan sama sekali tidak mengetahui jika danau yang dijaga oleh Riana dan danau yang dimaskud oleh Adam adalah danau Jalesveva yang berada di desa Engkobappe, desa dimana pohon Hornbeam milik Odessa berada. Mereka hendak menuju ke satu tempat yang smaa, namun dikerankan ketidaktahuan Johan, maka mereka berangkat secara terpisah.
Johan berlari menuju ke mobil pak Abdi yang berada di parkiran luar. Seketika Johan membuka pintu mobil tersebut dan kemudian berteriak kepada sang sopir untuk berangkat secepatnya.
“ayo kita berangkaattt!” teriak Johan di dalam mobil tersebut.
Namun nyatanya, saat itu Johan sedang salah mobil. Johan membuka mobil orang lain. Mobil tersebut berisi sebuah keluarga yang kebetulan bersinggah di samping taman. Melihat ada seorang anak muda yang aneh sedang membuka pintu, nyatanya mereka semua begitu terkejut dengan apa yang sedang lelaki tersebut lakukan.
“hey nak, kau siapa? Kenapa kau membuka pintu mobil kami?” tanya bapak bapak sang sopir tersebut.
.