
“jangan terkejut, aku bisa membaca fikiranmu” jelas dewi alam seraya menahan tawanya itu.
“itu curang banget!” teriak Johan dengan nada begitu kesal.
“tenang aja, aku nggak akan pernah membaca mental emosimu. Seperti halnya kamu menyukai perempuan atau kau memiliki fetish yang berbeda dengan manusia normal” jelas dewi alam tersebut.
“tapi itu tetap saja curang” jawab Johan dengan memasang raut muka begitu marah
“dan asal kamu tau, aku juga melihat kalau kau sekarang sedang bertengkar dengan kedua orang tuamu? Apa itu benar?” tanya sang Dewi Alam.
“itu benar, bisa dibilang aku kabur dari rumah” ucap Johan.
“sebagai Dewi Alam, aku menyuruhmu untuk kembali kerumah dan meminta maaf kepada kedua orang tuamu. Dan juga aku menyuruhmu untuk bersikap sopan kepada kedua orang tuamu” tegas sang Dewi Alam.
“mereka itu bukan orang tua kandungku, dan juga mereka malah merampas barang barangku. Rumah itu adalah peninggalan dari mamah kandungku, namun saat mamah kandungku meninggal 3 bulan yang lalu, papah kandungku membawa istri barunya kerumah. Aku pun seketika membentak papah dan mengusir mamah tiriku itu pergi dari rumah. tapi papahku bilang kalau aku sama sekali tidak berhak untuk mengusir seseorang dari rumahnya. Padahal sudah jelas kalau itu adalah rumah milik mamah kandungku” jelas Johan dengan nada begitu emosi.
“itu benar benar menyakitkan, tapi aku juga mengerti perasaan papahmu. Dahulu, saat kau masih berada didalam kandungan hingga kau balita, papahmu banting tulang untuk menghidupimu. Saat kau membentaknya, dia merasa sakit hati, namun papahmu benar benar orang yang tegar karena mampu menahan rasa sakit itu. Maka, atas nama Dewi Alam, aku mengutusmu untuk meminta maaf kepada kedua orang tuamu sekarang juga. aku tidak mau tau, yang pasti tidak akan ada pembenaran jika kamu membentak orang tua!” tegas sang Dewi alam.
“ma-maaf Dewi, tapi bagaimana cara saya untuk pergi ke alam sadar saya? kalau tidak salah, aku masih mimpi. Dan aku rasa ini bukanlah mimpi biasa. Normalnya saat kita bermimpi, kita akan melupakan dunia nyata. Namun saat kita terbangun, kita akan melupakan dunia mimpi. Jadi, sebenarnya ini dunia apa dan bagaimana aku bisa keluar dari sini?” tanya Johan.
“tenang saja, ini hanya mimpi normal. Hanya saja aku yang terlalu lancang karena asal masuk ke dalam mimpi orang. Dan juga, aku yakin sekali kalau sebentar lagi kamu akan terbangun dari tidurmu” ucap sang Dewi Alam.
“bagaimana kau bisa tau kalau aku akan bangu-“ ucap Johan terhenti.
Seketika Johan pun terbangun dari siumannya dalam keadaan sedang rebahan di kamar seorang perempuan serta mengenakan piyama tidur. Dirinya berada di atas kasur bermotif Hello Kitty dengan selimut yang serupa. Dirinya terbangun di dalam sebuah kamar perempuan yang harum dan rapih, berbanding terbalik dengan kamarnya dahulu sebelum komputer dan seluruh barang barang elektronik Johan lainnya terjual.
“sial, kepalaku pusing banget!” gumam Johan seraya memegang kepalanya.
“kamu udah sadar?” tanya Emilia yang secara tiba tiba masuk kedalam kamar dengan membawa secangkir minuman hangat.
“ma-maaf, tapi apa aku sekarang ada dikamarmu? Dan juga kenapa aku bisa disini? Dan juga kamu siapa?” tanya Johan seraya menatap wajah Lia yang memburam.
“astaga, apa kamu lupa sama pacar kamu sendiri? kamu sekarang ada di kamarku, kamar Emilia” ucap Lia dengan nada begitu percaya diri.
“ohhh, ini kamar Emilia. Maaf karena mataku sedikit memburan dan tidak bisa melihat dengan jelas. dan juga, sejak kapan aku pacaran denganmu?” tanya Johan memasang raut muka bingung.
“kamu ih, selalu lupa kalo kita pernah jadian” ujar Emilia menggembungkan pipinya.
“faktanya kita memang belum pernah jadian” ucap Johan.
“kenapa aku harus berada di dalam kamarnya? Dan apa yang telah kulakukan selama ini? dan bajuku masih basah kuyup, ini membuat kasur Emilia jadi ikutan basah. Kalau aku masih disini terus, nanti Emilia semakin menggodaku. Jujur saja, aku sudah tidak suka dengan Lia, tapi apa yang bisa kulakukan sekarang ini dengan kondisiku yang seperti ini?” fikir Johan dalam hati.
“sekarang kamu tidur aja di kamarku, aku mau berangkat sekolah dulu” ucap Emilia.
“hah berangkat sekolah? Memangnya sekarang sudah jam berapa?” tanya Johan.
“kamu pingsan semaleman, dan kamu sama sekali ngga sadar kalo aku tidur di samping berduaan sama kamu loh” ucap Emilia menggoda Johan.
“bodoamat, aku ngga sadar” ucap Johan memalingkan pandangannya.
“dan juga, ini pyama siapa? Kenapa aku memakai piyama tidur? Apa jangan jangan Emilia yang memakaikan piyama ini kepadaku?” fikir Johan dengan menatap lengan panjang piyama yang tengah ia pakai.
“udah, pergi sekolah sana” ujar Johan.
“kamu baik baik ya disini, tunggu aku pulang yaa” ujar Emilia berjalan keluar kamar.
“berisik” ucap Johan menggumam.
Emilia pun keluar dari kamarnya dan menaiki mobil bersama dengan papahnya yang dalam satu jalan hendak pergi kerja. Sesaat setelah itu, sang ibunda dari Emilia pun memasuki kamar dan mengecek keadaan dari Johan. Sungguh baik dan halus perlakuan sang ibunda Emilia kepada Johan hingga dirinya teringat akan mendiang mamah kandung tercinta.
“apa kamu udah baikan?” tanya sang ibunda Emilia.
“aku udah mendingan kok tante, makasih banyak ya tante udah tolongin Johan” ucap Johan tersenyum.
“bukan tante yang tolongin kamu, tapi Emilia sendiri. Padahal tante udah suruh papah Emilia buat kasih taruh kamu di kamar papah Emilia tapi Emilia malah ngotot buat taruh kamu di kamarnya. Dasar anak bandel ya dia” ucap sang ibunda Emilia tertawa.
“tapi semalam Johan ngga ngapa ngapain Emilia kok tante” ucap Johan.
“iya, tante percaya kok sama nak Johan” ujar ibunda Emilia tersenyum tulus.
“abis ini, tante bakal suruh Kahfi buat anterin buburnya kesini dan suapin kamu bubur buatan tante sendiri” ujar ibunda Emilia.
“udah tante, nggausah. Abis ini Johan juga mau pulang” ucap Johan.
“tapi tubuh kamu masih belum bisa bangun, kamu masih harus istirahat loh” ucap sang ibunda memaksa Johan.
Namun, sesaat setelah itu, Kahfi yaitu adik dari Emilia datang dengan ekspresi datar dan penuh kecurigaan. Sedari dahulu, Kahfi sang adik dari Emilia memang tidak menyukai jika Johan berpacaran dengan kakaknya. Setiap kali Johan datang kerumah, Kahfi selalu keluar entah kemana. Karena hal itulah Johan dan Kahfi tidak terlalu akrab.
Namun karena Kahfi adalah lelaki, maka Kahfi memutuskan untuk memprioritaskan saudari perempuannya terlebuh dahulu dibandingkan dengannya. Kahfi benar benar menyayangi saudarinya itu hingga menjadi overposessive kepada saudarinya sendiri.
“gimana udah baikan?” tanya Kahfi kepada Johan dengan nada begitu datar.
“udah baikan, makasih” ucap Johan.
“bukan aku yang menggendong tubuhmu, tapi papah. Jadi jangan bilang makasih ke aku soalnya aku ngga ngapa ngapain” ucap Kahfi dengan muka datarnya.
“bagaimanapun juga, kau kasih ijin aku untuk tidur sekamar dengan Emilia” ucap Johan.
“aku tidak pernah mengijinkamu, bodoh!” ucap Kahfi dengan seketika meninggalkan kamar Emilia.
“sepertinya dia masih belum menyukaimu. Kalian harus lebih akrab satu sama lain” ucap sang ibunda Emilia kepada Johan.
“iya tante, Johan juga pengen bisa akrab sama Kahfi” ucap Johan.
“kalau begitu, tante keluar dulu ya” ucap ibunda Emilia beranjak dari sana.
“baik, makasih banyak ya te” ucap Johan.
“iya, sama sama” ujar ibunda Emilia keluar dari kamar Emilia.
Johan pun mulai memandangi langit langit tembok kembali dengan tubuh yang masih sangat berat untuk di gerakkan. Kepalanya pun masih sedikit pusing jika di gelengkan terlalu keras. Bahkan Johan pun sedikit kesusahan saat menggerakkan tangannya sendiri sebab lemasnya tubuh itu