Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 83, Sesampainya di kota bersama Odessa



Mereka semua melongo terkecuali Johan yang begitu terheran akan kelakuan Odessa disana. Odessa pun berjalan dengan santainya menuju Johan dan Yoga yang saat itu sedang saling berhadap hadapan.


“nih Johan, satu buat kamu dan satu buat aku” ucap Odessa seraya menjulurkan tangan kanannya yang menggenggam buah mangga berwarna kuning segar.


“waahh, makasih banyak ya” jawab Johan segera mengambil buah mangga tersebut dari tangan kanan Odessa.


Mendengar percakapan Odessa dan Johan, para pemuda tersebut benar benar terkejut bukan main. Pasalnya mereka menganggap bahwa perempuan secantik itu tidak akan mungkin pernah bisa didapatkan oleh Johan.


“a-anu, ma-maaf mengganggu ka-kalian berdua. Tapi izinkan aku mem-memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Yoga, aku adalah teman Johan. Apa kamu adalah pacarnya Johan?” Tanya yoga dengan sedikit gugup.


“namaku Odessa Ai. Bisa dibilang, aku pacarnya Johan. Salam kenal” ucap Odessa dengan sedikit senyum di bibirnya.


“waaahhh, gilaa. Perempuan ini cakep bangett manis paraaahh luar biasa” gumam semua pemuda di belakang Johan.


“Odessa Ai? Nama yang bener bener unik. Apa kamu bukan berasal dari sini?” tanya Yoga.


“berasal atau tidaknya aku disini tidak mempengaruhi namaku. Ini nama yang berharga. Orang yang spesial di hidupku memberikan ini” jawab Odessa.


“wajar saja kalau Odessa dan semua anak yang lahir pasti diberi nama oleh orangtuanya” fikir Yoga dalam hati.


“anu, sekali lagi aku ingin bertanya. Apakah pohon yang berada di sebrang hutan berada di samping danau dan di samping rumah bekas kebakaran adalah pohon milikmu?” tanya Yoga.


“ehh, kok bisa tau?” tanya balik Odessa.


“Johan memberitahukannya kepada kami. Dan kita sudah berjanji akan menjaganya sampai Johan dan kak Odessa kembali. Selama itu, kita sebagai komite penjagaan hutan dan kelestarian alam para pemuda disini akan menjaga sebaik baiknya pohon milikmu” tegas Yoga.


“jangan memanggilku Kak, panggil aja namaku. Kita seumuran kok. Dan juga, terimakasih banyak karena telah mau menjaga pohonku disaat aku dan Johan akan pergi. Aku sangat terbantu oleh kalian” jawab Odessa seraya tersenyum begitu tulus.


“buseeettttt damage nya bosss” gumam mereka semua saat melihat Odessa tersenyum.


“ki-kita semua sudah berjanji” “kita akan menjaga alam dan kehutanan desa ini” komite ini dibentuk oleh Johan untuk tujuan mulia tersebut” kita akan menjaga semuanya” teriak semua pemuda disana dengan begitu kompak dan serentak.


“apa kalian tidak merasa lelah?. Maksudnya apa kalian tidak membentuk beberapa kelompok untuk membuat jadwal sehari hari?” tanya Odessa.


“kita percayakan semuanya kepada Johan. Dia adalah sosok pemimpin yang bisa mengarahkan kita semua kearah keberhasilan dalam menjaga keamanan” tegas Yoga.


“sosok pemimpin? Hufftt. Kalau kalian tau sosok ku sebenarnya, kalian pasti akan menarik kata kata kalian. Bagaimanapun juga, aku hanyalah wibu otaku yang sangat anti sosial dan mengurung diri di kamar saat malam hari. Tapi karena kalian sudah sebegitu percaya kepadaku, aku akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa menjaga semuanya. Demi Greisha dan demi Odessa, aku akan melakukan semuanya” fikir Johan dalam hati.


“kalau begitu, aku dan Odessa akan pergi. Kalian semua bersiagalah di tempat yang telah di tentukan. Dan pada akhirnya, aku dan Odessa akan kembali kemari. Saat itu pula, kalian dibebastugaskan. Mengerti?” tanya Johan.


“siap mengerti” jawab mereka semua dengan begitu serentak.


“berangkatlah” teriak Johan.


“siap laksanakan” jawab mereka semua.


Disaat itu pula, mereka semua pun pada akhirnya memutuskan untuk berjalan menjauhi gedung kantor desa tersebut. Mereka semua berpencar di lima hutan yang berbeda dan ada beberapa yang harus menjaga sisi lain sebrang hutan.


Hanya Odessa dan Johan saja yang berdiri di depan gedung kantor desa. Mereka berdua melihat para pemuda tersebut berjalan ke arah hutan untuk berangkat mengamankan hutan.


“kalau begitu, apa kamu udah siap?” tanya Johan.


“aku udah bersiap dari kemarin malam” jawab Odessa.


“mantap jiwa. Kalau begitu, aku udah ada mobil, tapi mobil itu ada di gapura depan” ucap Johan.


“memangnya kenapa kalo mobil nya ada di depan? kita tinggal jalan aja” jawab Odessa.


“apa kamu ngga keberatan?” tanya Johan.


“memangnya aku ini siput? Aku juga bisa jalan kali” jawab Odessa.


“hehehe, kalau begitu gaskan kita berangkat” ucap Johan.


“hmm, iya” jawab Odessa seraya menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua pun berjalan beranjak dari gedung kantor desa dan meninggalkannya. Selama 10 menit, mereka berjalan bersama untuk keluar dari desa. Jam 7.29, mereka pun keluar dari gapura desa dan berjalan ke arah mobil sedan berwarna hitam yang tengah terparkir disana.


Saat mereka berdua mendekati mobil tersebut, nyatanya pak Abdi sedang menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi buatan Johan tersebut. Sambil duduk di kursi sopir, pak Abdi membuka pintunya dan menikmati pemandangan bentangnya padang rumput yang terdapat peternak kuda di tengah tengahnya.


“apa kita bisa berangkat sekarang?” tanya Johan seraya berjalan ke arah pak Abdi.


“woaahh, kau sudah datang. Bikin kaget aja” ucap pak Abdi sedikit berteriak.


“dan itu, apa dia Odessa?” tanya pak Abdi seraya menunjuk ke arah Odessa.


“iya, dia Odessa” jawab Johan.


“salam kenal” ujar Odessa sedikit menundukkan kepalanya.


“ohh, i-iya salam kenal juga. panggil aja pak Abdi” ucap pak Abdi.


“apa pak Abdi adalah sopir pribadi Johan?” tanya Odessa.


“ehh, ti-tidak. Itu tidak mungkin. Pak abdi juga memiliki pekerjaan sendiri. Aku hanya meminta tolong” sahut Johan.


“ohh begitu” ucap Odessa sedikit menganggukkan kepalanya.


“kalau begitu, apa kalian sudah siap? Ini sudah jam setengah 8, pak Abdi ada urusan dengan teman pak Abdi jam 12 siang nanti. Kita harus ngebut agar bisa kejar jam kerja pak Abdi” ucap pak Abdi mematikan rokok miliknya itu.


“siapp” jawab Johan dan Odessa bersamaan.


“naiklah di kursi belakang. Kita akan ngebut. Menuju tak terbatas dan melampauinya” ucap pak Abdi dengan segera menutup pintu mobilnya itu.


“gajelas sumpah” ucap Johan.


Saat itu pula, Johan dan Odessa pun segera membuka pintu mobil belakang dan kemudian duduk disana. Pak Abdi pun segera memutar balik mobilnya dan kemudian menancapkan gas hendak kembali ke kota. Selama di perjalanan, pak Abdi hanya bisa melihat Johan dan Odessa yang saling berbicang dan tertawa di kursi belakang melewati cermin tengah.


“beneran? Apa disana ada kebun binatang?” tanya Odessa dengan begitu bersemangat.


“aku udah buat jadwal kemana aja kita akan pergi hari ini. Aku akan mengajakmu kemanapun kamu mau” jawab Johan.


“aku pengen makan” ucap Odessa.


“makan? ohh iya, kita harus makan. Kalau mau, aku bisa memasakkannya untukmu. Aku bisa memasak” ucap Johan.


“jangan remehkan aku. Aku juga bisa memasak” sahut Odessa.


“kalau begitu, nanti kita akan membeli bahan bahannya bersama dan kemudian kita akan memasaknya bersama” ucap Johan.


“ide yang bener bener luar biasa bagus” ucap Odessa sedikit tertawa.


“kamu mau makan apa?” tanya Johan.


Seperti itulah obrolan yang benar benar tidak penting yang diobrolkan oleh mereka berdua di dalam mobil. Mereka pun mulai memasuki gerbang tol dan kemudian ngebut berjam jam disana.


Beberapa kali mobil mereka berhenti hanya untuk membayar tol dan bensin, dan itu semua menggunakan uang milik Johan. Hingga sampai mereka berajak di rest area sejenak, mereka membeli minuman hangat dan roti melon yang manis hanya untuk mengganjal perut mereka.


Di dalam mobil, Johan dan Odessa makan seperti biasa. Johan melihat Odessa dengan ekspresi muka yang begitu bahagia saat memakan roti yang begitu manis dan hangat itu. Begitupula dengan Odessa yang melihat Johan meminum kopi yang begitu pahit dengan ekspresi muka yang aneh dan lucu.


Perjalanan mereka hanya berkisar hanya untuk 3 jam perjalanan. Odessa saat itu tengah tertidur di pundak kiri milik Johan sementara Johan hanya bisa melihat ekspresi lucu milik Odessa yang tengah tertidur.


Sesampainya di depan rumah paman Surya, saat itu Odessa sudah terbangun dari tidurnya. Pak abdi berhenti di depan rumah paman Surya hanya untuk sekedar menyuruh Johan dan Odessa untuk turun dari mobil. Saat itu pula, mereka berdua pun pada akhirnya keluar dari mobil dan menghirup udara yang sedikit kotor dan berdebu.


“kalau begitu, pak Abdi pergi dulu ya. Kalian berdua bersenang senanglah” teriak pak Abdi dari dalam mobil.


“terimakasih banyak ya pak” teriak Johan dari luar mobil.


Saat itu pula, pak Abdi menancapkan gas dan kemudian meninggalkan Johan dan Odessa di halaman rumah paman Surya. Odessa pun mulai mengamati lingkungan sekitar. Ia mendapati jika udara di tengah kota tidak begitu segar. Udara panas dan suara bising dimana mana.


“udara disini panas juga ya” ucap Odessa.


“iya juga sih, apalagi sekarang di siang bolong macam ini” jawab Johan.


“kalau begitu, kita akan kemana? Aku pengen yang seger seger” ajak Odessa.


“aku akan mengajakmu ke mall terlebih dahulu. Setidaknya kita harus berbelanja pakaian untukku dan untukmu. Tenang aja, aku yang akan membelikannya untukmu” ucap Johan.


“waahh, benarkah? Makasih banyak ya” sahut Odessa seketika memeluk lengan kanan Johan.


“santai saja, aku sudah membawa monsterku ini. Kita akan membawa motorku” jelas Johan.


“motormu? Mana?” tanya Odessa.


“tunggu disini, aku akan mengeluarkannya” ucap Johan.


“iya” jawab Odessa.


Saat itu pula, Johan mengeluarkan kunci motornya dari kantong saku jaketnya. Johan segera menaiki motornya yang berada di teras rumah paman Surya dan kemudian menyalakan mesin motornya. Saat itu pula, Johan pun segera menarik gasnya hingga motornya berada di sampng Odessa.


“yaampun, aku lupa” teriak Johan seraya menepuk kepalanya.


“lupa apa?” tanya Odessa.


“aku lupa ngga bawa helm” ucap Johan.


“yaaahh, gimana dong?” tanya balik Odessa.


“mau ngga mau, kita harus ambil helm dari rumahku” jawab Johan.


“memangnya ini bukan rumahmu?” tanya Odessa seraya menunjuk rumah milik paman Surya.


“bukan, ini rumah milik pamanku. Dan sekarang, pamanku ada di rumah. Saat ada di rumahku nanti, kamu diem diem di depan rumah. Aku cuma ambil helm doang bentar” jelas Johan.


“memangnya aku gaboleh masuk rumah?” tanya Odessa.


“di dalem rumah ada anjingnya, nanti kamu di gigit” jawab Johan.


“tapi kan, anjing gigit manusia gara gara merasa terganggu dan terancam. Kalo kamu aja ngga digigit, masa aku bakal digigit” tanya Odessa.


“pokoknya, anjingnya pakai kemeja berwarna putih dan sedang makan sop di dalem rumah. Jadi kamu jangan masuk” jawab Johan.


“anjing makan sop? Kok rasanya aneh bange-“ ucap Odessa terhenti.


“naik cepet, nanti keburu mall nya rame” sahut Johan sedikit menarik tangan Odessa.


“ehh, i-iya” jawab Odessa.


Saat itu pula, Odessa pun menaiki motor dan duduk di jok belakang. Dikarenakan jok belakang tidak selebar motor biasanya, mau tidak mau Odessa harus memeluk tubuh Johan dengan begitu erat agar tidak terjatuh.


“jangan peluk” ucap Johan.


“tapi kalo aku ngga peluk, nanti aku jatoh” jawab Odessa.


“sudah kuduga, skenario ku tidak mungkin berhasil. Padahal harusnya aku jadi Dilan dan kamu jadi Milea” ucap Johan dengan nada begitu kesal.


“ehh? Siapa? Dilan? Milea?” tanya Odessa.


“lupakan itu. Peluk dengan erat dan jangan samapi jatoh” ucap Johan.


“hmm, iya” jawab Odessa memeluk erat tubuh Johan.


“ja-jangan rapet rapettt hiyaaakkkk” teriak Johan dengan perut yang begitu tertekan.


“ma-maaf maaf” ucap Odessa melonggarkan pelukannya.


Saat itu pula, Johan pun menarik gas motornya dan kemudian beranjak pergi dari sana. Disaat yang bersamaan, Callysta yang tengah mengintip dari jendela rumahnya itupun melihat Johan sedang bersama dengan perempuan.


“pantesan saat aku ajak Johan untuk pergi makan hari ini, Johan malah menolak. Ternyata dia memang sedang bersama perempuan yang bahkan level kecantikannya jauh diatasku. Padahal kemarin kita baru aja keluar bersama malam hari. Aku selalu bertanya tanya sebelum tidur, menanyakan bagaimana perasaanmu kepadaku. Kembalilah, Johan” ucap Callysta dengan perasaan begitu hancur.