
“me-memangnya ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Johan.
“apa aku ketahuan akan berciuman dengan Odessa saat itu?” fikir Johan bertanya tanya.
“aku bertanya dengan serius, apa kau tidak melakukan apa apa?” tanya paman Surya.
“ti-tidak” jawab Johan.
“sayang sekali anak muda. Kau sudah menyia-nyiakan waktu dan tempat yang sudah benar benar begitu mendukung” ucap paman Surya seraya menggelengkan kepalanya.
“mak-maksud kalian?” tanya Johan begitu kebingungan.
“jika kita menjadi Johan yang sekarang, pasti Johan saat itu sudah ku sikat. Di dalam rumah yang sepi nan tidak ada peganggu, kita berdua sudah bisa melakukan hal yang luar biasa” ucap paman Surya.
“aku tidak sama denganmu, dasar mesum” sahut pak Abdi kepada paman Surya.
“tapi kita tidak bisa melupakan masa SMA kita bukan?” tanya balik paman Surya.
“kau benar juga, kau terlalu lembek dalam melakukan suatu hal. Kau terlalu naif. Biarkan suasana menghanyutkan kalian berdua hingga kalian merasa jika hanya kalian berdua yang tinggal di bumi ini” ucap pak Abdi.
“bentar dulu, jadi kalian menyuruhku untuk menjadi nakal?” teriak Johan dengan begitu terkejut.
“bukan menjadi nakal, hanya saja membuatmu menjadi lebih lelaki” jawab paman Surya.
“dsar kalian, apa yang kalian inginkan?” tanya Johan.
“kita tidak ingin kau menyesal karena terlambat melakukan sesuatu. Hanya itu yang kita takutkan saat melihat sifatmu yang terlalu menghormati perempuan dan menjadi keterlaluan” jawab pak Abdi.
“apa aku harus melakukannya?” tanya Johan.
“kau tidak harus melakukannya sekarang, tapi aku takutnya kau tidak akan memiliki waktu lain untuk melakukannya. Kesempatan tidak akan pernah datang dua kali. Tapi kesempatan tidak akan pernah berpaling kepada orang yang tidak berhenti mencoba. Jangan sampai kau menyesali ini di hari tua” jelas pak Abdi.
“buset, sok banget ucapannya. Kaya orang yang paling bener” ucap paman Surya.
“berisik” sahut pak Abdi.
“kesempatan tidak akan datang dua kali, tapi kesempatan tidak akan pernah berpaling kepada orang yang tidak berhenti mencoba. Buset keren juga” jawab Johan.
“kalau begitu, apa kau akan melakukannya sekarang ini?” tanya paman Surya.
“kalau begitu, aku akan minta tolong kepada pak Abdi untuk mengantarkan kami pulang jam 7 malam nanti. Apa kau bisa?” tanya Johan.
“santai saja, aku selalu bisa” jawab pak Abdi.
“minta tolong antar pulang? kemana?” tanya paman Surya.
“rahasiaaaa” jawab Johan dan pak Abdi bersamaan.
“ahh, gak seru nih” jawab paman Surya dengan nada ngambek.
“kalau begitu, ada yang harus kulakukan saat ini” sahut Johan seraya berdiri dari tempat duduknya.
“kau mau kemana?” tanya pak Abdi.
“aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatanku sedetikpun” jawab Johan dengan tatapan begitu meyakinkan.
“lakukanlah apa yang kau suka selama itu tidak melanggar hukum, atau kalau tidak aku yang akan menangkapmu di kantor polisi nanti” ucap paman Surya.
“siap pak pol” jawab Johan seraya memberi hormatnya,.
“kalau begitu, Johan berangkat dulu. Sampai jumpa nanti malam” jawab Johan dengan begitu bersemangat.
“sama sama” jawab paman Surya dan pak Abdi bersamaan.
Saat itu pula, Johan pun berlari keluar kamarnya dengan begitu bersemangat dan tatapan mata begitu bahagia dan ceria.
Disisi lain, Johan yang saat itu sedang berjalan menuruni tangga melihat sang ibunda dan Odessa yang berada di dalam dapur. Mereka sedang berbincang seraya merebus air di panci kompor sementara sang ibunda sedang meracik teh di sebuah teko besar.
Denga seketika, Johan pun menyahut tangan kanan Odessa dan menariknya, melihat hal itu, Odessa begitu terkejut dan bertanya tanya kenapa begitu terburu buru.
“kamu mau kemana?” tanya Odessa.
“udah ikut aja” jawab Johan seraya menarik telapak tangan Odessa.
“kamu mau kemana nak Johan?” tanya sang ibunda.
“rahasia” jawab Johan dengan sedikit tawa senyumnya.
“apa Odessa boleh ikut Johan, mah?” tanya Odessa.
“boleh, tapi jangan pulang terlalu malam. Sebelum kamu pulang nanti, jangan lupa memasak untuk makan malam” jawab sang ibunda.
“jadi apa boleh aku membawa Odessa?” tanya Johan.
“bersenang senanglah” jawab sang ibunda.
“kalau begitu, aku akan pergi” teriak Johan seraya berlari menarik tangan Odessa.
“tu-tunggu dulu. Katakan dulu kita mau kemana” jawab Odessa dengan tubuh yang tertarik.
Saat itu pula, Johan dan Odessa pun segera berjalan pergi keluar rumah melewati puntu luar. Johan mengeluarkan motornya dari dalam garasi dan kemudian memberikan satu helmnya kepada Odessa. Masing masing dari mereka memakai helm masing masing. Johan menyalakan mesin motornya dan kemudian meberjalan pergi dari rumahnya.
“hey Johan, kita ini sebenarnya mau kemana?” tanya Odessa.
“sekarang jam berapa?” tanya balik Johan.
“sekarang masih jam setengah 4 sore” jawab Odessa.
“kalau begitu, tokonya pasti sudah buka” ujar Johan.
“apa kita mau pergi ke toko? Toko apa yang kamu maksud?” tanya Odessa.
“toko yang aku yakin sekali kamu pasti suka” jawab Johan.
“toko apa itu?” tanya Odessa.
“aku tidak akan memberitahunya. Aku adalah tipikal orang yang tidak suka diberi dan memberi spoiler. Aku akan membiarkan kamu terkena plot twist yang telah kusiapkan” jawab Johan.
“aku tidak tau apa yang kamu katakan, tapi sepertinya seru” jawab Odessa.
“tokonya agak jauh, berada di ujung kota lama. Kita akan pergi kesana. Jadi mungkin agak lama” jawab Johan.
“aku mah ikut aja, terserahmu, mau itu jauh atau dekat” jawab Odessa sedikit menganggukkan kepalanya.
Perjalanan mereka ditempuh kurang lebih 30 menit, dan itu membuat mereka berdua sampai di toko pada jam 4 sore. Saat Odessa dan Johan turun dari motor dan memarkirkannya di tempat parkir, Johan membawa Odessa untuk pergi ke toko bunga yang begitu megah dan mewah.
“a-apa apaan ini? “tanya Odessa.
“apa kamu tidak suka? Aku kir akamu akan begitu menyukai tanaman” ucap Johan.
“bukan begitu maksudku, tapi tempat ini benar benar luar biasa. Mungkin ini adalah tempat favoritku untuk saat ini” jawab Odessa dengan senyum begitu tulusnya kepada Johan.
“be-benarkah? Aku juga ikut senang” jawab Johan.
“kalau begitu, ayo kita masuk. Aku sudah tidak sabar” sahut Odessa seraya menarik tangan kiri Johan.
“ba-baik” jawab Johan dengan tubuh yang sedikit tertarik.
Mereka berdua pun memasuki toko bunga. Disana begitu wangi semerbak bunga yang begitu harum nan segar. Banyaknya pot dan vas bunga yang luar biasa cantik disana. Beberapa bunga banyak yang terjual dari vas dan pot bunga sementara ada banyak juga yang terjual langsung darisana.
“apa kamu tertaik dengan satu tanaman disini?” tanya Johan.
“mungkin aku lebih tertaik di satu pot bunga yang ada disana. Pot di sana bener bener lucu. Ada yang gambarnya kucing, panda, hamster, dan lain lain” jawab Odessa dengan menunjuk ke satu pojokan ruangan yang terpajang banyaknya stok pot bunga disana.
Seketika itu pula, datanglah seorang perempuan memakai seragam pekerja di toko tersebut. Beliau memberikan arahan kepada Johan dan Odessa untuk pergi dan bebelanja disana.
“apa ada yang bisa di bantu?” tanya perempuan tersebut.
“lagi cari tanaman di dalam pot untuk hiasan ruangan. Apa ada?” tanya Johan.
“ada kak, silahkan ikut saya” jawab permepuan tersebut.
“baik” jawab Johan.
Mereka berdua pun mengikuti petugas perempuan tersebut hingga menuju ke beberap rak di sebelahnya disana terdapat banyak sekali pot yang begitu lucu dan elegan. Tanaman di dalamnya pun tidak main main dalam segi harga.
“kamu mau beli yang mana?” tanya Johan.
“aku mau kita beli yang sama, untuk couple” jawab Odessa.
“yaudah deh terserahmu” jawab Johan.
“kalau untuk couple, saya bisa menunjukkan beberapa pot yang digunakan sebagai kado untuk pasangan couple” sahut petugas perempuan tersebut.
“boleh juga” jawab Johan.
saat itu pula, perempuan tersebut mengarahkan mereka ke pojokan ruangan. Disana terdapat banyak sekali pot bunga yang benar benar indah dan lucu. Berbentuk seperti kepala beruang dan kepala panda. Ada yang berbentuk seperti kepala kucing dan ikan besar.
“kita menjual jenis ini untuk kado kepada pasangan couple. Cocok buat kalian berdua. Harganya juga bervariasi. Mulai dari 100rb sampai 700rb, tergantung ukuran, jenis dan bahan” jelas petugas perempuan itu.
“aku mau yang itu” jawab Odessa seraya menunjuk ke arah pot berbentuk panda.
“yang mana?” tanya Johan.
“yag ituuu!” jawab Odessa.
“ohh, yang kepala buaya?” tanya Johan.
“bukan kepala buaya! Tapi kepala panda” jawab Odessa dengan sedikit kesal.
“ohhh, yang ada di samping kiri itu? lucu juga” jawab Johan.
“iya kan? Lucu banget itumah” jawab Odessa.
“apa kamu mau yang itu?” tanya Johan
“iya, aku mau” jawab Johan.
“pot itu bertema film kartun We Bare Bears. Ada tiga macam beruang. Diantaranya yaitu beruang madu berwarna cokelat, beruang yang menyerupai panda, dan beruang kutub berwarna putih. Silahkan pilih yang mana?” jelas petugas perempuan itu.
“kalau begitu, aku akan memilih yang beruang kutub berwarna putih, biar kamu yang memilih beruang mirip panda” jawab Johan.
“bagus juga” jawab Odessa.
“kalau begitu, saya siapkan pesanannya sebentar ya kak” jawab petugas perempuan tersebut.
“baik” jawab Odessa.
Sang perempuan itupun pergi untuk mengambil stok dari gudang. Beliau mengambil dua pot tersebut dan kemudian kembali 1 menit kemudian. Perempuan itupun memberikan kedua pot kepada Johan dan Odessa untuk di cek apakah barang tersebut benar benar bersih tanpa lecet atau sebaliknya.
“waahh, lucu banget” jawab Odessa seraya mengelus pot berbentuk panda miliknya.
“milikku juga bagus” jawab Johan.
“aku jadi teringat Aqila yang ada di desa. Kenapa firasatku tidak enak? Apa anak anak di desa baik baik saja? apa Aji baik baik saja?” fikir Johan dalam hati.
“kalau memang masih bagus dan tidak ada minus dalam barang, kalian berdua bisa pergi ke ruangan sebelah untuk mengisi pot kalian dengan tanaman yang kalian inginkan” jelas perempuan tersebut.
“baik” jawab Odessa.
“terimakasih ya kak” jawab Johan.
“iya, sama sama kak” jawab petugas perempuan tersebut seraya menundukkan sedikit kepalanya.
Mereka berdua pun berjalan ke arah ruangan sebelah. Di sana terdapat banyak sekali tumbuhan yang begitu segar nan indah serta wangi. Suasana disana benar benar begitu sejuk karena para petugas disana harus tetap menjaga ruangan agar tetap lembab dan tersinari cahaya matahari.
“silahkan, apa ada yang bisa dibantu?” tanya salah seorang petugas lelaki disana.
“kita ingin mengisi pot kita berdua dengan tanaman disini” jawab Johan.
“kalau begitu, silahkan pilih tanaman yang kalian inginkan” jelas lelaki itu.
“aku mau tanaman yang awet tapi bagus. Kira kira apa ya?” tanya Odessa.
“kalau mau yang awet dan bagus, lebih baik di isi dengan tanaman kaktus” jawab lelaki itu.
“kaktus? Bagus juga tuh” jawab Odessa.
“kalau tidak salah, aku pernah melihat di internet, katanya di toko ini memiliki bunga Sweet Alyssum? Apa benar?” tanya Johan.
“iya, itu benar. Apa abang ingin melihatnya?” tanya lelaki itu.
“boleh juga” jawab Johan.
Maka dari itu, mereka berdua pun di giring untuk melihat bunga sweet alyssum yang masih berada di tangkai pohonnya. Benar benar begitu indah nan segar, bunga tersebut mekar dengan sempurna..