Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 32, Pengendalian Kesadaran



“permisi, mamah masuk” ucap sang ibunda seraya mengayuh kursi rodanya.


“silahkan masuk” ucap Johan sedikit berteriak.


Mendengar hal itu, seluruh orang yang ada disana merasa haru dan terkejut. Hati mereka bergetar akan terharunya suara Johan yang sudah baikan dan siuman selama kurang lebih 3 hari 3 malam. Suara polos dan serak basah Johan terdengar dan membuat hati mereka benar benar terenyuh akan hadirnya sambutan hangat dari seorang yang paling dicinta.


Mereka semua berjalan menemui Johan yang tengah terbaring lemah di kasur, dimana tangan kirinya dipenuhi oleh perban yang membalut luka tangan kirinya. Hanya ada kesunyian yang menyelimuti ruangan Johan. Dan pada akhirnya, kesunyian itu di hapus oleh orang orang yang Johan rindukan.


“ada mamah, ada paman Surya, ada Lia, ada mulut bau, ada Jehian, dan ada Farel. Semuanya ada disini, makasih banyak” ucap Johan seraya meneteskan air mata.


“kenapa hanya aku yang dijuluki mulut bau” tanya Nyoman dengan begitu kesal dan kemudian diikuti oleh tawa semua orang disana.


“karena kau selalu ceplas ceplos dan ngga bisa atur katamu” jawab Jehian.


“apa Johan udah baikan?” tanya paman Surya.


“udah paman, udah baikan. Tapi masih agak pusing dan lemes” jelas Johan.


“apa kamu bosen disini terus?” tanya Emilia.


“enggak, aku baru aja bangun tadi pagi, jadi aku gatau aku tertidur seberapa lama” jelas Johan.


“kamu udah tidur tiga hari” jawab paman Surya.


“heh!? Tiga hari? Yang bener?” Tanya Johan begitu terkejut.


“iya tiga hari” ucap Farel.


“kalau begitu, sekarang hari apa?” tanya Johan.


“sekarang hari sabtu” jawab Nyoman.


“hmm, mungkin itu alasannya mengap[a aku dan Greisha mengobrol begitu lama” fikir Johan dalam hati


“ohh, iya. Aku jadi teringat kalau Odessa pastinya sudah menungguku di desa. Aku sudah berjanji kalau aku akan menemuinya kembali” fikir Johan dalam hati.


“nak Johan? Apa kamu udah baikan? Kenapa kamu melamun?” tanya sang ibunda.


“aku merasa kalau waktuku bersama dewi alam itu sangat amat lama hingga aku berfikir kalau aku akan benar benar berganti dunia. Aku sempat ketakutan disana karena aku seperti menganggap kalau aku sudah bermimpi berminggu minggu” fikir Johan dalam hati.


“ohh, iya. Aku masih mengingat perkataan dewi alam mengenai tato ku itu” fikir Johan dalam hati.


“heh Johan? Apa kamu sadar? Johan‼” teriak Emilia dengan sangat keras.


Namun teriakan Emilia sama sekali tidak bisa mengganggu fikiran Johan yang dipenuhi oleh pertanyaan pertanyaan yang meneror otaknya selama ini. Johan begitu berfikir keras dan berusaha untuk mengingat kembali kejadian dari mimpi yang baru saja Johan alami. Mereka semua mulai merasa hedan karena Johan yang melamun dengan tatapan yang kosong.


“kalau tidak salah, Greisha berkata kalau saat aku menggigit tanganku sendiri dan aku bertemu Odessa, semua itu bukanlah mimpi. Tapi saat aku melihat tangan kiriku, mengapa tidak ada tato didalamnya?” fikir Johan bertanya tanya.


“kenapa aku tidak melihat tato ku disana padahal saat itu aku bukan sedang bermimpi. Aku sangat takut bagaimana kalo pertemuanku bersama dengan Odessa hanyalah mimpi belaka?” fikir Johan bertanya tanya.


“apa yang terjadi dengan Johan? Kenapa tatapannya kosong?” ujar Jehian bertanya tanya.


“kalau aku menggigit tanganku sendiri, itu pasti akan sangat sakit. Dan aku yakin kalau ini bukanlah mimpi. Kepalaku bener bener pusing mikir buat bedain mana mimpi dan tidak. Keduanya itu sama saja” fikir Johan.


“ohh iya, aku baru ingat. Greisha pernah berkata kalau tato itu bisa hilang karena tangan kita terputus ataupun karena Greisha sendiri yang mengambilnya. Tapi sejak kapan Greisha mengambilnya?” fikir Johan.


“ohhh iya, aku ingat. Kalau tidak salah Greisha pernah berkata kalau dia mengambilnya secara langsung lewat perantara tidur. Bisa jadi Greisha mengambilnya saat aku tidur di dalam gedung yang ada di Engkobappe sesaat setelah aku tidak sadarkan diri di bawah pohon milik Odessa. Greisha mengaku kalau Greisha mengambilnya saat aku tertidur. Aku sedikit tenang karena pertemuanku dengan Odessa bukanlah mimpi melainkan kejadian yang memang terjadi di dunia” fikir Johan dalam hati.


“hebat, aku bisa mengingat semua pembicaraanku bersama dengan Greisha di dalam mimpi. Otakku semakin terasah” fikir Johan membanggakan dirinya sendiri.


“dan aku juga mengingat perkataan Greisha kalau saja dirinya sudah mengembalikan tato itu kepadaku seperti semula. Jadi, saat aku menggigit tanganku sendiri di dalam mobil, saat itu aku sedang tidak bermimpi. Alasan mengapa aku menggigit tanganku sendiri adalah karena perkataan Greisha yang berkata kalau tato ku tidak akan bisa terlihat di dalam dunia mimpi. Tato ku menghilang karena Greisha mengaku sudah mengambilnya lagi. Dan baru saja, aku mengobrol dengan Greisha, dan dia berkata kalau tato ku sudah di kembalikan. Maka dari itu aku harus memeriksanya sendiri. Tapi bagaimana caranya aku bisa melihatnya kalau tangan kiriku benar benar tertutup perban?” fikir Johan dalam hati.


“Johan sadarlah‼!” teriak Farel dan Nyoman begitu keras.


Dalam suasana yang benar benar aneh, mereka seakan akan berbicara dengan boneka hidup. Mereka melihat tatapan mata Johan yang benar benar kosong, dengan keadaan yang begitu aneh, mereka pun memutuskan untuk memanggil perawat disana. hingga pada akhirnya, teriakan paman Surya yang terakhirkalinya membuat Johan sedikit sadar dari fikiran yang menerornya. Johan melirik begitu tajam ke arah paman Surya dengan kedua matanya yang masih sayu dan suntuk itu.


Melihat hal itu, mereka benar benar ketakutan dengan apa yang terjadi kepada Johan. Mereka berfikir kalau Johan benar benar sudah kerasukan. Sesaat setelah itu, Johan duduk dengan posisi benar benar membungkuk. Johan menatap tajam mata mereka semua dengan tatapan yang begitu kosong dan layaknya tidak terfokus pada satu objek. Sesaat setelah itu, Johan pun sedikit merangkak dan kemudian berjalan menuju ke arah rak meja di samping ranjangnya.


Melihat hal itu, tidak ada satupun orang yang berani menghamipiri Johan karena takut jika Johan mungkin saja Johan akan menyerangnya. Johan merangkak dan menjulurkan panjang lengan kanannya itu kearah laci. Sesaat setelah itu, Johan pun menarik laci yang ada di rak tersebut dan kemudian meraba raba seisi laci tersebut.


Selepas meraba raba, Johan pun berhasil mengambil gunting yang ada di dalam laci dan kemudian membawanya di atas kasur. Melihat itu, merkea semua beranggapan bahwasanya Johan akan menyerang mereka. Mereka begitu khawatir karena dalam kondisi yang seperti itu, Johan bisa saja melukai siapapun yang ada di dekatnya.


“a-apa yang akan nak Johan lakukan dengan gunting itu?” tanya sang ibunda.


Saat itu, Johan sudah di banjiri oleh pertanyaan dan pembuktian. Johan benar benar ingin membuktikan apakah benar tato nya akan kembali di tangan kirinya. Johan ingin membuktikan bahwa apa yang terjadi di mimpinya itu sepernuhnya benar. Maka dari itu, Johan benar benar sangat haus akan pembuktian ini.


“kali ini, aku akan melihat apakah benar perkataan dari Greisha” fikir Johan dalam hati.


Perlahan, Johan mengangkat lengan kirinya dan kemudian mengikis panjangnya lengan baju sebelah kiri. Selepas itu, Johan pun menggunting perlahan balutan perban tersebut dengan penuh kehausan jawaban. Semua orang sama sekali tidak mengerti apa yang Johan lakukan saat itu dan mengapa Johan menggunting perbannya sendiri.


“a-apa yang akan dia lakukan? Dan juga apa luka di tangan kirinya sudah sembuh? kenapa dia malah menggunting perbannya?” tanya Emilia dengan begitu panik.


“dimana? Dimana perawatnya? Kenapa perawatnya tidak cepat kemari?” tanya sang ibunda begitu khawatir.


Dengan penuh air liur yang membanjiri haus akan pertanyaan tersebut, Johan benar benar sangat amat terbutakan oleh jawaban yang ingin ia dapatkan. Johan benar benar sudah tidak memperdulikan sekitar dan kehilangan akal sehatnya. Pada dasarnya, Johan benar benar ingin membuktikan keberanan dari kehadiran sang Dewi Alam di dalam mimpinya. Apakah dewi alam adalah karakter dalam mimpi atau memang benar benar ada nyatanya.


“sekarang, aku akan melihat tato ku sendiri” fikir Johan dengan menggunting satu persatu perban tersebut.


Hingga sampai tingkatan perban terakhir, dimana perban yang tipis tersbeut bisa menembuskan warna yang ada di baliknya. Terlihat jika perban tersebut adalah perban yang tipis dan halus. Kulit jemari Johan pun mulai nampak dari tembusan satu helai perban tersebut.


Saat Johan hendak menggunting perban terakhir tersebut, dengan ceroboh Emilia menghentikan pergerakan tangan kanan Johan dan tidak akan membiarkan Johan untuk mengguntingnya. Karena saat itu, Emilia sadar jika luka yang berada di tangan kiri Johan masih belum sembuh dan benar benar masih basah akan luka dan darah.


Emilia dengan ceroboh menghentikan tangan kanan Johan dengan cara yang ekstrim. Emilia memaksakan tangan kirinya untuk memegang bagian besi dari gunting tersebut secara paksa dan tidak akan memberikan Johan kesempatan untuk menutup kedua bilah dari gunting tersebut.


Pada akhirnya, Johan tidak mampu kedua bilah mata gunting tersebut karena ada setelapak tangan yang berada di sela sela kedua bilah. Jika Johan menutupnya, jari Emilia akan terluka. Saat itu pula, spontan Emilia menampar pipi Johan dengan super duper amat luar biasa mampus hingga wajah Johan terlempar dengan begitu keras.


Pada saat itu pula, Johan pun kembali sadar akan situasi dan kondisi yang ada di sekelilingnya. Emilia seketika mengibas kibaskan telapak tangan kanannya karena dirinya menampar pipi Johan terlalu keras. Disisi lain, Johan dengan kepala yang terlempar itu sudah sadar akan pemikiran negatif yang terlalu membutakan dirinya.


Semua orang disana mendengarkan suara tamparan yang begitu krispi dan krenyes tersebut seakan akan mereka benar benar lega melihat Emilia menampar keras wajah Johan.


“aww sakit sakit sakit” ucap Emilia seraya mengibas kibaskan tangan kanannya.


“hey apa yang kau lakukan? Itu sakit tau” teriak Johan terbawa emosi.


Melihat Johan bereaksi seperti itu, seketika semua orang yang tengah berdiri disana begitu kebingungan dengan kekuatan tamparan Emilia. Disaat mereka melihat kesadaran Johan kembali akibat tamparan keras Emilia, mereka begitu lega karena Johan sudah kembali sadar dari alam bawahnya.


“Johan sudah kembali hanya karena tamparan perempuan itu? bukan karena obat dari dokter? Apa mungkin Johan hanya melamun dan memikirkan tentang sesuatu yang mengganggu fikirannya?” fikir paman Surya dalam hati.


“aku ngga peduli, dari tadi aku teriak tapi kamu malah melamun. Ada apa?” tanya Emilia.


“ehh? Aku? aku melamun?” tanya Johan begitu terkejut.


“apa kau tidak sadar kalau kau itu sedang melamun?” tanya sang ibunda begitu khawatir.


“ti-tidak, a-anu. Itu. maaf sebelumnya. Aku hanya seperti mendengar suara papah di ujung ruangan” ucap Johan dengan tawa palsunya.


“kau sama sekali tidak pintar berbohong, Johan” fikir paman Surya dalam hati.


“sekarang, lepaskan gunting ini atau kamu atau aku tampar lagi” ancam Emilia kepada Johan.


“ehh? I-iya iya, maaf” ucap Johan seraya mengeluarkan kedua jarinya dari gunting tersebut.


Seketika Emilia pun mengambil gunting tersebut dan kemudian meletakkannya kembali ke dalam rak yang berada di samping ranjang Johan. Dengan begitu, perban yang membalut tangan kiri Johan mulai melemas dan saat itu pula tidak bisa menutup luka Johan dengan begitu rapat. Alhasil, darah yang terhenti dari luka yang tertutup perban tersebut mulai terbuka kembali dan mulai menetes di pakaian Johan.


“sial, darahku keluar lagi” ucap lantang Johan.


“apa kalian bisa memanggilkan perawat untukku? Darahku mulai keluar lagi dari telapak tangan kiriku. Sebaiknya kalian cepat karena ini perlahan mulai menyakitkan” ucap Johan seraya menahan sakit dari tangan kirinya.


“i-iya, aku akan memanggil mereka” jawab Nyoman spontan berlari keluar kamar.


Perlahan, rasa sakit yang menyerang telapak tangan kiri Johan mulai tidak terkendali. Johan benar benar sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit dari telapak tangan kirinya. Johan benar benar menggeleng geleng kepala karena saking sakit dan ngilunya luka yang ada di tangan kiri tersebut.


Namun, Johan masih teringat mengenai tato yang berada di telapak tangan kirinya sendiri. Johan mengingat kalau dirinya membuka perbannya sendiri hanya karena untuk memeriksa apakah ucapan sang dewi alam itu benar apa adanya.


“sebelum tangan kiriku di balut perban, setidaknya kau harus memaksa untuk memutar tangan kiriku agar aku bisa melihat tatoku sendiri” fikir Johan dalam hati.