Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 12, Kesehatan mental Johan



“cepat angkat Johan dan taruh di tempat teduh” ujar Emilia dengan begitu panik.


“baik” jawab Nyoman, Farel, dan Jehian bersamaan.


Mereka semua pun menyandarkan ke dinding tempat toilet umum di taman tersebut. Johan pun berbaring dengan kondisi basah kuyup disana. Seketika Emilia menampar keras wajah Johan dan meneriakinya agar Johan tersadar. Namun hasilnya nihil. Johan sama sekali tidak bisa terbangun dan tersadar.


“bagaimana ini? kenapa Johan bisa disini?” ujar Emilia dengan paniknya.


“apa dia tidak memberitahukan kabar kepadamu sekalipun?” tanya Farel.


“dia benar benar tidak bisa dihubungi, aku tidak tau kenapa dia sama sekali tidak memegang HP nya” ujar Emilia.


“udah, jangan panik. Sekarang, apa kita harus mengantarkan Johan kerumahnya?” tanya Farel.


“iya, tolong. Kita akan membawanya menuju kerumahnya” ucap Emilia.


“apa kita tidak menelfon orang tuanya? Siapa yang disini punya nomer orangtuanya?” tanya Nyoman.


“aku punya, apa kita harus menelfon orangtuanya?” tanya Emilia.


“bagaimana kalau orangtuanya masih tidur?” tanya jehian.


“itu bukan urusan kita, sudah seharusnya sebagai orang tua harus busa mengendalikan perilaku dan kelakuan anaknya. Bagaimanapun juga kita harus menelfon orangtuanya dan kemudian meminta mereka untuk menjemput Johan disini” ujar Farel.


“kau benar, sekarang telfonlah orang tuanya, Emilia” ujar Nyoman.


“hmm, baik” ujar Emilia seketika mengeluarkan hp dari kantong celananya itu.


Emilia pun menelfon ibunda Johan menggunakan ponsel miliknya. Beruntungnya saat itu, sang ibunda dari Johan memang sangat sensitif akan suara, jadi bagaimanapun suara yang membangunkan tidur mamah Johan, beliau pasti akan mudah untuk terbangun.


“halo, tante?” ucap Emilia dalam telefon.


“iya ada apa nak Lia? Kenapa malam malam gini malah telfon?” tanya sang ibunda Johan dengan suara suntuk.


“Johan tante, sekarang Johan pingsan di taman karena kehujanan. Ktia tidak tau mulai kapan Johan kehujanan, yang pasti sekarang Johan tidak bisa sadarkan diri” ucap Emilia dengan suara panik.


“hah? Johan? Bagaimana kondisi Johan?” tanya ibunda Emilia begitu terkejut.


“sekarang dia pingsan, tante. Lebih baik om sama tante jemput Johan sekarang juga. Dia ada di toilet umum taman kota” ujar Emilia.


“iya iya, tante akan jemput kalian berdua dengan mobil” ucap sang ibunda.


“iya tante, kita tunggu disini” ujar Emilia.


“baik baikk, makasih banyak ya nak Lia” ucap sang ibunda mematikan telefonnya.


Seketika sang ibunda pun membangunkan sang suami dengan segera dan menceritakan semuanya kepada sang suami. Spontan mereka pun bergegas mencuci muka dan kemudian mengambil kunci mobil mereka. Namun, di saat mereka berlari melewati ruang tengah, mereka melihat adanya surat yang tergeletak di lantai.


Surat yang berasal dari pemerintahan daerah tersebut membuat mereka benar benar terpukul. Sang papah pun benar benar bersedih, namun beliau lebih memilih untuk menghiraukannya karena keselamatan anaknya adalah nomer satu. Mereka pun membuka pintu rumah dan mendapati kalau hujan benar benar deras saat itu. Hingga pada akhirnya, mereka pun berangkat menggunakan mobil dan tancap gas menuju taman.


Sesampainya mereka di taman, nyatanya terdapat Nyoman serta Farel yang melambaikan tangannya ke arah mobil sang papah Johan. Melihat itu, seketika papah Johan memarkirkan mobilnya di parkir umum taman. Seketika Nyoman memberikan payungnya kepada papah dan mamah Johan sementara Nyoman menggunakan payung yang sama bersama dengan farel.


Nyoman dan Farel pun mengarahkan sang papah dan mamah Johan untuk pergi ke pusat taman dimana Johan berada di toilet umum tersebut. Sesampainya sang papah dan mamah disana, terlihat begitu sedih dan kacaunya kondisi Johan saat itu. Muka pucat dengan bibir yang kehilangan wanranya tersebut membuat hati kedua orang tuanya itu benar benar sedih dan terpukul.


“a-apa yang terjadi dengan Johan? Kenapa dia bisa disini? dan kenapa dia bisa pingsan?” tanya sang ibunda seraya memegang telapak tangan kiri Johan.


“tangannya benar benar sangat dingin” ucap sang ibunda.


“ceritanya nanti dulu aja tante, lebih baik sekarang Johan di letakkan di UGD karena kondisinya yang begitu lemas dan pucat” ucap Emilia.


“iya, kau benar” sahut sang papah.


Maka mereka semua pun beramai ramai menggotong tubuh Johan menuju dalam mobil. Bersama dengan mereka semua, mereka memasuki mobil dengan kondisi yang berhempit hempitan. Namun, bagaimanapun juga, mereka masih tidak faham dengan apa yang difikirkan oleh Johan saat itu.


“apa om dan tante tau kenapa alasan Johan?” tanya Emilia.


“kita baru saja mendapatkan surat dari pemerintah daerah kampung halaman Johan. Saat lalu, kebakaran hutan melanda puluhan kilometer pepohonan disana, Sekaligus pemukiman warga juga ikut terbakar karena sampai sekarang para warga disana masih memakai rumah dari balok kayu atau hanya anyaman bambu. Saat itu pula rumah dari kakek Johan ikut terbakar dan membuat kakek Johan menjadi salah satu korban jiwa dari insiden tersebut. Mungkin karena itu Johan merasa sangat kehilangan kakeknya. Padahal tiga hari sebelumnya Johan mendengarkan kabar tentang kematian sang neneknya. Mungkin dia di hantui oleh fikiran sedih” ucap sang papah.


“ehh? Kakek yang kemarin pagi kerumah itu om?” tanya Emilia begitu terkejut.


“iya, itu adalah kakeknya” ucap sang ibunda.


“ehh? Kok Lia bisa tau kakeknya?” tanya Nyoman.


“soalnya kemarin pagi pas aku jenguk Johan, kakeknya kasih berita duka atas kepergian sang neneknya itu” ucap Emilia.


“jadi kau ada dirumah Johan saat itu juga?” tanya Jehian.


“iya” jawab Emilia.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumahsakit umum di tengah kota tersebut. Nyatanya Johan seketika di larikan ke UGD untuk penanganan yang lebih cepat pada pertolongan pertama. Seketika terdapat sebagian perawat yang memberikan kasur roda dan meletakkannya di samping pintu mobil.


Saat itu pula Johan di angkat oleh beberapa perawat disana dan kemudian di letakkannya ke atas kasur tersebut. Melihat itu, kedua orangtuanya bersama dengan teman teman Johan benar benar sedih atas kondisi Johan yang seperti itu. Seakan akan mereka semua kehilangan sosok Johan yang periang nan selalu ceria serta tertawa.


“aku juga kurang tau, dia emang selalu membuat onar” ucap Nyoman.


“kau benar, aku tidak bisa yakin kalo Johan bisa naik kelas atau tidak, yang pasti dia sudah tidak masuk lebih dari 3 bulan” ucap Emilia.


“kau benar, dia memang sudah gila” ujer Nyoman.


“apakah disekolah Johan memang selalu menyendiri? Atau dia malah selalu periang?” tanya sang papah.


“kalau dulu, sekitar 3 bulan yang lalu, dia menjadi siswa teladan dan bahkan tidak ada satupun orang di sekolah yang bisa menyaingi nilainya. Entah kenapa pada satu hari, dia pernah duduk dan menangis di gudang sekolah. Saat aku menghampirinya, dia malah menamparku. Akupun menampar balik dan menanyakan apa yang terjadi, namun sampai sekarang dia tidak memberitahukan masalahnya 3 bulan yang lalu. Aku sama sekali tidak faham mengapa dia selalu menyembunyikan perasaannya sendiri dan tidak ingin temannya tau” ucap Emilia.


“apa saat itu dia sedang luka?” tanya Nyoman.


“kenapa kau malah tanya seperti itu?” tanya Jehian kepada Nyoman.


“mungkin saja dia baru saja di pukuli dan dibully?” tanya balik Nyoman.


“nggak, aku sama sekali nggak ngeliat bekas luka satupun di tubuh Johan padahal saat itu Johan memakai seragam olahraga yang memang memiliki lengan pendek” ucap Emilia.


“barangkali dia habis bertengkar dengan seseorang, atau mungkin dia kehilangan seseorang” ujar Farel menebak asal.


“mungkin saja seperti itu” sahut Emilia.


“yang pasti, Johan yang kita temui saat ini bukan seperti Johan yang dahulu. Saat kita berbicara dengan Johan, nyatanya kita malah seperti berbicara dengan bayangannya saja. Dia sama sekali tidak pernah membuka mulut atas masalahnya sendiri” ucap Jehian.


“dia juga begitu di rumah. Bahkan saat kita mendapatkan surat dari pemerintah daerah mengenai kakeknya yang meninggal, kita tidak diberitahu sekalipun atas surat pemberitahuan itu. Saat dia mengalami kesedihan, entah kenapa dia lebih memilih untuk sendiri. Dan saat itu pula entah kenapa hujan selalu mengguyur kota” ujar sang papah.


“papahnya benar, dia selalu menyembunyikan sesuatu saat dia bersedih. Entah kenapa saat kita mencoba untuk mengerti isi fikiran dari anak kita, dia selalu menutup mulutnya. Bahkan saat tadi mendengar berita tentang kebakaran hutan, dia sempat mengalihkan isu tentang remote tv yang terjatuh. Seakan akan dia ingin menyelamatkan semuanya sendirian” ujar sang ibunda.


“mungkin itu adalah gejala seseorang yang terkena stress berat” sahut salah satu dokter yang secara tiba tiba menghampiri mereka semua.


“ehh, dokter? Bagaimana kondisi Johan dok?” tanya sang papah. Seketika semua orang disana berdiri akan kehadiran sang dokter. Mereka semua beranjak dari tempat duduknya dan kemudian berjalan menhampiri sang dokter disana.


“kondisi nak Johan baik baik saja, dia hanya stress berat dan kedinginan hebat. Saat ini, sirkulasi darahnya tidak teratur dan membuat kesadaran Johan masih di ambang kepala. Mungkin dia bisa sadarkan diri besok pagi atau bahkan minggu depan. Tidak akan ada yang tau kapan Johan bisa terbangun dari alam bawah sadarnya” ujar sang dokter.


“menggarisbawahi apa yang telah dikatakan oleh dokter, apa yang dimaksud Johan terkena stress berat?” tanya sang ibunda.


“emm, sebenarnya saya bukanlah seorang dokter psikolog, namun saya sedikit mengerti tentang cara berfikir remaja. Bisa dikatakan kalau dia sekarang sedang berjuang melawan kesendirian” ujar sang dokter.


“hah? kesendirian? Maksudnya dok?” tanya Emilia.


“garis besarnya adalah, walaupun kalian semua ada disisi Johan, namun Johan sekalipun tidak merasa bahagia. Walau Johan tertawa dan tersenyum di depan kalian, namun dia melakukannya karena suatu keterpaksaan atau dalam kurung dirinya tidak melakukan itu karena keinginannya sendiri” jelas dokter.


“jadi, selama ini dia tidak senang jika ada kita semua?” tanya Nyoman.


“yap, itu adalah kata kasarnya. Johan sama sekali tidak bahagia maupun terhibur dengan adanya kalian” ujar sang dokter tersebut.


“kenapa dok? Padahal kita mengira kalau dia benar benar bahagia saat kita ada disampingnya” ujar jehian.


“itu karena, dalam kehidupannya, dia pernah kehilangan satu sosok penting dan sangat ia cintai dalam hidupnya. Saat sosok itu menghilang, tidak akan ada lagi satupun hal yang bisa mengetuk pintu hati Johan dari dingin dan kesendiriannya itu” jelas dokter.


“siapa? Siapa orang itu? kenapa orang itu meninggalkan Johan?” tanya Emilia.


“mana saya tau? Kenapa malah nanya saya? YNTKTS” sahut sang dokter tersebut.


“emm, mungkin itu berhubungan dengan perkataan kalian yang tadi. 3 bulan yang lalu, Johan selalu menjadi periang dan menjadi murid teladan disekolahnya. Namun setelah sehari dalam hidupnya, Johan bahkan tidak berniat untuk masuk sekolah. Mungkin kesunyian Johan dimulai dari saat itu” sahut sang dokter.


“emm, anda benar juga dok. Ternyata anda bisa membaca fikiran seorang remaja juga” sahut Nyoman.


“terimakasih, saya anggap itu pujian. Kalau begitu, saya pamit dahulu. Setelah ini, akan ada beberapa perawat yang akan menjelaskan dimanakah kamar rawat inap milik Johan” ujar sang dokter itu.


“baik, saya sangat berterimakasih banyak” jelas sang ibunda.


“sama sama ibu” jawab sang dokter itu seraya berjalan meninggalkan mereka semua.


Pada akhirnya, mereka pun segera kembali duduk di tempat duduk mereka masing masing seraya menunggu perawat memberikan informasi lebih mengenai kamar yang akan di tempati oleh Johan. Walaupun besok adalah hari libur, tetapi sang papah dan mamah Johan pun dengan tegas untuk menyuruh semua teman Johan itu untuk pulang karena takutnya mereka semua sudah di cari oleh orang tua mereka semua.


“makasih banyak ya atas bantuan kalian. Sekarang, om akan anterin kalian pulang” ujar sang papah Johan.


“ehh? Tapi kan kita belum tau dimana Johan akan di rawat inap” ujar Nyoman.


“iya om, kita masih belum tau kondisi Johan” sahut Emilia.


“tapi sekarang sudah malam, nanti kalian di cari oleh mamah papah kalian” sahut sang papah Johan.


“biar tante yang tunggu informasi dari perawat disini. Kalian semua pulanglah” sahut sang ibunda Johan.


“tapi te-“ ucap farel.


“JANGAN BANTAH ATAU KALIAN SEMUA AKAN TANTE MASAK HIDUP HIDUP DAN MAKAN SAAT KALIAN MASIH SADAR!?” ancam sang ibunda Johan dengan begitu menyeramkan. Aura yang dihasilkan disekujur tubuh sang ibunda benar benar menyeramkan hingga aura itu menerbangkan rambut terurai sang ibunda hingga menyerupai singa yang marah.


“i-iya tante. Kita pulang” teriak Emilia, Jehian, Nyoman, serta Farel bersamaan karena ketakutan.