Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 76, Berdua dengan Callysta



Tidak lama setelah itu, Johan meuju ke wastafel dapur dan kemudian mencuci tangannya. Hingga sampai tangan Johan bersih, Johan mengelap tangannya menggunakan tisu dan kemudian berjalan ke arah pintu luar.


Saat Johan membuka pintu, Johan sedikit terkejut akan kedatangan Callysta yang secara tiba tiba.


“ehh, ka-kamu. Ada apa? Masuk dulu sini” ucap Johan membuka pintunya lebar lebar.


“sssttt, jangan kenceng kenceng. Apa papahku ada disini?” tanya Callysta sedikit membesit.


“iya, ada apa?” tanya balik Johan.


“ohh begitu” jawab Callysta sedikit menganggukkan kepalanya.


“masuk dulu sini. Diluar dingin. Apalagi kamu hanya pakai pakaian sedikit terbuka dan memakai rok. Diluar sedikit gerimis, apa kamu tidak membawa jaket?” tanya Johan.


“aku nggak bawa, hehehe” jawab Callysta seraya sedikit menggaruk kepalanya.


“yaudah, ayo masuk dulu sini” ajak Johan.


“tidak apa apa, aku hanya perlu berbicara sedikit kok” sahut Callysta.


“memangnya ada apa?” tanya Johan.


“besok, apa besok kamu ada acara? Kalau kosong, aku ingin kamu menemaniku ke mall” gumam Callysta dengan muka sedikit memerah.


“hah? apa? Ngomong yang jelas” ucap Johan mendekatkan telinganya.


“a-apa kamu besok kosong? Kalau iya, aku ingin kamu menemaniku ke mall. Ha-hanya u-untuk sekedar makan di-disana” ucap Callysta dengan begitu gugupnya.


“a-aku tidak memaksamu kalau kamu tidak mau, aku hanya ingin mengajakmu berdua saja” jelas Callysta dengan muka yang sudah begitu merah.


“huffttt, apa hanya itu? apa hanya itu yang akan kamu katakan sampai sampai kamu pergi ke rumahku di malam hari? Dasar bodoh!” ucap Johan membalikkan tubuhnya.


“tunggu disini sebentar” ucap Johan seketika berlari menuju dalam rumah.


“i-iya” jawab Callysta.


Johan pun segera berlari menuju kamarnya yang berada di kamar atas hanya untuk mengambil ponselnya dan mengambil 2 buah jaket yang menggantung di hanger lemarinya. Johan pun segera berlari turun dengan begitu tergesa gesa. Semua orang yang melihatnya pun sedikit aneh dengan apa yang dilakukan oleh Johan dan tamu nya itu.


“apa yang Johan lakukan? Kemana Johan akan pergi? Kenapa dia membawa jaket? Dan kenapa juga Johan membawa dua?” tanya sang ibunda.


“Nyoman juga tidak tau, tante” jawab Nyoman.


Namun, pak Abdi yang saat itu sudah mengetahui jika Callysta adalah tamu Johan sudah mengerti dengan apa yang akan di lakukan oleh Johan. Pak Abdi sudah menebak jika Johan akan meminjamkan jaketnya kepada Callysta yang saat itu sedang berpakaian tipis dan dingin di tengah malam yang sedikit gerimis.


Johan pun segera melemparkan jaketnya itu ke arah muka Callysta dan spontan Callysta menerimanya.


“tuh, pah-pakeh ajha. Pakaianmu terlahlu tiphis unthuk gerimhis” ucap Johan dengan ngos ngosan.


“te-terimakasih” jawab Callysta segera memakai jaket pemberian Johan tersebut.


“dengan siapa kamu kesini?” tanya Johan.


“se-sendirian” jawab Callysta seraya memasang jaket dari Johan.


“padahal rumahmu sedikit jauh dari sini. Dengan apa kamu kemari?” tanya Johan.


“jalan kaki” jawab Callysta.


“apa kau sudah gila?” tanya balik Johan.


“sebenarnya aku hanya berniat untuk ke supermarket, tapi karena rumahmu dan supermarket sedikti dekat, maka aku kefikiran untuk kerumahmu sebentar” jawab Callysta.


“kalau begitu, aku akan menemanimu pulang. akan sangat berbahaya jika perempuan sepertimu berjalan sendirian di malam hari” tegas Johan seraya memakai jaketnya itu.


“ja-jangan, aku sudah terbiasa berjalan send-“ ucap Callysta tersahut henti.


“aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kamu sampai bertemu dengan penjahat di tengah jalan yang sepi. Aku akan menemanimu” sahut tegas Johan.


“tapi itu akan merepotkanmu jika kamu berjalan bersama” ucap Callysta.


“kata siapa kita akan berjalan? Aku akan membawa motorku sendiri” sahut Johan.


Saat itu pula, Johan berjalan ke dalam rumahnya kembali dan kemudian berjalan menuju rak di dekat TV ruang tengah. Johan pun membuka laci tersebut dan mengambil kunci motornya.


“kau mau kemana?” tanya Farel.


“ada urusan sedikit penting. Sisakan jamur nya untukku” ucap Johan.


“kalau kau tidak pulang segera, jamur mu ini akan berada di dalam perutku lho!” tegas Kahfi.


Saat itu pula, Johan pun berjalan ke arah pintu luar seraya memegang kunci motor dan kunci garasi rumah. Johan pun segera menutup pintu rumah dari luar dan kemudian memakai sepatunya yang hangat.


“sebentar, aku akan mengeluarkan monster ku” ucap Johan seraya berjalan ke arah bagasi.


“sudah kubilang, aku bisa berjalan sendirian. Kalau begini, aku akan merepotkanmu” ucap Callysta.


“aku suka perempuan yang merepotkanku. Jangan kebanyakan ngomong dan lihatlah detik detik monsterku keluar” jawab Johan dengan senyum tulusnya.


Saat mendengar perkataan Johan yang seperti itu, detik itu pula jantung Callysta berdetak dengan begitu cepatnya. Muka Callysta pun seketika kembali memerah dengan memasang raut muka sedikit tersipu malu.


“ohh iya, apa yang kamu maksud monster?” tanya Callysta.


“lihat saja dulu” jawab Johan membuka pintu garasinya.


Saat itu pula, Johan pun berjalan ke arah motornya dan kemudian menancapkan kucni motornya. Segera Johan pun menyalakan mesin motornya dan seketika suara dari monsternya menggema di dalam garasi. Johan pun mengeluarkan motornya dari garasi dan kemudian kembali menutup pintu garasinya kembali.


“waahh, inimah gilak abis” ucap Callysta begitu terkagum saat melihat motornya.


“apa kau tau jenis motor ini? motor ini bermodel-“ ucap Johan terhenti.


“Jepstyle!” sahut Callysta.


“wooaah, jadi kamu tau model motorku?” tanya balik Johan.


“jelas, aku kan juga suka motor custom” sahut Callysta dengan raut wajah yang begitu bersemangat.


“kalau begitu, apa tidak masalah jika kita riding sebentar menggunakan motorku ini?” tanya Johan.


“dengan senang hati” jawab Callysta.


“nahhh sipp, gitu dong” ujar Johan.


Seketika Johan memasuki bagasi mobil kembali dan kemudian mengambil dua buah helm dari dalam. Johan memberikan satu helm miliknya kepada Callysta dan satunya lagi untuk ia pakai.


“itu helm ku sendiri, jangan di kotori!” tegas Johan.


“siapp pak bos” jawab Callysta memberi hormat.


Nyatanya, mereka harus menunggu kurang lebih 5 menit supaya mesin motor tersebut panas. Nyatanya Johan sudah tidak menggunakannya lebih dari 3 bulan dan Johan pun sudah lupa apakah bensinya masih ada atau tidak.


“kita hanya akan keliling kota selepas itu akan pulang. Aku juga sudah lama tidak mengeluarkan motorku ini” ujar Johan.


“monster seperti ini tidak dikeluarkan dari garasi? Benar benar mubazir *(menjadi sia-sia atau tidak berguna, terbuang, bersifat memboroskan atau berlebihan)” ujar Callysta.


“maka dari itu, aku juga pengen memastikan apa monster ku ini masih bekerja dengan ganas atau tidak” jelas Johan.


“itu pasti akan seru” jawab Callysta.


“kalau begitu, naiklah. Mesinnya sudah panas. Tempat duduk untuk penumpang memang sedikit kecil, tapi itu sudah cukup untuk perempuan kurus sepertimu” jelas Johan.


“aku tidak tau apa itu pujian atau hinaan” jawab Callysta memasang raut muka sedikit sebal.


Callysta pun segera menaiki motor tersebut dan duduk di jok penumpang belakang. Johan pun menarik gas dan kemudian beranjak menjauh keluar dari rumah. Johan menyetir motornya berkeliling ke dekat alun alun kota dan perlintasan jalan raya yang begitu ramai walaupun sudah malam hari.


Callysta memeluk erat tubuh Johan dari pertama kali mereka keluar dari rumah. Pelukan eratnya itu membuat tubuh Johan sedikit hangat nan nyaman. Namun Johan hanya berfikir kalau Callysta memeluk tubuhnya sebab tempat duduk Callysta yang terbatas dan kecil. Maka dari itu, Johan tidak bisa melepaskan pelukan Callysta.


Nyatanya, mereka bersepeda sembari mengobrol di jalanan, mereka melihat pemandangan malam yang dihiasi oleh lampu jalan dan perkantoran yang terang. Di tengah tengah jalanan yang ramai, mereka berdua begitu menikmati waktu waktu tersebut.


“apa kamu ngga kedinginan?” tanya Johan.


“nggak kok, teruskan saja” jawab Callysta.


“padahal tangan kamu udah dingin” ujar Johan seketika memegang punggung tangan Callysta yang saat itu sedang memeluk tubuhnya.


“tapi di dalam jaketmu ini terasa hangat” jawab Callysta.


“tidak peduli apa kamu kedinginan atau tidak, yang pasti sekarang sudah malam dan kamu harus tidur” tegas Johan menggenggam punggung tangan Callysta bertujuan agar tidak kedinginan.


“iya deh, tapi lain kali aku pengen kita jalan jalan seperti ini lagi” tegas Callysta.


“iya iya, kita akan seperti ini lagi” jawab Johan.


Saat Johan hendak perjalanan pulang, nyatanya saat itu hujan pun melanda dengan deras. Johan berfikir kalau Callysta akan kedinginan jika terguyur air hujan seerti itu. Kebetulan sekali, di samping jalan terdapat supermarket yang jaraknya tidak terlalu jauh. Johan pun bersinggah sejenak di supermarket tersebut dan menunggu sampai hujannya reda.


“huffttt, kenapa tiba tiba hujan?” tanya Callysta memasang raut muka kecewa.