Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 2, Ujian sekolah Johan



*tiitt tiitt tiitt


Bunyi alarm malam milik Johan di samping tempat tidurnya. Johan membentangkan tangannya dan mematikan alarm tersebut. Alarm yang membangunkan Johan di jam 7 malam tersebut membangunkan Johan untuk kembali melakukan kegiatan malamnya seperti biasanya.


Bunyi alarm Mahesa Johan yang menyala pada jam 7 malam. Saat itu pula Mahesa Johan terbangun dari tidurnya dan memulai aktivitas malamnya seperti hari bari biasa. Ia mengambil dompet dan kemudian berjalan keluar rumah hanya untuk membeli minuman soda, snack, serta mie instan.


Johan berjalan dengan santainya di malam hari yang saat itu masih ramai orang di jalanan. Dengan memakai jaket tebal dan celana training panjang, Johan mendengarkan musik dari earphone yang tertancap di kedua lubang telinganya. Saat itu pula, Johan teringat sesuatu yang penting mengenai turnamet game.


“sial, aku lupa kalau aku malam ini ada turnamen game, aku harus cepat” fikir Johan berlari menuju supermarket.


Setelah membayar semua barang belanjaannya, ia pun kembali kerumah dan kemudian mengunci pintu kamarnya kembali. Seperti biasa, dirinya mulai memasang Earphone dan Login menuju Game. Ia bermain sesuai jadwal turnamen online yang telah ia ikuti selama berbulan bulan. Pada dasarnya, sumber uang yang Johan dapatkan adalah turnamen dari game tersebut.


Untuk yang kesekian kalinya, ia pun memenangkan turnamen tersebut dan mendapatkan hadiah berupa uang berjumlah 250 dollar. Dimana uang sebanyak itu sudah bisa mencukupi bagi remaja seumuran Johan untuk berbelanja atau hanya sebatas foya foya.


“sekarang sudah jam 3 pagi, dan nanti pagi aku akan berangkat sekolah. Apa sebaiknya aku belajar untuk ujian nanti?” fikir Johan.


“tapi aku memiliki jadwal Anime dan Manga yang belum tamat. Padahal aku sudah berniat untuk menamatkannya malam ini. Mungkin sebaiknya aku pergi belajar agar aku bisa lulus ujian. Aku sudah terlalu lama tidak masuk sekolah” fikir Johan. Saat itu pula, Johan pun melepaskan earphone dan mematikan komputernya. Johan mengambil buku pelajaran dan membukanya berdasarkan jadwal ujian hari itu.


Dalam kata lain, Johan adalah anak yang perfeksionis dalam hal belajar. Dia tidak akan terima jika nilainya berada dibawah 80. Johan melakukan ini karena pesan yang selalu di ingat oleh ucapan sang ibu kandung Johan. “belajar memang penting, namun pengalaman lebih baik dari belajar itu sendiri” ucap sang ibu kandung Johan sebelum ibunya bercerai dengan papahnya.


Dia membaca buku mengenai Sejarah dan Biologi. Dimana, saat salah satu buku Biologi yang ia baca, ia terpaku kepada salah satu pohon yang cantik nan indah. Hornbeam nama dari pohon yang membuat Johan jatuh cinta. Johan terpukau dengan bentuk daun serta kulit kayunya itu. Hingga sampai dia membuka halaman berikutnya, ia pun terpukau dengan warna Merah Muda dari bunga Sakura. Bunga yang hanya tumbuh di negara Matahari Terbit itu membuat Johan berfikir fikir, “apa mungkin Pohon Hornbeam bisa menumbuhkan bunga secantik bunga Sakura? Kalau bisa, itu pasti akan sangat cantik” fikir Johan saat itu.


Ia pun belajar pula mengenai Sejarah dari tanah kelahirannya sendiri. Dimana pada jaman dahulu, terdapat beberapa tentara dari negara negara Eropa sempat menguasai tempatnya dan menumbuhkan beberapa pohon yang berkhasiat besar kepada kelangsungan hidup para tentara mereka. Para tentara dari Eropa meyakini bahwa terdapat seorang Dewi Alam yang menjadi kasta tertinggi dari penjagaan alam pertiwi. Dewi Alam bertugas untuk menjaga alam sebaik mungkin agar para anak cucu manusia bisa merasakan kelestarian alami dari alam itu sendiri.


“itu hanya khayalan bodoh! Mana ada dewi alam!?” fikir Johan bertanya tanya.


Hingga pada saat punggungnya sudah mulai kelelahan karena terlalu banyak duduk di kursi, ia melihat kearah jam dinding. Saat ia melirik sedikti saja, ia terkejut bukan main, pasalnya saat itu sudah masuk jam 6 pagi dimana dirinya harus cepat cepat bersiap untuk pergi ke sekolah.


Ia berlari sekencangmungkin menuju ke kamarmandi seraya membawa handuk besar. Ia menyalakan pemanas air dan mulai merendam tubuhnya dengan air hangat. Tidak lupa dirinya membasuh rambut dan sela sela jari kaki agar tidak ada satupun kotoran yang tertinggal.


Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi dan mulai bersiap. Memakai seragam rapih dan lengkap serta bersih, kemudian rambut yang tersisir rapih dengan aroma parfum yang menyerbak wangi membuat Johan menjadi salah satu ansos yang disukai di sekolah.


“kenapa aku di sukai banyak perempuan di sekolah? Karena aku tamvan. Sayangnya mereka sudah tidak pernah melihat lelaki tertamvan disekolah selama 3 bulan” fikir Johan seraya melihat pantulan wajahnya sendiri di cermin kamarnya.


Dirinya pun turun dari tangga dengan membawa tas sekolah berisikan buku buku sekolah dan kemudian beranjak turun ke arah ruang tengah untuk memakai sepatu sekolahnya. Saat itu, terdapat sang papah dan mamah dari Johan sedang mengobrol hal yang penting, maka dari itu Johan memilih untuk menghiraukannya.


Selepas memakai kedua sepatu sekolahnya, dirinya pun keluar rumah dan mulai berjalan menuju sekolahnya seperti biasa. Dikarenakan dia benar benar jarang keluar rumah saat pagi hingga sore hari, menurutnya cahaya matahari sangatlah mengganggu matanya yang memang terbiasa dengan gelap. Matanya berair dan sedikit nyeri saat melihat terangnya mentari.


Ia pun memutuskan untuk memesan ojek online untuk mengantarnya menuju ke sekolah. Seperti biasa, om ojek membeirkan helm dan mengantarkan Johan sampai di gerbang sekolah. Selepas dirinya berdiri di gerbang sekolah, semua orang melihatnya dengan tatapan yang aneh serta acuh tak acuh. Baginya tatapan itu sudah sangat normal karena tatapan itu sudah ia dapatkan sering bolos sekolah.


“banyak dari mereka yang tidak menyukaiku karena aku yang sering bolos sekolah dan tidak begitu memperhatikan tugas. Tapi banyak juga yang menyukaiku karena wajahku yang pas pasan. Kebanyakan yang menyukaiku adalah perempuan sih. Tapi itu tidak apa” fikir Johan dalam hati.


“tatapan mereka semua sama sekali gapernah berubah. Aku jadi kangen sama temen temenku didalem kelas. Kira kira, aku udah bolos berapa bulan ya? 3 bulan? 4 bulan?” fikir Johan.


Ia pun berjalan menuju ke lantai atas dimana itu adalah tempat ruangan kelasnya. Ia pun berjalan di lorong lorong sekolah dengan penuh percaya diri dan disambut pula dengan tatapan yang tajam nan aneh. Ia pun melangkahkan kakinya memasuki kelas. Sekeitka dirinya di sambut oleh ketua kelas yang tiba tiba saja berdiri di hadapan Johan.


“a-ada apa Lia?” tanya Johan kepada Emilia sang ketua kelas itu.


“sa-sakit tau!” ucap Johan seraya memegang pipi Johan yang terkena tamparan keras Emilia.


“biarin, biar kamu tau rasanya” ujar Emilia dengan raut muka marah.


“ehh? Aku kira kau sudah meninggal” teriak Nyoman salah satu teman sekelas Johan.


“jaga ucapanmu, dasar mulut bau!” ucap Johan.


“kau memang sama sekali ngga berubah ya, Johan! Kau masih menyebut Nyoman sebagai Mulut bau. Padahal Nyoman hanya asal bicara” ujar Farel seketika mengalungkan lengannya ke pundak Johan.


“dan kau? siapa kau?” tanya Johan kepada Farel teman sekelasnya seraya berpura pura seakan akan Johan tidak mengenalnya.


“hah? kau lupa sama aku? Aku kira hubungan kita istimewa” ujar Farel menggumam dengan ekspresi muka murung.


“aku tidak menyangka kalau kau melupakan Farel, padahal Farel pernah menolongmu saat kau akan jatuh dari tangga” sahut Jehian berjalan kearah Johan.


“kau pasti Jehian Pamungkas!” teriak Johan menebak nama temannya itu.


“yaps benar sekali” ucap Jehian seraya menganggukkan kepalanya.


“kami semua mengira kalau kau tidak akan kembali sekolah lagi” ucap Nyoman kepada Johan.


“asal kau tau, Emilia selalu menunggumu di samping bangku meja mu itu” ujar Jehian.


“heh? I-itu tidak benar! A-aku hanya me-me –me” ujar Emilia mendadak gagap dengan muka yang memerah.


“hah benarkah?” tanya Johan terkejut.


“jujur saja, saat kamu ngga sekolah, kita sedikit kesusahan saat bimbel. Dan juga kenapa kamu ngga jawab Chat WhatsApp ku, padahal aku sudah menelfonmu berkali kali, tapi kau sama sekali tidak mengangkatnya” ujar Emilia dengan emosi dan muka yang memerah.


“ma-maaf, aku tidak sadar itu. kalau begitu, saat ujian nanti, aku akan memberikanmu contekan. Oke!” tanya Johan mengacungkan satu jempolnya ssembari mengedipkan satu matanya.


“waaahhh enaknyaaa!” ujar Nyoman, Jehian, dan Farel bersamaan.


“kalo kalian mau, kalian juga bisa tanya kepadaku. Tapi tempat duduk kalian ada di paling depan, jadi agak susah” jelas Johan.


“pokoknya, kita harus contekan apapun yang terjadi” ucap Jehian dengan tatapan begitu serius.


“buset, jika Jehian sudah serius, berarti dunia ini sudah tidak aman” ucap Farel.


“padahal Jehian anaknya begitu periang dan selalu berteriak tidak jelas. Dasar badut” ucap Nyoman.


“jaga omonganmu, dasar mulut bau blak blakan” sahut Jehian.


Sesaat setelah itu, guru pengawas ujian pun datang sembari membawa kertas soal ujian. Dimana hari itu juga kaan diadakan tes tengah semester. Johan berharap, semua hal yang sudah di pelajari tadi pagi bisa membantunya dalam tes kali ini.