Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 34, Membaiknya mental Johan



“apa yang kalian berdua bisikan?” tanya Emilia.


“tidak apa” jawab Kahfi dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan meletakkan kaki kanannya di atas kaki kirinya.


“iya, tidak ada” jawab Johan.


Sementara itu, kedua ibunda dari ibunda Emilia dan ibunda Johan masih mengobrol di tempat yang sama. Mereka benar benar melampiaskan kerinduan mereka di tempat tersebut. Saling mengobrol dan berbagi cerita adalah alasan mengapa merkea tak henti henti mengobrol


Namun, sesaat setelah itu, paman Surya datang seraya mengayuh kursi rodanya memasuki kamar Johan yang sebelumnya berasal dari kamar mandi. Dengan perlahan, paman Surya menyuruh ibunda Johan untuk beristirahat dan meminum obat.


“sekarang sudah waktunya untuk minum obat. Kau harus istirahat dan kembali ke kamar” ucap tegas sang paman Surya.


“apa aku boleh membawa temanku ke dalam kamar?” tanya sang ibunda Johan kepada paman Surya.


“dia siapa?” tanya sang paman Surya.


“ohh, iya maaf. Saya teman SMA Isabella Ikwan. Kita sudah lama tidak bertemu. Dan baru kali ini sejak beberapa tahun kita bisa mengobrol bersama. Apa kau adalah suaminya?” tanya sang ibunda Emilia.


“haaah? Tidak mungkin” teriak paman Surya dan ibunda Johan bersamaan.


“itu sayang sekali. Padahal aku sudah berfikir kalau kalian adalah suami istri. Kalian berdua benar benar cocok” ucap sang ibunda Emilia.


“tidak mungkin kita bisa cocok” teriak sang ibunda Johan dan paman Surya bersamaan.


“hah? ada apa? Memangnya kenapa?” tanya sang ibunda Emilia.


“asal kau tau, dia sangat susah untuk di suruh minum obat. Lagipula dia selalu berisik saat ada di dalam kamar mandi. Aku tidak tau apa saja yang dia lakukan di dalam kamar mandi. yang pasti mungkin dia membawa pistol dan gergaji mesin kedalamnya. Jangan salah sangka, dia ke kamar mandi tidak untuk mandi maupun sekedar mencuci muka, dia hanya menggunakan kamar mandi untuk bernyanyi layaknya sebuah studio menyanyi” jelas paman Surya.


“apakah se berisik itu?” tanya sang ibunda Emilia sedikit tertawa.


“sangat amat berisik” jawab sang paman Surya.


“ehh? Padahal kau lebih berisik daripadaku. Kau sangat berisik saat makan dan sangat berisik saat tidur. Bahkan aku sama sekali tidak bisa tidur kalau aku ada di sampingnya. Saat tidur, dia seperti sedang cosplay kodok yang ada di persawahan. Benar benar tidak bisa tidur dengan tenang” sahut ibunda Johan.


“ehh? Kalian berdua sudah pernah tidur bersama?” tanya sang ibunda Emilia sedikit terkejut.


“tidak, bukan itu maksudku. Tapi kita berdua ada di satu kamar yang sama di rumah sakit ini” ucap sang ibunda Johan.


“ohh, begitu. Aku faham” ucap sang ibunda Emilia.


“jadi, apa kau mengijinkanku membawa temanku ini kedalam kamar?” tanya ibunda Johan kepada paman Surya.


“kenapa kau harus menanyakan hal itu kepadaku? Silahkan bawa saja. dia penjengukmu sekaligus temanmu. Bawalah dia ke kamar dan berceritalahn sembari rebahan. Bagaimanapun juga, tubuhmu masih belum fit” tegas sang paman Surya.


“waah, makasih banyak” ucap sang ibunda Emilia.


“dia perhatian banget, apa benar mereka bukan suami istri?” fikir ibunda Emilia dalam hati.


“kalau begitu, lebih baik kita semua kembali ke dalam kamar kita masing masing, aku sudah cukup puas melihat kondisi Johan yang perlahan sudah membaik” lantang ucap sang ibunda Johan.


“hmm, iya” jawab ibunda Emilia menganggukkan kepalanya.


“Jehian, Nyoman, Farel, nak Emilia, nak Kahfi. Tante akan kembali ke kamar tante bersama dengan paman Surya dan ibunda Emilia. Jadi kalian semua tolong jangan berisik di kamar Johan ini” ucap sang ibunda Johan sedikit mengeraskan suaranya.


“hah? apa? Aku akan menunggu disini?” tanya Kahfi begitu terkejut.


“udah gapapa, kita akan bermain disini” ucap Johan dengan senyum tulusnya kepada Kahfi.


“jangan tersenyum kepaadaku, dasar badut. Aku jijik” ucap Kahfi merinding.


“tante akan kembali kedalam kamar tante sendiri. kalian baik baik disini” ucap sang ibunda Johan pergi meninggalkan kamar tersebut diikuti oleh paman surya dan ibunda Emilia.


Maka dari itu, di dalam ruangan kamar Johan hanya ada Emilia, Nyoman, Farel, Jehian Kahfi dan Johan itu sendiri. di antara mereka enam orang di dalam kamar, hanya Emilia seorang yang perempuan.


Saat itu, Farel dan Kahfi sedang mengobrol di kursi pojokan kamar sementara Jehian dan Nyoman tengah mengobrol di balkon kamar rumah sakit Johan.


“heh mulut bau” ucap Jehian kepada Nyoman.


“apa kau sudah melupakan namaku? Dasar yatim piatu” tanya Nyoman.


“ucapanmu itu yang membuatmu disebut sebagai mulut bau, dasar kurang ajar tidak bermoral” jelas Jehian.


“terserahmu saja” ucap Nyoman.


Mereka berdua tengah menyandarkan tubuh mereka di pagar balkon sembari melihat pemandangan padatnya kota dengan udara pagi yang meniup mereka. Sembari menatap kejauhan, mereka saling mengobrol satu sama lain.


“apa kau berfikir kalau Johan yang sekarang terlalu banyak berpura pura?” tanya Nyoman.


“ternyata pemikiran kita benar benar sama” jawab Jehian.


“aku merasa kalau semua hal yang dilakukan oleh Johan bersama dengan kita selama ini hanyalah sebatas berpura pura. Bahkan aku berfikir kalau Johan telah memiliki teman lain selain kita yang memang teman itu memahami isi hati Johan melebihi pemahaman kita. Johan sudah seperti memiliki dunia dan teman lain yang bahkan kita tidak mengetahui sedikitpun tentangnya” ucap Nyoman.


“Tapi entah kenapa aku merasa kalau Johan sudah berubah setelah Johan pingsan di bawah pohon. Apa kau juga merasakan perubahan Johan semenjak itu?” tanya Jehian.


“tidak, aku tidak merasa seperti itu. Bahkan menurutku Johan sama saja” ucap Nyoman.


“menurutku Johan sudah sedikit lebih berubah dari sebelumnya. Apa kau ingat saat pagi hari, dimana saat itu Johan menyuruh kita untuk mempersiapkan barang barang kita saat kita semua akan pulang kerumah. Saat itu aku mendengar dan merasakan kalau Johan benar benar bersemangat. Dia seperti telah bertemu dengan seseorang yang telah membuatnya semangat seperti semula” ucap Jehian.


“hah? kapan?” tanya Nyoman.


“pagi hari, saat kita baru saja mencuci muka dari kamar mandi. Saat itu kita tidak melihat Johan di atas kasurnya dan bahkan Emilia tidur disana. Saat kita bermain hp, secara tiba tiba entah dari mana, Johan memasuki kamar dan kemudian menyuruh kita untuk bersiap hendak pulang. Saat itu pula aku merasa kalau Johan benar benar bersemangat” ucap Jehian.


“ohh, iya aku mengingatnya. Aku juga merasakan hal yang sama. kau benar. Saat itu Johan benar benar berteriak dengan kencang karena bersemangat. Kira kira, apa yang membuatnya semangat” ucap Nyoman berfikir keras.


“seseorang yang tengah di landa depresi dan beban fikiran membutuhkan seorang yang ia cintai untuk menghiburnya. Tapi saat itu Emilia sedang bermain hp di atas kasur sementara Johan saat itu baru saja datang entah dari mana.” ucap Jehian.


“kau benar, kira kira siapa yang telah Johan temui di sana?” ucap Nyoman menggumam dengan berfikir keras.


Disisi lain, Farel dan Kahfi yang sedang mengobrol di kursi pojokan itu sedang menceritakan kejadian mengapa Kahfi bisa menggigit tangannya sendiri. Farel menenegaskan dengan begitu detail kejadian apa saja yang telah terjadi di desa Engkobappe mulai dari Johan yang ditemukan tidak sadarkan diri di bawah pohon sampai Johan menggigit tangannya sendiri.


“kupikir dia sudah gila” ucap Kahfi.


“kau benar, aku juga berfikir seperti itu. Tapi aku percaya kalau Johan masih bisa mengendalikan dirinya sendiri jika ada seseorang yang mendukung dirinya dari belakang” jawab Farel.


“aku bisa memberikan presentase besarnya rasa suka Johan kepada Emilia” ucap Farel.


“seberapa besar?” tanya Kahfi.


“nol persen” jawab Farel.


“tidak mencintai kakaku? Tapi kenapa Johan selalu ada di samping kakakku yang bahkan dia tidak menyukainya? Kenapa dia melakukannya? Apa dia hanya ingin mempermainkan hati kakakku?” tanya Kahfi.


“di kondisi dimana Johan tidak menyukai Emilia, keadaan selalu mengasah rasa suka Emilia kepada Johan agar rasa suka Emilia semakin tajam” ucap jawab.


“hah? keadaan? Maksudnya?” tanya Kahfi.


“keadaan selalu berpihak kepada Emilia. Saat Emilia duduk di samping Johan, dan saat itu mereka berdua benar benar lelah. Saat itu pula Emilia tertidur di pundak kiri Johan. Dikarenakan Johan yang memiliki hati yang lembut, maka Johan sama sekali tidak sampai hati untuk mengusir dan meletakkan kepala Emilia begitu saja di bawah. Johan memberikan pundaknya sebagai bantalan tidur bagi Emilia disana. Hal itu benar benar menguntungkan bagi Emilia sebagai orang yang menyukai Johan tapi tidak menguntungkan bagi Johan yang tidak menyukai Emilia. Masalahnya, di antara kedua keuntungan tersebut, keadaan selalu berpihak kepada Emilia dan membuat rasa suka Emilia semakin besar kepada Johan tetapi hal itu tidak membuat Johan memiliki rasa suka kepada Emilia. Begitulah faktanya” ucap Nyoman.


“aku faham. Intinya Emilia benar benar di manjakan oleh keadaan yang memaksa Johan untuk selalu melayani Emilia sementara Johan semakin tertekan oleh keadaan yang memaksanya untuk selalu melayani orang yang tidak ia sukai. Namun bagaimanapun, kalau aku telalu berpihak kepada satu orang, maka aku bisa dikatakan tidak adil dalam memihak sesuatu. Aku terlalu menganggap perasaan kakakku nomer satu hingga tidak memikirkan perasaan Johan yang sedikit memaksakan dirinya” ucap Kahfi.


“maka dari itu, pemikiranmu itu tidak salah. Semua adik memang tidak ingin kalau kakak yang selama ini membimbing dan menemaninya di sakiti oleh orang lain. Itu sebuah common sense yang tidak salah. Hanya saja meski di benarkan oleh pemikiran umum, kita juga harus melihat perspektif dari pihak lain sebelum kita memaksakan kehendak kepada lawan pihak kita. Maka dari itu, perbuatan dimana kau memaksa Johan untuk melakukan kencan bersama dengan Emilia terlalu memaksakan dan terlalu berlebihan” ucap Nyoman.


“kau benar juga” ucap Kahfi.


Sementara itu, disisi lain, hanya ada Johan dan Emilia di atas ranjang. Dimana Johan tengah duduk di tengah ranjang sementara Emilia duduk di kursi samping ranjang Johan seraya menemani Johan mengobrol disana. Di samping kanan Johan, Emilia duduk di kursi tersebut. Dengan dalam keadaan yang sedikit masih lemas, Johan membentangkan tangan kanannya itu di samping tubuhnya.


“apa kamu udah laper?” tanya Johan.


“belum, nanti aja” jawab Emilia.


“aku jadi ingat saat kemarin lusa, dimana kakek yang tiba tiba saja masuk kedalam kamar. Saat itu kita benar benar kekenyangan karena kita saling memakan makanan buatanmu di dalam kamarku” ucap Johan seraya menatap langit langit kamar.


“iya, aku ingat. Aku berfikir dan merasa kalau saat itu aku memasak porsi biasa, tapi entah mengapa itu jadi sangat banyak bahkan hampir menyamai porsi kuli” ucap Emilia.


“itu benar, aku jadi pengen makan nasi goreng. Bubur di rumah sakit ini benar benar hambar dan tidak ada rasa. Dan juga lengket di dinding mulut” ucap Johan.


“tidak boleh, kamu masih belum sehat sepenuhnya. Jadi kamu ngga boleh makan makanan berminyak dan tidak sehat” sahut Emilia dengan tegas.


“padahal aku suka banget sama sosis gurita buatanmu itu” ucap Johan.


“saat itu kamu bilang kalau kamu makan terlalu banyak sampai ingin muntah” ucap Emilia.


“hmm, iya” ucap Johan dengan ekspresi datarnya.


Disisi lain, Kahfi yang memang dari awal melihati Johan dan Emilia sedang berbicara dan berbincang, mereka mendengar percakapan mereka berdua dengan sengaja. Saat itu juga, Kahfi tersadar kalau apa yang dikatakan Farel itu sepenuhnya benar. Johan sekalipun tidak tertarik dengan Emilia dan hanya menganggap kalau Emilia adalah sahabat biasa tanpa ada hubungan spesial sedikitpun.


“dengan ekspresi begitu datar yang di berikan oleh Johan, dan ekspresi yang penuh semangat serta senyum tulus yang diberikan Emilia, benar benar membuktikan bahwa sekarang, Emilia terjebak antara mencintai dan tidak di cintai. Lebih tepatnya, cinta bertepuk sebelah tangan” fikir Kahfi dalam hati.


“bagaimanapun juga, kamu juga bangun terlalu pagi. Kamu juga masih mengantuk” ucap Johan.


“iya, benar. Aku masih sedikit ngantuk. Jadi aku meminum minuman yang benar benar tidak kusukai. Tadi pagi aku malah meminum kopi hitam” ucap Emilia.


“buset? Minum kopi hitam dan kamu masih belum makan nasi? Gimana kalo asam lambung kamu naik?” tanya Johan.


“hah? memangnya berpengaruh?” tanya Emilia.


“iya, jelas. Kalau kamu masih belum makan nasi dan langsung minum kopi, takutnya asam lambung kamu naik. Takutnya nanti kamu malah mual mual” jawab Johan.


“yaaahhh, aku gatau” ucap Emilia.


“kalau begitu, minum air putih banyak banyak. Di samping kasur ada rak, dan di dalam rak ada air mineral. Cepat minum itu banyak banyak” ucap Johan.


“iya, makasih” ucap Emilia.


Emilia pun mengambil sebotol air putih yang ada di dalam rak tersebut dan kemudian membuka segel tutup tersebut. Ia meminum beberapa tegukan air putih hingga perutnya merasa sedikit kenyang.


“gimana? Apa udah seger?” tanya Johan.


“udah kok, makasih” jawab Emilia dengan senyumnya.


“kalau begitu, apa kau tau dimana HP ku sekarang? Aku sudah lama tidak bermain HP” tanya Johan.


“gatau juga, aku juga udah lupa” jawab Emilia.


“yaudahlah, nanti aja aku nanya ke pak sopir temen papahku kemarin yang bawa mobil” ucap Johan.


Hingga sampai jam 8 pagi, mereka tidak selesai mengobrol disana. Saking fokusnya mereka mengobrol, mereka tidak sadar jika saat itu sudah jam 8 pagi. Mereka masih belum membeli sarapan untuk makan pagi dan mereka juga masih belum sempat untuk mandi.


“eh? Udah jam delapan pagi” ucap Nyoman seraya melihat jam tangannya.


“kau benar, mending kita cari sarapan” ajak Jehian kepada Nyoman.


“iya juga, aku juga udah laper” ucap Nyoman.


Merkea berdua pun berjalan masuk ke dalam kamar dari balkon kamar. Mereka berdua mengajak Emilia serta Farel dan Kahfi untuk mencari sarapan bersama mereka karena mereka masih belum sempat sarapan pagi saat lalu.


“kita berdua mau cari sarapan, apa kalian bertiga mau ikut?” tanya Nyoman kepada Emilia, Farel dan Kahfi.


“aku mau ikut, tapi bagaimana dengan Johan? Dia sendirian di sini” ucap Emilia.


“tenang aja, kalian semua carilah sarapan. Aku udah mulai ngantuk karena obat. Aku mau istirahat dulu” jelas Johan.


“jangan kabur saat kita semua cari makan” ancam Kahfi.


“hah? kabur? Kenapa juga aku harus kabur?” tanya Johan begitu heran.


“jangan lupa kalau kau pernah kabur dari rumahku, dasar badut” ucap Kahfi.


“udah udah, itu udah dahulu. Lebih baik sekarang kita cari sarapan” ucap Emilia dengan begitu semangat.


“hmm, ayo” ucap Farel dan Nyoman.


Pada akhirnya, mereka semua pun berjalan keluar dari kamar Johan. Sebelum itu, Emilia mengajak mereka semua untuk pergi ke ruangan ibunda Johan dan ibunda Emilia untuk ijin keluar hanya sekedar untuk membeli makanan untuk sarapan pagi mereka.