Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 1, Keluarga Mahesa Johan



*tiitt tiitt tiitt


Bunyi alarm Mahesa Johan yang berbunyi keras membuatnya terbangun pada jam 7 malam. Johan terbangun dari tidurnya dan memulai aktivitas malamnya seperti hari bari biasa. Ia mengambil dompet dan kemudian berjalan keluar rumah hanya sekedar untuk membeli minuman soda, snack, serta mie instan.


“ihhh, dingin banget parah” gumam Johan seraya memeluk tubuhnya sendiri.


Ia berjalan menuju supermarket dan membeli apa saja yang ia inginkan. Angin malam membelai tengkuk serta meniup halus rambut Johan saat dirinya berjalan di sebuah gang. Setelah pembelian selesai, dirinya kembali kerumah dan memulai ritualnya sehari hari. Ia mengunci pintu kamar dan mulai menyalakan Komputer serta laptop miliknya. Ia juga menyalakan musik dari earphone yang telah ia pakai sebelumnya.


Dimulai dari bermain game bersama teman satu game online-nya. Ia menyalakan koneksi discord dan berbincang dengan semua teman bermainnya. Bersama dengan mie instan yang sudah mulai matang, dirinya bermain serta menyeruput helai per helai mie hangat dan manis tersebut.


Setelah bermain game, ia mematikan PC Komputer tersebut dan mulai menonton streaming Anime serta Drakor yang berada di Laptop miliknya. Tidak lupa juga dirinya pun mulai meneguk minuman berkarbonasi yang telah ia beli sebelumnya.


Seperti itulah keseharian Johan di dalam kamar selama berbulan bulan lamanya. Johan melakukan itu semenjak sang papah bercerai dengan sang mamah tercinta, dimana dirinya masih belum menerima jika ibu tirinya itu tinggal satu atap dengannya. Sejak papahnya menikah lagi, dia semakin memberontak dan seakan benar-benar tidak ingin berbaur dengan lingkungan sekitar.


Jam menunjukkan pukul 5 pagi, sudah saatnya untuk Johan pergi kedalam dunia mimpi yang tenang dan nyaman. Johan mengambil sebuah buku manga yang berada di rak bukunya dan kemudian melemparkannya keatas kasur. Johan pun melompat ke atas kasur dan kemudian merebahkan tubuhnya. Ia memasukkan kedua kakinya kedalam selimut sambil bersandar pada dinding di belakangnya.


Johan membaca halaman perhalaman buku manganya sembari menunggu rasa kantuk mulai muncul. Sesaat itu pula, Johan mendengarkan suara langkah kaki yang mendekat menuju kamarnya. Benar saja, tidak lama setelah itu terdapat suara ketukan pintu yang beruntun yang sedikit mengganggu kenyamanan Johan.


“nak Johan, bangun! Sekarang udah pagi” teriak ibunda tiri tersebut.


“aku bolos” jawab Johan fokus membaca manga.


“kamu begadang lagi?” tanya sang ibunda.


“gak” jawab Johan berbohong dengan saura juteknya.


“kalau begitu, yuk makan sama mamah di bawah. Mamah udah masak makanan kesukaan kamu loh” ucap sang ibunda sembari mengetuk pintu Johan.


“makan aja sendiri!” teriak Johan.


“kok kamu malah suruh mamah buat makan sendiri sih? Papah kamu juga udah nungguin kamu di meja makan bawah loh. Dan juga ada hal yang mau mamah omongin sama kamu” ucap sang ibunda dengan ketukan pintunya yang semakin keras.


“berisik nenek tua!” teriak Johan melempar salah satu action figure Megumin ke arah pintu kamarnya.


“sial, kepala Megumin copot” gumam Johan saat melihat action figurenya tergeletak di lantai.


“yaudah, kalo kamu laper, turun aja kebawah, mamah sama papah ada di ruang tengah” ucap ibunda seraya berjalan menjauhi kamar Johan.


“cerewet banget nenek tua” fikir Johan melanjutkan membaca manganya tersebut.


Disaat itu pula, Johan menengok jendela luar kamarnya. Ia menatap jendela yang tertutup gorden semi transparan yang tertembus oleh cahaya mentari. Cahaya matahari yang masih redup perlahan menampakkan eksistensinya. Sang surya menyambut jiwa jiwa yang masih segar dengan memberikan udara yang mulai menghangat akibat panas yang ia beri. Saat itu pula, Johan sedikit mengantuk. Namun, Johan sudah berniat untuk menamatkan manganya saat ini juga.


Menjelang jam 7 pagi, nyatanya perut Johan benar benar sudah keroncongan. Terpaksa Johan harus mengakui kalau dia ingin makan masakan rumahan karena dirinya sudah terlalu bosan memakan mie instan. Ia meletakkan buku manganya kedalam rak buku dan kemudian berjalan keluar kamar.


Ia pergi menuju ke kamar mandi hanya untuk sekedar mencuci muka serta gosok gigi. Ia pun mengelap muka dan kemudian turun kebawah hendak menuju ke meja makan. Di tengah tengah perjalanannya itu, ia dipanggil oleh sang ibunda yang tengah duduk di ruang tengah bersama dengan sang papah yang tengah membaca koran dan meminum secangkir kopi.


“nak Johan, bisa kesini sebentar? Mamah mau bicara sama nak Joha-” tanya sang ibunda.


“aku laper, mau makan dulu” sahut Johan memalingkan pandangannya.


“nak Johan, itu tidak sopan!” bentak sang papah.


“cih, berisik!” gumam Johan membuang pandangannya.


Johan pun berjalan menuju ke meja makan dengan tatapan mata yang suntuk serta lemas. Badannya membungkuk saat berjalan karena kelelahan dan jam tidur yang salah. Ia melihat hanya ada hidangan sup hangat bersama dengan nasi merah dan telur.


“hhuufftt, syukuri apa yang ada” gumam Johan menghela nafas saat melihat masakan sang ibunda.


Ia pun mengambil piring dan mulai mengadah nasi merah serta sup. Ia mengambil telur rebus serta saus sambal disana. Johan mulai menyuap makanan tersebut kedalam mulut kecilnya. Di tengah tengah Johan sedang makan, sang papah dan mamah pun mendatangi Johan dari ruang tengah menuju ke meja makan dan kemudian duduk berhadapan dengan Johan.


“apa masakan mamah enak?” tanya sang ibunda dengan senyum tulusnya.


“biasa aja” jawab Johan.


“padahal masakan mamahmu ini enak banget loh” sahut sang papah.


“semua orang memiliki seleranya masing masing, dan masakan mamah bukan seleraku” ujar Johan.


“kalau bukan seleramu, kenapa masih kau makan?” tanya sang papah.


“memangnya seseorang tidak boleh memakan apa yang tidak ia sukai?” tanya balik Johan.


“kalau begitu, kau harus memuji makanan mamahmu ini” sahut sang papah terpancing emosi.


“apakah seseorang dilarang untuk jujur dan terpaksa harus mencela fakta yang sebenarnya memang benar adanya? Itu yang kau ajarkan sendiri saat Johan masih kecil” lempar balik Johan dengan tenang raut wajahnya dan nada suaranya.


“sudah sudah, kalian berdua jangan bertengkar. Ini hanya masakan rumah biasa” ucap sang ibunda.


“aku ngantuk, mau tidur” ucap Johan seraya berdiri dari meja makan itu tanpa menghabiskan makanan di piringnya.


“tunggu, nak Johan! Kau mau kemana?” tanya sang papah.


“mau tidur” jawab Johan dengan nada juteknya.


“duduklah sebentar, papah mau bicara bentar aja sama kamu” ucap papah.


“cepet, papah mau ngomong apa?” tanya Johan kembali duduk di kursinya.


“jadi sebenarnya, papah dan mamah kamu ini sedang ada masalah dalam keuangan. Kami berdua memang benar benar butuh uang untuk saat ini. Kalau boleh, apa papah dan mamah kamu ini boleh menjual komputer kamu?” tanya sang papah dengan konotasi suara merendah.


“apa papah habis di pecat dari pekerjaan papah?” tanya Johan.


“bukan begitu” jawab sang papah.


“masalah apa yang kalian berdua maksud?” tanya Johan.


“kau masih anak anak, jadi kamu tidak perlu tau apa yang telah kita alami” ucap sang papah.


“kalau kalian berdua memandangku sebagai anak kecil, aku akan menggaris bawahi apa yang telah kalian katakan barusan. Aku masih anak anak, dan anak anak juga masih diambang kedalam sifat keegoisan. Jadi, aku nggak akan pernah menjual komputer pemberian mamah kandungku kepada nenek nenek tua sepertimu” ucap Johan seraya melirik tajam kearah ibu tirinya itu.


“kalau hanya itu yang ingin kalian berdua katakan, jawabannya adalah aku tidak akan pernah menjual Komputer ku kepada kalian berdua. Dan juga komputer itu adalah pemberian dari mamah kandungku, jadi aku tidak akan pernah menjualnya kepada kalian. Lagipula aku juga berhak bebas kepada komputer ini sekalipun aku akan menjualnya dan menggunakan uang itu untukku sendiri” tegas Johan seraya berjalan meinggalkan meja makan.


“tunggu dulu, nak Johan” sahut sang ibunda yang membuat Johan berhenti berjalan.


“apa?” tanya Johan dengan nada juteknya.


“apa kamu emang bener bener gamau masuk sekolah?” tanya sang ibunda.


“kenapa tiba tiba menanyakan tentang sekolah? ada apa?” tanya balik Johan.


“besok kamu ada ujian tengah semester disekolah. Akan sangat di sayangkan jika kamu tidak ikut ujian itu” ujar sang ibunda.


“iya iya, besok aku akan pergi sekolah” ucap Johan kembali berjalan ke lantai atas.


“anak pintar” ujar sang ibunda.


Maka, Johan pun memasuki kamarnya dan kemudian merebahkan tubuhnya ke kasur yang empuk nan hangat. Matanya sudah tidak mampu lagi untuk melihat dan pada akhirnya, Johan tertidur di kasurnya tesebut hingga terbangun disaat alarm malam Johan berbunyi.