Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 57, Ajakan untuk pergi ke Kota



“apa kalian sudah capek?” tanya Johan.


“hah? capek? Apa itu? ini baru aja beberapa menit” ucap Guntur.


“tapi aku sudah sedikit capek” ucap Johan.


“iya aku juga” sahut Aji.


“jadi kita berdua juga sama sama mudah lelah” ucap Johan.


“iya, bahkan aku kalah dalam lomba lari saat bertanding melawam Aqila” ucap Aji.


“dia benar benar mirip denganku. Bahkan aku pernah kalah dalam lomba lari dengan Emilia” fikir Johan.


“kalau begitu, naiklah. Aku akan menggendongmu” ucap Johan dengan jongkok.


“waahh, hmm makasih” jawab Aji dengan begitu senang.


Aji pun segera naik di punggung Johan dan kemudian Johan kembali mengangkat pinggungnya itu. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan Aji yang sedang digendong oleh Johan di punggungnya. Mereka pun akhirnya sampai di sisi lain hutan setelah beberapa menit kemudian.


“padahal dulunya ini adalah hutan. Tapi sekarang sudah benar benar hangus dan hanya menyisakan tanah yang kotor dan hitam sebab arang” ucap Aqila.


“kau benar, tapi untuk beberapa waktu saja, tanah ini sudah bisa beradaptasi dan mengambil saripati arang sebagai penyubur tanah” jelas Johan.


“ehh? Memangnya arang baik untuk tanaman?” tanya Guntur.


“PH tersebut memiliki keuntungan karena kurang disukai gulma dan bakteri. Arang sekam memiliki kemampuan menyerap air yang rendah dan porositas yang baik. Sifat ini menguntungkan jika digunakan sebagai media tanam karena mendukung perbaikan struktur tanah karena aerasi dan drainase menjadi lebih baik. Kalau kalian sudah SMA dan mengambil jurusan IPA, kalian akan di ajarkan mengenai proses perbaikan tanah dan penggantian media tanam tumbuhan” jelas Johan.


“sudahlah, nggak faham, nggak peduli juga. Ngga penting juga sih” ucap Ryu.


“ini pelajaran tau! Kalian harus mendengarkannya dengan baik” teriak Johan terpancing emosi.


“yaaaa” ucap Ryu dengan wajah yang datar.


“dasar Ryu, dia benar benar blak blakan seperti Nyoman. Benar benar lelaki yang jujur sekali” fikir Johan.


“kita akan pergi ke pohon itu” ucap Johan seraya menunjuk ke arah pohon Hornbeam Odessa.


Mereka pun melanjutkan berjalan selama beberapa menit lagi dan kemudian sampai pada dua menit berjalan. Saat mereka mendekati pohon tersebut, nyatanya saat itu mereka semua melihat seorang perempuan yaitu Odessa tengah menyapu dedaunan yang kering dan terjatuh.


“selamat pagi, Odessa” ucap Johan seraya berjalan ke arah Odessa.


Mendengar hal itu, seketika Odessa membalikkan tubuhnya dan melihat bahwa Johan sudah berada di belakangnya. Johan yang menggendong tubuh aji di belakangnya itu sempat mengagetkan Odessa disana. Spontan Odessa melepaskan sapunya hingga terjatuh ke tanah yang basah sebab hujan dan berlari menuju Johan. Dengan begitu kencang, Odessa menabrak Johan dan memeluknya dengan begitu erat.


“aku takut, aku tidak bisa tidur” bisik Johan seraya memeluk tubuh Johan.


“tenang saja, sebentar lagi pohonmu akan aman seperti dahulu” jawab Johan seraya memeluk tubuh Johan balik.


“ehem ehem, permisi tapi kita bukanlah figuran disini. aku sedang di gendong oleh kak Johan dan kau memeluknya. Aku hampir terjatuh dibelakang sini” sahut Aji yang masih digendong oleh Johan.


“ehh, i-iya maaf maaf” jawab Johan seketika menurunkan tubuh Aji


“apa ini perempuan yang akan kak Johan temui?” tanya Guntur.


“dia cantik, benar benar cantik. Bahkan lebih cantik dari Iris ku” ucap Aji dengan membandingkannya dengan Action Figure nya itu.


“hai, kalian siapa? Apa kalian adik adik Johan?” tanya Odessa dengan suara yang penuh lembut.


“ehh? Mereka bukan adi-“ ucap Johan terhenti.


“iya, kita semua adiknya” jawab mereka semua serentak.


“waahh, ternyata Johan juga punya adik. Adiknya juga cantik dan ganteng pula. Boneka panda kamu juga cantik” ucap Odessa seraya menatap boneka milik Aqila.


“makasih banyak, nama kakak siapa?” tanya Aqila.


“iya, nama kakak siapa? Kok kita jarang ketemu sama kakak padahal kita satu desa” ucap Ryu.


“nama kakak, panggil saja Odessa Ai” ucap Odessa dengan sedikit menundukkan kepalanya.


“waahh, namanya imut dan keren” ucap Guntur.


“iya, pantes kak Johan suka sama kak Odessa” ucap Fathur.


“ehh? Emm, ehkehmm” ucap Odessa dengan pipi yang memerah begitu pula dengan Johan.


“sekarang kalian main aja disini. Mumpung udaranya segar dan hangat. Cahaya matahari juga nggak begitu panas disini. Kalian main saja bersama disini, kak Johan akan berbicara sama kak Odessa di bawah pohon. Jangan lari larian dan jangan main jauh jauh. Nanti jatuh dan pakaian kalianbisa kotor. Oke!” jelas Johan.


“iya kak” jawab mereka semua serentak.


Mereka semua pun seketika bermain mainan mereka di tempat itu juga sementara Johan dan Odessa berjalan ke bawah pohon berdua. Mereka berdua pun duduk di rerumputan yang agak sedikit basah sebab hujan kemarin malam. Sembari menatap pemandangan yang luarbiasa indah, mereka di hibur oleh kelakuan para anak kecil yang sedang bermain disana.


Dengan tiupan angin sepoi sepoi dari danau yang membentang luas, sembari cahaya matahari yang tidak begitu menyengat membuat suasana disana begitu nyaman. Johan duduk bersampingan langsung dengan Odessa seraya saling menggenggam tangan begitu erat. Tubuh Odessa sedikit bersandar di tubuh Johan yang berada di sebelah kanannya begitupula sebaliknya.


Angin meniup perairan danau hingga membuat motf yang unik layaknya gelombang kecil. Halusnya angin membuat para dedaunan serta rumput ilalang di sekeliling mereka menari bergoyang sesuai irama hembusan angin. Bagaimanapun juga, ini adalah hari paling tenang dalam hidup Johan dimana dia duduk bersampingan bersama dengan perempuan yang ia sukai.


“mereka semua lucu bukan?” tanya Johan seraya menatap para anak kecil yang tengah bermain.


“aku tidak percaya kalau kau punya adik” ucap Odessa.


“aku tau itu. Tapi maksudku adalah aku tidak tau kalau kau bisa bersikap lembut oleh anak kecil” sahut Odessa.


“ehh? Kenapa kamu malah berfikir seperti itu?” tanya Johan.


“karena saat kita pertama kali bertemu, aku rasa kalau kau adalah orang yang selalu menutup diri. Aku merasa kalau kamu adalah orang yang tidak pandai berbicara kepada orang lain. Dan aku kira kalau kamu tidak tahan dengan perilaku anak kecil. Makanya aku sedikit terkeut jika kamu disukai anak kecil” jelas Odessa.


“emm, jadi begitu. Mungkin kamu benar saat itu. Tapi aku yang sekarang sudah berbeda. Aku yang dulu begitu menutup diri dan benar benar menyendiri. Aku benci anak kecil karena mereka berisik dan selalu membuat kotor. Tapi sekarang aku malah ingin memiliki adik. Bahkan aku bermimpi jika aku akan memiliki adik dan aku sangat senang saat itu” ucap Johan.


“buset, sampai kebawa mimpi” sahut Odessa.


“kalau kamu. Apa tubuhmu sudah baikan?” tanya Johan.


“yahh, sedikit pegal pegal tapi sudah gapapa kok” jawab Odessa.


“ohh iya, aku mau nanya sama kamu. Saat kemarin malam aku tidak sadarkan diri di sini, apa kamu saat itu sudah pulang?” tanya Johan.


“emm, i-iya. Aku sudah di jemput sama mamah papahku disini. Dan juga aku minta maaf karena aku tidak membawamu pergi dari sini karena saat itu aku juga tidak sadarkan diri. Jadi mereka meninggalkanmu disini sementara tubuhku di bawa pulang” jawab Odessa.


“ohh, begitu. Kalau boleh tau, rumahmu dimana?” tanya Johan.


“aku udah kasih tau sama kamu, rumahku jauh dari sini. Kamu nggak akan pernah ngerti sama seperti aku yang nggak akan pernah ngerti rumah kamu ada dimana” jelas Odessa.


“masuk akal juga. Kalau begitu, apa kamu masih penasaran sama rumahku yang ada di kota?” tanya Johan.


“aku benar benar ingin pergi ke rumahmu yang ada di kota. Tapi, apa itu terlalu jauh?” tanya Odessa.


“sangat jauh sih, tapi kamu nggak akan capek kok” ucap Johan.


“apa kamu mau menceritakan semua hal yang ada di kota?” tanya Odessa.


“aku akan membuatmu ngiler karena saking pengennya pergi ke kota. Disana, kamu akan mendapati bangunan yang super duper besar. Bahkan bisa dibilang limapuluh kali lebih besar dari kantor desa yang saat ini masih digunakan oleh para penduduk desa sebagai mengungsi. Disana kamu bisa mendapatkan semuanya. Semua kebutuhan para remaja perempuan sepertimu ada disana. Kamu bisa membeli pakaian, makanan, mainan, sepatu, tas, kosmetik, perhiasan, dan masih banyak lagi. Kemudian disana juga benar benar ramai walaupun saat malam hari. Di tengah tengah malam, jalanan masih akan tetap terang. Lampu jalanan akan menghiasi jalanan beserta gedung gedung tinggi yang memancarkan cahaya dari ruangannya dan membuat pemandangan indah pada malam hari. Pokoknya akan sangat seru jika kamu pergi kesana. Aku akan membelikanmu semuanya” ucap Johan.


“kamu masih belum menceritakan tentang taman bermain” ucap Odessa.


“heh? Kamu tertarik dengan tempat itu? tempat itu hanyalah taman biasa yang berisi permainan seperti ayunan, jungkat jungkit, dan lain lain. Banyak orang dewasa juga yang masih bermain itu” ucap Johan.


“aku mau kesana” sahut Odessa dengan tatapan tajam.


“ehh? Dari banyaknya pilihan, kamu pengen main di taman bermain? Apa kamu nggak mau bermain di Roller Coaster?” tanya Johan.


“apa itu?” tanya Odessa.


“seperti kereta tapi benar benar melaju dengan sangat cepat dan sangat tinggi. Bahkan, jika di suruh memilih untuk diberi uang 1 juta dollar dan menaiki wahana itu, aku memilih untuk tidak menaiki wahana itu karena saking menakutkannya” ucap Johan.


“kurasa itu sedikit berbahaya. Aku juga ngga mau, aku maunya yang taman bermain” ucap Odessa dengan tatapan yang begitu tajam namun suara yang begitu manja.


“yaudah yaudah, kita akan pergi ke taman bermain” jawab Johan dengan nada pasrah.


“kapan kita bisa pergi kesana? Aku pengen kerumahmu” ucap Odessa.


“sebentar lagi aku akan kembali pulang kerumah dan kamu nggak akan bisa ikut denganku sekarang karena aku hanya numpang di dalam mobil seseorang. Itu hanya mobil pengangkut yang hanya cukup untuk dua orang” jelas Johan.


“hmm, jadi begitu” ucap Odessa seraya menganggukkan kepalanya.


“ma-maaf ya” jawab Johan.


“santai aja, itu tidak apa apa kok. Tapi kapan kamu bisa bawa aku kesana?” tanya Odessa.


“dikarenakan saat ini aku pergi ke desa karena kabur dari rumah, mungkin aku bisa kemari saat dua hari lagi. Selama itu aku akan aku gunakan untuk mencari daftar tempat yang menyenangkan untuk kita bermain seharian disana” ucap Johan.


“ide yang bagus, makasih banyak ya” ucap Odessa dengan genggaman tangan yang semakin erat.


“sekarang, mungkin kamu harus kembali istirahat. Dari kemarin malam kamu masih belum beristirahat kan?” ujar Odessa seraya menatap tajam kedua mata Johan dari dekat.


“sebenarnya aku sudah tidur, tapi tiba tiba saja aku terbangun dan sekarang aku tidak bisa tidur lagi” jawab Johan.


“kalau begitu, tidurlah di sampingku. Tenang saja, tidak ada apa apa kok. Disini juga hangat dan segar” ujar Odessa.


“hmm, terimakasih banyak” jelas Johan.


Saat itu pula, Johan pun tidur dengan posisi menggunakan kedua paha Odessa sebagai bantalan tidurnya. Dengan begitu jelas, Johan dapat menatap cantik manisnya wajah Odessa dari bawah dengan begitu dekat. Johan benar benar bersyukur karena Johan dapat melawan ketakutannya, karena kalau tidak, Johan tidak akan bisa menyelamatkan Odessa kemarin malam.


“syukurlah” ucap Johan dengan menghela nafas lega.


“heh, ada apa?” tanya Odessa seraya mengelus elus dahi Johan.


“tidak apa apa. Kalau saja aku tidak datang tepat waktu saat kemarin malam untuk menyelamatkanmu, mungkin aku akan sendirian duduk di samping bekas tebangan pohon ini dengan menangis begitu sedih” ucap Johan.


Dengan tamparan yang begitu pelan, Odessa menggembungkan pipinya dan memasang raut muka kesal seraya berkata kepada Johan. “kamu kemarin datangnya telat banget. Aku udah nungguin kamu di sini sampai kehujanan dan kedua orang laki laki itu sampai mengikat kedua tanganku. Bener bener sakit banget. Untung orang orang itu ngga tebang pohon aku, kalau saja pohon aku ikut tertebang, aku nggak akan bisa kembali lagi kemari” ucap Odessa seraya dengan nada yang kesal.


“hah? ngga bisa kembali?” tanya Johan.


“buset aku keceplosan” fikir Odessa dalam hati.


“ma-maksudku, aku nggak akan bisa menemukan pohon yang sama seperti ini lagi di hutan ini” ucap Odessa dengan sedikit terbatah batah.