
Namun, di tengah tengah tidurnya ia pun terbangun karena panggilan alam. Di tengah malam, dirinya kebelet pipis dan memaksanya untuk tersadar dari tidur. Johan pun berjalan menuju kamar mandi dan kemudian melakukan ritualnya itu.
“hufftt, lega banget” gumam Johan seraya menutup pintu toilet dari luar.
Johan pun berjalan menuju kamarnya kembali dengan santainya. Sesaat selepas Johan berada di depan pintu kamarnya, Johan pun membuka pintu kamarnya itu dan kemudian kembali rebahan santuy di atas ranjangnya. Kembali menyalakan hp, nyatanya Johan masih benar benar tidak bisa tidur akan fikiran yang menganggunya itu.
“kebakaran…, kebakaran…, kebakaran…. Apa kakek disana baik saja?” fikir Johan seraya menatap langit langit kamarnya.
Namun, disaat Johan memikirkan hal tersebut, perut Johan berbunyi. Perut Johan keroncongan dan memaksa Johan untuk mengisi perut tersebut. Johan pun beranjak dari kamarnya dan kemudian berjalan menuju dapur.
“waahh, untungnya ikan tenggiri mamah masih ada” fikir Johan saat Johan membuka tudung saji.
Johan pun menyuap nasi serta lauk pauk disana. Sebelum itu, Johan menyalakan lampu dapur dan lampu ruang tengah agar Johan bisa melihat. Selepas itu, Johan membawa seporsi makannya itu ke ruang tengah dan hendak memakannya disana.
Johan pun menyalakan televisi dan mendapati kalau liga champions akan segera dimulai. Melihat itu, Johan pun mencuci tangan sebelum makan dan kemudian perlahan menyuap nasinya tersebut. Sembari menonton liga champions, Johan dengan happy memakan makanan masakan rumahan milik sang ibunda tersebut.
Saat itu, Johan sedang menonton Atletico Madrid vs Bayern Munchen. Walaupun Johan tidak begitu menyukai sepak bola, namun hanya ini satu satunya hiburan yang disukai oleh Johan di dalam televisi. Di tengah tengah pertandingan, nyatanya Johan tersedak dan hendak mengambil air putih. Alhasil Johan pun meletakkan piringnya tersebut di kursi sofa dan berdiri dari tempat duduknya.
Namun, saat Johan hendak berjalan menuju galon air, seketika Johan mendengar suara ketukan pagar dari pagar rumahnya. Mendengar hal itu, Johan merasa bodoamat karena mungkin ketukan itu hanyalah ketukan dari anak anak bandel yang iseng. Johan pun segera mengambil segelas air putih di dispenser galon, namun sampai detik itu pula ketukan pagar tersebut tidak kunjung berhenti.
Karena sedikit kesal, Johan pun segera membukakan pintu rumahnya dan kemudian melihat siapa yang mengetuk pagar rumahnya itu malam malam. Johan pun berjalan ke pintu rumah dengan membawa segelas air putih dan berniat untuk menerima tamu. Disaat Johan membuka pintu rumahnya, nyatanya Johan mendapati bahwasanya terdapat tiga orang lelaki dewasa yang memakai jas rapih sedang mengetuk pagar rumahnya.
Melihat hal itu, seketika Johan berlari untuk membukakan pagar rumahnya tersebut dan berniat mempersilahkan para tamu tersebut masuk.
“a-ada apa ya om malam malam kemari?” tanya Johan.
“kami ada perlu sama papah kamu, dimana dia sekarang?” tanya salah satu lelaki kepada Johan.
“ehh, papah udah tidur om. Memangnya ada apa ya om? Mungkin saya bisa sampaikan nanti kalo papah udah bangun” ujar Johan seraya meneguk air putih di gelas yang ia bawa itu.
“emm, kalau begitu, kami minta tolong sama adik, tolong berikan ini kepada papah kamu” ujar salah satu lelaki tersebut seraya memberikan selembaran map kertas berwarna cokelat.
“kalau begitu, kami bertiga pamit dahulu, maaf mengganggu kenyamanan adik” ujar lelaki tersebut berjalan beranjak dari rumah.
“ohh, i-iya. Terimakasih banyak” ujar Johan.
Johan pun menutup dan mengunci kembali pagar rumahnya tersebut dan kemudian berjalan menuju kedalam rumah. Seraya menendam kesal, Johan menggumam dalam hati “apa apaan om-om tua itu!?, kenapa aku di panggil adik? Aku ini udah SMA”.
Johan pun berjalan masuk kedalam rumah. Namun, Johan benar benar terkejut saat terdapat seekor kucing yang tiba tiba saja keluar dari rumahnya. Melihat itu Johan benar benar terkejut dengan kucing yang dengan lari kencangnya menabrak kaki kanan Johan.
“aaaahahhhhh‼!” teriak Johan benar benar terkejut.
“dasar kucing” teriak Johan benar benar kesal.
Johan pun seketika masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rumah tersebut dari dalam. Sesaat setelah dirinya berjalan ke arah ruang tengah, Johan benar benar terkejut dan kesal. Pasalnya ikan yang menjadi lauk dari Johan menghilang dari piringnya. Johan pun tidak bisa menyangkal lagi kalau itu adalah memang perbuatan sang kucing yang masuk ke rumah barusan.
“dasar kucing‼‼” fikir Johan dengan tatapan mata yang membara.
“dahlah, lagipula aku juag udah kenyang” ucap Johan seraya membawa piringnya itu ke wastafel dapur.
Johan pun kembali mengambil segelas air putih dan kemudian meminumnya di sofa ruang tamu sembari menonton liga champrions. Namun, fikirannya selalu terbayang bayang oleh isi selembar kertas yang diberikan oleh om om ngeselin barusan. Maka dari itu, Johan tidak bisa menahannya lagi dan membuka map selembaran kertasnya itu.
Didalamnya hanya ada selembar kertas pengumuman dari pemerintah daerah yang diberikan atas nama Ageng Dwi Mahesa, sang papah dari Johan. Ia melihat isi dari kertas tersebut dan ternyata seisi dari kertas tersebut adalah surat penerimaan kompensasi dari korban bencana.
“atas nama Pemerintahan Daerah Dusun Engkobappe memberikan kompensasi kepada Ageng Dwi Mahesa selaku anak dari korban Adhipura Sarengga Mahesa. Kami selaku Pemerintahan daerah memberikan kompensasi kepada beliau atas korban bencana alam Kebakaran hutan dengan asas penyantunan kepada keluarga korban mengenai korban yang telah lanjut usia”
“atas nama pemerintahan daerah, kami benar benar menyesal tidak dapat menyelamatkan nyawa korban. Namun, atas nama pemerintahan daerah, kami akan menangkap pelaku atas ketidakbertanggungjawaban pembakar hutan. Keluarga korban dapat menuntut seberat beratnya hukuman yang akan di terima oleh pelaku di dalam persidangan kelak jika sang pelaku telah tertangkap oleh pihak yang berwajib. Jika ada informasi terkini, kami akan menyampaikannya secepat dan se jujur mungkin”
Melihat semua tulisan itu, Johan seketika meneteskan air matanya ke kertas tersebut hingga membasahi seisi kertas. Johan benar benar terpukul oleh isi surat tersebut hingga Johan benar benar tidak bisa berkata kata. Johan meneteskan air mata tanpa mengedipkan matanya sekalipun. Badannya terbujur kaku dengan telinga yang memerah.
Johan menundukkan kepalanya serata membiarkan air matanya menetes melewati hidung. Tetesan air mata tersebut mengenai selembaran kertas tersebut dan membasahinya. Johan tak habis fikir mengenai kebakaran tersebut dan terus menerus menghantui fikiran Johan saat itu.
“kenapa? Ada apa? Siapa pembakarnya? Dimana dia? kenapa harus kakek?” fikir Johan bertanya tanya.
Johan pun mengangkat kepalanya dan kemudian mengusap air matanya itu. Dengan perlahan, Johan mematikan lampu dapur serta lampu tengah dan kemudian menuju ke kamar mandi. Johan mencuci mukanya dan melihat pantulan bayangannya di cermin. Ia melihat matanya yang sudah benar benar memerah sebab isak tangis yang tiada henti.
Pada akhirnya, Johan pun berteriak keras didalam kamar mandi mengeluarkan seluruh perasaan yang menghantui fikirannya. Perasan kecewa, sedih, marah dan takur bercampur menjadi satu. Johan berteriak sangat amat keras dengan kondisi wajah yang masih basah kuyup. Pada akhirnya, Johan memutuskan untuk mengambil dompet dari kamarnya dan kemudian keluar dari rumah.
Dengan memakai jaket tebal, topi serta masker, Johan berjalan dengan perlahan di iringi oleh mencekamnya angin malam. Berjalan di jalanan yang sepi, hanya ada suara jangkrik serta kodok yang sedang tampil orkestra di pepohonan serta saluran air pinggir jalan. Dengan menunduk, Johan berjalan tanpa memperdulikan arah depannya.
Sesampainya Johan di supermarket, Johan hanya membeli dua minuman soda kalengan. Ia pun membayarnya di kasir dan memintanya untuk diberikan sebuah kantong plastik. Johan keluar dari supermarket dan kemudian berjalan menuju taman dimana taman itu adalah taman yang sama disaat Johan pingsan akibat tubuhnya yang kehujanan hari lalu. Johan pun duduk di bawah lampu taman dan disebuah kursi taman panjang yang ia duduki saat itu.
Sesampainya Johan di taman, seperti biasa Johan duduk di kursi taman seraya membuka minuman soda kalengannya tersebut. Seteguk Johan meminum minuman soda tersebut, nyatanya gerimis mulai menyambut kehadiran Johan disana. Perlahan, gerimis tersebut mulai berubah menjadi hujan. Tetesan air gerimis membuat corak di air danau tersebut mulai menghias seluruh permukaan air danau tersebut.
Johan sama sekali tidak memperdulikan keadaan sekitar saat itu. Johan hanya menundukkan kepala seraya meminum minuman soda yang telah terisi oleh tetesan air hujan. Cuaca semakin tidak mendukung, Nyatanya hujan semakin deras saat itu. ditambah lagi dengan angin malam yang sangat dingin nan mencekam membaut siapapun yang terkena hujan tersebut pastinya akan menggigil kedinginan.
Sementara itu, disisi lain terdapat segerombolan tiga anak lelaki yang masing masingnya membawa payung bersama dengan seorang perempuan temannya yang berjalan didepannya. Mereka berempat dengan santainya berjalan melewati taman dengan bercanda dan bergurau ria. Faktanya adalah, mereka semua adalah teman sekolah Johan.
Faktanya, Farel, Nyoman, serta Jehian bersama dengan Emilia itu baru saja pulang selepas mereka bermain dari rumah Emilia. Mereka semua sedang tertawa dan bersenda gurau di tengah hujan deras dengan berjalan di samping danau yang bercorak indah sebab tetesan air hujan tersebut.
“memang kau yang noob. Kau terlalu bodoh sampai sampai kau tidak pernah menang satupun saat bertanding dengan kita semua” ujar Nyoman.
“ehh? Aku tidak noob. Aku hanya mengalah demi Emilia. Awas aja nanti kalo kita main UNO Stacko lagi, aku pasti akan membantai kalian semua” ucap Jehian.
“Kok malah aku? apa kau lupa kalau kau selalu dihukum karena menjatuhkan bangunan itu?” tanya Emilia dengan tawa terbahak bahak.
“iya tuh, padahal kau sendiri yang paling banyak terkena hukuman. Jangan mimpi bisa kalahin kami semua” ujar Farel diikuti oleh tawa mereka semua.
“lihat aja besok, aku pasti bisa kalahin kalian semu-“ ucap Jehian terhenti.
“sstttt, heh ada siapa itu?” tanya Jehian menunjuk ke arah Johan yang tengah menundukkan kepalanya.
“eh iya…, itu manusia kan?” tanya Emilia.
“aku juga gatau, tapi orang itu kasihan, dia kehujanan” ucap Nyoman.
“apa kita harus bantuin orang itu?” tanya farel.
“kita semua tidak tau apa orang itu adalah preman atau tidak” ucap Jehian.
“iya juga, tapi sepertinya juga enggak. Kenapa juga preman duduk di taman? Apa orang itu ketiduran?” tanya Emilia.
“mungkin dia abis minum” ujar farel.
“kau benar. Mungkin kita jangan ganggu dia. takutnya dia malah marah dan malah kita yang kena” ucap jehian.
“ide bagus. Lebih baik jangan ganggu prema-“ ucap Nyoman terhenti karena melihat tubuh Johan terjatuh. Seketika semua orang pun terkejut akan Johan yang mereka anggap sebagai preman tersebut.
Nyatanya, Johan sudah benar benar tidak bisa berfiir jernih. Johan tidak bisa berkata kata serta bergerak lebih. Johan pun benar benar kedinginan namun ia masih memaksa untuk meminum minuman soda dinginnya itu. Pada akhirnya, Johan sudah tidak bisa menahan dinginnya malam itu dan kemudian terjatuh melemas.
Melihat itu, semua teman temannya seketika berlari menuju kearah Johan yang mereka anggap sebagai preman itu dan kemudian membantunya. Saat mereka semua membuka topi tudung jaket Johan yang menutupi muka, mereka benar benar terkejut jika itu adalah teman mereka. Spontan mereka mengangkat tubuh Johan dan menyandarkannya ke dinding terdekat kemudian berusaha menyadarkannya.
“hah? Johan?” tanya Farel ketika membuka tudung topi jaket Johan.
“hah? Johan?” teriak Emilia begitu terkejut.