
Seketika mereka semua pun mengangkat kaki mereka masing masing dari pijakan bawah tersebut. Johan pun seketika menyeret sebuah papan dari bawah kursi tempat duduk mereka itu. terdapat sebuah layaknya kursi tak bersandar yang tersimpan di bawah kursi mereka semua. Dengan begitu, Johan menyeretnya dan meletakkannya di kaki mereka semua.
Pada akhirnya, Johan menyuruh mereka untuk sementara duduk di papan tersebut. Papan yang empuk nan nyaman untuk duduk di bawah agar mereka tidak terlalu lelah. Mereka semua pun berpindah duduk di papan tersebut. Saat itu juga Johan melipat kursi duduk di mobil tersebut hingga tinggi dari kursi yang mereka duduki sebelumnya memiliki tinggi yang sama seperti papan yang telah Johan ambil sebelumnya.
Selepas itu semua, Johan pun akhirnya berhasil membereskannya. Pada akhirnya, di kursi belakang benar benar menjadi sebuah layaknya kasur yang luas. Mereka bisa meluruskan kaki disana. mereka pun bisa menidurkan tubuh mereka disana pula. Kursi yang dilipat dan bisa disatukan dengan papan tersebut menghasilkan sebuah kasur yang empuk dan cocok untuk berpergian jauh seperti ini.
“buset, ini mobil keren amat. Di bawah kursi kita udah ada kaya kasur roda tempel gitu. Dan juga kursi kita juga bisa di lipat biar ada tambahan ruang. Mobil nya mantep banget dah” ucap Nyoman begitu terkesan.
“iya, nyaman banget. Kita bisa lurusin kaki disini” ucap Emilia.
“aku ngga peduli dengan kaki kalian, aku mau rebahan santuy disini” ucap Jehian.
“terserah kalian mau apa, pokoknya kalian tidak akan kelelahan disini” jelas Johan.
“bagaimana kau bisa tau kalo mobil ini punya fitur seperti ini?” tanya Farel.
“ini adalah mobil perusahaan tempat kerja papahku, jadi dahulu aku sering banget ikut dan pake mobil ini. Jadi aku udah lama ngga pake fitur ini. Rasanya kanget banget” ucap Johan.
“waaah enak banget, nyaman banget, mantep banget” ucap Farel.
“kalo kalian mau rebahan, terserah kalian” ujar Johan.
Sesaat seetelah itu, sang sopir pun kembali memasuki mobil. Sang sopir membawa sebuah kantong plastik besar yang isinya adalah snack dan minuman yang telah ia beli dari supermarket untuk Johan dan teman temannya.
“nih buat kalian, biar kalian ngga capek di perjalanan. Ini akan masih sangat jauh” ucap sang sopir itu memberikan kantong plastik tersebut ke belakang.
“waahh, makasih banyak pak” ucap Emilia menerima kantong plastik itu.
“makasih banget pak” teriak Farel.
“apa masih jauh pak?” tanya Nyoman.
“bener bener masih jauh. Karena bapak melaju hanya kurang lebih 40km/jam” jawab sang sopir.
“kalo boleh tau, kapan kita akan sampai?” tanya Jehian.
“mungkin kita akan sampai sekitar jam 7 malam. Jadi kita seperti berkendara dalam mobil selama 9 jam penuh” ucap sang sopir.
“buset, jauh banget” ucap Emilia begitu terkejut.
“untungnya kita udah ada jalan tol. Kalo aku dulu pas aku masih kecil, aku selalu naik bis saat perjalanan. Kalo nggak ada bis, biasanya aku naik kereta” ucap Johan.
“untungnya kita ada mobil ini. bener bener mantep banget dah nih mobil” sahut Farel.
“kalo kita naik bis, mungkin bisa sampai 12 jam bahkan lebih” ucap Jehian.
“kalau begitu, apa masih ada yang diluar? Apa ada yang ketinggalan?” tanya sang sopir.
“nggak, berangkat aja pak” jawab Johan.
“siap, kita akan melanjutkan perjalanannya” sahut sang sopir mulai menyalakan mesn dan menancap gas.
Sembari di perjalanan, mereka pun bermain hp dan berbincang mengobrol seperti biasa sembari memakan cemilan dan meminum minuman dingin nan segar. Hingga sampai satu persatu dari mereka pun mulai mengantuk, pada akhirnya Jehian, Farel dan Nyoman pun tertidur saat rebahan satuy disana.
Pada akhirnya, yang terjaga hanyalah Emilia dan Johan yang tengah bermain hp masing masing. Emilia yang selalu melirik ke arah Johan tersebut merasa kalau mereka dalam keadaaan yang benar benar canggung. Disisi lain, Johan yang terlalu fokus kepada ponsel miliknya itu tidak memperdulikan sekalipun keadaan sekitar.
“heh, Johan” ucap Emilia.
“hmm” gumam Johan.
“kamu capek nggak?” tanya Emilia.
“nggak, kalo kamu capek tidur aja gapapa” ucap Johan.
“bukan begitu maksudku” ujar Emilia.
“terus apa?” tanya Johan.
Seketika Emilia bergerak menuju ke arah Johan. Emilia pun seketika duduk di samping Johan secara perlahan tanpa membangunkan ketiga temannya itu. Emilia mengeluarkan satu earphone miliknya dan menancapkannya ke ponsel miliknya.
Seketika Emilia pun memasangkan salah satu earphone miliknya ke arah telinga kiri milik Johan sementara Emilia menggunakan earphone sebelah kanannya itu. Emilia pun seketika memutar lagu di hp nya itu dan membuat mereka mendengarkan satu lagu yang sama di earphone yang sama pula.
“apa kamu capek?” tanya Johan.
“iya, aku capek duduk terus” ucap Emilia.
“kalo begitu, tidur aja gapapa” ujar Johan.
“hmm, iya” ucap Emilia.
Seketika Emilia menyandarkan kepalanya ke arah pundak kiri Johan dan memejamkan mata. Johan yang saat itu sedang sedikit mengantuk pun melihat Emilia yang dengan nyamannya meletakkan kepalanya ke pundak kirinya.
“dasar orang gila, dia pikir kepalanya empuk? Bener bener kaya aspal jalan” fikir Johan.
Namun, Johan sama sekali tidak tega untuk membangunkan Emilia saat itu. Maka dari itu, Johan berpasrah diri kepada yang maha kuasa untuk menyerahkan semuanya kepadanya. Johan pun mulai mengantuk dengan kepala yang mulai suntuk. Pada akhirnya, Johan pun meletakkan kepalanya dan menyandarkannya ke samping kiri. Saat itu pula Johan menyandarkan kepalanya di kepala milik Emilia.
Ber jam jam berlalu, nyatanya Johan sudah tertidur lebih dari 2 jam dalam kondisi duduk dan menyandarkan kepalanya ke arah Emilia. Saat itu, mobil mereka berhenti karena saat itu, sang sopir harus melaksanakan ibadah di masjid rest area untuk sementara. Johan pun membuka matanya dan kemudian melihat bahwasanya teman temannya sudah terbangun dari tidurnya.
Ia pun tersadar jika Emilia masih tertidur di pundak kirinya itu. Ia juga tersadar jika ia masih memakai earphone yang sama dengan Emilia. Saat ia membuka matanya lebar lebar, teman temannya itu sudah bermain game di ponsel mereka masing masing sembari memakan cemilan yang sopir tadi beli.
“sekarang udah jam berapa?” tanya Emilia.
“ohh, pengantin baru udah bangun?” tanya Nyoman.
“ngomong apasih kalian, gajelas banget. Huuuaaaahhhffftfttt” ujar Johan seraya menguap lebar lebar.
“apa kalian tidak pegal? Kalian tidur sambil duduk” tanya Jehian.
“nggak, biasa aja” jawab Johan.
“sekarang udah jam berapa? Dan juga kenapa kita berhenti? Apa kita udah sampai?” tanya Emilia dengan suara yang masih suntuk.
“sekarang masih jam 3 sore, dan kita berhenti sementara karena sopirnya lagi sembahyang di mesjid. Katanya si pak sopirnya juga udah capek, jadi dia mau istirahat dulu sebentar” ucap Farel.
“emm, apa kita masih jauh?” tanya Emilia.
“masih sangat jauh” sahut Nyoman.
“aku laper” ucap Emilia.
“sama aku juga laper” ucap Farel.
“aku nggak laper” ujar Johan.
“aku bodoamat” sahut Nyoman.
“apa kalian mau cari makan? kalo iya, aku ikut” ucap Johan.
“iya, ayo keluar semua. Aku udah bener bener pengap di dalem mobil” ucap Nyoman.
“yaudahlah ayok” sahut Jehian.
“apa kamu masih ngantuk? Kalo iya tidur aja, ntar aku beliin makanan” ucap Emilia kepada Johan.
“aku bisa jalan sendiri. Aku akan ikut” jawab Johan.
Mereka semua pun keluar dari mobil satu persatu. Tidak lupa pula mereka menutup pintu mobil tersebut. Mereka semua menghirup udara yang benar benar segar karena udara seperti ini tidak akan di temukan di tengah kota. Pada dasarnya, saat itu mereka berada di tengah tengah pedesaan. Dimana jalan tol membelah padang rumput dan pepohemua kanan dan kiri jalan, mereka bisa menemukan padang rumput yang luas nan segar serta beberapa pepohonan yang menghiasi rerumputan disana.
“pemandangan ini bener bener persis banget sama yang ada di mimpiku” fikir Johan dalam hati.
“heh Johan, ayo jalan, ngapain malah melamun?” teriak Nyoman.
“ehh, iya iya. Tunggu bentar” teriak Johan berlari menyusul mereka semua.
Mereka pun memasuki satu supermarket, dimana mereka membeli beberapa makanan yang mereka inginkan untuk mengisi perut. Saat itu, Nyoman, Emilia dan Farel lebih memilih untuk membeli mie cup instan sementara Jehian lebih memilih untuk membeli ubi ubian rebus dan jagung rebus begitupula Johan membeli semacam roti.
Mereka meletakkan semua barang belanjaan mereka kedalam keranjang basket dan kemudian membayarnya di kasir. Johan menambah beberapa snack serta minuman dingin didalam keranjang basket dan barulah ia bayar menggunakan uangnya sendiri.
Mereka pun berjalan keluar dari supermarket dan berjalan hendak memasuki mobil. Selepas mereka semua berada di dalam mobil, barulah mereka mulai membuka bungkusan makanan mereka satu persatu. Saat itu, di dalam mobil terdapat colokan listrik, maka dari itu mereka bisa merebus air untuk memasak mie instan mereka.
Di saat bersamaan, saat semua makanan mereka sudah siap, mereka pun duduk melingkar dan kemudian mulai memakan makanan mereka masing masing. Sembari memutar satu lagu kesukaan mereka semua, mereka menyuap makanan mereka dengan lahap. Johan memakan roti gandum serta olesan selai dan Jehian memakan umbi ungu dan juga jagung rebus kesukaannya. Disisi lain, Nyoman, Emilia dan Farel tengah menyeruput mie instan mereka tersebut.
Di tengah tengah mereka makan, sang sopir pun masuk kedalam mobil. Sang sopir tersebut memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal satupun di luar sana.
“apa tidak ada yang tertinggal?” tanya sang sopir.
“nggak, nggak ada” jawab Johan.
“kalo begitu, kita akan melanjutkan perjalanan kita” sahut sang sopir.
Sang sopir mulai menyalakan mesin dan menancapkan gas nya kembali. Sang sopir pun mulai melanjutkan perjalanan jauh kembali bersama dengan iringan pemandangan yang benar benar indah. Disaat mereka sudah menghabiskan makanan mereka, pada akhirnya mereka bisa memuaskan rasa lapar mereka sedari pagi.
Masing masing dari mereka pun meminum air dingin yang segar sementara hanya Johan yang memium air putih. Johan mengeluarkan setumpuk obat obatan dari tas nya dan kemudian membuka nya satu persatu. Hingga saat itu, Johan membawa 4 obat sekaligus dalam genggaman telapak tangannya.
Johan pun melemparkan keempat pil tersebut kedalam mulutnya dan kemudian meneguknya menggunakan air putih. Selepas ia meneguk beberapa air putih, ia pun meletakkan air putihnya itu di kantong kresek kosong sampingnya. Melihat itu, semua teman teman Johan begitu heran dengan obat yang johabegitu heran dengan obat yang Johan minum barusan.
“apa memang kau harus minum obat se banyak itu?” tanya Nyoman.
“resep obat dari awal memang seperti ini” ucap Johan.
“lain kali, kalo ada masalah jangan di pendem dan malah ujan ujanan di taman tengah malem. Bener bener udah gila” ucap Jehian.
“ehh, kok kalian tau?” tanya Johan begitu terkejut.
“iyalah, kan kita berempat yang bantuin di taman kemarin malam. Lagipula, kalo nggak ada kita berempat, mungkin kau udah berjamur disana dan nggak ada orang yang tau” sahut Farel.
“ehh, emang iya? Hahaha aib ku kebongkar semua” ucap Johan dengan tawa paksa.
“udahlah, itu nggak penting. Yang pasti, kita masih harus nunggu berapa lama lagi kita ada di dalam mobil ini” ucap Emilia.
“mungkin kita akan sampai jam 7 malam kedalam desa Engkobappe, sementara kita akan menyusuri desa tersebut dalam kurang lebih 30 menit” ucap sang sopir.
“jadi masih lama banget” sahut Nyoman.
“iya, masih lama. Jadi kalian santai santai aja di belakang sana” ucap sang sopir.
Pada akhirnya, berjam jam di dalam mobil sembari bermain ponsel pun kembali terjadi. Saat itu, mereka sudah dalam keaadan begitu kenyang dan perut yang penuh. Hal itu membuat mereka benar benar mengantuk di dalam sana. Saat itu pula, Nyoman, Jehian, serta farel pun rebahan santuy disana dan kemudian tertidur untuk yang kedua kalinya.