
“Ada yang berwarna ungu, merah muda, dan juga putih dan kuning. Kalian bisa memilihnya sesuai dengan selerai kalian” jawab lelaki tersebut..
“bagaimana dengan yang merah muda?” tanya Johan.
“lebih bagus putih” jawab Odessa.
“iya deh terserah” jawab Johan.
“kalau begitu, aku akan mengisi pot kalian dengan bunga Sweet Alyssum berwarna putih di keduanya. Tunggu sebentar ya” jawab lelaki tersebut.
“baik” jawab mereka berdua.
Lelaki itupun membawa kedua pot milik mereka dan kemudian mengisinya dengan tanah subur dan juga menanamkan bunganya itu. Dibutuhkan waktu kurang lebih 10 menit untuk lelaki itu mengisi kedua pot milik mereka. Dan pada akhirnya, pot bunga mereka pun jadi. Lelaki itupun memberikannya kepada Johan dan Odessa disana.
“waaah, ini bagus banget” ujar Odessa.
“iya benar, ini bener bener mantep banget dah” jawab Johan.
“kalau sudah selesai, pembayarannya berada di kasir depan. Saya akan mengemaskan pot milik kalian berdua. Tunggulah di kasir depan” jawab lelaki tersebut.
“baik” jawab Johan.
Mereka berdua berjalan ke arah kasir untuk membayarkan pot milik mereka berdua. Setelah di hitung secara keseluruhan, mereka menghabiskan 400rb hanya untuk pot yang berisi bunga.
“hanya dua pot yang berisi bunga, ternyata harganya 400rb. Mantap banget broh” fikir Johan dalam hati.
Seketika itu, sang lelaki itupun selesai mengemas pot milik mereka berdua. Pot mereka berdua di kemas menggunakan kardus yang tidak akan mungkin tergoyah di bagian dalamnya. Maka dari itu, dapat dipastikan kalau pot yang berada di dalam kardus tersebut akan aman aman saja.
“saya terima uangnya 400rb. Terimakasih, selamat datang kembali” jawab sang kasir.
“sama sama” jawab Johan.
Mereka berdua pun keluar dari toko tersebut seraya membawa sekardus berisi dua pot bunga. Pot yang diperuntukkan untuk hiasan dalam ruangan itupun menjadi alasan mengapa Johan benar benar begitu mengajak Odessa untuk secepatnya pergi kesana.
“apa karena itu kamu mengajakku secara terburu buru?” tanya Odessa.
“seperti yang kamu tau” jawab Johan.
“apa kamu tidak lupa dengan janjimu?” tanya Odessa.
“janji? janji apa?” tanya Johan.
“sudah kuduga kamu akan lupa” jawab Odessa.
“janji yang mana?” tanya Johan.
“kamu udah janji bakal ajak aku ke taman” jawab Odessa.
“ohhh, taman. Boleh juga. itu juga asik” jawab Johan.
“aku mau kesana” jelas Odessa.
“sekarang jam berapa?” tanya Johan.
“sekarang sudah jam setengah 5 sore” jawab Odessa.
“kalau begitu masih sempat” jawab Johan.
“memangnya kita mau kemana?” tanya Odessa.
“apa kau lupa? Jam setengah 7 kita akan pergi ke mall untuk melihat taman yang ada di lantai paling atas. Disana akan terlihat pemandangan kota yang luar biasa begitu indah bersama dengan cahaya kerlap kerlip yang menghias taman disana” jelas Johan.
“ohh, iya. Aku lupa” jawab Odessa menepuk jidatnya sendiri.
“kalau begitu, apa kita akan pergi ke taman sekarang?” tanya Odessa.
“yoi” jawab Johan.
“cepat pakai helm mu” ujar Johan memberikan helm nya kepada Odessa.
“i-iya” jawab Odessa.
Mereka berdua pun kemudian pergi dari tempat itu dan hendak pergi ke taman dekat danau kota. Taman yang sama yang membuat Johan pingsan beberapa kali karena kedinginan sebab air hujan.
Dikarenakan letak toko tersebut yang memang agak jauh dari dalam kota, maka dari itu perjalanan dari toko menuju ke danau tengah kota agak lama. Sesampainya mereka di taman, nyatanya disana lumayan ramai pengunjung. Ada beberapa orang yang memang menikmati pemandangan danau, ada yang memang hanya duduk santai dengan orang tercinta, ada yang memang menikmati makanan yang terjual disana, ada yang sambil nongkrong bersama teman, dan masih banyak lagi.
Johan segera memarkirkan motornya di tempat parkiran. Mereka berdua pun segera berjalan ke dalam taman paling samping agar mereka bisa menimkati pemandangan danau dengan begitu jelas.
Mereka berdua segera duduk di kursi taman dan membeli sebuah minuman hangat di gelas plastik untuk diminum berdua. Minuman itu adalah teh hijau yang begitu disukai oleh Odessa.
“aaahhhh, ini enak banget” ucap Odessa dengan raut muka begitu menikmati.
“maaf, uangku hanya ini. Aku masih belum sempat untuk mengambil uang dari mesin ATM. Uang sisa kembalian dari kita beli pot hanya bisa untuk membeli satu gelas ini saja. Maaf karena kamu harus membaginya” ucap Johan.
“aku tidak akan menjadi egois hanya karena minuman. Aku ingin membaginya denganmu” jelas Odessa.
“hehehe, makasih banyak ya” jawab Johan.
“harusnya aku yang berterimakasih” sahut Odessa.
“sama sama” jawab Johan.
Sembari menyeruput teh hijau, mereka memandang danau yang memantulkan cahaya matahari senja yang luar biasa indah. Air yang tertiup angin membuat gelombang gelombang kecil yang saling bersahutan.
Henbusan angin yang begitu hangat meniup seluruh pepohonan yang ada di taman. Taman yang begitu besar itupun terisi oleh hangat dan segarnya udara sore itu. Bagaikan disambut oleh ribuan kenyamanan, itu yang difikirkan oleh Johan dan Odessa saat itu.
Seketika itu pula, Odessa menyandarkan kepalanya di bahu kanan milik Johan. Disaat itu pula Odessa mulai menguap karena sedikit mengantuk. Johan perlahan mengelus rambut kepala Odessa dengan begitu halus nan lembut dari ujung kepala hingga pundak yang tertutup oleh rambut panjang seluruhnya.
“apa kamu suka?” tanya Johan.
“aku sangat suka, aku mencintainya” jawab Odessa.
“kamu paling suka saat apa?. Saat kita berdua berada di mall untuk mencari pakaian, atau saat kita mencari pot hiasan tumbuhan?” tanya Johan.
“saat kita berdua ada di dalam kamar” jawab Odessa.
“sa-saat ada di dalam kamar?” tanya balik Johan dengan muka perlahan memerah.
“aku baru pertama kali melakukannya” jawab Odessa.
“aku juga baru pertama kali” ucap Johan.
Saat itu pula, Odessa mengangkat kepalanya dari pundak Johan. Odessa seketika duduk menghadap ke arah Johan dan menatap matanya dengan begitu tajam.
“neh Johan, apa menurutku aku ini cantik?” tanya Odessa.
“cantik, imut, manis, anggun, semua keindahan alam ada di wajahmu” jawab Johan.
“apa menurutku aku ini lebih cantik dari Emilia?” tanya Odessa.
“kenapa aku harus membandingkannya dengan Emilia? Itu akan sangat jauh” jawab Johan.
“apa kamu menyukai Emilia?” tanya Odessa.
“Emilia suka sama aku, aku nya engga suka” jawab Johan.
“kalau misalkan aku tidak ada, apa kamu mau mencintai Emilia?” tanya Odessa.
“apa maksudmu tidak ada?” tanya Johan.
“mungkin saja aku pulang kerumahku, apa kamu mau mencintai Emilia?” tanya Odessa.
“tidak” jawab Johan.
“kenapa?” tanya Odessa.
“karena aku tau kalau kamu tidak akan pergi” jawab Johan.
Mendengar hal itu, Odessa begitu terharu. Tubuh Odessa benar begitu merinding dengan mata yang berkaca kaca. Spontan saat itu pula, Odessa memeluk tubuh Johan dengan begitu erat dan bertekad tidak ingin melepaskannya.
“katakan padaku kalau kau akan menjemputku” ucap odesa di dalam pelukannya.
“tu-tunggu dulu, apa yang kau lakukan? Nanti ada orang melihat” ucap Johan.
“katakan padaku kalau kau akan menjemputku lagi” ucap Odessa di dalam pelukannya.
“aku akan menjemputmu, dan akan selalu menjemputmu. Aku selalu menjemputmu, dan tidak akan pernah membuatmu menunggu” ucap Johan seraya memeluk tubuh Odessa balik.
“apa kamu janji?” tanya Odessa.
“janji” jawab Johan.
“apa nama janji ini?” tanya Odessa.
“maksudnya?” tanya balik Johan.
“kamu harus menamai janji ini agar tidak lupa” jawab Odessa.
“nama janji, aku baru dengar kata kata itu. Janji yang diberi nama agar tidak lupa. Janji ini bernama Hanabi” ucap Johan.
“Hanabi? Apa itu?” tanya Odessa.
“itu adalah petasan kembang api” jawab Johan.
“kenapa kamu mau memberi nama janji ini bernama Hanabi?” tanya Odessa.
“karena setiap orang pasti pernah menjadi kembang api di tahun baru seseorang. Terbang, melayang, menyala, meredup dan kemudian selesai. Tapi lain halnya dengan janji kita. Aku akan selalu menjemputmu, dimanapun dan kapanpun” jawab Johan.
“janji?” tanya Odessa.
“iya, janji” jawab Johan.
Seketika itu pula, terdengar bunyi telefon yang berbunyi dari ponsel Johan. Saat Johan melihatnya, Johan mendapati bahwasanya dirinya sedang di telfon oleh pak Abdi.
“halo pak? Ada apa?” tanya Johan.
“halo nak Johan. Pak abdi ingin memberitahukan sesuatu. Maaf karena ini sedikit mendadak” jawab pak Abdi.
“ada apa pak?” tanya Johan.