Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eos 47, Tengah malam menuju Engkobappe



“saat ini, aku baru saja mendapatkan laporan dari anak anakku yang ada di desa Engkobappe. Aku mendengar jika ada beberapa orang telah menebang beberapa pohon disana dan membuang limbah di danau tersebut. Aku mendapatkan informasi tersebut dari anak anakku yang sudah mati” ucap Greisha dengan begitu panik.


“ja-jangan bercanda, apa itu benar?” tanya Johan begitu terkejut.


“aku minta tolong kepadamu, anak anakku tidak akan berdaya jika melawan manusia. Mereka hanya penjaga dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan para pembunuh alam itu. Dan juga, ini demi kebaikan Odessa yang memang mencintai pohonnya. Kau tidak ingin pohon milik Odessa juga di tebang kan?” ucap Graisha membujuk halus.


“apa mereka sudah bergerak?” tanya Johan.


“mereka melakukan penebangan dari jam 8 malam tadi, dan sekarang mereka psati sedang istirahat karena hujan. Aku menurunkan hujan agar mereka tidak bisa memiliki kesempatan untuk menebang pohon lagi. Namun sepertinya, awan hujanku sebentar lagi akan habis sementara aku masih belum menurunkan hujan di daerah gersang. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk menghubungi tetua desa dan memperingatinya agar ia melarang adanya penebangan hutan tersebut” jelas Greisha.


“kau menurunkan hujan? Keren banget. Sekarang pasti mereka sedang beristirahat. Kalau hujannya berhenti, mereka psati akan beroperasi seperti semula. Tapi jika hujannya tidak kunjung berhenti, dan mereka sudah kehabisan waktu, mereka pasti akan menebang pohon menggunakan jas hujan dan tidak perduli dengan hujan itu lagi. Apa kau bisa menyambar mereka dengan petir?” tanya Johan.


“jahat sekali. Meskipun aku bisa, tapi aku tidak tega untuk melakukannya. Sekalipun aku tidak akan pernah melakukannya kepada manusia” ucap Greisha.


“kau benar, kau adalah dewi dan sifat dewi pastinya berbeda dengan manusia. Jika saja aku memiliki kekuatan tersebut, aku pasti akan menyambar mereka dengan petir beberapa kali” ucap Johan dengan memasang raut muka kesal.


“kalau begitu, cepatlah berangkat dan selamatkan desamu dari para penjahat” jelas Greisha.


“baik, akan ku lakukan” tegas Johan.


Sesaat setelah itu, Johan pun segera menggigit tangan kirinya itu dan membuat Johan terbangun dari tidurnya. Johan pun segera beranjak dari futon dan kemudian mengendap endap berjalan menuju ke jendela luar. Saat Johan membuka gorden tersebut, nyatanya ia mendapati kalau saat itu benar benar hujan.


“dia benar, dia sudah menurunkan hujan. Dia sudah melakukan tugasnya. Sekarang giliranku untuk melakukan tugasku. Tunggu aku, Odessa” fikir Johan seraya menatap langit malam yang tertutup oleh awan.


“Johan? Johan dimana? Cepat kemari” ucap Odessa seraya meneteskan air matanya menatap langit malam yang tertutup oleh awan.


Johan pun segera bergegas mengambil perban di meja samping ranjang miliknya. Kemudian, Johan pun segera membalut tangan kirinya menggunakan perban agar menghindari adanya cidera secara langsung yang mengarah ke luka nya itu. Sebelum ia membalut tangannya, ia menatap tajam ke arah tato miliknya itu seraya memikirkan tetang raut wajah Odessa yang sedang menangis.


“entah kenapa aku merasa kalau Odessa sedang menangis. Ada apa ini?” fikir Johan dalam hati.


“Johan, cepatlah kemari” ucap Odessa seraya menutup luka di lengan tangan kanannya.


Johan pun segera mengambil seluruh sisa perban yang ada di lemari dan kotak P3K kemudian meletakannya di tas. Ia juga mengambil ponsel miliknya serta kabel charger. Tidak lupa Johan menganti pakaiannya dan membawa pakaian lain di dalam tas. Johan mengambil sepatu nya di dalam rak lemari dan kemudian mengambil dompetnya.


“sekarang masih jam 12.21. Pasti saat ini masih ada bis yang menuju ke desa Engkobappe” gumam Johan seraya memakai sepatunya.


Selepas semuanya sudah siap, Johan mengambil payung dari rak dan dan kemudian memakai jaket tebal nan hangat. Saat itu pula Johan pun segera membuka pintu kamarnya dan kemudian berjalan keluar. Sebelum Johan menutup pintunya dari luar, dirinya melihat raut wajah semua teman temannya yang begitu nyenyak tertidur pulas.


“aku harap kalian tetap ada disini dan tidurlah. Aku pasti akan kembali pulang” ucap Johan seraya memandang semua temannya yang tengah tertidur.


Sesaat setelah itu, Johan pun menutup pintunya dari luar dan kemudian berjalan dengan mengendap endap menuruni tangga bawah. Johan pun menyalakan lampu dan kemudian mengambil beberapa bungkusan roti kemudian meletakkannya di dalam tas. Selepas itu, Johan pun segera membuka pintu rumah dan berjalan keluar rumah.


“aku berangkat” ucap Johan seraya menutup pintu rumahnya dari luar.


Saat itu, hujan sudah sedikit lebih mereda. Hanya rintik air kecil yang membasahi permukaan. Tidak terlalu deras seperti tadi. Johan pun segera membuka payungnya dan kemudian berjalan membuka pagar dan berjalan pergi dari sana.


Johan sedikit berlari saat itu. Nyatanya, di jam semalam itu, tidak ada satupun pengendara yang melewati jalanan tersebut. Johan di hibur dengan suara katak dan jangkrik yang sedang konser orkestra di saluran air pinggir jalan.


Sepuluh menit perjalanan, nyatanya Johan pun akhirnya sampai di halte bus. Johan pun melihat jadwal keberangkatan bus di papan jadwal dan mendapati kalau saja bus bernama “Restu Bus” akan menuju ke kota sebelah menggunakan arah yang melewati desa Engkobappe sebagai jalan pintas.


Saat melihat jam pemberangkatan bus Restu tersebut, nyatanya jam pemberangkatan yang terjadwal adalah jam 12.25. saat itu pula Johan pun menananyakan informasi mengenai bus Restu yang akan berangkat disana kepada salah satu orang yang bekerja sebagai makelar bus di halte tersebut.


“pak, permisi. Malam ini, ada berapa bus Restu yang akan berangkat?” tanya Johan.


“kalau malam ini, hanya satu bus restu yang berangkat” jawab sang lelaki makelar tersebut.


“apa adik mau naik bus Restu?” tanya salah seorang lelaki di samping makelar tersebut.


“iya om, aku mau naik itu, tapi gatau busnya udah berangkat apa belom” ucap Johan.


“bus nya baru aja berangkat. Kurang lebih lima menit lalu” jelas sang makelar.


“hah? sudah berangkat?” tanya Johan begitu terkejut.


“memangnya adek mau kemana?” tanya lelaki samping makelar tersebut.


“mau ke desa saya, desa Engkobappe” jawab Johan.


“Engkobappe? Apa itu adalah desa yang terkena kebakaran hutan beberapa hari lalu?” tanya lelaki itu.


“iya, yang ada di tv” sahut jawab sang makelar.


“apa kalian mengetahui desa itu?” tanya Johan.


“temanku ini sebentar lagi akan pergi ke sana” jawab sang makelar.


“iya, dia benar. Aku akan pergi ke sana hanya untuk membawa bahan makanan untuk pengungsi disana. Itu adalah perintah dari atasan. Dasar bos sialan. Kenapa juga dia harus menyuruhku untuk mengirimkan bahan makanan ini malam sekali. Padahal besok pagi juga bisa” ucap lelaki itu dengan keluh kesalnya.


“bapak membawa barang barang itu menggunakan apa?” tanya Johan


“seperti biasa, aku di perintahkan untuk membawa mobil pick up biasa” jawab lelaki itu.


“ada apa? Apa kau ingin menumpang?” tanya sang makelar.


“emm, kalau tidak keberatan” jawab Johan.


“tenang saja, aku selalu berangkat sendiri di dalam mobil tanpa ada yang menemani, hanya karena sebagai teman bicara, aku tidak terima jika semesta membuatku kesepian di dalam mobil sendirian” ucap lelaki itu dengan begitu mendramatisir keadaan.


“apaan sih, alay banget” sahut sang makelar tersebut.


“udah lama ngga cosplay anak indie” jawab lelaki itu.


“jadi, apa aku boleh menumpang?” tanya Johan dengan begitu bersemagat.


“dengan syarat kau harus membantuku untuk mencari balai desa disana” ucap lelaki itu.


“tenang saja, aku memang berniat untuk kesana. Aku sudah pernah ke balai desa itu dan melihat banyaknya pengungsi di dalam sana. Bagaimanapun juga, kakekku adalah mantan tetua disana” ucap Johan.


“ehh? Kita tidak berangkat sekarang?” tanya Johan.


“tidak, kita akan berangkat jam 1 malam. Sembari menunggu, kau pesanlah kopi agar kau tidak mengantuk di perjalanan nanti. Duduklah di sampingku dan minumlah kopimu” ucap lelaki itu.


“apa itu tidak terlalu lama?” tanya Johan.


“tenang saja, kita pasti akan sampai sebelum matahari terbit” jawab lelaki itu.


“hah? sebelum jam 5 pagi? Apa kau tau seberapa jauh desa Engkobappe itu?” tanya Johan.


“asal kau tau, aku adalah mantan pembalap M1” ucap lelaki itu dengan begitu mengarang cerita.


“bukan M1, tapi F1” sahut sang makelar di sampingnya.


“ehh iya, maksudku mantan pembalap F1” ucap lelaki itu.


“aku sudah beberapa kali menuju ke desa itu. Aku melewati jalan tol dan berjalan dengan sangat amat luar biasa cepat. Kalau kau terburu buru, kau pasti akan sangat bersyukur karena telah bertemu dengan sopir yang sangat ngawur sepertiku” ucap lelaki itu membanggakan dirinya sendiri.


“tenang saja, temanku ini tidak pernah minum alkohol, dan dia juga memang sangat berpengalaman dalam memabwa mobil. Jadi jika kau benar benar terburu buru, kau bisa sedikit lebih tenang” ucap sang makelar itu.


“ba-baik, terimakasih banyak” ucap Johan sedikit menganggukkan kepalanya.


“sekarang, pesan kopi mu dan duduklah bersamaku di sampingku sini” ucap lelaki itu.


“baik” ujar Johan.


Saat itu pula, Johan pun memesan secangkir kopi susu dan kemudian membawanya ke meja di samping lelaki itu. Johan meletakkan tas ransel nya di atas meja dan kemudian duduk di samping lelaki itu. Sembari menyeruput kopi hangat, mereka bertiga mengobrol mengenai hal yang begitu random. Mulai dari membicarakan sepak bola, hasil kerja pemerintah daerah, harga tanah, penghasilan supermarket, ukuran sepatu Lucinta Luna, dan lain lain.


“apa kau merokok?” tanya sang makelar itu seraya memberikan sebungkus rokok.


“ti-tidak, aku tidak merokok” jawab Johan.


“emm, okelah” ucap sang makelar itu seraya menyaku kembali rokoknya.


“kau seperti temanku, benar benar sangat mirip” ucap lelaki sopir tersebut kepada Johan.


“hah? mirip siapa?” tanya sang makelar kepada sang sopir.


“mirip sama Mansur. Dia juga pernah numpang mobil pick up milikku, dan saat dia di beri rokok, dia bilang kalau dia tidak merokok” ucap sang sopir.


“ohh iya, aku ingat” jawab sang makelar.


“aku dengar dia sekarang sedang masuk kedalam rumah sakit” ucap sang sopir.


“ehh? Kenapa?” tanya sang makelar.


“katanya sih, dia kecelakaan mobil saat bertugas” jawab sang sopir.


“aku tidak tau siapa yang kalian bicarakan” sahut Johan.


“dia teman kita berdua. Dia memiliki anak perempuan yang mungkin seumuran denganmu. Kita lupa nama aslinya, yang pasti kita memanggilnya Mansur” ucap sang sopir.


“jadi begitu” ujar Johan menganggukkan kepalanya.


“cepat habiskan kopimu, sebentar lagi kita akan berangkat” ucap sang sopir seraya meneguk kopinya.


“ba-baik” tegas Johan seraya meneguk kopi yang sudah dingin miliknya itu.


Selepas itu, sang sopir pun berjalan ke warung tempat Johan dan sang sopir itu memesan kopi. Saat sang sopir pun hendak membayar kopi yang telah ia dan Johan minum, penjaga warung pun menolak sebab katanya semua kopi dan rokok sudah di bayar oleh Johan.


“anak itu sudah membayar semuanya, termasuk rokok dan kopi mu” ujar sang penjaga warung kepada sang sopir.


“ehh? Beneran? syukurlah, uang ku nggak pecah” ucap sang sopir tersebut memeluk uang seratus ribu miliknya itu.


“cepat cari istri dan peluklah dia, jangan memeluk uang seperti halnya orang gila” ucap sang penjaga warung tersebut.


“berisik, dasar nenek tua” ucap sang sopir tersebut serya berjalan menjauhi warung tersebut.


“dasar, aku akan selalu mengingat hutangmu kepadaku, dasar kakek encok” teriak sang penjaga warung.


Sang sopir pun kemudian berjalan menuju ke arah Johan dan membawakan tas Johan yang begitu berat menuju ke arah pick up yang berada di ujung halte bus.


“biar aku yang membawakan tas mu itu, sepertinya itu berat” ucap sang sopir.


“ehh, tidak apa” jawab Johan.


“anggap saja karena kau sudah membayarkan uang kopi dan rokokku tadi” ucap sang sopir.


“ba-baik, terimakasih banyak” ujar Johan memberikan tas nya kepada sang sopir itu.


“pak bos, aku berangkat dulu” teriak sang sopir kepada sang makelar.


“yoi, ati ati pak bos” teriak balik sang makelar kepada sang sopir.


Mereka pun berjalan ke arah mobil pick up putih yang berada di ujung halte. Sesampainya mereka di mobil, sang sopir dan Johan pun masuk ke dalam pintu depan dan kemudian menyalakan mesin mobil.


“untung saja, bensin nya sudah penuh” ucap lelaki itu.


“kalau kurang, bilang aja” ucap Johan.


“hahaha, tenang aja. Ini sudah sangat amat luar biasa lebih dari cukup” ucap lelaki itu begitu mendramatisir keadaan.


“syukurlah” ucap Johan.


Sang sopir pun memundurkan mobil tersebut dan kemudian mulai beranjak meninggalkan halte bus tersebut. Sang sopir mulai menancapkan gas menuju ke arah tol terdekat. Selepas di gerbang tol, sang sopir pun menempelkan kartu E-Toll nya dan kemudian memasuki area tol. Dengan seketika, sang sopir pun menancapkan gas poll sehingga membuat Johan begitu terkejut dan terdorong ke belakang karena saking cepatnya.