Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 35, Perempuan bermata hijau di dalam Lift



Sesampainya mereka disana, mereka mendapati jika saja paman Surya, ibunda Emilia dan ibunda Johan tengah berbincang santuy. Mereka semua memasuki kamar dan kemudian meminta ijin untuk keluar sebentar hanya sekedar mencari sarapan.


“bagaimana kondisi Johan?” tanya sang ibunda Johan.


“dia ngantuk dan mau tidur” jawab Emilia.


“kalau begitu, lebih baik kalian pulang aja dulu. Kalau tidak, lebih baik kalian ke rumah tante untuk masak dan makan disana. Lagipula sekarang hari libur” ucap sang ibunda Emilia.


“benar juga, apa kalian mau kerumah? Lebih baik kita masak sendiri” ajak Emilia kepada Jehian, Nyoman serta Farel.


“boleh juga” jawab Nyoman.


“tapi di rumah bahan masakan sudah pada habis. Jadi lebih baik kalian ke supermarket untuk membeli beberapa bahan masakan” ucap sang ibunda Emilia.


“emm, okelah” jawab Kahfi.


Maka dari itu, mereka semua seketika pergi meninggalkan kamar tersebut dan kemudian memutuskan untuk pergi berbelanja sebelum mereka sampai ke rumah Emilia. Mereka berbelanja beberapa bahan di supermarket dan kemudian pergi menuju kerumah Emilia hanya sekedar memasak sarapan dan kemudian memakannya di tempat itu pula.


Sementara itu, disisi lain Johan yang tengah berada di atas ranjang rumah sakit masih lemas tak berdaya. Dirinya hanya bisa memikirkan tentang papah dan mamah kandungnya. Kakek dan nenek serta Odessa dan teman temannya.


Tidak ada hal lain yang bisa di fikirkan oleh Johan selain itu. Karena pada dasarnya, mereka semua adalah orang yang paling Johan cintai saat ini.


“Odessa? Apa kamu udah tidur? Jangan terlalu lama berada di bawah pohon itu. Pohon itu banyak semut dan getah yang lengket dan gatal” fikir Johan dalam hati seraya membayangkan rut wajah Odessa.


Sementara itu, disisi lain Odessa yang saat itu sedang duduk bersantai di bawah pohon juga memikirkan hal yang sama seperti apa yang di pikirkan Johan saat itu.


“Johan, apa kamu udah baikan? Jangan terlalu lama tidur terlalu malam. Nanti kamu bisa pusing. Dan juga kamu jangan terlalu stress memikirkan semua orang” fikir Odessa dalam hati seraya memandang danau di hadapannya.


Hari itu di tutup oleh sebuah kerinduan di dalam hati Johan kepada Odessa. Hari hari berlalu, semenjak Emilia menampar keras pipi Johan saat itu, Johan sudah sekalipun tidak pernah kehilangan kendali dan kesadaran dirinya sendiri.


Hal itu karena faktanya Johan hanya terbutakan oleh keinginan dan rasa ingin tau yang tinggi terhadap apa yang terjadi saat itu. Bagaimaanpun juga, hausnya jawaban dari Johan telah terjawab oleh jawaban yang memuaskan dimana Johan sudah benar benar menganggap bahwasanya Greisha adalah dewi yang benar benar nyata adanya.


Tiga hari berlalu, semenjak Emilia menampar Johan dengan keras. Nyatanya tamparan itu benar benar membekas di dalam lubuk hati Johan dimana Johan tidak akan pernah melupakan kejadian yang menyadarkan Johan dari kebutaan akan hasrat yang menenggelamkan hati dan fikirannya saat itu.


“permisi” ucp Jehian, Nyoman, Farel serta Emilia yang memasuki kamar rumah sakit Johan.


“silahkan masuk” ucap Johan yang saat itu sedang mengobrol santai dengan Kahfi.


“wahh, Kahfi udah ada disini. apa kau bolos?” tanya Jehian.


“nggak, aku udah pulang. tadi siang aku baru pulang gara gara para guru di sekolahku sedang rapat” jawab Kahfi.


“tuhkan, adikku nggak pernah sekalipun nakal. Hanya saja kalian semua yang berfikir yang tidak tidak kepada adikku ini” ucap Emilia.


Saat itu Jehian, Farel, Nyoman serta Emilia sedang memakai seragam sekolah karena saat itu mereka berempat baru saja pulang dari sekolah dan memutuskan untuk tidak pulang ke rumah masing masing untuk mengganti pakaian mereka. Dalam keadaan masih memakai pakaian seragam, mereka memutuskan untuk terlebih dahulu menjenguk Johan di rumah sakit.


“waahh, panas sekali” ucap Emilia seraya mengibas kibaskan kerah bajunya.


“iya, di kelas panas banget parah” sahut Nyoman seketika melepaskan dasinya dan menmbuka kancing baju bagian atasnya.


“ehh? Bukannya di kelas kita ada AC-nya?” tanya Johan.


“berita buruk, benar benar sangat amat luar biasa buruk. AC di kelas kita mati” teriak Jehian.


“Itu tidak masalah kan?” tanya Johan.


“hah? tidak masalah katamu?” tanya Jehian dengan tatapan tajamnya.


“aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi saat mendengarkan guru di depan karena aku hanya sibuk mengipasi tubuhku sendiri dengan buku. Keringatku membasahi sampul buku dan menetes hingga menjadi lautan api” ucap Jehian mendramatisir keadaan.


“tapi kan, lautan api itu kota Bandu-“ ucap Johan tersahut henti.


“jangan berbicara! Kau tidak mengerti penderitaan kami semua yang ada di kelas. Kita semua menangis darah karena saking gerah dan panasnya di dalam kelas. Ktia semua terpanggang di dalam sama. Benar benar sangat amat luar biasa panaaasssshhhhhh” ucap Jehian benar benar mendramatisir keadaan dengan beitu lebay.


“jangan lebay! Ludahmu terciptrat kemana mana!” sahut Nyoman.


“Dan juga, karena sekarang hari selasa, maka dari itu hari ni adalah jadwal Matematika. Dan kau tau sendiri bagaimana kejam dan sadisnya Pak Sujiwo saat mengajar matematika. Kita sama sekali tidak diperbolehkan keluar sebentar saja untuk menghirup udara segar. Benar benar sangat amat luar biasa kejam. Kenapa Adolf Hitler harus mengajar di sekolah itu. Orang tersebut benar benar sangat ajaib, mengapa saat itu orang itu malah mengenakan jaket tebal pada saat cuaca gurun sahara ini? benar benar iblis peminum ramuan anti api. kurasa dia adalah salah satu mantan pekerja yang bekerja membuat piramida di mesir” ucap Jehian dengan begitu kesalnya.


“udah udah, kita di larang untuk ghibah orang lain. Kalau mau, di kantin ada semacan vending machine. Kalian bisa membeli minuman dingin atau panas disana” ucap Johan.


“heh? Bagaimanakau bisa tau?” tanya Farel.


“aku sudah di perbolehkan beranjak dari kasur rumah sakit namun hanya menggunakan kursi roda” ucap Johan membanggakan dirinya sendiri.


“kalau begitu, apa Kahfi dan Johan mau titip minuman? Aku yang akan beli” ucap Emilia.


“aku tidak usah” jawab Johan.


“aku minta matcha hangat” ucap Kahfi.


“ehh? Memangnya ada?” tanya Emilia.


“emm, mungkin sekarang sudah tidak” ucap Kahfi.


“heh? Memangnya tadi masih ada?” tanya Emilia.


“tadi masih ada, tapi aku-“ ucap Kahfi terhenti.


Kahfi pun menunjuk ke arah tong sampah yang ada di samping ranjang Johan. Saat Emilia melihatnya, ada sangat banyak minuman kalengan rasa matcha yang menumpuk di dalam tong sampah itu.


“ehh? Kau minum sebanyak ini?” tanya Emilia.


“tolong jangan kasih tau mamah” ucap Kahfi dengan sedikit berbisik.


“astaga, kalau kau udah minum sebanyak itu, aku nggak akan membelikan minuman itu lagi. Aku akan mengadukannya ke mamah” ancam Emilia.


“tolong jangan kasih tau mamah, sebagai gantinya kau bisa mengambil sncak di dalam kamarku sesuka hat-“ ucap Kahfi terhenti.


“setuju” sahut teriak Emilia.


“dasar kakak adik dableng” fikir Nyoman dalam hati.


Sesaat setelah itupun Emilia berjalan menuju ke dalam lift dan kemudian menuju ke lantai 1 dimana di lantai 1 adalah tempat kantin rumah sakit itu berada. Emilia berjalan menuju ke vending mechine terdekat dan kemudian membelikan beberapa minuman disana. Satu persatu minuman hangat maupun dingin ia masukkan kedalam tas nya. Sampai di kaleng terakhir, Emilia pun sudah terlalu banyak membelikan minuman disana. Pada akhirnya Emilia pun kembali menuju ke dalam kamar Johan di lantai atas.


Dia pun memasuki lift bersama dengan seorang perempuan misterius yang menutup wajahnya menggunakan masker dan memakai hoodie tebal. Semua area wajah perempuan misterius itu benar benar tertutupi oleh masker dan topi dari hoodie tersebut.


Sembari menuggu hingga pintu lift terbuka di tujuan masing masing, Emilia dan perempuan misterius tersebut benar benar dalam kondisi dan situasi yang beanr benar awkward. Namun, di tengah tengah lift tengah berjalan menaik, perempuan misterius tersebut mengeluarkan suaranya dan mengajak Emilia berbicara.


Hanya satu kalimat yang di lontarkan oleh perempuan itu kepada Emilia. Perempuan misterius tersebut hanya melempar satu pertanyaan kepada Emilia dengan suara yang sedikit pelan.


“apa Johan baik baik saja?” tanya perempuan itu.


“ehh? A-apa anda bebicara dengan saya?” tanya Emilia.


“apa Johan baik baik saja?” tanya perempuan itu.


“jo-Johan? Jadi anda mengenalnya? Sekarang Johan sudah mendingan. Kalau mau, anda bisa menjenguk Johan di kamarnya. Kebetulan sekali, aku saat ini sedang menjenguk joh-“ ucap Emilia tersahut henti.


“terimakasih banyak” sahut perempuan itu.


Seketika pintu lift terbuka di lantai empat. Dan nyatanya perempuan tersebut seketika berjalan keluar dari lift tersebut menuju ke lantai empat. Saat perempuan tersebut sudah berada di luar lift. Perempuan itu kemudian berdiri dengan tegak dan kemudian membalikkan tubuhnya. Sesaat setelah itu, barulah Emilia mengetahui mata dari perempuan tersebut.


“terimakasih banyak” ucap merempuan tersebut menundukkan kepalanya.


“i-iya sama sama” ucap Emilia spontan melakukan hal yang sama.


“syukurlah, Johan baik baik saja. Aku terlalu bodoh dan begitu ceroboh karena aku mengirim angin yang begitu dingin ke pohon milik Odessa. Mungkin aku akan mengirim udara yang sedikit lebih hangat kesana” fikir Greisha dalam hati seraya menatap ke arah Emilia yang tengah menundukkan badannya.


Sesaat setelah Emilia mengangkat kepalanya, perempuan tersebut seketika menghilang dari hadapannya. Melihat hal itu, Emilia mulai ketakutan karena Emilia berfikir bahwasanya perempuan tersebut adalah hantu. Greisha yang dengan sengaja mengambil wujud manusia sebagai kepentingan pribadinya itu mengambil resiko begitu besar karena dirinya melakukan itu hanya untuk memastikan keadaan Johan.


“lahkok ngilang” fikir Emilia dengan bulu kuduk yang mulai berdiri.


Emilia pun seketika menutup pintu lift dan kemudian barulah naik menuju lantai kamar Johan. Emilia pun memutuskan untuk melupakan orang tersebut dan kemudian berlari menuju ke dalam kamar Johan.


“a-aku datang” ucap Emilia dengan nafas ngos ngosan.


“kenapa kau ngos ngosan, apa kau abis lari? Ada apa?” tanya Farel.


“tidak apa, aku hanya sedikit beresemangat” jawab Emilia.


“terserahmu” ucap Farel.


Satu persatu minuman kaleng di berikan oleh Emilia kepada mereka semua sesuai yang mereka pesan kepada Emilia. Mereka meneguk segarnya minuman yang memembasahi kerongkongan kering mereka.


“ahhhh, segarnya” ujar Jehian.


“ahhhhhh, seger dan dingin banget” ujar Farel.


“hmm, hangat dan lembut” ujar Kahfi.


“kalian semua boleh meminum minuman kaleng sedangkan aku masih tidak boleh” ucap Johan.


“apa kau ingin minum juga? Kalau kau ingin, mungkin kau tidak apa apa jika meminumnya sedikit” ucap Nyoman.


“iya juga, mungkin kalau aku minum seteguk saja itu tidak masalah” ucap Johan.


“tidak akan, aku tidak akan pernah membolehaknmu minum minuman kemasan. Kalau kamu udah sembuh, kamu boleh minum lagi” tegas Emilia.


“ayolah, sedikti saja, itu tidak akan berpengaruh” ucap Johan.


“tidak boleh, pokoknya tidak boleh. Jangan beri Johan minuman kalian sedikitpun atau aku akan mengusir kalian semua dari sini” ucap tegas Emilia.


“hmm, iya” jawab mereka semua serentak.


“oh iya, apa kalian kepikiran buat pergi ke desa nya Johan lagi? di sana benar beanr sangat segar. Bahkan aku ingin kesana hanya untuk menyingkirkan bau asap perkotaan dan menyambut segarnya udara pedesaan. Jujur aku sangat ingin pergi ke sana” ujar Jehian.


Mendengar hal itu, seketika Johan teringat akan Odessa yang tengah berada di desa. Pada dasarnya, Johan sudah berjanji akan kembali ke desa hanya untuk menemui Odessa, dan Johan kepikiran untuk melakukan sesuai janjinya itu.


“ohh iya, Odessa. Aku udah janji buat samperin dia” fikir Johan dalam hati.


“iya juga, aku juga ingin pergi ke desa nya Johan lagi” ucap Nyoman.


“hah? desa nya Johan? Dimana?” tanya Kahfi.


“di Engkobappe” jawab Farel.


“Engkobappe? Apa yang kalian maksud adalah Engkobappe kebakaran itu?” tanya Kahfi.


“iya, itu adalah desa nya Johan. Asal kau tau, di desa itu benar beanr luar biasa indah. Disana kau tidak akan di tutupi oleh awan saat ingin melihat matahari yang akan tenggelam. Udaranya benar benar sangat sejuk dan bersih” ujar Nyoman.


“wahh, mungkin itu enak, aku pengen ikut” ucap Kahfi.


Namun, saat itu yang Johan lakukan hanyalah melamun memikirkan tentang Odessa dan desanya. Bagaimanapun juga Johan masih terikat oleh janji Odessa yang mengajaknya untuk kembali ke desa.


“bagaimana denganmu, Johan?” tanya Emilia.


“Odessa? Iya juga. apa dia udah lupa sama aku? mungkin saja selama beberapa hari ini, dia sudah mulai melupakanku” fikir Johan dalam hati.


“Johan? Ada apa?” ucap Kahfi sedikit khawatir karena Johan yang seketika melamun tidak jelas.


“lagipula aku adalah pendatang baru dan kita baru saja kenal, dia mungkin sudah melupakanku” fikir Johan dalam hati.


“Johan, apa kau tidak apa? Apa kau pusing?” tanya Jehian sedikit berteriak.


“tapi, bagaimana bisa dia melupakanku. Aku adalah orang yang memberi Odessa nama, jadi mungkin dia masih mengingatku. Ku harap dia masih ingin bertemu denganku” fikir Johan dalam hati.


Sesaat setelah itu, dengan begitu keras Emilia pun menampar pipi Johan dengan sekali tamparan sehingga muka Johan terlempar jauh ke samping dan membuat Johan seketika tersadar saat dirinya melamun.


“a-ada apa? Kau malah menamparku lagi. itu sakit!” ucap Johan begitu terkejut seraya memegang pipi bekas tamparan tersebut.


“apa kau mendengarkan kami semua?” tanya Emilia terbawa emosi.


“ma-maaf, aku tidak sadar, kalian malah membahas desa yang terkena kebakaran itu lagi” ucap Johan.


“ma-maaf, kami nggak bermaksud untuk mengungit kejadian masa lal-“ ucap Farel terhenti.


“aku juga setuju kalau kita akan pergi kesana lagi” sahut Johan.


“aku ingin pergi ke desa itu lagi. aku ingin! Kapan kita akan pergi kesana lagi? apa hari ini? atau besok? Aku ingin ke desa lagi” sahut Johan dengan sedikit berteriak dan memasang raut muka begitu bersemangat.


Mendengar hal itu, mereka semua begitu terheran akan apa yang terjadi kepada Johan. Mereka berfikir kalau jika mereka semua membahas desanya yang terkena kebakaran itu, johan akan marah karena hal itu dapat mengungkit masa masa yang mungkin Johan tidak ingin dengar. Namun berbeda dengan kali ini. jangankan marah, Johan bahkan begitu senang dan bahagia saat mereka membahas tentang desa kelahiran Johan itu.


“ka-kalau begitu, kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?” tanya Johan begitu bersemangat.


“tunggu dulu, apa kau yakin akan kembali ke desa itu lagi?” tanya Kahfi.


“memangnya kenapa?” tanya balik Johan.


“tidak, maksudku bukan itu. maafkan aku karena aku yang tidak tau apa apa ini menanyakan satu hal yang tidak mengenakkan dalam hati. Kita tau sendiri kalau kau menggigit tanganmu sendiri saat baru pulang dari desa. Kau juga pingsan di tempat itu. tempat itu juga tempat dari pemakaman keluargamu. Sebagai sahabat yang masih memiliki perasaan dan otak, kita berfikir kalau saja kita membiarkanmu pergi ke desa itu lagi. menurutku itu suatu hal yang sedikit berbahaya karena kau bisa kehilangan kesadaran saat mengungkit masa lalumu yang sedikit kelam bagimu itu” jelas Kahfi.


“memangnya kenapa kalau aku mengungkit masa lalu?” tanya Johan balik.


“kau bisa kehilangan kesadaranmu dan melukai dirimu sendiri sama seperti apa yang kau lakukan sebelumnya” jawab Jehian.


“apa yang kalian katakan? Itu tidak masuk akal. Aku tidak akan melakukan itu lagi, dasar bodoh. hahahahahaha” ucap Johan tertawa begitu lepas tanpa adanya kepura-puraan.


“kau akan bisa keluar dari rumah sakit dua hari lagi. Selama itu, kau harus benar benar manjaga kesehatan dan istirahan yang cukup” tegas Emilia.


“tinggal dua hari lagi dan aku bisa keluar dari rumah sakit? akhirnya aku bisa keluar dari sangkarku” ucap Johan dengan penuh kebahagiaan.


“untuk itu, kau harus banyak makan dan minum obat teratur agar tubuhmu benar benar berstamina saat keluar nanti” ucap Nyoman.


“hmm, pasti aku akan makan yang banyak dan istirahat yang cukup serta meminum obat yang teratur” ujar Johan dengan penuh semangat dan tatapan yang begitu membahagiakan.


“Johan tersenyum tulus saat membahas desa Engkobappe. Sebenarnya ada apa di dalam desa itu?” fikir Nyoman, Farel, Jehian, Kahfi dan Emilia di saat yang bersamaan.


“setidaknya aku akan menemui Odessa untuk menepati janjiku selama ini” fikir Johan dalam hati.


Maka dari itu, mereka pun sudah memutuskan bahwa saat Johan sudah keluar dari rumah sakit, mereka benar benar ingin mengajak Johan menuju desa kampung halaman Johan dan merawat baik baik tubuh Johan.