Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 74, Bantuan dari Pemuda Desa



“iyalah, jelas. kalau kau suka laki laki, kupatahkan tulang lehermu” sahut om om disampingnya diikuti oleh tawa semua orang disana.


“ka-kau suka sama perempuan? Siapa dia?” tanya tante tante disampingnya.


“itu rahasia. Tapi perempuan itu sering mengunjungi desa ini dan aku sering bertemu dengannya” jawab Johan.


“terus? Ada apa? Apa yang ingin kau minta tolong?” tanya tante tante di sampingnya.


“jadi, dia sekarang begitu menyukai dengan tanaman. Ada satu pohon di sebrang hutan. Lebih tepatnya berada di daerah bekas kebakaran. Di daerah itu, masih ada satu pohon yang masih bertahan dan masih utuh. Pohon tersebut berada di samping puing puing rumah kakek yang sudah habis terbakar dan juga berada di sekitar danau. Pohon tersebut adalah pohon hornbeam yang berbunga sakura berwarna merah muda”


“aku sudah berbicara dengan para pemuda yang sedang mengungsi disini. Mereka bilang kalau mereka sudah mempersiapkan untuk keamanan hutan dan keamanan pepohonan dari penebang hutan ilegal. Saat itu juga, aku meminta tolong kepada pada penduduk desa disini khususnya para pemuda petugas penjaga hutan untuk menjaga pohon hornbeam tersebut. Aku meminta tolong kepada kalian agar kalian menambah ketat dan menambah penjagaannya”


“ada alasan sendiri mengapa aku melakukan ini. Jadi aku meminta tolong kepada kalian dengan bersungguh sungguh. Aku harap, kalian semua bsia menjaga pohon tersebut demi aku. karena pohon itu sangat penting bagiku” jelas Johan lebar panjang.


“sangat penting? Apa maksudnya?” tanya om om disampingnya.


“entah kenapa, aku merasa kalau pohon tersebut memiliki jiwa. Aku tidak tau apa yang ku fikirkan tapi yang pasti, aku merasa gelisah saat mendengar dan berfikir kalau pohon tersebut dalam bahaya” jawab Johan.


“kalau masalah penjagaan pohon, kami sudah mempersiapkannya” sahut para pemuda dari kejauhan seraya mengangkat tangan.


“hah? ada apa? Aku kurang dengar. tolong sedikit berteriak” jawab Johan.


“kami sudah membuat satu kelompok kerja yang akan bertugas untuk menjaga pepohonan di hutan. Masalah konsumsi, itu sudah di atur oleh para tetua. Menggarisbawahi apa yang sudah Johan katakan barusan, kami sudah sepakat untuk menyiapkan 3 orang sekaligus di bawah pohon yang sudah Johan katakan. Keinginan Johan adalah perintah bagi kami” jelas seorang pemuda dengan lantang.


“i-itu keren. Tapi jangan menganggap kalau aku adalah pemimpin kalian. Aku hanya meminta bantuan kalian dan aku tidak memaksakan kapasitas kalian jika kalian kelelahan dan tidak sanggup” jelas Johan.


“apa Johan meragukan puluhan pemuda disini? kita sudah hidup bersama dengan binatang buas dan tanaman beracun sejak kecil. Permintaanmu itu bagaikan secuil tugas dari apa yang biasa kita lakukan. Dengan ini, kita menerima dan mampu untuk melaksanakan tugas tersebut” tegas pemuda tersebut.


“baik, aku sangat berterimakasih sekali kepada kalian. Permintaanku itu hanya untuk esok hari saja, dan selepas itu kalian bisa beristirahat dan tidak usah memaksakan diri. Hanya untuk sehari saja, oke!” jelas Johan mengacungkan jempolnya.


“oke may bradah” jawab pemuda tersebut.


“apa hanya itu permintaanmu?” tanya om om disampingnya.


“sudah selesai, hanya itu saja” jawab Johan menganggukkan kepalanya.


“aku kemari hanya untuk menyerahkan mainanku kepada anak anak kecil itu dan memberikan permintaanku. Aku senang saat kalian mau menerima dan melaksanakan permintaanku. Aku akan kembali, sampaikan kepada pak ketua, wakil, bendahara dan sekertaris kalau aku baru saja kemari. Aku tidak ingin mengganggu istirahat mereka” jelas Johan seraya berdiri dari tempat duduknya.


“apa kau sudah akan kembali? apa itu tidak terlalu cepat?” tanya tante tante disampingnya.


“akan menjadi masalah kalau aku tidak kembali secepatnya. Kalau begitu, aku akan pulanggg‼‼ selamat tinggal semuanyaaaa‼‼” teriak Johan seraya melambaikan tangannya lebar lebar.


“hati hatiii” ucap mereka semua serentak.


Johan pun berdiri di tengah tengah lingkaran duduk mereka dan kemudian berjalan ke arah pintu keluar. Sata itu juga, Johan keluar dari gedung dan kemudian menutup pintu gedung dari luar. Saat itu pula, Johan mendapat jika pak Abdi sedang merokok dan bersandar di pintu luar mobilnya.


“apa sudah selesai?” tanya pak Abdi.


“sudah, ayo kita pulang” jawab Johan.


“secepat itu? apa yang kalian bicarakan didalam?” tanya pak Abdi.


“rahasiaaaaa” ucap Johan sedikit bersuara membisik.


“hmph, dasar bocah” jawab pak Abdi seketika memasuki mobil.


“hehehe” jawab Johan seraya memasuki mobil.


Saat itu pula, pak Abdi pun mulai menancap gas dan kemudian beranjak pergi dari kantor desa tersebut. Di saat yang bersamaan pula, Odessa bersama dengan seorang lelaki di sampingnya sedang mengintip dari belakang pohon mangga di depan gedung.


Nyatanya, Odessa Ai berdiri dengan tegak bersama dengan seorang lelaki yang sedang berdiri dibelakangnya. Lelaki yang lebih tinggi dari Odessa itupun memegang kedua pundak Odessa dari belakang dengan halus dan sedikit menariknya.


“ayo sayang, kita pulang” ucap lelaki tersebut kepada Odessa Ai.


“hmm, iya” jawab Odessa dengan suara serak basaknya.


“maafkan aku, Johan” fikir Odessa dalam hati seraya mengusap air matanya.


Mereka berdua pun seketika berjalan menjauhi daerah gelap hutan belakang gedung tersebut. Benar benar sepi dan tidak ada penerangan. Dan juga tidak akan mungkin seseorang akan melewati jalanan yang sepi nan gelap tersebut.


Disisi lain, Johan dan pak Abdi pun kembali bernyanyi nyanyi dan berteriak kesana kemari di dalam mobil. Lagu milik legenda Iwan Fals pun berputar keras dari radio mobil. Spontan mereka menyanyikan lagu tersebut tanpa lelah hingga mereka sampai di depan rumah Johan yang berada di kota pada jam 9 malam.


Pak Abdi bersama dengan Johan pun memasuki rumah Johan. Saat mereka melangkahkan kaki memasuki rumah, nyatanya bau masakan dari dapur memenuhi ruang tamu disana. Ibunda Johan dan paman Surya saat itu sedang memasak masakan di dapur bersama sama.


Spontan Johan dan pak Abdi pun berjalan menuju dapur yang berada bersebelahan di ruang tengah. Saat itu pula, Johan dan pak Abdi begitu terkejut dengan dapur yang benar benar berantakan dengan bahan masakan. Tepung bertaburan kesana kemari memenuhi meja masak dan kompor. Begitupula dengan rambut keduanya yang benar benar memutih sebab tepung.


“waahh asyiknya kalian berdua main di dapur” ucap pak Abdi kepada paman Surya dan ibunda Johan.


“hehehe, ini memang seru. Apa kau mau ikutan?” ucap paman Surya.


“lantainya licin loh” ujar sang ibunda.


“kalian berdua romantis bange-“ ucap pak Abdi terhenti.


“a-apa? Apa yang?” ucap Johan memasang raut muka benar benar murka.


“ehh? HEEAAAHH‼??” gumam paman Surya begitu ketakutan.


“apa yang kalian berdua perbuat?” tanya Johan memasang raut muka raja iblis mengamuk.


“gawat, aura nya serem banget mirip gerbang kedelapan guru Guy” ucap pak Abdi.


“ki-kita bisa jelaskan semuanya” jawab sang ibunda dengan suara begitu terbatah batah.


“cepat mandi dan bersihkan semua ini. Dalam lima menit, aku akan membantu kalian memasak di dapur. Kalau dapurnya masih kotor, aku akan membeli masakan dari luar dan akan memakannya sendiri di dalam kamar tanpa kalian” ancam Johan dengan aura begitu menyeramkan.


“i-iya siap” jawab mereka berdua serentak seraya hormat kepada Johan.


“dasar mereka berdua” ucap Johan menggelengkan kepala dan menepuk jidat.


“kupikir kau lebih dewasa dibandingkan mereka bedua” ucap pak Abdi.


“sudah, jangan memikirkan mereka lagi. Pak Abdi duduk saja di ruang tengah, aku akan membuatkan kopi dari desa” ujar Johan.


“siappp, makasih ya” jawab pak Abdi berjalan ke arah sofa tengah.


Selepas Johan menuangkan air panas dari termos air panas, Johan memberikan kopinya kepada pak Abdi yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Saat itu, Johan berfikir kalau dirinya sudah sedikit kedinginan. Johan pun berjalan menuju kamarnya hendak mengganti pakaiannya.


Saat Johan menaiki tangga, Johan mendengar suara sedikit berisik dari kamarnya. Suara pukulan bertubi tubi berasal dari kamarnya di lantai atas. Johan pun bergegas membuka pintu kamarnya di lantai atas.


Saat Johan membuka pintunya, benar saja jika saat itu, terdapat Nyoman, Farel, Jehian, Kahfi, dan Emilia disana. Mereka berlima sedang bermain perang bantal dan saling memukul menggunakan bantal satu sama lain.


“ohh, ha-hai Johan. Selamat datang” ucap Emilia.


“hai Johan, ini benar benar seru” ucap Jehian dengan nafas ngos ngosan.


“apa kau mau ikut? Tapi bantalnya sudah habis” ucap Nyoman.


“aku akan ikut, tapi tidak menggunakan bantal, aku akan memakai sapu” ucap Johan dengan ekspresi marah tingkat dewa.


“eh, jo-Johan? Ki-kit-kita bisa jelaskan semua ini” ucap Farel dengan sedikit memasang raut muka ketakutan.


“kalian berempat akan berperang bersamaku” ucap Johan tersenyum jahat seraya menatap tajam mereka semua.


“ehh? Apa kak Lia tidak ikut?” tanya Kahfi.


“Lia tidak akan ikut dalam aktivitas lelaki sejati. Kita akan berperang sepuasnya disini. Kita akan saling membunuh di sini karena kalian sudah berani mengotori kamarku” ucap Johan dengan tawa jahatnya.


“ayo, siapa takut” ucap Jehian dengan nada bicara begitu percaya diri.


Nyatanya, Johan pun ikutan berperang bantal bersama dengan mereka semua. Namun perang bantal yang satu ini lebih ekstrim dibandingkan apa yang mereka lakukan sebelumnya. Johan bersama dengan teman lelakinya itu bertarung menggunakan bantal dengan begitu kasar dan keras hingga Emilia merasa kalau mereka sudah berlebihan.


Emilia yang hanya duduk di atas ranjang Johan hanya bisa melihat sengitnya pertarungan kelima lelaki yang sedang berperang di atas futon yang saling menyatu satu sama lain. Johan memukul kepala Jehian, sebaliknya Jehian memukul perut Johan. Nyoman memukul kaki Kahfi. mereka saling menyerang satu sama lain tanpa adanya aliansi.


Hingga sampai nafas Johan terengah engah, Johan pun benar benar sudah tidak kuat untuk melanjutkan peperangan lagi sebab kelelahan padahal Johan baru saja berperang selama 2 menit.


“heh? Apa sudah menyerah?” tanya Jehian.


“aku udah capek parah” jawab Johan dengan nafas ngos ngosan.


“padahal baru 2 menit, tapi kau udah tepar” ucap Nyoman.


“aku jadi ragu, apa memang benar Johan menang bertengkar melawan 14 orang lelaki dewasa dan menang melawan paman Surya” ucap Kahfi.


“aku juga tidak percaya kalau aku bisa menang melawan mereka semua” jawab Johan seraya seketika meletakkan tubuhnya ke atas ranjangnya disamping Emilia yang sedang duduk.


“benar saja kalau Johan memang terlahir dengan kondisi tubuh yang lemah” ucap Emilia seraya memegang jidat Johan.


“bahkan Johan ngga mengeluarkan keringat. Benar benar tubuh yang tidak sehat” ucap Emilia mengusap dahi Johan yang begitu kering.


“aku tidak berkeringat? Apa iya?” tanya Johan memegang dahinya.


Saat itu pula, Johan memegang telapak tangan Emilia yang tengah mengusap dahinya. Merasa seperti ada yang aneh, Johan pun mengangkat tangan Emilia dan melihatnya. Ternyata Johan menggenggam jari jemari milik Emilia dengan begitu erat.


“hey hey hey, kalau bucin jangan disini. Dasar kalian berdua kampred” ucap Kahfi dengan nada juteknya.


“iya tuh, bikin iri” jelas Farel.


“hah? dasar kalian semua pada jomblo. Benar benar kasihan” ucap Jehian.


“hmm, jadi Jehian sudah tidak jomblo lagi ya?” tanya Emilia.


“bukan begitu. Pemilihan katanya kurang tepat. Bisa dibilang, aku akan mengakhiri siklus kejombloanku saat ini” ucap Jehian dengan nada begitu percaya diri.


“ada apa? Apa kau masih berharap dengan perempuan yang kau temui di rumah sakit itu?” tanya Nyoman.


“yoi, dia manis parah. Apalagi saat aku melambaikan tangan kepadanya, dia melambaikan tangan balik kepadaku dan tersenyum kepadaku. Benar benar membuat jedug jedug seperti editor berkelas” jelas Johan.


“apa kau yakin bisa bertemu dengannya lagi?” tanya Kahfi.


“dia siapa? Jehian bertemu dengan siapa? Kok aku gatau?” tanya Johan.


“jadi, Jehian sempat bertemu dengan perempuan yang ada di rumah sakit saat itu. Dan saat itu pula Jehian suka dengannya. Kalau tidak salah namanya itu Callysta” jawab Emilia.


“Callysta? Callysta siapa?” tanya Johan.


“banyak yang bernama Callysta. Bahkan di sekolah kita terdapat 3 anak bernama Callysta” ucap Farel.


“yaahh, aku lupa nama panjangnya. Yang pasti nama panggilannya itu Callysta” jawab Jehian.


“jadi begitu, aku juga ada kenalan bernama Callysta juga. Tapi aku tidak yakin Callysta ku adalah perempuan yang kau cari” ucap Johan.


“Callysta mu?” tanya Emilia dengan tatapan tajam.


“yaahh, e-enggak. Maksudnya dia muridku memasak. Dia ingin aku ajari memasak” jawab Johan.


“oh” jawab Emilia dengan nada jutek memalingkan wajahnya dari Johan.


Saar itu pula, Johan teringat jika dia berjanji akan membantu paman Surya dan mamahnya untuk memasak di dapur. Saat itu pula, Johan membuka pintu lemarinya dan kemudian mengambil pakaian ganti dari sana.


“kalian tunggu saja di sini. Aku akan ganti baju di kamar mandi” jelas Johan.