
“tenang aja, untungnya desa ini sudah memiliki pasukan keamanan khusus penjagaan hutan dari relawan para pemuda di desa ini. Aku percaya kepada mereka. Pasti mereka bisa mengatasi hutan ini dan menjaga selalu pohonmu. Aku janji selalu akan menjaga pohonmu” ucap Johan dengan senyum tulusnya.
“benarkah? Janji?” tanya Odessa.
“hmm, iya. Janji” jawab Johan.
“ohh iya, aku baru ingat. Sebentar lagi, aku akan pulang” ucap Johan.
“yaahhh, cepet banget pulangnya” ucap Odessa seraya memasang raut muka sedih.
“tenang aja. Besok lusa, aku akan kembali” jelas Johan.
“janji?” tanya Odessa.
“emm, a-aku tidak bisa janji. mungkin aku datang lebih lama dari itu. Tapi aku janji akan kembali kemari lagi” jelas Johan.
“gamau tau, pokoknya kamu harus bisa datang dua hari lagi” ucap Odessa dengan nada ngambek.
“i-iya iya, akan ku usahakan” ucap Johan.
“makasih” ucap Odessa dengan senyuman yang begitu tulus.
Sesaat setelah itu, di saat Johan yang sedang tiduran di kedua paha milik Odessa, nyatanya Aqila, Guntur, Ryu, Fathur, Juan dan Aji tengah berada di hadapannya hendak mengajak Johan untuk kembali ke kantor desa. Mereka berenam sedikit kesal karena di saat saat seperti ini, mereka malah sibuk buat bermesra mesraan dan tidur tiduran.
“ekheeemmm, permisi” ucap Ryu dengan nada sedikit kesal.
“ohh, i-iya maaf maaf, kak Johan lagi enak enakan tidur. Hehehe” ucap Johan dengan spontan beranjak dari tempat tidurnya itu.
“kak Johan, kita mau balik. Udah ngantuk” ucap Aqila.
“kalian mau balik? Yaudah ayo kita balik sama sama” jawab Johan.
“sipp, okeeee” ucap mereka semua berjalan terlebih dahulu.
“hey, Juan jangan lari” ucap Fathur mengejar Juan yang tengah berlari.
“hey, tunggu dulu” ucap Aji berlari sekuat tenaga.
“kalian semua jangan lari larian, kak Johan akan menyusul” teriak Johan.
“baikk” ucap serentak mereka semua.
“kalau begitu, mungkin setelah ini aku akan langsung pulang” ucap Johan kepada Odessa.
“apa kamu janji bakal balik lagi?” tanya Odessa.
“aku janji akan balik lagi kesini dan bawa kamu ke kota. Kita akan bersenang senang disana dan menghabiskan waktu bersama” ucap Johan dengan senyum tulusnya.
Seketika Odessa memeluk tubuh Johan dengan begitu erat seraya meneteskan air matanya hingga membasahi pundak kanan pakaian Johan. Nyatanya Odessa benar benar terharu, senang, bahagia, merasa aman, dan begitu nyaman saat berada di samping Johan. Namun semuanya akan hilang saat Johan hendak pulang ke rumahnya yang ada di kota.
“cepatlah kembali, aku selalu takut kalau kamu tidak cepat kemari” ucap Odessa dengan tangis pilunya berada di pelukan Johan.
“tenang saja, selama ada aku, kamu dan pohonmu akan selalu aman. Jangan takut, untuk sementara tunggu aku disini” ucap Johan memeluk erat tubuh Odessa.
“janji?” tanya Odessa.
“aku berjanji akan selalu menemani dan berada di samping Odessa Ai, seorang manusia perempuan yang selalu duduk disampingku” ucpa Johan.
Mendengar perkataan Johan seperti itu, entah kenapa hati milik Odessa begitu tersentuh. Odessa pun berfikir “andai saja Johan tau siapa aku sebenarnya, apakah Johan masih mencintaiku?”
“aku tidak akan menyalahkan Johan jika Johan takut kepadaku hanya karena aku seorang roh. Mungkin Johan akan sedikit menjauh dan pergi meninggalkanku. Sementara aku masih ingin berada di samping Johan. Jangan menjauh, aku akan selalu mengikutimu. Aku akan menjadi manusia yang Johan inginkan” fikir Odessa dengan memeluk tubuh Johan lebih erat lagi.
“hingga sampai ada seseorang yang akan menebang pohonku yang langka dan berharga, aku akan memanfaatkan waktu sebanyak mungkin bukan untuk menyelamatkan pohonku, melainkan akan selalu menghabiskan waktu dengan Johan. Sampai pohonku tertebang dan tubuhku terbelah menjadi dua, aku tidak akan menyerah untuk tetap bersama di samping Johan. Aku tidak akan mengecewakan Johan. Aku ingin selalu menghiburnya dan melihat senyum indahnya. Bagaimanapun juga, aku adalah roh biasa yang mencintai manusia biasa pula” fikir Odessa dalam hati.
“sampai hingga para penebang pohon melihat kayu pohonku yang langka dan berharga, aku akan tetap menemani Johan di kota. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin Johan kembali melakukan hal hal yang berbahaya dan mencelakai dirinya sendiri. Mungkin ikut ke kota bersama dengan Johan adalah satu satunya cara agar aku bisa menyelamatkan Johan dari orang orang berbahaya. Tetaplah di kota, Johan. Jagalah dirimu sendiri” fikir Odessa dengan isak tangis air matanya.
“entah kapan para penebang pohon akan datang ke pohonku dan menebang pohonku, saat itu aku akan menemani Johan di kota apapun yang terjadi. Apapun yang terjadi, aku tidak ingin Johan bertemu denganku lagi dan mempertaruhkan nyawanya demi bertemu denganku lagi” fikir Odessa dengan air mata berlinang di pipi.
“aku akan menemanimu ke kota, asalkan kamu bisa aman dari para penjahat di desa ini. Johan, aku akan selalu mencintaimu” fikir Odessa dalam hati.
Disisi lain, Johan pun di banjiri oleh fikiran fikiran dan perasaan perasaan yang buruk jika Johan meninggalkan Odessa seorang diri disini. Johan terbujur kaku tak berkutik saat fikiran dan perasaan buruk tersebut menyerang otaknya.
“bagaimana kalau Odessa di serang oleh para lelaki hidung belang itu lagi? dia hanyalah manusia perempuan biasa. Dia lemah dan tidak berdaya saat melawan lelaki dewasa” fikir Johan dengan keringat dingin.
“pokoknya, aku harus membawa Odessa secepatnya agar aku bisa mengamankannya dari para lelaki bejad disini. Bagaimanapun juga, para pemuda di desa ini bisa di andalkan dan pastinya mereka bisa menangani para penebang hutan liar” fikir Johan.
“jika saja pohon Odessa tertebang, aku tidak tau lagi akan semarah dan se kecewa apa Odessa kepadaku. Dia mungkin akan menamparku dan meninggalkanku. Jika saja aku membelikannya tanaman di sebuah pot yang baru, dia pastinya tidak mungkin bisa memaafkanku dengan begitu cepat. Aku akan berpesan kepada para pemuda di desa agar menyiapkan perlindungan khusus di pohon milik Odessa ini” fikir Johan dalam hati.
Mereka berdua benar benar terdiam di dalam pelukan mereka saat itu. Mereka sedang berfikir tentang rencana mereka untuk membahagiakan orang tercintanya. Saat itu pula, Johan pun sedikit melepaskan pelukannya.
“kalau begitu, aku pamit” bisik Johan.
“hati hati dijalan, aku mencintaimu” bisik Odessa perlahan melepas pelukannya.
Saat itu pula, mereka menganggap bahwa waktu kebersamaan mereka benar benar terasa begitu singkat. Mereka berdua berfikir kalau saja mereka akan menghabiskan waktu bersama di kota, itu pasti akan sangat menyenangkan.
“dadahhh, Johannn” teriak Odessa dari pohonnya seraya melambaikan jauh lengannya.
“aku akan segera kembali” teriak Johan melambaikan tangannya pula.
Johan pun berlari menyusul para anak kecil desa tersebut yang sudah meninggalkannya jauh di depan. Dengan begitu cepat, Johan memaksakan dirinya untuk bisa menyusul para anak kecil itu.
“heyy kalian, tungghu dhulu. Janghan larih” teriak Johan dengan nafas yang sudah begitu ngos ngosan.
“cepatlah kak Johan” teriak Guntur.
“cepatlah berlari atau kita akan meninggalkanmu” teriak Fathur.
“kalian jahat sekali” teriak Johan.
“semangat kak Johan” teriak Aqila.
“Iris akan selalu mendoakanmu disini. Semangatlah kak Johan. Berikanlah jiwa jiwa kesegaran dalam hati fisik kak Johan agar kak Johan dapat berlari kencang secepat kuda nil. Latom” teriak Aji seraya mengangkat AF nya tinggi tinggi.
“kuda nil tidak bisa berlari dengan cepat. Lagipula doa yang kau panjatkan sama sekali tidak mirip dengan Iris” teriak Johan.
“dasar kalian semua jaahhaaattt” teriak Johan dengan nafas yang sudah benar benar mencapai batasnya.
Pada akhirnya, Johan pun berhasil menyusul mereka dalam keadaan sudah banjir darah. Benar benar satu perjuangan yang keras mengingat bahwa Johan adalah anak yang terlahir dalam kondisi yang begitu lemah sama seperti Aji. Akhirnya, merkea pun berjalan seperti sebagaimana mereka berangkat.
Mereka saling bergandeng tangan dan bernyanyi di tengah tengah hutan yang cerah nan lebat. Seperti biasa, Aji pun di gendong oleh Johan karena dia sudah begitu kelelahan mengingat kondisi tubuh Aji benar benar sama seperti apa yang di derita oleh Johan. Sebagai kakak yang lebih dewasa, Johan ingin membantu meringankan beban Aji dengan cara menggendongnya.
Sesampainya di gedung, nyatanya mereka semua pun segera berlari menuju ke dalam gedung sementara Aji yang berada di gendongan Johan masih tetap berjalan seperti biasa. Akhirnya, sesampainya Johan memasuki gedung, Johan di panggil oleh ayah dan ibu Aji untuk menanyakan apa yang terjadi kepada anaknya itu.
“a-apa yang terjadi kepada anak kami?” tanya sang ibu Aji dengan begitu khawatir.
“tidak apa apa, kita semua bersama dengan teman temannya baru saja bermain. Tidak ada yang terluka. Hanya saja, Aji mungkin tertidur saat aku menggendongnya karena Aji sedikit kelelahan saat berlarian saat tadi” jawab Johan.
“hmm, baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak karena sudah menemani Aji untuk bermain” ucap sang ayah Aji.
“ehh, iya. Aku tidak melakukan apa apa” ucap Johan merendahkan diri.
“sebenarnya, aku hanya di ikuti oleh anak anak itu saat aku ingin berduaan dengan Odessa. Seharusnya aku bisa lebih lama lagi dengan Odessa, tapi mungkin…. Dahlah, jangan difikir terus” fikir Johan dalam hati.
“emm, maaf telah lancang karena pertanyaanku, tapi apakah Aji memang memiliki stamina dan tubuh yang lemah dari lahir?” tanya Johan dengan merendahkan nada bicaranya.
“iya, Aji terlahir dengan badan yang begitu kecil dan kekurangan gizi. Aji selalu kalah dalam kompetensi olahraga di desa karena staminannya yang sangat amat jauh lebih rendah dari anak perempuan sekalipun” jawab sang ibu Johan.
“kalau boleh jujur, aku juga merasakan hal yang sama seperti Aji” ujar Johan.
“hah? benarkah?” tanya ayah dan ibu Aji begitu terkejut.
“aku bahkan tidak dapat mengalahkan lomba lari dengan saingan perempuan di kelasku. Aku tidak bisa melakukan push up lebih dari dua dan hanya sit up saja yang bisa ku andalkan. Namun, aku terlahir di keluarga yang bisa dibilang msaih berkecukupan dalam ekonomi nya. Itulah kenapa aku tidak kekurangan gizi dan hanya penurunan stamina saja. Maka dari itu, hatiku bergitu tersayat ketika melihat semangat hidup Aji. Dia benar benar masih mampu melawan kejamnya dunia dengan tubuh mungilnya ini. Bagaimanapun juga, aku sudah menganggap Aji sebagai adik kandungku sendiri. Itupun jika kalian tidak keberatan” ucap Johan.
“Aji akan sangat senang mendapatkan kakak yang begitu baik dan bijaksana sepertimu. Kami sebagai orang tua benar benar merasa bahwa kita sudah gagal dalam memerankan peran yang begitu penuh akan tanggungjawab yang besar itu. Bahkan kita tidak mampu membeli susu penambah gizi untuknya saat dia masih kecil” ucap sang ibu.
“tidak ibu, anda tidak gagal. Begitupula dengan bapak. Kalian berdua sudah membesarkan anak yang patuh dan baik hati seperti Aji. Kalian harus bersyukur karena bisa melahirkan anak sebaik dirinya. Tidak semua anak sebaik Aji, bahkan saat seumuran Aji, aku selalu merengek meminta mainan kepada kedua orangtua ku dan juga kakek nenekku. Aku benar benar anak yang nakal dimana aku selalu mengompol saat tidur. Aku juga sering bermain di sawah bahkan aku pernah di gigit oleh serangga. Aku jauh lebih nakal dibandingkan Aji dimana di umur yang seperti Aji saat ini, aku sudah sering membentak kedua orangtuaku sendiri karena tidak diberikan kue kesukaanku. Aku benar benar sangat bangga dan iri melihat kalian berdua bisa melahirkan anak sehebat Aji” jelas Johan dengan senyum tulusnya.
“kita juga. Anak kita benar benar hebat” ucap mereka berdua membalas dengan senyum lebar mereka.
“kalau begitu, saat ini Johan sedang tidur di punggungku. Apa kalian bisa membawanya?” tanya Johan.
“ma-maaf, aku akan mengambilnya segera” ucap sang ayah Aji mengambil tubuh Aji yang berada di atas punggungnya.
“kalau begitu, Johan pamit dahulu” ucap Johan berjalan beranjak dari sana.
“terimakasih banyak” ucap mereka berdua.
Saat itu pula Johan kembali ke kamarnya dan membuka pintu kamar tersebut. Saat ia masuk, ia sedikit terkejut saat melihat sang ketua sedang duduk bersama dengan sang wakil, bendahara dan sekertaris di atas kasur yang sama bersama dengan pak sopir pembawa bahan pangan tersebut.
Mekeka berlima sedang bermain kartu UNO sembari dihibur oleh secangkir kopi hangat yang begitu pahit dan menendang. Johan benar benar tidak habis fikir dengan apa yang mereka semua lakukan bersama di atas kasur yang sama.
“apa yang kalia berlima lakukan?” tanya Johan.
“heyy, Johan. Apa kau mau ikut?” tanya sang sopir.
“ikutlah cepat, pak bendahara benar benar cupu saat main kartu ini. Dia sudah beberapa kali kalah bermain ini” sahut sang wakil.
“jangan berisik!, aku hanya mengalah kepada kalian yang jauh lebih cupu” sahut pak bendahara.
“kalian sedang bermain apa?” tanya Johan.
“kita sedang bermain kartu” jawab sang sekertaris.
“hey, tunggu dulu. Itu kan kartu yang ada di dalam tasku” ucap Johan sedikit kesal.