
Johan dan teman temannya serta bawahan dari sang papah Johan itupun segera masuk kedalam aula. Mereka mendapati banyaknya warga yang sedang tiduran di karpet yang sangat luas dan menutupi seluruh aula yang benar benar luas tersebut. Rasa kasihan serta prihatin menyertai fikiran mereka semua.
“mereka semua sudah diberikan makanan dan minuman yang layak walaupun rendahnya gizi dari pemerintahan daerah dan bantuan sosial dari masyarakat. Sampai sekarang, persediaan makanan mereka sudah tercukupi untuk beberapa minggu kedepan” ucap salah satu petinggi desa tersebut.
“em, baguslah kalau begitu” ucap Johan.
Di pojokan ruangan, Johan mendapati segerombolan anak kecil yang tengah bermain dengan mainan mereka masing masing. Johan begitu senang saat melihat kendisi anak anak di desa ini baik baik saja.
“rumah mereka terbakar di sebrang hutan. Dan mereka mengungsi disini karena mereka sudah kehilangan segalanya. Namun mereka masih bisa tersenyum di saat saat seperti ini. mereka begitu kuat” fikir Johan dalam hati.
Mereka semua pun kemudian memasuki salah satu ruangan yang didalamnya terdapat sebuah meja bundar yang sedikit lebih lebar bersama dengan para petinggi didesa itu. Mereka di persilahkan duduk disana dengan penuh rasa hormat dan kesopanan. Maka dari itu, segera mereka semua pun duduk di kusi nya masing masing.
Di meja bundar terebut, nyatanya terdapat 4 orang petinggi desa yang menjadi perwakilan dari desa tersebut. Bahkan Johan yang sebelumnya tinggal di sana sama sekali tidak tau jika desa mereka memiliki sistem pemerintahan yang pribadi. 4 petinggi di antaranya yaitu hanya sebagatas ketua, wakil, sekertaris dan bendahara. Keempat otang yang jujur dan teladan tersebut benar benar bisa memakmurkan desa tersebut.
Terdapat empat orang dari petinggi desa yang telah duduk disana, sementara terdapat enam orang dari bawahan papah Johan. Dan juga, tambahan 5 orang yaitu adalah Johan dan teman temannya. Limabelas orang duduk di meja bundar tersebut dengan khidmat dan penh rasa hormat kepada sesamanya.
“sebelumnya, saya sebagai ketua dari dusun ini benar benar merasa terhormat bisa kedatangan tamu dari luar desa. Kami sudah menerima kabar kalau cucu dari pak Adhipura Sarengga Mahesa selaku mantan dari ketua desa ini telah datang” ucap sang ketua desa tersebut.
“jadi anda adalah pengganti ketua yang baru?” tanya salah seorang bawahan dari papah Johan.
“benar, saya akan menggantikan tanggungjawab beliau. Meskipun saya tidak sebijak dan sepandai beliau, namun saya akan berusaha semaksimal mungkin” ucap tegas sang ketua tersebut.
Mendengar hal itu, seketika Johan terkejut setengah mati. Pasalnya Johan benar benar tidak tau kalau kakeknya sebenarnya adalah seorang ketua dari desa tersebut.
“jadi, kakek adalah ketua dari desa ini sebelumnya?” tanya Johan berteriak begitu terkejut.
“melihat ekspresimu itu, sepertinya kakekmu masih belum memberitahukan kepadamu satupun. Sebelumnya, kakekmu adalah ketua di desa ini yang menjadi kepala dari desa ini. tidak hanya ketua, beliau adalah pemimpin desa ini. beliau mengurus keuangan, mengurus semuanya seorang diri. Sebelum beliau meninggal karena insiden kebakaran, beliau berpesan kepada saya kalau saja saya harus melanjutkan tanggungjawab beliau. Maka dari itu, saya akan melaksanakan apa yang beliau katakan” ucap sang ketua.
“walaupun beliau benar benar pintar serta bijak, beliau sama sekali tidak angkuh dan selalu sopan kepada warga di desa ini. Kita tidak yakin kalau kita berempat bisa menggantikannya sebagai ketua yang baru” ucap sang wakil.
“emm, jadi begitu” ucap Johan menganggukkan kepalanya.
“kalau begitu, apakah pelaku sudah di beri pelajaran oleh hukum disana?” tanya sang wakil.
“sayangnya, kita tidak sempat untuk melakukan itu” jawab salah seorang dari teman papah Johan.
“tunggu tunggu, jadi kalian semua sudah tau siapa dalang dari pembakaran hutan ini?” sahut Johan dengan suara lantang.
“heh Johan, jangan berteriak seperti itu, itu tidak sopan” bisik Emilia sedikit menarik pakaian Johan.
“jadi kalian semua sudah tau siapa dalang dari pembunuhan kakekku?” tanya Johan.
“sayangnya kau masih belum di beritahu siapa orangnya” ucap sang wakil desa tersebut.
“kita semua sudah tau siapa orangnya. Sebentar lagi, kita akan menemui orang tersebut” ucap salah seorang teman dari papah Johan.
“baiklah, aku akan menghajarnya sampai habis tak tersisa” ucap Johan menggumam seraya mengepal tangannya begitu keras
Melihat hal itu, seketika sang ketua pun berfikir kalau Johan memang masih benar benar belum diberitahu siapa orang dibalik pembakaran hutan tersebut. “akan sangat disayangkan jika anak itu masih belum diberitahu siapa dalangnya. Aku takut jika dia tidak bisa menerima fakta” fikir sang ketua dalam hati.
“apa kalian sudah makan? saya akan menyiapkan makan malam untuk kalian semua” sahut sang sekertaris desa.
“ti-tidak perlu. Kita semua usdah berhenti beberapa kali untuk beristirahat dan membeli makanan di rest area. Kalian hemat lah bahan makanan disini untuk para pengungsi” jawab salah seorang bawahan papah Johan.
“baiklah, kami pergi dahulu. Terimakasih atas jamuan nya dan terimakasih banyak karena telah menyambut kami” ucap salah seorang teman papah Johan seraya berdiri dari tempat duduknya. Seketika semua teman dari papah Johan, begitu pula dengan Johan dan semua teman temannya pun berdiri dari tempat duduknya.
“baik, kami juga benar benar tersanjung akan kehadiran kalian semua” ucap sang ketua berdiri bersama dengan ketiga pengurus lainnya.
Kemudian, mereka semua pun berjalan pergi dari sana dan kemudian kembali ke dalam mobil. Sesampainya di mobil, sang sopir dari Johan dan semua temannya tersebut pun mengambilkan sebelas buah senter dan dibagikannya kepada Johan dan keempat temannya, kemudian sisanya beliau berikan kepada teman temannya.
“dikarenakan jalanan yang akan kita tempuh bener bener tidak bisa dilewati oleh kedaraan, jadi kita akan berjalan kaki dari sini. Kita akan membawa senter satu persatu. Jangan khawatir, senter ini bener bener sangat terang kok” ucap salah seorang teman dari papah Johan.
Seketika Nyoman pun dengan iseng menyalakan senter miliknya itu. Dan dengan begitu terkejutnya mereka semua, nyatanya senter tersebut benar benar sangat teramat terang.
“buseettt bener bener terang” ucap Nyoman.
“kalau begitu, ayo kita berangkat” ucap salah seorang teman papah Johan.
“hmm iya” ucap mereka semua bersamaan.
Nyatanya, mereka berjalan secara horizontal dan berbaris secara rapih karena saat itu medan perjalanan mereka begitu sempit. Tiga diantara teman papah Johan berada di paling depan sementara tiga lainnya berada di paling belakang. Johan dan keempat temannya itupun berada di barisan tengah.
Mereka semua menyalakan lampu senter tersebut secara bersamaan dan seketika menerangi semua medan yang mereka lalui. Bagaimanapun juga, sebelas senter yang memiliki daya begitu terang benar benar berlebihan dan mencolok. Sebelas senter tersebut benar benar sangat terang dan menerangi semua hal di kanan dan kiri mereka.
Mereka berjalan melalui bebatuan besar dan pepohonan jati yang menjulang tinggi. Merkea juga mengarahkan lampu senter mereka di seluruh arah hingga mereka bisa menerangi hutan kayu jati tersebut.
“senternya bener bener luar biasa” ucap Jehian.
“iya, aku ngga bisa bayangin gimana kalo kita nggak ada senter. Pasti bener bener gelap gulita banget disini” ujar Farel.
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke arah utara dari sana dan kemudian melihat ujung dari hutan jati tersebut. Terdapat beberapa rumah kosong yang berpencar begitu acak di hutan tersebut. Hingga sampai mereka keluar dari pepohonan jati, nyatanya mereka menginjak semacam bebatuan halus yang akan hancur saat mereka injak.
“ehh? Ini apa? Bener bener aneh” ucap Johan.
“iya, kita menginjak apa?” tanya Nyoman.
“sekarang, kalian menginjak arang dari sisa sisa kebakaran hutan. Ternyata kebakaran hutannya telah berhenti sampai di sini” ucap salah seorang teman papah Johan.
“kalau begitu, jadi hutan jati ini aman dari kebakaran?” tanya Jehian.
“tidak, sebenarnya kayu jati di hutan ini benar benar sangat amat luas. Maka dari itu, banyak sekali kayu jati yang hilang disini karena kebakaran. Kita akan berjalan hingga kita bisa melihat danau di samping kiri kita. saat ini, kita sudah berada di sebrang hutan. Sebenarnya, hutan ini sangat luas, dan kenapa kita melihat lahan ini sudah kosong, itu karena lahan ini sudah terbakar habis. Kumpulan arang disebarluaskan agar tanah menjadi subur” ucap salah seorang teman papah Johan.
“hah? dimana danaunya?” tanya Emilia.
“didepan akan ada danau. Semasa aku kecil, aku seringkali memancing bersama nenek dan kakekku di danau dan sungai itu. aku tidak menyangka kalau hutan yang mengelilingi rumahku dan rumah semua orang disini hangus terbakar” ucap Johan.
“kalau begitu, semakin cepat semakin baik” ucap salah seorang teman papah Johan.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka hingga pukul 7 malam. Nyatanya mereka benar benar kelelahan akan perjalanan tersebut. Hingga sesampainya di samping hulu danau tersebut, mereka melihat satu rumah tua yang berwarna hitam pekat akibat bekas dari kebakaran hutan tersebut.
“itu adalah rumahku dahulu. Rumahku yang terbuat dari kayu yang untungnya masih belum terbakar seutuhnya” ucap Johan mengarahkan senternya ke arah rumahnya itu.
“apa kita harus kerumahmu?” tanya Farel.
“tidak, aku ingin segera bertemu siapa pelaku kebakaran hutan ini” sahut Johan.
“baiklah, kalau kau ingin segera bertemu. Kita akan bertemu secepatnya” ucap salah seorang teman papah Johan.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju pelaku pembakaran hutan tersebut. Johan benar benar sudah tidak sabar ingin bertemu pelaku yang sebenarnya. Hingga sampai mereka pun mengunjungi salah satu tempat pemakaman. Mereka membuka pagar pintu pemakaman tersebut dan mulai memasuki pemakaman itu.
Mereka berjalan di samping banyaknya pemakaman kanan dan kiri jalan mereka. Suara burung hantu, suara jangkrik, serta suara kodok saling bersahutan satu sama lain. Angin dingin malam mulai menyambut mereka semua didalam pemakaman tersbut. Sang teman dari papah Johan mengarahkan mereka di salah satu semacam pendapa tua di tengah tengah pemakaman tersebut.
Di satu pendapa kecil, terdapat adanya pemakaman sang nenek, sang kakek, sang papah Johan dan satu kuburan orang lain. Nyatanya, Johan sedikit emosi karena teman dari papah Johan mengarahkan mereka ke pemakaman sang papah dan kakek terlebih dahulu sebelum mereka mengarahkannya ke pelaku pembakar hutan tersebut.
“lah kok? Kenapa malah ke arah kuburan papah Johan?” tanya Emilia.
“kita kan memang seharusnya bertemu dengan pembakar hutan itu” ucap Johan begitu emosi kepada teman papah Johan.
“pelakunya sudah tenang di alam sana” ucap salah satu teman papah Johan.
“hah? maksudnya om?” tanya Johan begitu kebingungan.
“papah kamu sendiri yang membakar hutan ini” ucap teman dari papah Johan.
“hah? aneh aneh aja. Hutan ini adalah tempat kampung halamannya. Tidak mungkin papah yang bakar” teriak Johan di tengah tengah kuburan.
“aku tidak menyalahkanmu kalau kamu tidak percaya dengan fakta ini. Tapi aku sudah benar benar berkata dengan sangat jujur kalau papahmu sendiri yang membakar hutan” ucap sang teman dari papah Johan.
“kenapa papah Johan melakukan hal itu?” tanya Emilia.