Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 44, Batuk Berdarah



Mereka semua pun seketika mendatangi Emilia yang tengah duduk sendirian di dapur. melihat Emilia yang hanya seorang diri di dapur, mereka semua bertanya tanya dimanakah Johan berada.


“ehh? Sendirian aja?” tanya Jehian.


“hehehe, iya” jawab Emilia.


“dimana Johan?” tanya Farel.


“aku disini” ucap Johan dengan mata yang bengkak sehabis menangis.


“ehh? Kau abis dari mana aja? apa kau membiarkan Emilia memasak sendiri?” tanya Kahfi.


“hehehe maaf, aku baru saja selesai mandi di dalam kamar mandi. Lagipula Emilia juga sudah bisa memasak sendiri kok” ucap Johan berjalan menghampiri mereka semua.


“btw kenapa matamu bengkak?” tanya Farel.


“ehh? Jadi mataku bengkak ya, hehehe. Aku abis cuci muka tapi secara tidak sengaja busa sabunnya masuk kedalam mataku. Sampai sekarang masih perih tapi udah gapapa kok, ini udah hal yang biasa” ucap Johan dengan senyum palsunya.


“padahal aku penasaran dengan masakanmu loh” ucap Nyoman.


“hehehe maaf, aku baru aja selesai mandi dan nggak sempat bantuin Emilia masak” jawab Johan.


“yaudahlah, sekarang cepat ganti baju sana” sahut Jehian.


“siappp” ucap Johan seketika berjalan ke tangga atas hendak menuju ke kamarnya.


Seketika saat itu pula, mereka semua menanyakan tentang keadaan Johan yang begitu aneh saat itu kepada Emilia. Mau tidak mau Emilia harus mengatakan semuanya dengan begitu jujur dan jelas.


“ada apa dengan Johan?” tanya Jehian kepada Emilia.


“ini bukan masakanmu kan?” tanya Kahfi.


“kenapa Johan menangis?” tanya Farel.


“apa kau menggigit Johan?” tanya Jehian


“ada apa dengan jari telunjukmu?” tanya Nyoman.


“sabar dulu, sabar. Tanya nya satu satu napa” ucap Emilia.


Saat itu pula, Emilia benar benar menceritakan semuanya blak blakkan tanpa ada pengurangan cerita. Dengan jujur dan jelas, Emilia mengatakan semua kronologi apa saja yang dia lakukan bersama dengan Emilia. Satu persatu, pertanyaan mereka terbayarkan dengan jawaban yang memang sesuai fakta.


“hmmm, jadi begitu” ucap Farel menganggukkan kepalanya.


“biarkanlah saja dia dahulu” ucap Jehian.


“dia benar” ucap Farel.


“bagaimanapun juga, dia masih merasa kehilangan. Apa itu benar?” ucap Kahfi.


“iya, benar” jawab Nyoman.


“kalau begitu, dia sudah mempermudah pekerjaanku, sekarang adalah waktuku untuk memasukkan bahan bahan ini kedalam kuah kaldu sup tersebut” ucap Emilia.


“tunggu dulu, aku akan bantu. Aku masih ingin belajar memasak” sahut Johan berjalan ke arah bawah dari lantai atas.


Johan pun berlari ke arah bawah dari lantai atas dengan dalam keadaan sudah berganti pakaian. Sesaat setelah itu, Johan mendatangi dapur dan kemudian memutuskan untuk membantu Emilia untuk memasak.


“aku akan membantu memasak walaupun mungkin ini sedikit telat” ucap Johan.


“tidak apa, tidak usah. Ini udah mau selesai kok” jawab Emilia.


“tapi aku ingin bantu, lagipula mungkin jarimu sudah tergores. Kau butuh alkohol untuk menghilangkan bakterinya di lukamu” ucap Johan.


“tidak usah, air liur adalah antibakteri terampuh untuk menghilangkan bakteri” ucap Emilia.


“jangan bodoh, mana ada hal seperti itu. Malah bahkan di dalam mulut adalah sarang bakteri. Yang ada adalah lukamu akan malah kemasukkan bakteri di dalam mulut. Sekarang ambil alkohol swab dari kotak P3K dan usap luka mu itu. Aku yang akan memasak” ucap Johan dengan begitu perhatian.


“hmm, terserahmu” ucap Emilia.


Saat itu pula Johan mengambil alih dapur. Johan mulai memotong dengan begitu rapih dan menyiapkan bahan bahannya. Dikarenakan kuahnya sudah matang dari tadi, maka dari itu, Johan hanya bertugas untuk memasukkan bahan bahan tersebut kedalam kuah yang mendidih dan mematangkannya menggunakan itu.


Johan menggunakan api besar agar bahan bahannya matang dengan lebih cepat sembari memasukkan segelas air putih agar kuahnya tidak terlalu menguap. Selepas itu, Johan pun menyelesaikan bagian akhir finishing dari masakannya dan siap untuk disajikan.


“kalian sudah membeli nasi kan diluar sana?” tanya Johan.


“sudah dong” jawab Kahfi.


“nahsip. Sekarang ambil piring dan letakkan di meja makan. kita akan makan bersama di sana” ucap Johan dengan begitu semangat.


“siap” jawab Kahfi.


“perutku sudah bergejolak keroncongan inimah” ucap Nyoman.


Pada akhirnya, mereka semua pun duduk di satu meja makan yang sama dengan satu menu yang sama. Dengan nasi yang berada di piring masing masing, mereka semua mengambil sup di meja tengah secara bergantian. Kemudian, satu persatu dari mereka mencicipi sup yang dibuat oleh Johan itu.


“waahh, ini enak banget parah” ucap Farel dengan begitu menikmati sup tersebut.


“pas banget sama nasi inimah” jelas Jehian.


“bener bener enak banget, masakan Emilia” ucap Johan memakan masakannya sendiri dengan begitu lahap.


“siapapun yang masak ini, dia pasti adalah orang yang sangat hebat” ucap Jehian sedikit sindiran.


“iya tuh, mungkin Emilia dikasih resep ini dari neneknya? Atau dari papahnya?” tanya Johan.


“ehh? It-itu aku sudah lupa” jawab Emilia dengan begitu ragu.


“orang yang menemukan resep ini patut di acungi jempol” ucap Farel dengan sindiran kerasnya.


“bagaimanapun juga, ini akan sangat cocok jika ada ikan segar di dalamnya. Apalagi dengan ikan air tawar yang sedikit amis saat dimasak” ucap Nyoman dengan sindiran dewa miliknya.


“sepertinya ini resep dari pedesaan, soalnya aku beneran tidak pernah menemukan masakan seperti ini sebelumnya” ucap Kahfi.


“ehh, i-inikan?” tanya Johan begitu terkejut.


Seketika saat itu pula, Johan mendapati ada darah yang menetes di samping piringnya. Darah merah yang sedikit gelap itu menetes di samping piring Johan. Melihat hal itu, Johan begitu terkejut bukan main akan adanya tetesan darah di samping piringnya.


Johan pun seketika melihat lilitan perban di tangan kirinya namun sepertinya luka nya sama sekali tidak bocor satupun. Selepas itu, Johan pun mengusap hidungnya menggunakan tangan kanannya. Dengan begitu banyaknya darah, Johan terkejut kalau Johan memang mimisan saat itu.


Seketika Johan beranjak dari tempat duduknya dan kemudian berlari menuju ke kamar mandi.


“ma-maaf aku harus ke kamar mandi” ucap Johan seraya menutup hidungnya menggunakan pergelangan tangan kanannya.


Saat itu pula Johan berlari menuju ke kamar mandi dan kemudian membiarkan darah yang keluar dari hidungnya menetes ke lantai kamar mandi. dalam kondisi jongkok di lantai kamar mandi, Johan membiarkan semua darah yang keluar dari hidungnya itu menetes membanjiri lantai kamar mandi.


“kalau kamu sedang mimisan, jangan disumbat dan jangan di hisap apalagi menoleh ke arah atas. Biarkan saja darah kotor itu keluar maka dari itu tubuh kamu hanya akan tersisa darah yang bersih” ucapan dari sang ibunda kandung Johan yang seketika terbesit dalam fikiran Johan.


“semua tentang ucapan mamah, aku akan selalu mengingatnya” fikir Johan dalam hati.


Sesaat setelah itu, Johan pun mulai batuk batuk dengan begitu keras. Johan batuk dengan begitu parah karena alasan yang tidak jelas. Saat itu pula saat Johan berusaha mengeluarkan dahak saat batuk, nyatanya Johan benar benar terkejut saat dirinya memuntahkan dahak tersebut.


“a-ada apa ini? kenapa perutku serasa di pukul dengan keras” ucap Johan dengan suara lirih kesakitan.


Johan pun mulai batuk tiada henti dengan Johan yang selalu mengeluarkan darah saat batuk. Setiap batuk, Johan berusaha mengeluarkan darah dari tenggorokannya. Telinganya serasa begitu gatal dengan kedua bola mata yang panas sementara mimisan yang tidak ada hentinya.


“ada apa denganku?” ucap Johan dengan suara yang melemah.


Disaat Johan berlari ke kamar mandi, nyatanya semua teman teman Johan mengira bahwasanya Johan terbawa perasaan saat mereka semua menyindir Johan. Pada dasarnya, mereka berfikir kalau sindiran mereka terlalu keras hingga membuat Johan mengingat keluarganya.


“apa kita tidak terlalu berlebihan tadi?” tanya Farel.


“emm, kurasa tidak” ucap Jehian.


“kalau begitu, kita adalah penyindir hebat” sahut Kahfi dengan membanggakan dirinya sendiri.


“kau malah bangga karena menyindir orang? Dasar ODGJ” kata Nyoman seraya menyuap sesendok nasi.


“tutup mulutmu dasar mulut bau!” sahut Kahfi terpancing emosi.


“tapi kurasa, ada yang aneh dengan Johan” ucap Emilia seraya memasang raut wajah khawatir.


“kenapa? Ada yang salah?” tanya Jehian.


Emilia adalah perempuan yang paling mengerti Johan. Emilia faham betul akan sifat Johan karena Emilia selalu memperhatian semua yang terjadi kepada Johan. Emilia berfikir kalau Johan tidak akan pernah terpengaruh oleh ucapan orang lain dan kebal terhadap cacian serta makian orang lain. maka dari itu, Emilia berfikir kalau Johan terlalu lemah jika Johan sudah menangis saat di sindir mengenai keluarganya.


“kurasa dia tidak menangis” ucap Emilia.


“ehh? Lalu ada apa?” tanya Farel.


Sesaat setelah itu, secara tidak sengaja Nyoman mendapati adanya beberapa tetesan darah yang tergeletak di samping piring Johan. Saat itu pula Nyoman begitu terkejut akan tetesan darah di meja samping meja Johan.


“i-ini apa? Gelap banget. apa ini saus” tanya Nyoman memegang tetesan darah tersebut.


Nyoman pun segera mencium tetesan darah tersebut dengan mendekatkan jarinya ke arah hidung. Aroma amis yang khas pun tercium dan membuat Nyoman seketika mengetahui bahwasanya itu adalah darah kotor.


“i-ini darahhh!” teriak Farel dengan begitu terkejut.


“hah?” tanya mereka semua begitu terkejut.


“Da-darah?” tanya Farel dengan begitu terekjut.


“yang benar?” tanya Jehian beranjak ke kursi Farel.


“iya, ini darah” ucap Nyoman seraya menunjukkan jarinya yang telah menyentuh darah di meja Johan.


“tidak salah lagi, ini bau amis darah” ucap Jehian setelah mencium tetesan darah tersebut dari dekat.


“kalian seperti vampir” sahut Kahfi.


“darah ini dari mana?” tanya Jehian.


“apa kau tidak apa apa? Apa kau menggigit jarimu sendiri?” tanya Emilia kepada Nyoman.


“bukan, ini bukan darahku. Ini darah dari piring samping Johan” jawab Nyoman.


“jangan jangan?” tanya Jehian memasang raut muak begitu terkejut.


Seketika, keadaan begitu hening tanpa adanya suara satupun,. mereka berhenti berbicara dan menggerakkan sendok garpu mereka di piring. Di heningnya suasana dan sepinya ruangan, terdengar adanya sebuah suara layaknya barang jatuh dari dalam kamar mandi. Mendengar hal itu, mereka semua seketika beranjak dari meja makan dan kemudian berlari menuju ke kamar mandi.


Emilia pun membuka pintu kamar mandi dengan perlahan dan kemudian melihat isi dari kamar mandi. Nyatanya saat itu, mereka semua begitu terkejut saat Johan saat itu sedang terjatuh tak berdaya di lantai kamar mandi yang basah.


“hehehe, apa kalian bisa membantuku?” tanya Johan dengan tawa paksanya.


“a-apa yang kau lakukan?” tanya Jehian dengan bergegas mengangkat tubuh Johan.


“Farel, tolong bantu angkat lengan kanannya” ucap Jehian.


“ba-baik” sahut Farel seraya membantu Jehian.


“ti-tidak apa apa, aku hanya sedikit pusing” ucap Johan.


Seketika saat itu pula, Jehian mengalungkan lengan kanan Johan ke pundaknya sementara Farel mengalungkan lengan kiri Johan ke pundaknya. Seketika mereka berdua pun mengangkat tubuh Johan dan kemudian berjalan ke arah kamar Johan yang ada di lantai atas. Mereka menidurkan tubuh Johan di atas kasurnya itu.


“apa kau tidak apa apa? Apa ada yang terbentur?” tanya Nyoman.


“tidak apa apa, aku hanya sedikit pusing” jawab Johan dengan menutupi kedua kakinya menggunakan selimut.


“apa kamu abis mimisan?” tanya Emilia.


“ehh? Jadi aku ketahuan ya, hehehe” ucap Johan seraya tertawa dan menggaruk kepalanya sendiri.


“apa kamu udah minum obat?” tanya Emilia.


“be-belum, aku harus makan dulu baru minum obat. Aku pengen makan masakanmu itu lagi” ucap Johan dengan memasang raut muka begitu ceria.


“itu bukan masakanku” ucap Emilia dengan mendatarkan suaranya.


“ehh? Maksudnya?” tanya Johan.


“Emilia nggak pernah bisa masak, kita tau itu karena kita sering main kerumahnya dan memasak bersama. Masakannya selalu rusak dan tidak enak. Dia tidak bisa masak” ucap Jehian.


“itu masakanmu kan?” tanya Kahfi.


“ehh? Hehehe jadi aku ketahuan ya,” ucap Johan dengan menggaruk kepalanya sendiri.


“ada apa denganmu? Kenapa kamu jatuh?” tanya Farel.


“sudah kubilang itu hanyalah pusing biasa” ucap jawab Johan.


“kita tidak akan bisa di bohongi untuk ketigakalinya. Kau udah bohong kalau kau tidak mimisan, kau udah berbohong kalau kau bukanlah orang yang memasak masakan itu. Jadi kebenaran apa lagi yang akan kau tutupi kali ini? semakin banyak kau berbohong, semakin sulit untuk kita semua percaya kepada perkataanmu lagi” tegas Jehian.


“hehehe, aku sebenarnya hanya cuma pusing dan mual. Saat aku muntah, aku hanya kehilangan keseimbangan saja” jawab Johan dengan tatapan penuh kebohongan itu.


“apa itu benar?” tanya Kahfi balik.


Sesaat setelah itu, Johan pun kembali batuk batuk dengan begitu keras. Johan pun seketika memegangi lehernya menggunakan kedua lengannya layaknya hendak mencekik lehernya sendiri. Secara tidak sengaja, saat Johan batuk, terdapat banyaknya cipratan darah yang keluar dari batuknya itu dan membasahi selimut.


Hingga sampai pada batuk yang terakhir dimana batuk yang paling keras, dimana Johan benar benar ingin mengeluarkan darah di dalam tenggorokannya disaat itu juga. Johan pun menutup mulutnya menggunakan telapak tangan kanannya dan kemudian batuk dengan berniat mengeluarkan darah kental di dalamnya.


Batuknya begitu parah hingga Johan sama sekali tidak dapat membuka matanya. Batuk Johan terlalu parah hingga Johan hanya bisa menutupi mulutnya seraya membungkukkan tubuhnya yang tengah terbaring di kasur tersebut. Saat itu pula teman teman Johan benar benar sudah dibodohi oleh Johan karena kebohongan Johan.


Saat Johan membuka kepalan tangan kanannya, dirinya mendapati bahwasanya terdapat banyaknya darah kental yang begitu merah gelap berada di telapak tangan kanannya itu. Saking banyaknya darah di kepalan telapak tangan Johan, setelapak tangan Johan tidak mampu menampung banyaknya darah tersebut hingga darah tersebut menetes dan mengenai selimut Johan.


“jadi itu hanya sebuah pusing dan mual?” tanya Jehian dengan begitu tegas.


“hehehe, aku ketahuan lagi” ucap Johan dengan begitu lemas.


Saking lemasnya tubuh Johan, seketika saat itu pula Johan tidak mampu mengangkat lengan tangan kanannya sendiri. Hingga saat itu, lengan kanannya terjatuh ke atas selimut dan membiarkan darah yang tertampung di dalam kepalan tangan Johan mengalir ke selimut tersebut.