
Seorang gadis kecil terlihat tengah berlari-lari mengitari hamparan bunga-bunga yang tersusun rapi di sebuah taman. Tampak gelak tawa menghiasi wajahnya yang imut nan cantik.
"Shakiraaaa!!!". Teriak leah memanggil puterinya.
Namun gadis kecil itu tidak menghiraukan panggilan sang ibu. Ia tetap saja berlari-lari dengan tawa riangnya.
Leah melangkahkan kakinya dengan cepat. Hendak menggapai tubuh shakira. Ia takut jika nanti puterinya terjatuh dan tubuh puterinya terluka.
Tapi semakin leah ingin menggapainya maka puterinya menjadi semakin jauh berlari.
Hingga ia melihat puterinya berlari dan memeluk seorang pria. Pria yang tidak asing di dalam penglihatannya. Pria yang sangat ia kenal. Dan pria itu adalah kekasih hatinya. Ayah biologis dari puterinya. Shakira.
Dokter bara mateo sang pujaan hati leah, terlihat tengah mengangkat tubuh shakira. Memeluk shakira dengan penuh rasa cinta.
Senyum merekah terlihat di wajah leah. Namun senyuman itu seketika menjadi sirna. Kala melihat sosok seorang wanita lain di samping dokter bara, yang tampak tertawa lepas sambil menyentuh pipi shakira.
Sementara sang pujaan hati terlihat sedang menggenggam tangan wanita itu. Mereka bertiga berjalan menjauh dari leah. Hingga membuat leah menjadi gusar. Lalu ia berusaha mengejar puterinya dan kekasih hatinya.
Namun langkah mereka semakin cepat, semakin jauh.
Sekilas wanita yang berjalan bersama kekasih hatinya melihat kebelakang. Tersenyum menatap leah. Lalu kembali memalingkan wajahnya. Hingga bayangan tubuh mereka bertiga menghilang dari mata leah. Membuat dirinya berteriak kencang.
"Sayaaaaaangggg!!!". Teriak leah.
Tiba- tiba dua kelopak mata leah terbuka lebar. Kedua retina matanya menangkap langit-langit berwarna putih. Terlihat tubuh leah yang terbaring di atas kursi ruang tunggu. Entah mengapa ia bisa tertidur di atas kursi ruang tunggu itu. Padahal seingat leah tadi ia masih tengah duduk di atas kursi ruang tunggu itu. Apa mungkin ia terlalu lelah sehingga ia tidak sadar telah membaringkan tubuhnya? Mungkin saja. Memang tubuh dan otaknya begitu terasa lelah. Seperti lelah kronis yang mencekam dirinya.
Leah bangkit dari tidurnya. Kini ia sudah duduk dan bersandar di kursi ruang tunggu itu. Tangannya memegang keningnya. Memijit keningnya perlahan. Tampak ia merasa sedikit pusing. Ia berusaha mengingat kejadian dalam mimpinya.
'Ah, ternyata aku bermimpi. Tapi seperti begitu nyata.' Gumam leah pelan.
Memori leah mulai terkumpul. Dimana terlintas kejadian tadi di dalam mimpinya.
Ia melihat sang kekasih hatinya tengah memeluk dan menggendong shakira. Buah dari cinta dirinya dan sang kekasih. Tapi ia teringat di dalam mimpinya itu sang kekasih yang menggenggam tangan seorang wanita. Seorang wanita yang ia kenal, tapi tidak dekat dengan dirinya.
Leah memicingkan matanya. Keningnya berkerut. Sementara otaknya berfikir keras untuk mengingat wajah dari wanita di dalam mimpinya.
'Wanita itu?... Sepupuku? Anak paman alan? Bagaimana mungkin?'. Tanya leah dalam hatinya.
Ternyata wanita dalam mimpi leah adalah sepupunya. Anak dari pamannya, alan monte.
Dalam benak leah, kenapa sepupunya bisa bersama kekasihnya? Terlihat mesra di dalam ingatannya. Ketika kekasihnya menggenggam erat telapak tangan sepupunya. Sampai sepupunya tertawa bahagia seperti itu.
'Ini hanya bunga tidur. Hanya mimpi.' Gumam leah meyakinkan dirinya.
'Ah, tidak! Tidak mungkin. Sepupuku sudah menjadi istri dari kembaran kekasihku. Yah, ini mimpi. Hanya mimpi! C'mon leah, calm down.!' Leah meyakinkan hati nya.
Leah merapikan pakaiannya yang sedikit kelihatan kusut. Kemudian ia merapikan rambutnya. Lalu ia menyeka keningnya.
Leah beranjak dari tempat duduknya. Berdiri tegak, berjalan menuju lorong ruang perawatan khusus shakira. Menghela nafasnya panjang.
Langkahnya terhenti tepat di depan ruang perawatan khusus puteri semata wayangnya. Netranya menatap sendu tubuh puterinya yang masih terbaring di atas tempat tidur ruang perawatan. Dengan alat-alat medis yang menempel di tubuh puteri kesayangannya. Yang menunjang shakira untuk dapat tetap bertahan hidup. Walau keadaan gadis kecil itu masih koma.
Leah masih lekat memandang puterinya dari balik kaca ruang perawatan. Jemarinya menyentuh dinding kaca. Seperti mengusap-usap tubuh puterinya dari balik kaca. Terlihat buliran air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Kian deras dan terdengar sedu sedan dari diri leah.
Hampir tak mampu lagi dirinya menanggung beban ini sendirian. Beban yang teramat berat bagi jiwanya. Terlalu banyak masalah yang ia pikul. Leah merasa sudah tidak sanggup lagi menghadapi kenyataan ini. Ia merasa butuh seseorang untuk menguatkannya. Berharap kekasihnya menemukan ia dan puteri mereka. Berharap kekasihnya memaafkan kesalahannya. Kekhilafannya dimasa lalu mereka. Berharap kekasihnya kembali ke dalam pelukkannya. Berharap puterinya segera sadar dari koma. Berharap kekasihnya mau menikahinya dan hidup bahagia bersama buah hati mereka.
Tangis leah semakin kencang. Sampai kepalanya menunduk dan puncak kepalanya menyentuh dinding kaca.
Hingga tanpa ia sadari ada sosok seseorang yang berdiri di belakangnya. Ikut menatap shakira dari balik dinding kaca. Menatap dengan gurat tajam. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkeliaran di dalam benaknya. Tentang siapa sosok shakira yang tengah di tangisi oleh seorang wanita yang di kenalnya. Yang berdiri membelakanginya saat ini, tanpa wanita itu sadari bahwa ada dirinya di belakang tubuh wanita itu.
Sosok seorang pria tampan, dengan rambut blondenya yang terlihat sedikit ikal mulai menyentuh pundak leah. Menyadarkan leah dari tangis pilunya. Kala meratapi kehidupannya saat ini.
Seketika leah terdiam. Tangisnya terhenti saat merasakan sentuhan telapak tangan seseorang yang menyentuh pundaknya. Tapi sedikit terisak masih terdengar di telinga pria itu.
Leah dengan cepat menyeka air matanya. Kemudian ia membalikkan tubuhnya. Melihat sosok pria tampan yang kini sudah ada di hadapannya.
"Siapa gadis kecil yang kau tangisi itu monica?". Tanya pria tampan itu sambil memicingkan matanya.
Leah sedikit terperanjat karena melihat kehadiran pria itu.
"Moza?"
Di hadapannya kini telah hadir seorang pria yang ia kenal dari masa lalunya. Yang kini sudah menjadi bagian dalam keluarganya. Lebih tepatnya menjadi adik iparnya.
"Kenapa kau ada di sini moza?". Tanya leah mengalihkan pertanyaan dari dokter moza.
"Aku sedang bertugas di sini. Justru seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan disini? Dan siapa gadis kecil didalam sana yang sedang kau tangisi?". Tanya dokter moza.
Leah diam. Entah bagaimana ia harus memulai menjawab pertanyaan dokter moza kepadanya. Sementara selama ini ibunya telah susah payah menutupi kebenaran tentang kehidupan leah. Dimana leah dan shakira yang telah di sembunyikan oleh sang ibu. Agar tidak di ketahui oleh publik.
Tapi kali ini sepertinya leah benar-benar sudah tidak mampu menutupinya lagi. Biarlah khalayak ramai mengetahui kenyataan tentang dirinya. Kalau ia sudah memiliki seorang puteri. Puteri yang sangat ia sayangi. Ia yakin kali ini akan membuka tabir sebenarnya. Membuka jati diri shakira.
"Gadis kecil itu adalah puteriku. Anak kandungku!". Ucapnya datar.
"Apa?"