
Rie merasa hatinya sangat sakit. Perasaannya seperti hancur. Seperti tercabik-cabik oleh belati. Ketika ia diperlakukan seperti itu oleh dokter zoey. Entah mengapa hatinya merasa kacau dan terluka jika dokter zoey bersikap kasar dan dingin kepada dirinya.
Yang menjadikan banyak pertanyaan di dalam benak rie, kenapa dokter zoey memperlakukannya seperti ini? Kenapa sikap dokter zoey sangat dingin kepada dirinya? Padahal rie merasa tidak kenal dengan dokter zoey. Tidak dekat.
Tapi beberapa waktu lalu rie baru menyadari, ternyata dokter zoey adalah seseorang yang pernah ia lihat dan ia tahu bahwa dokter zoey adalah lelaki itu. Yang suka usil kepadanya saat rie masih kecil. Seorang anak dari sahabat ayahnya.
Dimana fikiran rie semakin melayang-layang entah kemana. Semakin tidak fokus. Rasanya rie ingin berteriak sekencang-kencangnya.
Dokter zoey mendekatkan wajahnya ke arah wajah rie. Menatap rie dengan tatapan yang sangat tajam. Sepertinya dokter zoey memiliki kemarahan yang sangat besar kepada rie. Seperti kesal dan kecewa kepada rie yang terlukis jelas lewat ekspresi dari raut wajah dokter zoey.
"Apa kau bilang?" Tanya dokter zoey untuk kedua kalinya.
Rie mulai tersadar dari fikirannya yang sedang melanglang buana. Mulai kembali ke dunia nyata. Kenyataan yang sedang di hadapinya saat ini. Detik ini. Yang sebenarnya sangat ia tidak harapkan. Sangat ia tidak inginkan.
Rie memasang mimik muka yang datar. Membalas tatapan tajam dari dokter zoey. Dengan kantung mata yang hampir pecah karena menahan bendungan dari air matanya.
"Aku hanya ingin katakan dengan jelas kepadamu dokter zoey. Jaga sikapmu kepadaku. Jangan terlalu dekat denganku. Karena kau tidak berhak atas diriku. Kau bukan suamiku." Tegas rie kepada dokter zoey dengan sikap yang dingin.
Jleebbb... Seperti terhunus oleh samurai hati milik dokter zoey. Hingga detak jantungnya seakan berhenti.
Rasanya sangat sakit mendengar ucapan dari rie kepada dirinya barusan. Wanita di hadapannya, seperti tidak memiliki hati. Dengan beraninya mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat dokter zoey semakin terkumpul amarahnya.
Dokter zoey tersenyum sinis kepada rie.
Rie menyipitkan kedua indera penglihatannya. Tak lepas indera penglihatannya menatap dokter zoey yang semakin dekat dengan wajahnya.
"Atau aku perjelas lagi perkataanku biar kau semakin mengerti. Kau milikku. Nyonya zoey mateo!." Dokter zoey semakin memperjelas perkataannya.
Rie terdiam. Pandangannya mulai tidak setajam tadi kala menatap dokter zoey.
"Nyo..Nyonya zoey mateo? Aku? da...da.." Ucap rie gagap.
"Aku zoey mateo. Aku adalah suami-mu. Aku telah menikahi-mu satu setengah tahun yang lalu. Kau faham?". Tanya dokter zoey.
Deg... Jantung rie seperti tertembak dengan peluru. Tubuhnya seperti disengat oleh aliran listrik dengan tekanan yang sangat tinggi.
Keadaan dimana yang ia ingin hindari. Bukan ia tidak mau menghadapinya. Tapi ia masih merasa takut, merasa belum siap.
Tapi rie sadar, sudah terlalu lama ia lari dari kenyataan yang sebenarnya. Bahwa ia bukanlah lagi seorang wanita bebas. Kenyataan yang sebenarnya ia adalah wanita yang telah menikah.
Dan ia sadar, kalau ia memang yang salah. Seharusnya tidak lari dari kenyataan yang sebenarnya. Harusnya ia datang mencari suaminya.
Tapi rie tidak menyangka. Bahwa yang menjadi suaminya, adalah dokter zoey. Zoey mateo. Anak dari sahabat terbaik ayahnya. Yuki mateo. Yang juga seorang dokter. Sama dengan dokter zoey.