
Ketika sore telah menjelma, menggantikan shift siang yang mewarnai cakrawala. Dan awan yang selalu setia mendampingi langit, walaupun sore ini senyumnya tak secerah pagi hari. Dengan beban air matanya yang mewarnai dirinya menjadi kelam. Hingga membuat langit turut iba. Sedih menemani sang awan. Lalu, sang awanpun tak kuasa lagi membendung air matanya. Terharu dengan kemurahan hati sang langit padanya. Hingga ia menumpahkan air matanya menyentuh cakrawala. Menjadi rinai - rinai yang membasahi jalanan aspal dan tanah di bumi yang indah ini. Dan sang langit pun turut sedih hingga menjadi mendung. Sementara sang mentari, telah berlalu hingga tidak tampak menemani sang langit. Hanya awan yang selalu setia mendampingi sang langit, dalam suka maupun duka.
Di kamar khusus ruang VVIP perawatan dokter bara yang sedang koma, terlihat dua sahabat duduk termangu di sofa yang berwarna hitam. Menatap ke arah sosok tubuh dokter bara yang masih terbaring di atas tempat tidur ruang khusus perawatan VVIP.
Dokter zoey dan dokter moza masih menatap pilu kepada sosok tubuh dokter bara. Apa lagi sang kembaran yang tidak ada hentinya selalu memantau dan merawat sosok tubuh dokter bara. Dokter zoey dan dokter bara yang memiliki kembar identik. Yang sulit dibedakan oleh orang - orang yang ada di sekeliling mereka. Hanya yuki mateo sang ayah yang bisa membedakan anak kembarnya.
Beberapa waktu lalu, rasa panik menghampiri dokter zoey dan dokter moza. Ketika sosok kembaran dokter zoey yang sedang koma mengalami peningkatan dan penurunan. Masa kritis yang mengunjungi kembali. Sehingga dokter zoey dan dokter moza yang langsung turun tangan menanganinya. Sampai masa kritis itu pun berlalu. Dan sosok tubuh dokter bara sudah kembali stabil.
Entah mengapa hal itu bisa terjadi. Seperti kembaran dokter zoey yang telah tertidur lama mengalami sesuatu yang tidak diinginkan dibawah alam sadarnya. Dan mempengaruhi tubuhnya di dunia nyata. Jelas itu bisa berbahaya untuk tubuh dokter bara yang tengah koma.
Rasa ketakutan yang terus menghantui dokter zoey menjadi nyata. Takut terjadi apa - apa pada kembarannya. Takut kembarannya tidak kembali ke dunia nyata. Dan meninggalkannya sendirian di bumi yang fana ini. Dokter zoey merasa tidak siap jika kembarannya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Itu akan menjadi pukulan keras untuk kejiwaannya. Terang saja, karena mereka memiliki hubungan yang sangat rapat sejak mereka masih kecil.
Tapi, 6 bulan sebelum kejadiaan naas itu menimpa kembarannya, hubungan mereka telah merenggang. Di karenakan sesuatu hal yang tidak sepaham. Sesuatu hal yang sedang mereka perebutkan. Bukan masalah harta. Tapi masalah hidup. Yang biasanya mereka selalu menghabiskan waktu untuk berdua, menjadi sirna. Hingga di hari ketika dokter zoey hendak mengucapkan janji pernikahan dengan istrinya, dan yang menjadi wali nikah istrinya adalah alan mateo sang ayah mertua, kecelakaan itu terjadi. Dan membuat kembarannya dalam keadaan seperti saat ini. Di antara hidup dan mati.
Dokter zoey merasa bersalah kala itu. Terpuruk dan kehancuran yang menyelami jiwanya terus melekat kuat. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu. Karena dia, kembarannya menjadi seperti ini. Karena dia, kembarannya hampir mati. Andai kala itu dia mau mengalah, tentu hal ini tidak akan terjadi. Dan kembarannya pasti akan selalu berada disampingnya. Berbagi suka dan duka. Tertawa bahagia. Dan bercanda, seperti biasanya.
Tapi, hatinya tidak mengizinkan untuk dia mengalah pada kembarannya. Ini soal kebahagiaan masa depannya. Yang tidak mungkin ia rela untuk melepaskannya. Melainkan harus di kejar dan diperjuangkan. Dipertahankan. Walau akhirnya kembarannya menjadi korban.
Tidak! Ini bukan salahnya. Ini memang sudah menjadi takdir untuk kehidupan mereka. Dimana dokter zoey tidak salah sepenuhnya. Seharusnya dokter bara kala itu tidak gegabah. Tidak melakukan tindakan ceroboh hingga membuat dirinya menjadi koma.
Dokter moza menghembuskan nafasnya perlahan. Melepaskan tatapan sendunya dari sosok tubuh dokter bara. Dokter bara juga merupakan sahabatnya sejak kecil. Tapi tidak serapat hubungannya dengan dokter zoey. Ada jarak yang membentengi dirinya dari diri dokter bara. Mungkin karena watak dan sifat mereka yang sedikit bertolak belakang. Dan ia tidak pernah menceritakan hal ini kepada dokter zoey. Dan dimata dokter zoey, hubungan dokter moza dan dokter bara kembarannya akur - akur saja. Padahal tidak seperti yang ia fikirkan.
Dokter zoey mengalihkan pandangannya. Melihat dokter moza yang menopang dagunya dengan telapak tangannya.
"Zoey, apa kau sudah tenang?". Tanya dokter moza saat mata mereka berdua beradu pandang.
"Ya. Aku sedikit lebih tenang. Aku takut terjadi sesuatu pada kembaranku." Ujar dokter zoey.
"Hey. Jangan berfikir seperti itu. Itu bisa menjadi sebuah do'a nanti. Kau tidak boleh mengucapkan sesuatu sembarangan. Harusnya kau optimis. Yakin kalau bara akan cepat sadar." Ucap dokter moza.
"Zoey. Aku belum menagih janjimu. Sampai detik ini aku tidak tahu kenapa bara bisa seperti ini. Yang kutangkap saat itu, kalian seperti berselisih." Rong - rong dokter moza.
"Kau lihat moza. Bara seperti ini karena kecelakaan." Terang dokter zoey.
"Hmmm... Aku serius zoey." Kata dokter moza serius.
"Aku belum siap menceritakan padamu atau siapapun. Nanti kalau sudah tiba waktunya aku siap, aku akan mengatakannya padamu. Tapi bisakah tidak kau bahas ini di depan bara? Walau bara dalam keadaan koma, ia bisa mendengar kita. Aku takut kondisinya akan jadi memburuk nanti." Tegur dokter zoey dengan suara kecil.
"Oh, maafkan aku. Baiklah." Jawab dokter moza.
Pintu terbuka secara otomatis. Terlihat beberapa tenaga kesehatan, dua orang dokter dan satu orang perawat memasuki kamar khusus perawatan VVIP dokter bara. Hingga pandangan mata dokter zoey dan dokter moza melihat mereka.
"Dok, maaf kami terlambat datang." Ujar salah satu dokter yang baru saja datang ke ruang itu.
"Tidak apa - apa." Kata dokter zoey.
Dokter zoey dan dokter moza kemudian berdiri dari duduknya.
"Tolong kalian pantau dokter bara. Kalau ada apa - apa cepat hubungi aku atau dokter moza." Titah dokter zoey jelas.
"Baik dok." Ucap mereka serentak.
Dokter zoey dan dokter moza perlahan melangkahkan kakinya menuju pintu ruang rawat VVIP. Keluar dari ruang itu. Hilang dari netra para tenaga kesehatan yang menggantikan dokter moza dan dokter zoey menjaga dokter bara yang sedang koma. Hingga pintu ruang rawat VVIP tertutup secara otomatis.
Tidak lama dari kepergian dokter zoey dan dokter moza, sosok ruh dokter bara hadir di ruang VVIP khusus perawatan dimana tubuhnya berada.
Netranya menatap lekat ke arah sosok tubuhnya sendiri. Menatap dengan raut wajah sedih. Seperti ada rasa takut dirinya tidak kembali kedalam tubuhnya. Belum siap untuk meninggalkan tubuhnya untuk selamanya.