Rie

Rie
Teguran Dokter Moza



"Zoey! Sedang apa kau?!. Teriak dokter moza, ketika ia berlari dari ruangannya dan masuk secara tiba - tiba ke dalam ruang kantor khusus dokter zoey dimana pintu ruangan itu terbuka setengah dan tidak terkunci.


Tadi saat dokter moza sedang di ruangannya, ia mendengar suara benda yang terjatuh dari ruang dokter zoey. Maka dari itu ia dengan cepat berlari menghampiri dokter zoey ke dalam ruangannya. Padahal ruang dokter zoey sebenarnya kedap suara. Tapi karena pintu itu terlihat terbuka, tentu saja bisa terdengar kalau ada sesuatu yang terjadi. Seperti vas bunga yang terjatuh tadi di lantai ruang kantor khusus dokter zoey.


Dokter moza seketika terkejut saat melihat pemandangan yang disajikan di depannya. Melihat Seorang dokter wanita yang ia tidak terlalu kenal dengan wanita itu sedang menyentuh tangan dokter zoey dan menatap dokter zoey dengan hangat.


Wanita itu dengan segera melepaskan genggamannya dari tangan dokter zoey.


Lalu dokter moza menjatuhkan pandangannya ke lantai. Tertangkap oleh netranya sebuah benda kesayangan dokter zoey tengah berserakan di lantai. Hancur berderai. Kemudian ia menatap sinis pada dokter zoey dan dokter wanita yang ada disamping zoey.


"Wow, terlalu ganas ya kalian berdua. Sampai benda itu bisa jatuh dan pecah?!." Sindir dokter moza sambil tersenyum kecut.


Dalam benak dokter moza terlintas hal negatif. Ia berfikir dokter zoey sang sahabatnya hendak melakukan tindakkan 'mesum' dengan dokter wanita yang ada disamping sahabatnya.


Dokter moza menatap sahabatnya dan dokter wanita itu dengan tatapan sinis. Seperti tidak menyangka dengan kejadian yang dilihatnya. Padahal ia tahu sahabatnya itu memiliki watak yang keras. Tidak suka berbuat hal aneh. Apa lagi hal memalukan seperti yang di lihatnya saat ini.


Dokter zoey memberikan tatapan datarnya kepada dokter wanita itu. Tidak ada tatapan hangat dari dokter zoey.


"Moza, ini tidak seperti yang kau fikirkan." Jelas dokter zoey kepada dokter moza.


"Dan kau, kenapa masih ada di ruanganku?." Ucap dokter zoey ketus kepada dokter wanita itu.


Dokter wanita itu langsung berlalu dari ruang dokter zoey. Tidak ada gurat kesedihan yang tercermin dari wajahnya. Apa lagi rasa malu kepada dokter moza, ia pun tidak memiliki. Padahal dokter moza jelas - jelas menangkap basah tindakkan tidak sopan dokter wanita itu kepada dokter zoey.


Dokter moza memberikan tatapan sinis kepada dokter wanita itu ketika melewati dirinya.


Kini di ruang kantor dokter zoey tinggal dua orang sahabat. Dokter zoey menekan tombol untuk menutup pintu ruangannya secara otomatis.


"Moza, ini tidak seperti yang kau fikirkan." Jelas dokter zoey lagi kepada sahabatnya.


"Tapi mataku tidak bisa berbohong zoey." Sindir dokter moza.


"Moza, aku..." Kata dokter zoey terputus.


"Bukankah kau sudah memiliki seorang istri? Apa kau lupa? Bagaimana jika istrimu yang menangkap basah secara langsung? Bukan aku." Tembak dokter moza.


"Moza aku bisa jelaskan kepadamu." Kata dokter zoey.


"Silahkan. Aku juga ingin mendengar alibi-mu." Kata dokter moza.


"Aku tidak akan beralibi. Aku serius moza." Kata dokter zoey lagi menyangkal.


"Katakan." Kata dokter moza lagi singkat.


"Wanita itu datang pada-ku. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Awalnya ia meminta-ku membimbingnya untuk melakukan tindakkan operasi di ruang Ok kemarin. Tentu saja aku mau. Karena dia adalah dokter baru. Belum banyak memiliki pengalaman." Jelas dokter zoey.


"Lalu?" Tanya dokter moza.


"Lalu tadi dia meneleponku lewat telepon kantor, katanya ada hal yang ingin disampaikannya kepadaku. Aku fikir ia akan bertanya lagi tentang ilmu pembedahan padaku. Makanya aku mengizinkan dia untuk naik dan berada di ruanganku moza."


"Lantas? Kau ingin bermesraan dengannya?." Tembak dokter moza.


"Moza tidak seperti itu. Entah mengapa ketika ia masuk, dan bertanya padaku, ia lantas mendekatiku. Dan menggenggam telapak tanganku. Belum sempat aku untuk memarahinya tapi kau tiba - tiba saja sudah datang ke ruanganku. Sampai kau salah mengira kejadian yang kau lihat tadi." Ujar dokter zoey panjang lebar.


"Kalau memang aku ingin melakukan hal mesum, kenapa aku membiarkan pintu ruanganku terbuka seperti itu? Harusnya kututup saja pintu itu bukan?." Jelas dokter zoey.


Dokter moza lalu menunjuk ke arah lantai. Dimana pecahan dari vas bunga kesayangan sahabatnya yang sudah hancur dan berserakan di lantai.


"Itu benda kesayanganmu kenapa bisa jatuh?." Tanya dokter moza ingin tahu.


"Aku tidak tahu moza. Benda itu jatuh tiba - tiba saja ke lantai saat wanita itu tengah menggenggam tanganku. Aku juga bingung. Padahal posisinya terletak di tengah meja. Bukan di pinggir meja. Dan tidak ada yang menyenggol vas bungaku itu moza." Jawab dokter zoey.


Dokter zoey memiringkan kepalanya sambil menatap dokter zoey dengan ekspresi muka serius.


"Aku rasa alam sedang menegurmu zoey. Karena kau tidak tegas!." Sanggah dokter moza.


"Maksudmu?." Tanya dokter zoey.


Dokter moza tersenyum simpul.


"Ternyata seorang dokter yang memiliki IQ paling tinggi juga bisa tulalit ya. Masa kau tidak mengerti makna dari kalimatku zoey?." Sindir dokter moza.


Dokter zoey terlihat diam. Tidak bereaksi dengan sindiran dari sahabatnya. Ia sadar kalau ia memang kurang tegas tadi kepada dokter wanita itu. Benar kata sahabatnya. Seharusnya ia tidak boleh memberikan celah kepada dokter wanita itu.


"Kau dengarkan aku zoey. Bersikaplah yang benar. Harusnya kau tegas. Agar wanita tadi tidak berlaku kurang ajar seperti tadi. Kalau ada orang yang melihat, akan jadi salah paham kepada kalian berdua. Nanti kau akan jadi trending topik kembali di hospital ini. Seperti saat kau menculik istrimu sendiri. Bagaimana kalau seandainya tadi istrimu yang melihat? Kau bisa dalam masalah besar bukan?." Dokter moza memperingati sahabatnya.


Dokter zoey mengangguk tanda mengerti. Benar apa yang di katakan sahabatnya. Seandainya rie yang melihat tadi, pasti istrinya akan salah paham. Dan ini bisa menjadi fatal untuk hubungan pernikahan ia dan istrinya. Ia tidak ingin itu terjadi. Karena sudah susah payah ia bisa mendapatkan seorang rie. Menjadikannya pendamping hidup. Walau ayahnya dan ayah rie memiliki persahabatan yang kuat, tidak menjadi jaminan ia bisa mendapatkan rie dengan gampang. Apa lagi terpaut usia yang lumayan jauh antara ia dan rie. Istri kecilnya.


"Kau benar moza. Maafkan aku. Aku salah." Pinta dokter zoey.


Dokter moza merasa geli mendengar kalimat yang di lontarkan sahabatnya kepada dirinya.


"Ish... Kau ini! Kenapa kepadaku kau meminta maaf zoey? Aku bukan istrimu. Kau sangka aku menyukai sesama jenis? Aku normal. Mau ku pukul kepalamu agar sadar?." Gurau dokter moza.


Telepon di ruang kantor dokter zoey berdering. Dengan sigap dokter zoey mengangkatnya.


"Hello. Dengan dokter zoey disini." Sapa dokter zoey ramah.


Terlihat wajah dokter zoey yang langsung berubah dengan ekspresi menjadi sangat serius. Seperti ada hal genting yang tengah terjadi. Hingga dokter zoey menjadi seperti itu.


"Baiklah aku mengerti. Aku akan segera kesana." Ucap dokter zoey pada si penelepon. Kemudian ia menutup telepon, dan meletakkan gagang telepon pada tempatnya.


"Kau kenapa zoey?." Tanya dokter moza.


"Bara mengalami peningkatan dan penurunan. Kau temani aku ke ruangan bara. Team dokter sedang menangani bara." Ucap dokter zoey.


"Kenapa kau malah bergerak lambat zoey? Cepatlah." Teriak dokter moza.


Mereka berdua bergegas turun untuk ke ruang perawatan dokter bara.