Rie

Rie
Hospital



Rie berjalan dari mess nya menuju rumah sakit. Menuruni anak tangga... berjalan cepat menyusuri halaman rumah sakit. Mess tempat rie tinggal tepat berada di belakang rumah sakit. Jarak antara rumah sakit dengan Mess ini sekitar 300 meter. Dan rumah sakit ini memang cukup luas. Dengan beberapa pohon rindang yang ada di halamannya. Bunga-bunga.


Rie menatap pohon yang ada disebelah kanan halaman rumah sakit. Melihat pada ranting pohon. Tampak beberapa burung kecil hinggap diatasnya. Sambil berkicau merdu. Langkah rie memang terhenti sejenak. Senyum tipis menghiasi parasnya yang cantik. Menghirup sedikit oksigen yang begitu terasa segar di pagi hari. 'Indah' pikir rie.


Rie kembali menjatuhkan pandangannya pada sekeliling halaman rumah sakit. Kemudian kembali menapaki satu demi satu batu batu yang tersusun cantik menghiasi halaman rumah sakit. Memasuki rumah sakit melalui pintu utama. Menyusuri koridor rumah sakit. Tepat ia berhenti didepan ruangan locker. Membuka lokcernya. Mengambil perlengkapan nya. Lalu masuk ke ruang bersalin. Berjalan menuju ruang sebelahnya. Terdapat dua meja dan dua kursi, serta sofa berwarna krem yang turut menghiasi ruang kantor nya. Ia Mendudukkan diri.


Mengerjapkan matanya. Menatap pada jendela. 'Hmmm, Kenapa hanya aku sendiri yang datang duluan. ini sudah jam berapa.' gerutunya.


Pintu terbuka dengan sendirinya. Kemudian tertutup kembali dengan kencang. Rie terkejut mendengarnya. Ia melihat kearah pintu dan mengecek ruangan.


’Tidak ada siapa siapa. Lalu siapa yang membuka pintu? Ish, menyebalkan. Ini masih pagi.' kesalnya.


Rie mengambil buku Pasien. Membuka halaman demi halaman. Membaca dengan intens. Kemudian ia menghela nafasnya pelan.


'Kali ini belum ada pasien partus. Jadi hari ini cukup berkunjung ke bangsal, ruang VIP. Yah dan, begitulah...' Gumamnya sendiri. Rie membuang pandangannya ke arah lemari kaca. Tak sengaja tampak olehnya, seseorang berdiri disudut ruangan itu. Dengan setelan kemeja hitam, celana jeans dan tak lupa baju putih kebanggan seorang dokter. Seorang pria tampan. Menatap rie tanpa berkedip.


Rie menatapnya samar samar. Memperhatikan lagi dengan jelas. Lalu matanya terbelalak. Melihat pria itu. "Dokter bara?!" Teriaknya kencang.


Rie berjalan mundur. Menyandarkan dirinya di tembok. Kakinya terasa berat. Tidak bisa digerakkan sama sekali, terasa keram. Rie mengusap Wajahnya. Mengucek matanya. Dan melihat lagi dengan intens. Dan pria itu masih saja tetap berdiri disana. Tidak menapakkan kakinya. Setengah Melayang. Terus saja menatap rie. Sekali lagi tanpa berkedip.


Pintu terbuka dengan lebar. Kemudian tertutup pelan. Seorang Pria bertubuh jangkung, rambutnya yang hitam dan ikal. Berjalan masuk ke ruangan tempat dimana rie berada.


"Apa yang kau Lakukan rie?!" Tanyanya tajam. Rie terkejut kala mendengar suara itu. Memegang dadanya. Jantungnya yang kian berdetak kencang, terkejut oleh kejadian yang baru saja ia alami.


"Dokter Zoey." Ucap rie. Ia kembali mengatur nafasnya. Memperbaiki posisi tubuhnya. "Aku tidak apa apa. hanya kaget saja dokter Zoey" Sambung rie lagi.


Dokter Zoey, pria tampan itu memicingkan matanya. Berjalan mendekati rie. Menatapnya lekat, dekat. Sehingga membuat rie salah tingkah.


"Rie, jangan berbohong. Kau terlihat panik. Apa yang terjadi?" Tanya dokter Zoey menuntut.


"Ti.. ti... tidak ada. Sungguh dokter Zoey." Rie tersenyum paksa. Agar dokter Zoey yakin dengan sanggahannya.


"Jangan panggil aku dokter. Cukup Zoey. Sudah berapa kali aku katakan padamu, jangan terlalu formal denganku." Pintanya.


Rie mengangguk kaku. "Ok Zoey. Baiklah. Apa itu cukup?" tanya rie.


Dokter Zoey tersenyum sinis. Mengangguk. "Ya." Jawabnya singkat. "Hari ini kita ada SC. Pasien ini rujukan dari klinik Loki. Apa kau sudah membaca buku pasien dengan teliti rie?"


"Oh... Apa ada yang terlewat olehku?" rie berkata pada diri sendiri. Lalu dengan cepat ia mengambil buku pasien lagi. Memeriksa nya dengan teliti. Lalu ia tersenyum kecut.


"Maaf Zoey." Sambil tertawa renyah. Dokter Zoey tersenyum tipis. Menatap rie dengan hangat.


"Ayo kita ke ruangan Anak. Aku membutuhkan mu membantu ku memeriksa bayi prematur yang lahir kemarin sore." Ajak dokter Zoey. Rie mengangguk tanda setuju. "Ok Zoey." Ucapnya.


Kemudian rie dan dokter Zoey melangkah keluar dari ruangan menuju ruang anak.


Pintu tertutup dengan rapat. Sejenak ruang Partus itu kosong, lalu sosok dokter bara tadi kembali hadir. menatap ke arah pintu. Dengan tatapan dinginnya. Tatapan menusuk seakan tidak suka. Dengan tubuhnya yang setengah Melayang di udara.