
Dokter moza berjalan ke arah mika yang tengah duduk di atas kasur ruang VIP rawat inap yang di tempatinya.
Dokter moza berhenti tepat di samping kasur yang ditempati mika. Melihat tajam ke arah mika. Memperlihatkan seulas senyum sinisnya.
Mika terlihat pucat pasi tergambar diraut wajah mungil miliknya. Panik dan perasaan gusar semakin bersemayam di dalam diri mika.
Nada juga memperlihatkan aura panik yang ia alami. Takut kalau dokter moza tadi mendengar seluruh percakapannya bersama sahabatnya mika. Dimana percakapan itu berisi tentang dokter moza. Membahas sosok dokter moza yang ada di hadapannya kini. Tentang kepopuleran dokter moza di hospital, yang tidak diketahui oleh mika.
Ada hal lain yang membuat nada cemas. Cemas karena tembakan perkataan dari mika kepada dirinya, bahwa ia adalah salah satu tenaga kesehatan di hospital itu, salah satu seorang perawat yang juga jatuh hati kepada dokter moza.
Sampai nada terlihat kaku dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Mulutnya terkunci otomatis akibat syndrome cemas yang ia alami saat ini.
Dokter moza mengalihkan pandangannya kepada nada. Pandangan datar dan tidak sinis. Tapi juga tidak mengandung pandangan persahabatan.
Nada menjadi sedikit salah tingkah kala tatapan datar dari dokter moza kepada dirinya. Seperti ia salah arti dari pandangan tersebut.
"Ini sudah malam. Apa kau tidak bekerja? Bukannya kau shift malam hari ini?." Sindir dokter moza kepada nada.
Degupan hati nada kian berdetak semakin kencang. Mendengar perkataan dari dokter moza kepada dirinya. Ia tidak merasa tersinggung sedikitpun walau perkataan itu sebenernya sedikit pedas terdengar. Sedikit sarkasme.
"Maaf dokter. Aku akan izin kepada..." Kalimat nada terputus.
"Kau tidak perlu izin. Tetap hari ini kau harus melaksanakan tugasmu. Kau tetap bekerja. Soal nona tawon ini kau jangan khawatir. Aku yang akan menjaganya malam ini. Pergilah." Titah dokter moza kepada nada. Ia memotong kalimat yang belum selesai nada katakan kepada dirinya.
Tidak tahu apa maksud dari perkataan dokter moza kepada nada. Nada langsung menggangguk menuruti titah dari dokter moza. Ia lalu beranjak dari tempat ia berdiri.
"Mika, aku tinggal dulu. Besok aku akan kembali." Kata nada kepada sahabatnya mika.
Nada lalu pamit kepada dokter moza. Dan berlalu dari hadapan dokter moza dan mika. Berjalan kearah pintu. Keluar dan hilang sampai tidak terlihat lagi.
Dengan segera, dokter moza mengunci pintu ruang VIP tempat mika dirawat.
Mika tidak bergeming. Tidak berkutik. Hanya diam membisu.
Ada ketakutan didalam dirinya. Yang bersarang di dalam dadanya. Di dalam hatinya.
Matanya menangkap sosok dokter moza yang makin mendekat ke arah dirinya.
Serangan panik mulai menghantui dirinya. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Mau berteriak tapi percuma. Ruang ini kedap suara. Hospital ternama dan termahal. Tentu saja fasilitas yang diberikan dari hospital ini sesuai dengan yang di tentukan. Mau berlari dari ruang ini pun tidak mungkin. Lihat saja, pintu itu sudah di kunci oleh dokter moza. Tenaga pun mika sudah tidak punya. Kalau pun ada, tidak sebanding dengan tenaga yang dimiliki oleh dokter moza. Jelas saja, dokter moza seorang pria. Terlihat tubuhnya yang kekar, tinggi dan terlihat sangat macho serta kuat. Itu membuat tubuh dan otak mika terasa lemas.
'Matilah aku! Apa ini akan menjadi neraka yang aku ciptakan sendiri? Tapi aku tadi jujur dan tidak sengaja juga.' Rutuk mika di dalam hati dan benaknya.
Dokter moza menatap lekat wajah mika. Dengan jarak 15 Cm. Tanpa mika sadari. karena ia sibuk dengan jeritan batin yang ada di hati dan benaknya. Ketakutan dan kecemasan yang merongrong jiwanya.
Mika sontak terkejut. Mendengar kalimat yang keluar dari mulut dokter moza. Tepat di depan wajah mungilnya yang cantik.
"aaaaaa!.." Teriaknya kencang.
Spontan dokter moza ******* bibir mika. Hingga mika merasakan sesak nafas dan detak jantung yang semakin tidak teratur. Mata mika terbelalak. Shock dengan kejadian saat ini.
Dokter moza melepaskan ciumannya dari bibir mika. Kemudian tersenyum puas.
"Aku ingin kau tahu nona tawon. Aku ini susah untuk memberikan hati ku kepada wanita. Kau dengar sendiri tadi kan dari temanmu, banyak wanita tergila - gila kepadaku." Ujar dokter moza.
Dokter moza mengelus bibir mika lembut.
"Tapi, menurutku kau menarik. Baru kali ini aku menemui seorang wanita yang tidak perduli dengan diriku. Ketenaranku. Jadi, aku putuskan kau akan menjadi milikku. Dan kau tidak bisa menolakku nona tawon." Jelas dokter moza.
"Tidak! Aku tidak mau dengan kau. Aku tidak suka dengan pria tampan. Apa lagi tenar seperti dirimu. Aku tidak tertarik pada dirimu." Jawab mika kesal.
"Apa?" Dokter moza merasa terguncang mendengar kalimat dari wanita yang baru saja diciumnya.
Dokter moza tersenyum sinis. Ada perasaan sakit terpatri di dalam dadanya. Karena mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut mika kepada dirinya. Entah mengapa ia bisa merasa sakit hati. Padahal biasanya, sekasar apa pun wanita bersikap kepadanya, ia tidak pernah sakit hati. Tidak perduli. Dan selalu mengacuhkan sikap wanita yang pernah kasar kepadanya. Tapi berbeda dengan mika.
"Kau dengar nona tawon. Tadi sudah ku katakan dengan jelas kepada dirimu. Aku tidak menerima penolakan. Tubuhmu saja tadi tidak menolak ciuman dariku. Kau terlihat ikut menikmati bukan?." Dokter moza mulai sedikit mengintimidasi mika dengan pernyataannya.
Mika menggigit bibirnya. Tidak bisa membantah ucapan yang keluar dari mulut dokter moza. Memang benar apa yang dikatakan dokter moza. Bahwa tubuhnya tadi tidak menolak ketika dokter moza menciumnya. Entah mengapa seperti itu.
"Dan apakah kau lupa nona tawon. Aku yang telah menolongmu. Tapi bukan karena itu yang aku mau. Menurutku kau begitu menarik. Aku menyukaimu. Jadi kau dengarkan aku baik - baik nona tawon."
Mika menatap wajah dokter moza yang masih berjarak sangat dekat dengan wajahnya.
"Mulai detik ini kau menjadi milikku! Kau wanitaku! Aku akan menyegelmu malam ini. Agar kau tidak lari dan terikat denganku seumur hidupmu!" Tegas dokter moza.
"Apa?!" Teriak mika. Ia tidak terlalu mengerti maksud dari dokter moza.
Dokter moza tersenyum sinis. Kemudian ia menolak mika hingga terbaring di atas tempat tidur. Membekap mulut mika dengan ciumannya.
Mika ingin melawan. Ingin berteriak mencari pertolongan. Tapi mika tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Mika hanya terdiam. Hingga air matanya beurai deras ketika dokter moza membuka segel dirinya dan menyatu dengan dirinya.
Mika tampak terkulai lemas. Dokter moza semakin mempererat pelukannya. Perasaan bahagia menghias hatinya. Hingga ia dan mika tertidur lelap.