
Rie sedikit merasa risih ketika dokter zoey dan ayah dari dokter zoey menatap ke arah dirinya secara bersamaan. Membuat rie menjadi kaku, salah tingkah dan menjadi kikuk.
Rie menjadi bingung, dan bermunculan di benaknya tentang tatapan dari dua pria itu.
"Maaf, bolehkah aku..." Kata rie terputus.
"Nanti saja rie" Sela dokter zoey.
Ayah rie hanya diam melihat sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri sedang berbicara dengan anak sahabatnya itu. Ayah rie hanya duduk sambil memperhatikan kedua laki laki itu.
"Ayah, aku akan memberitahu kepada rie. Tapi tidak hari ini. Aku akan menyusun jadwalnya dan menentukan waktunya nanti." Jelas dokter zoey lembut kepada ayahnya.
"Kenapa tidak secepatnya? Tidak baik kau menunda nunda untuk mengatakan perihal sebenarnya zoey." Ucap ayah dari dokter zoey.
Rie menjadi semakin bingung dengan keadaan yang ada di hadapannya kini. Bingung akan pembicaraan dari dua pria yang ada di ruangan yang sama dengannya.
Rie sebenarnya ingin mengeluarkan ganjalan yang ada di hatinya. Pertanyaan pertanyaan yang menari nari di dalam benaknya. Tapi lidahnya, tidak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
Ayah dari dokter zoey menatap kearah rie sejenak. Kemudian berpaling menatap ke arah sahabatnya. Sahabat yang sangat ia sayang, melebihi dari saudara kandung.
"Bagaimana menurutmu sahabatku?" Ayah dari dokter zoey, melemparkan pertanyaannya kepada ayah dari rie. Sahabatnya sendiri.
Ayah rie secara perlahan menarik nafas nya dalam. Kemudian mengeluarkan secara perlahan dari mulutnya. Menahan dadanya yang terasa sedikit sesak.
"Aku tidak punya hak untuk mengeluarkan pendapatku. Terserah pada anakmu zoey saja. Dia lebih berhak." Ujar ayah rie jelas.
"Tapi aku harap, jangan terlalu lama. Sebaiknya secepatnya mengatakan pada puteriku." Tambah ayah rie lagi. Ayah rie, kemudian mengusap kepala puterinya. Lalu menggenggam telapak tangan Puteri kesayangannya. Puteri semata wayangnya.
Lagi dan lagi, rie menjadi semakin penasaran. Semakin banyak pertanyaan yang hadir didalam pikirannya. Hingga dadanya sedikit menjadi sesak karena menahan keinginannya, ingin tahu sebenarnya. Apa yang telah terjadi dan perihal apa yang sedang mereka bicarakan.
Tapi dengan segala kesopanan nya, menahan rasa itu. Rasa penasaran nya. Takut nanti di bilang tidak ada sopan santun kepada orang lain karena sikapnya. Takut dikira tidak memiliki rasa hormat kepada orang lain. Seperti yang selalu diajarkan oleh ayahnya dari kecil. Dan yang lebih membuat rie cemas, rie takut jika nanti ayahnya akan murka kepadanya.
"Terimakasih telah menghargai dan menghormati keputusanku" Ucap dokter zoey dengan hormat. Tersenyum tulus kepada kedua pria yang ada di hadapannya.
"Baiklah, karena menurutmu begitu. Aku menghormati keputusanmu sahabatku." Kata ayah dari dokter zoey.
Ayah dari dokter zoey kemudian kembali menatap anaknya. Menatap nya tajam. Seperti sedang mengancam anaknya lewat tatapan dari retinanya.
"Ingat zoey. Ayah katakan dengan jelas kepadamu. Jangan terlalu lama" Tekan ayah dari dokter zoey.
Dokter zoey menggangguk dengan cepat. Menyetujui dari ucapan ayahnya yang ditujukan kepadanya.
"Iya ayah. Akan aku lakukan. Aku sedang fokus kepada bara ayah." Dokter zoey menjawab.
"Hmm. Aku dan sahabatku datang kemari tidak hanya ingin melihatmu zoey. Kami berdua juga ingin menjenguk bara." Kata ayah dari dokter zoey lagi.
"Iya ayah." Ucap dokter zoey.
"Kalau begitu, kami langsung ke ruang rawat bara. Aku sangat merindukan anakku bara" Ayah dokter zoey berkata sambil mengusap pelupuk matanya dengan jari dari telapak tangan kanannya.