
Rie, mulai bergerak. Berdiri dari tempat duduk yang di kuasai tubuhnya. Memijit keningnya secara perlahan. Kemudian menurunkan tangan kanan yang memijit keningnya tadi.
"Duh, kepalaku rasanya sangat sakit sekali." Keluh rie. Rie berbicara dengan dirinya sendiri.
"Sebaiknya aku membasuh diriku. Biar kepalaku ini sedikit berkurang rasa sakitnya" Ujar rie pada dirinya sendiri.
Rie berjalan menuju kamar mandi. Menarik Handuk yang tergantung di jemuran handuk lipat yang ada di kamar mess yang ia tempati. Membuka pintu kamar mandi, masuk kedalam kamar mandi. Kemudian rie menutup pintu kamar mandi. Menguncinya dari dalam kamar mandi.
Rie memulai membersihkan tubuhnya. Setelah melepaskan kostum kerja yang dipakainya. Mengganti nya dengan gaun yang ia sediakan khusus untuk mandi. Rie dengan perlahan mengguyur kepalanya, dengan shower yang telah ia nyalakan yang tidak terlalu kencang. Agar rasa sakit dan sedikit panas dari kepalanya mulai sedikit membaik. Ia menyetel air hangat agar lelah yang ia rasakan ditubuhnya sedikit menghilang.
Sekitar 25 menit, rie membutuhkan waktu untuk membersihkan dirinya. Kali ini memang sedikit lebih lama. Sambil sesekali ia merenungi kisah hidupnya kebelakang yang telah ia alami.
Rie dengan cepat mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang lembut. Kemudian dengan segera memakai baju T-shirt ungu dan celana pendek diatas lututnya.
Rie mulai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, hanya sampai setengah kering. Karena ia tidak ingin rambutnya menjadi rusak jika terlalu sering menggunakan pengering rambut yang ia gunakan.
Rie kemudian membuka pintu kamar mandi. Keluar dengan cepat dari kamar mandi. Menutup pintu kamar mandi secara perlahan.
Rie berjalan menuju lemari. Kemudian mengambil koper miliknya yang terletak disamping lemari yang memang disediakan hospital untuk setiap kamar di mess hospital itu.
Rie, kemudian meletakkan koper itu di atas lantai dengan posisi telentang. Dan membuka kopernya. Rie, membuka lemari dan mengeluarkan seluruh pakaian miliknya yang tergantung. Meletakkan nya di atas lantai tepat disamping koper miliknya yang sudah terbuka.
Rie mulai menghempaskan bokongnya ke lantai. Kemudian mengambil satu persatu pakaian miliknya. Melipatnya dengan rapi dan memasukkannya ke dalam koper hitam miliknya.
Rie telah selesai mengemas pakaian miliknya serta beberapa benda miliknya yang telah ia masukkan ke dalam koper hitam miliknya. Kemudian rie menutup kopernya. Mengunci kopernya dengan rapi.
Rie, mulai menepikan koper miliknya. Lalu duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Lampu di kamar mess yang rie tempati memang sangat terang. Karena rie tidak terlalu suka dengan cahaya yang samar samar dan tidak sangat jelas. Hanya membuat penglihatannya menjadi terganggu dan sakit.
Suasana di kamar itu, terlihat sangat tenang. Sejuk. Nyaman. Dan terasa sangat tentram.
Retina rie menatap ke arah lantai yang ada didepannya. Tertangkap olehnya, samar samar dan tidak terlalu jelas. Beberapa pemandangan yang hanya bisa di lihat olehnya. Yang memiliki kelebihan special. Atau yang banyak orang orang sebut indera ke enam.
Rie melihat banyak makhluk astral sebesar kelingking jarinya. Dan setiap keramik muncul rumah sebesar telapak tangannya, setinggi mata kakinya, berwarna emas.
Makhluk makhluk astral yang ia lihat, seperti liliput. Dengan bentuk yang lebih kurang tak jauh dari bentuk bentuk manusia seperti dirinya dan orang kebanyakan.
Rie, tidak merasa cemas atau pun takut. Karena ia sudah terbiasa sejak masih kecil, yang selalu melihat kejadian kejadian aneh dari dunia yang orang orang normal tidak bisa melihatnya.
Hanya rie merasa sedikit terkejut. Hal yang tidak pernah ia lihat selama ini. Tapi tepat hari ini, terjadi lagi dalam kesehariannya.
Rie perlahan mulai menyentuh salah satu rumah milik makhluk astral itu.