
Kediaman alan monte masih terlihat lenggang di depan halaman rumahnya. Jalanan raya yang biasanya di waktu siang hari seperti ini terlihat ramai kendaraan - kendaraan berlalu lalang menghiasi jalanan. Mungkin karena cuaca tidak terlalu begitu bersahabat siang ini.
Terlihat langit yang melukiskan perasaan sendunya dengan mendung tapi tidak ditemani oleh air mata dari awan kelam yang menemani langit. Awan kelam yang menahan bendungan air matanya agar tidak pecah. Yang masih enggan membasahi cakrawala tempat para manusia bermukim. Padahal pohon - pohon rindang nan hijau serta para tumbuhan mengharapkan air mata awan yang kelam menyentuh tanah dan tubuh mereka di cakrawala siang hari ini.
Di dalam rumah alan monte, terlihat tiga manusia penghuni rumah banglo itu tengah menikmati makan siang mereka. Tanpa suara. Tanpa percakapan. Hanya terdengar denting sendok dan garpu yang menyentuh piring porselen berwarna putih.
Model meja makan milik alan yang terlihat seperti meja makan di kerajaan. Di atas meja telah tersaji menu makan siang yang telah di siapkan oleh asisten rumah tangga alan.
Rie melihat ke arah mika. Menatap mika sesaat yang masih mengunyah makanan yang di masukkan oleh mika kedalam mulutnya. Tampak mika tidak seperti biasanya. Tidak ada ekspresi bahagia yang terpancar dari diri mika. Yang ada hanya kemurungan yang tampak jelas terlukis di wajah mika.
Rie menghela nafasnya.
"Mika. Kau mau aku ambilkan tom yam itu? Rasanya sangat enak mika. Aku ambilkan untukmu. Kau harus makan yang banyak." Tawar rie membuka percakapan.
Alan melihat puterinya dan ponakkannya.
Mika menggelengkan kepalanya, tanda ia menolak tawaran dari rie sahabat dan juga sepupu kandungnya.
"Bukankah kau sangat menyukai tom yam mika? Ayo lah. Paling tidak cicipi sedikit saja. Ini aku yang memasaknya. Dengan tanganku sendiri aku memasak tom yam ini untukmu dan papa. Tega sekali jika kau tidak memakan masakkanku. Kau lihat jariku sampai terluka." Cerita rie sambil menunjukkan telunjuk tangan kanannya yang di plester 'hansaplast'.
Mika reflek melihat telunjuk jari rie yang telah di plester. Memang luka kecil dan tidak terlalu serius. Tapi tetap saja harus ditangani dengan teliti bukan? Agar tidak terjadi infeksi nantinya. Karena debu atau kotoran yang hinggap di bagian luka. Apakah rie terlalu berlebihan karena harus merasa steril? Karena rie pernah mengecap pendidikkan sebagai tenaga kesehatan, dan pernah bekerja sebagai tenaga kesehatan, jiwa tenaga kesehatannya merong - rong dirinya untuk tetap seperti itu. Yang selalu melekat dan tidak bisa hilang dari dirinya. Ditambah lagi ia memiliki suami yang berprofesi sebagai seorang tenaga kesehatan juga. Yang sama sepertinya. Bedanya ia adalah seorang 'Bidan'. Sementara suaminya seorang dokter spesialis bedah.
"Baiklah. Aku mau rie." Jawab mika akhirnya.
Kembali, suasana di ruang makan mengalami keheningan. Tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Hingga makan siang mereka selesai.
"Mika, ikut paman untuk duduk di ruang tamu. Ada hal yang ingin paman sampaikan padamu." Ajak alan kepada ponakkannya.
Alan yang sedari tadi tidak mengeluarkan sepatah kata pun, akhirnya mengeluarkan suaranya. Mengajak sang ponakkan ke ruang tamu.
" Kau juga rie. Ikut papa. Dan duduklah di samping mika." Titah ayah rie kepada anaknya.
"Baiklah papa " Jawab rie menuruti titah dari ayahnya.
Kini mereka sudah berada di ruang tamu. Sudah duduk menjatuhkan bokongnya diatas sofa ruang tamu yang terasa empuk.
Mika menatap ke arah pamannya. Penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh alan. Masih menerka - nerka apa yang akan alan tanyakan kepada dirinya nanti.
Apakah tentang kejadian saat dokter moza melakukan tindakan tidak senonoh kepada dirinya? Yang telah merenggut kesucian dan masa depannya? Dan hal itu masih menjadi 'momok' bagi jiwanya. Masih tidak dapat ia terima. Bagaimana ia harus menjawab setiap yang ditanyakan pamannya nanti? Sementara jiwanya masih terbelenggu. Kepala mika mulai terasa ingin pecah. Tidak sanggup lagi mika menahan beban berat ini.
"Mika, ada hal penting yang akan paman sampaikan padamu. Paman percaya kau bisa menerima kenyataan yang akan paman sampaikan nanti padamu. Karena kau sudah dewasa nak. Pasti nanti kau tidak akan menyikapinya dengan buruk." Ucap alan.
Kalimat yang dilontarkan alan sang paman kepada mika, membuat mika menjadi sedikit bingung. Apa maksud dari perkataan pamannya? Terdengar seperti kalimat yang memiliki makna ambigu. Hal apa yang akan paman katakan sebenarnya?
Alan menunggu reaksi dari ponakkannya. Sementara rie, terlihat hanya diam dan masih menyimak setiap ucapan dari ayahnya kepada sepupunya.
"Maksud paman? Paman ingin menyampaikan apa kepadaku?." Tanya mika akhirnya.
"Nanti paman akan katakan kepadamu saat seseorang yang paman tunggu sampai di rumah kita ini.' Jawab alan.
"Seseorang?." Tanya mika penasaran.
Sebuah mobil telah memasuki pelataran rumah alan. Dimana seorang pria tua yang masih terlihat gagah, turun dari dalam mobil yang di tungganginya. Di ikuti oleh seorang wanita yang berpenampilan elegan. Yah, sepasang suami istri yang telah di jemput oleh asisten alan.
Kedua sejoli itu melangkahkan kaki menuju pintu utama rumah alan. Dimana asisten alan mengantarkan mereka sampai ke dalam rumah alan. Di ruang tamu milik alan. Di hadapan alan saat ini.
"Hello shane. Kau sudah datang ternyata. Kakak fikir kau akan datang sendirian. Ternyata kau membawa istrimu." Celetuk alan.
Ternyata, yang datang ke rumah alan adalah sosok adik dari alan. Shane.
Shane memberikan senyum tulusnya.
Alan menatap puteri dan ponakkannya.
"Anak - anak. Berdirilah. Berikan salam kepada tamu kita." Titah alan kepada anak dan ponakkannya.
Mika dan rie memberikan salam kepada shane serta istrinya.
"Rie kau cukup ikut mendengarkan saja. Papa akan memperkenalkan kepada kalian berdua siapa tamu kita sekarang ini." Kata alan sedikit menekan.
"Shane, kau lihat. Itu adalah rie anakku. Kau masih ingat? Kau pernah melihatnya saat usianya masih satu tahun lebih dulu. Dan yang disebelahnya adalah mika." Jelas shane.
Hening. Shane menatap ke arah mika. Ada rasa rindu yang sangat besar kepada mika. Ya, mika adalah puterinya. Puteri kandungnya, yang ia tinggalkan dahulu. Yang ia serahkan kepada alan, kakak shane.
Mata shane terlihat berkaca - kaca. Ada rasa sesak didalam dadanya. Rasa bersalah yang besar kepada puterinya. Yang ia tidak tahu harus berbuat apa setelah ini.
"Anak - anak. Perkenalkan. Ini adalah adikku. Shane Alby Ramsley." Kata alan.
Tampak reaksi dari mika yang masih tenang. Sementara rie terlihat sedikit terkejut mendengar ucapan dari ayahnya.
Tidak pernah ayahnya menceritakan kalau memiliki seorang adik. Tapi rie masih tetap diam, menunggu kalimat - kalimat dari ayahnya lagi.
"Dan wanita itu adalah Monita Bona. Isteri dari shane adikku." Kata alan lagi.
Mika memicingkan matanya, melihat wanita itu. Wanita yang terlihat elegan dimatanya. Tapi ia merasa wajah wanita itu mirip seperti dirinya. Ah, tapi bisa saja kan itu terjadi? Bukankah katanya yang mirip dengan wajah kita di dunia ini ada 7 orang? Apakah itu fakta atau mitos? Mika juga tidak mengetahuinya.
"Dan mereka berdua adalah orang tua kandungmu mika." Ucap alan.
Seketika mata mika terbelalak. Terkejut mendengar perkataan dari pamannya.
"Apa?!" Teriak mika.