
Udara dingin terasa menusuk hingga ke tulang. Tampak, langit gelap menghitam. Tidak ada bulan dan bintang yang bertaburan menghiasi langit malam itu. Hanya hitam kelam. Rintik hujan sedikit mulai membasahi bumi, tempat di mana kaki para manusia berpijak dan melangkahkan derap derap langkah kaki.
Di depan Hospital, terdapat sebuah halte bus yang sudah tidak ada manusia yang menunggu untuk menaiki bus yang singgah di halte itu. Lampu menyinari halte bus tersebut.
Terlihat sosok makhluk astral, yang saat ini raganya sedang berada di ruang VVIP, ruang rawat khusus untuk dokter bara yang sedang koma.
Ruh dokter bara, berdiri di halte depan hospital tempat ia bekerja. Menatap sendu kejalan raya yang telah basah jalan aspal itu oleh air dari rintik hujan.
Makin deras rintik hujan itu menjadi hujan yang sangat lebat. Tidak ada suara, tidak ada kendaraan yang lewat. Tidak manusia yang mengisi kekosongan lingkungan depan hospital itu.
Dokter bara memalingkan pandangannya ke atas langit gelap yang menghitam. Tidak ada suara nafas, tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutnya.
Di jalan depan halte tempat dokter bara berdiri, melintas makhluk astral lain. Berbentuk seorang wanita dengan kostum bewarna merah. Rambut terurai panjang hingga ke betis. Dengan wajah yang sangat hancur dan hampir tak berbentuk.
Makhluk astral itu berjalan seperti melayang. Menghampiri ruh dokter bara. Berhenti didepan ruh dokter bara yang tengah berdiri. Menatap tajam dan sinis ke arah ruh dokter bara. Berdiri melayang. Lalu tertawa melengking, dengan suara cempreng. Memekakkan telinga.
Dokter bara, membalas tatapan tajam sosok mahkluk astral wanita berkostum merah itu. Seolah tidak suka dan mengusir makhluk astral wanita itu dengan balasan dari tatapan tajamnya.
Seketika sosok makhluk astral wanita yang berkostum merah itu terdiam. Tak lagi mengeluarkan suaranya. Kelihatan sangat takut dengan ruh dokter bara yang membalas tatapannya dengan sangat tajam.
Ruh dokter bara, kembali menatap jalan yang kosong dengan tatapan sendu. Kini, air yang turun dari langit, hujan lebat itu sudah mulai berhenti. kembali menjadi rintik rintik hujan yang membasahi hospital dan area lingkungan hospital tempat jasad dokter bara tengah di rawat.
Ruh dokter bara, kemudian menghilang. Meninggalkan halte bus didepan hospital itu. Sepi. Dingin yang menusuk dan suasana yang mencekam yang terasa menyelimuti.
Ruang paling atas, tempat khusus para dokter yang bekerja di hospital itu, tampak begitu tidak ramai. Karena banyak dari dokter yang ada di ruang itu tengah melakukan kegiatannya untuk melakukan pemeriksaan pada pasien masing masing yang hendak di tindak lanjuti.
Hanya ada dokter yang berambut blonde sedang membuat laporannya di depan laptopnya. Di Meja khusus yang disiapkan untuknya.
Ruh dokter bara, tiba tiba hadir didepan dokter blonde itu. Menatapnya tanpa berkedip. Tapi dokter yang memiliki rambut blonde itu tidak bisa melihat ruh dokter bara yang tengah berdiri didepannya.
Tapi, terasa, hawa yang ada di dekatnya begitu lain. Hingga membuat bulu kuduk dokter blonde itu menjadi berdiri. Dan perasaan nya menjadi sedikit cemas dan takut.
Dokter blonde, dengan cepat menutup laptopnya. Memasukkan laptopnya kedalam tas khusu laptop. Berdiri, kemudian membawa laptopnya yang sudah berada di dalam tas.
Melangkah berjalan menuju lift. Menekan tombol yang ada didinding sebelah pintu lift. Pintu lift pun terbuka. Dengan buru buru, dokter yang berambut blonde itu segera memasuki lift. hingga pintu lift itu tertutup.
Lagi, ruh dokter bara hanya bisa terdiam. Terus menatap ke arah lift yang di masuki oleh dokter yang berambut blonde tadi....