Rie

Rie
Fikiran Rie



Rie tersentak dari tidurnya. Tersadar dari tidur lelapnya. Rie membuka kedua kelopak matanya. Menatap ruangan dimana tempat tubuhnya terbaring. Kamar miliknya. Di rumah alan sang ayah.


Samar - samar rie melihat cahaya yang masuk menembus kamarnya. Yang masuk dari jendela kamarnya. Dimana tirai dari jendela itu masih posisi yang sama dengan kemarin. Tersibak dan terbuka lebar. Dan rie yang lupa menutup rapat tirai yang bertengger di atas jendela kamarnya. Akibat banyaknya masalah yang menyita otak rie. Sampai ia merasa itu adalah beban yang hampir menghunus jantungnya.


Rie bangkit dari tempat tidurnya. Kembali duduk bersandar di dinding atas tempat tidurnya. Di kepala tempat tidur kamarnya.


Teringat kejadian tadi di alam mimpinya. Ketika ia kembali melihat suaminya dan dokter wanita itu. Dokter wanita yang menyentuh tangan suaminya, menatap mesra suaminya dengan tatapan hangat. Seperti ada rasa cinta yang besar dari dokter wanita itu untuk dokter zoey. Yang tertangkap oleh netra rie melalui tatapan dokter wanita itu.


Tentu saja rie bisa tahu. Bukan karena ia merasa sombong dan percaya diri berlebihan karena ia memiliki kelebihan spesial, indigo. Tapi murni karena ia adalah seorang wanita juga. Tentu saja ia bisa merasakan aura - aura itu yang ia tangkap dari dokter wanita itu. Apa lagi ia adalah istri dari dokter zoey. Dimana insting seorang istri sudah berdiri kokoh di dalam dirinya. Benarkan kalau seorang istri akan seperti itu? Terjalin ikatan benang merah dengan suami sehingga melahirkan insting seorang istri yang begitu kuat. Benarkan? Padahal rie dan suaminya belum sampai ke tahap penyatuan jiwa dan raga mereka. Tapi insting itu sudah tumbuh dengan pesat di dalam dirinya.


Untuk kedua kalinya, kelakuan dokter wanita itu kepada suaminya yang tertangkap oleh netra rie, membuat dirinya terbakar emosi. Semakin marah. Kemarahan yang membara di dalam hatinya. Seperti ada bara yang sedang berkobar dan bersemayam di dalam hatinya. Tapi bukankah ia tidak bisa hanya menyalahkan dokter wanita itu? Seharusnya ia juga marah kepada suaminya karena membiarkan dokter wanita itu menyentuh diri suaminya. Tapi kenapa yang dilihat oleh rie saat ruhnya ada disana menyaksikan kejadian itu, suaminya malah diam saja? Apa sebenarnya isi dalam otak dokter zoey? Seharusnya bisa menjaga dirinya sendiri saat jauh dari pasangannya. Bukan seperti ini seharusnya. Ini benar - benar sesuatu yang sangat menyebalkan menurut rie.


Lalu rie kembali terlintas tentang sosok ruh dokter bara, yang tidak sengaja untuk kedua kalinya ia temui kemarin. Di ruang kantor suaminya. Menangkap basah dirinya saat melakukan perbuatan yang tidak disukai suaminya. Ketika ia menjatuhkan vas bunga dengan bunga tulip kristal kesayangan suaminya. Jatuh berderai di atas lantai ruang kerja suaminya. Pecah menjadi berkeping - keping. Yang membuat suaminya dan dokter wanita itu terkejut. Untung saja saat itu rie sedang tidak bisa terlihat oleh netra suaminya. Tentu saja, karena saat itu bukan sosok tubuh rie yang hadir di dalam ruang kerja suaminya, tapi sosok ruh rie yang sedang berada di sana. Sedang meraga sukma untuk kedua kalinya setelah ia berstatus menjadi seorang istri. Setelah sekian lama ia tidak mengalami hal itu lagi. Tunggu! Meraga sukma??


"Apa tadi malam aku benar - benar meraga sukma kembali? Dan kejadian beberapa hari kemarin juga sama? Bukan mimpi?" Tanya rie pada dirinya sendiri.


Tentu saja rie telah melakukan itu. Buktinya ia merasa sekujur tubuhnya begitu terasa remuk. Dimana tulang - tulang di tubuhnya dan sendi - sendi miliknya terasa sakit. Seperti mau patah.


"Aku bertemu ruh dokter bara. Untuk yang ketiga kalinya. Sebenarnya ada apa dengannya? Kenapa dokter bara bisa sampai seperti itu? Kenapa dokter bara tidak menjawab pertanyaanku tadi?." Rie lagi berkata pada dirinya sendiri. Pertanyaan - Pertanyaan yang belum bisa ia pecahkan.


Ada rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang besar dalam hatinya. Ingin mengetahui tentang dokter bara yang sedang koma. Penyebab dari yang sedang dialami dokter bara. Mengalahkan rasa marahnya kepada suaminya dan dokter wanita itu.


Terus pertanyaan - pertanyaan mulai bermunculan dalam benaknya. Menari - nari di dalam otaknya. Yang mulai membuat otaknya serasa ingin pecah.


Kemudian rie teringat sosok ruh gadis kecil yang hadir di ruang VVIP perawatan dokter bara tadi. Yang tengah berdiri di belakang pintu ruang VVIP kamar perawatan dokter bara. Yang tanpa ia sadari mendengar percakapannya dengan sosok ruh dokter bara.


"Papa? Kenapa gadis kecil itu memanggil dokter bara dengan sebutan papa? Bukankah dokter bara belum menikah? Dan tidak memiliki seorang pasangan? Tidak ada satupun wanita yang sedang dekat dengan dokter bara. Siapa sebenarnya anak itu? Apakah jin yang mengaku sebagai anak dokter bara? Ish." Katanya pada diri sendiri lagi.


"Haruskah aku kembali meraga sukma untuk mengetahuinya?" Tanya rie lagi.


Terdengar suara langkah kaki yang mendekati ke arah pintu kamar rie. Terdengar, langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamar rie. Di ikuti ketukan pintu kamar rie. Membuat rie tersadar dari fikirannya.


"Nona. Apakah nona sudah bangun? Saya diperintahkan tuan besar untuk memanggil nona. Tuan menunggu nona di ruang makan." Ucap seorang asisten rumah tangga ayahnya.


"Baiklah. Aku sudah bangun. Tolong sampaikan kepada papa bahwa aku akan segera turun." Jawab rie dengan mengeluarkan suara sedikit berteriak.


"Baik nona." Jawab asisten rumah tangga ayahnya. Kemudian kembali melangkahkan kakinya, berlalu dari depan pintu kamar rie.


Rie segera turun dari atas tempat tidurnya. Dengan cepat ia memasuki kamar mandi. Untuk membersihkan dirinya. Bersiap - siap untuk menuju keruang makan. Menemui ayahnya. Sarapan bersama ayahnya tentunya. Hal yang sudah lama tidak ia lakukan. Akibat kesibukannya di hospital kala itu.


Hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk rie membersihkan dirinya. Memakai gaun hitam bermotif bunga. Dengan model sabrina. Rambut yang tergerai indah. Dengan wajah natural tanpa make up. Tanpa di poles.


Rie bergegas menuju ruang makan. Terlihat diruang makan hanya ada ayahnya. Sedang duduk dan mengunyah roti tawar yang telah di poles dengan selai nanas kesukaan alan. Ayahnya rie. Tidak tertangkap oleh netra milik rie sosok mika. Sahabatnya dan juga merupakan sepupu kandungnya. Entah dimana sosok mika. Mungkin masih di kamarnya. Dan masih butuh waktu untuk sendirian. Menenangkan jiwa dan raganya dari kejadian kemarin. Saat mengetahui bahwa orang tua kandungnya masih hidup. Ayah dan ibu kandungnya. Tidak seperti yang pernah diceritakan oleh ayahnya kalau orang tua kandung mika sudah tiada. Yang jelas, rie masih menunggu penjelasan dari ayahnya. Tanpa bertanya lebih dahulu. Yah, tunggu saja sampai ayahnya yang menjelaskan duluan.


"Selamat pagi papa." Sapa rie lembut.


"Oh anakku sayang. Kau sudah datang. Duduklah. Ayo sarapan bersama papa." Tawar alan kepada anaknya.


Rie menarik kursi makan, lalu menjatuhkan bokongnya di atas kursi makan itu. Kemudian ia mengambil selembar roti tawar, dan mengoleskan selai kacang ke roti tawar yang ada di tangannya.


"Ada yang papa mau sampaikan kepadamu rie." Ucap alan tiba - tiba.


Rie secara reflek memandang ke arah ayahnya.