
Rie berjalan menyusuri lorong rumah sakit, mengikuti langkah dokter zoey. Terlihat jelas di pelupuk matanya. Punggung dokter zoey yang datar.
"Dokter zoey, bisa kah aku mengganti baju ku terlebih dahulu?" Tanya rie pada dokter zoey. Dokter zoey menghentikan langkahnya. Lalu membalikkan tubuhnya menghadap pada tubuh rie yang mungil. Tinggi rie kira kira sedada dokter zoey.
"Baiklah. Jangan terlalu lama." Ujar dokter zoey. Rie langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Rie langsung berjalan menuju ruang perawat.
Rie masuk ke ruang perawat dan menuju kamar khusus perawat. Dengan segera rie mengganti baju khusus steril tadi dengan pakaian seragam pegawai hospital tempat ia bekerja saat ini. Lalu rie meletakkan baju tadi ke tempat keranjang khusus pakaian kotor di ruang perawat itu.
Rie berjalan keluar dari ruang perawat. Hendak naik ke Lantai paling atas di hospital itu. Ia berjalan menyusuri lorong untuk menuju ke Lift khusus untuk para dokter yang terikat kontrak kerja dengan hospital tempat ia bekerja. Tak sengaja rie berpapasan dengan perawat Mia yang baru saja keluar dari ruang pasien.
"Bu bidan rie" Sapa perawat mia. Rie menghentikan langkahnya. Melihat ke arah perawat mia. Dan rie pun tersenyum tipis. "Iya perawat mia." Jawab rie lembut.
"Sudah selesai kau menjenguk dokter bara?" Tanya mia kepada rie. "Sudah perawat mia." Jawab rie lagi.
"Oh, sekarang apa kau akan kembali ke ruanganmu?" Tanya mia lagi.
"Tidak. Aku belum akan kembali ke ruanganku. Masih ada 20 menit lagi waktu ku untuk masuk. Aku masuk shif siang hari ini Mia. Dan seperti biasa, 20 menit lagi waktu ku operan para pasien pra partus dan pasca partus dengan para kolega ku yang masuk shift pagi hari ini." Rie menjelaskan secara detail kepada perawat mia.
Perawat mia menganggukkan kepalanya, tanda ia paham apa yang di maksud oleh rie. "Jadi sekarang kau akan menuju kemana Bu bidan?" Lagi, mia bertanya terus kepada rie.
Perawat mia membelalakkan matanya ke arah wajah rie. "Apa? Dokter yang memiliki watak dan sikap yang dingin itu? Kenapa dia memanggilmu? Apa kau ada menyinggung dokter zoey?" Tanya perawat mia lagi.
Rie mendekatkan dirinya kepada perawat mia. "Aku tidak tahu mia." Kata rie sedikit berbisik. "Tadi ketika aku sedang menjenguk dokter bara di ruang rawat inapnya, tiba tiba saja pintu kamar ruang rawat khusus dokter bara terbuka. Dan dokter zoey yang muncul di ruang itu. Lalu dia memanggilku. Dan memerintahkan aku untuk ke ruang pribadinya. Jujur, aku sedikit terkejut dan sedikit cemas" Cerita rie panjang lebar.
Perawat mia tanpa sengaja mengangakan mulut nya. "Hey Mia. Kau mendengarku?" Tanya rie mengejutkan perawat mia.
Perawat mia terlihat sedikit pucat. Lalu ia menutup mulutnya. "Bu bidan rie. Aku tidak pernah melihat dokter zoey begitu perduli pada tenaga kesehatan yang lain." Ujar mia.
"Hah" Ucap rie bingung. "Ya, seperti yang kau alami saat ini. Kau tahu tidak, dokter zoey dan dokter bara adalah dokter tertampan, terpintar dan terdingin di hospital tempat kita bekerja saat ini. Biasanya mereka berdua tidak pernah perduli." Ujar mia lagi.
"Aku rasa, kau tidak melakukan kesalahan. Dan tidak melukai perasaan dokter zoey karena tadi kau menjenguk dokter bara tadi" Jelas mia.
"Aku tidak mengerti mia. Baiklah. Aku lanjut dahulu. Aku mau langsung ke atas ke ruang dokter zoey. Terimakasih banyak karena telah membantuku tadi mia. Ini nomor Handphone ku. Kau bisa mengirim nomormu nanti." Ucap rie.
Mia mengambil kartu nama yang diberikan rie kepadanya. Lalu menyimpannya di saku baju dinas perawatnya. "Baiklah bu bidan rie. Terimakasih sudah mau menjadi teman baru ku. Biasanya kalau sudah memberikan nomor handphone artinya orang tersebut mau berteman." Kata mia pada rie.
"Iya. Sampai ketemu nanti. Aku pamit dulu mia." Rie pamit kepada mia. Mia menganggukkan kepalanya. Dan rie berjalan menuju Lift khusus. Menekan pintu Lift, lalu masuk kedalamnya.