
Dokter moza tercengang saat mendatangi kamar istrinya. Terlihat kosong. Tidak ada sosok istrinya di dalam kamar itu.
Dengan cepat dokter moza melangkahkan kaki ke dalam kamar istrinya, membuka pintu kamar mandi. Tapi hasilnya tetap saja nihil. Sang istri tidak ada di dalamnya.
Entah mengapa otak dokter moza mengarahkan tubuhnya untuk mengecek lemari pakaian yang ada di dalam kamar istrinya.
Ketika ia membuka lemari terlihat tidak ada sehelai baju pun yang bertengger di dalam lemari itu.
Tubuh dokter moza mulai terasa lemas. Serangan panik mulai melanda dirinya. Membuat tubuhnya terkulai dan terduduk di atas lantai kamar.
Dokter moza mengusap-usap wajahnya kasar.
"Arrrrggghhhh!". Teriak dokter moza kesal.
Bagaimana mungkin ia bisa kecolongan? Padahal baru sebentar saja ia meninggalkan ruang tengah. Hanya untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian untuknya di rumah. Cepat sekali gerakkan istrinya untuk pergi meninggalkan rumah ini.
"Sepertinya aku sangat keterlaluan memperlakukannya. Sehingga ia meninggalkanku sendirian di rumah ini. Harus kemana ku cari dia? Apa lagi ini sudah tengah malam buta." Rutuk dokter moza kepada dirinya sendiri.
Pikiran dokter moza tengah melayang-layang. Melanglang buana ke awang-awang. Ia yang terus menyalahkan dirinya atas kepergian istrinya. Karena sikapnya yang memang sudah sangat keterlaluan memperlakukan sang istri. Dia menyadari itu.
Namun semua sudah terlambat. Sang istri sudah pergi meninggalkan rumah mereka. Tanpa pamit. Tanpa ia ketahui kemana istrinya pergi. Seandainya ia bisa memutar waktu. Ia bisa menahan istrinya untuk tetap tinggal di dalam rumah.
"Tunggu dulu. Bukankah tadi dia muntah-muntah?. Dan sepertinya ia sangat sensitif sekali. Apa aku kurang perhatian kepadanya?". Tanya dokter moza di dalam benaknya.
Dokter moza ternganga. Kemudian telapak tangan kanannya menutup mulutnya yang terlihat menganga lebar.
"Apa dia hamil? Anakku!". Teriak dokter moza berlebihan.
Dokter moza seperti tidak bisa menahan dirinya. Ia lalu bangkit dari duduknya. Berjalan mondar mandir di dalam kamar istrinya.
"Aku harus melakukan apa?!". Tanya dokter moza kepada dirinya sendiri.
Tangan dokter moza yang satu melipat di atas dadanya. Sementara yang satu lagi menopang mulut dan dagunya. Sambil masih mondar mandir di dalam kamar istrinya.
Tiba-tiba ia menghentikan gerakkan tubuhnya. Menatap jam tangan yang melekat di pergelangan tangan kirinya.
"Pukul 01.25 PM. Sudah hampir pagi. Haruskah aku meminta bantuannya?". Tanya dokter moza lagi pada dirinya sendiri.
Seperti orang yang tidak waras. Sebentar ia mengitari kamar istrinya dengan berjalan mondar mandir. Sebentar juga ia berbicara sendiri pada dirinya. Bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa aku tidak mengganggu dirinya jika aku menghubunginya saat ini?". Lagi ia bertanya sendiri.
Sudah benar-benar seperti orang yang tidak waras. Karena syndrome kepanikkan dan kekalutannya membuat dokter moza tidak bisa berfikir dengan jernih.
Seharusnya ia tahu dan sadar jika menghubungi seseorang ditengah malam buta seperti ini jelas saja itu mengganggu. Tidak sopan dan tidak memiliki etika.
"Sebaiknya aku hubungi saja." Ujar dokter moza lagi.
Dengan segera ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar istrinya. Melangkahkan kaki berjalan cepat menuju kamar dirinya.
Ia membuka knop pintu kamarnya. Berjalan menuju nakas yang terletak di sebelah tempat tidur miliknya. Mengambil benda pipih yang terletak di atas nakas itu. Sebuah gawai atau handphone android miliknya.
Dokter moza menyentuh layar handphone androidnya. Mencari nomor seseorang di dalam daftar telepon. Kemudian ia menekan tombol dial. Ia melakukan panggilan telepon secara langsung, bukan menggunakan aplikasi seperti biasanya. Takutnya seseorang yang akan di hubunginya menonaktifkan sinyal internet yang terpasang di dalam handphonenya.
Seseorang mengangkat telepon dari seberang. Sambungan telepon dokter moza yang menghubungi orang itu pun tersambung dengan cepat.
"Hello moza. Ada apa kau menghubungi malam-malam buta seperti ini hah?". Sambut seseorang yang tengah dihubungi oleh dokter moza.
"Zoey, maaf aku mengganggumu di tengah malam seperti ini." Jawab dokter moza.
Suara dokter zoey terdengar sedikit ketus.
"Jelas saja kau mengganggu. Ini waktu liburku. Aku ingin menghabiskan waktuku untuk istri dan keluargaku. Jangan bahas tentang pasien dulu. Kecuali penting!" Sindir dokter zoey telak.
"Ini bukan soal pasien zoey. Aku sebenarnya ingin meminta tolong kepada dirimu. Bisakah kau menolong sahabatmu ini?". Rayu dokter moza kepada sahabatnya, dokter zoey.
"Ish... Ck... Ck... Ck... Memangnya kau mau minta tolong apa blonde?". Tanya dokter zoey sedikit kesal.
"Benar kau mau membantuku zoey?". Tanya dokter moza memastikan.
"Ck... Cepat kau katakan moza. Hisshh..." Rutuk dokter zoey semakin kesal.
Dokter moza berdehem pelan. Mengatur nafas dan suaranya.
"Sebenarnya aku kehilangan istriku zoey. Dia tidak ada di dalam rumahku saat ini. Bisakah kau tanyakan kepada istrimu, apakah istrimu tahu dimana keberadaan istriku zoey? Tolong bantu aku tanyakan pada istrimu ya zoey." Pinta dokter moza lembut.
Seperti dokter moza sedang memohon kepada sahabatnya ini.
Terdengar gelak tawa dari dokter zoey. Seperti terkekeh geli tidak karuan. Sedang menertawakan sahabatnya dokter moza yang sedang kehilangan istrinya.
Dokter moza memfokuskan pendengarannya. Memastikan suara yang tengah di dengarnya. Ia seperti mendengar suara istrinya sedang berbicara yang terdengar samar-samar dari dalam handphone android miliknya.
Seketika ia mengerenyitkan keningnya.
"Kenapa kau tertawa zoey?!". Tanya dokter moza sedikit keras.
Dokter zoey menghentikan gelak tawanya. Tidak terdengar lagi suara tawa dari dokter zoey.
"Kau ini suami aneh. Bagaimana mungkin kau tidak tahu keberadaan istrimu dimana hah? Kau gila ya moza?". Serang dokter zoey.
Kembali suara tawa dokter zoey terdengar di dalam gendang telinga dokter moza.
"Bukan begitu zoey. Aku..." Ucapnya terputus.
Dokter zoey menghentikan tawanya. Mengatur deru nafasnya agar stabil.
"Istrimu ada disini. Di hadapanku." Kata dokter zoey memotong ucapan dokter moza.
Sedikit emosi dokter moza tersulut. Ia terpancing oleh perkataan dari dokter zoey.
"Apa?! Kau apakan istriku?! Kenapa tengah malam begini istriku ada bersamamu?!!!". Tanya dokter moza yang tersulut emosi.
"Hey moza! Kau kenapa marah? Apa kau sudah gila? Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau tidak tahu istrimu sedang ada dimana? Apa kalian bertengkar?. Aku beritahu kau ya, aku ini suami setia. Aku sedang berada di rumah papa dengan istriku. Istrimu itu kan saudara sepupu kandung istriku. Bagaimana otakmu itu berfikir hah?". Ucap dokter zoey menyekak telak sahabat dan juga sepupu iparnya.
Dokter moza tidak menggubris perkataan dari dokter zoey.
"Aku kesana sekarang zoey." Kata dokter moza tiba-tiba.
Dengan keputusan sepihak ia mematikan sambungan teleponnya dengan dokter zoey. Membuat dokter zoey mengerenyitkan keningnya. Sambil menatap layar handphone androidnya.
"Moza kenapa? Apa dia benar-benar sudah gila?". Tanya dokter zoey kepada dirinya sendiri.
"Siapa yang menelepon tengah malam buta begini nak?". Tanya alan kepada menantu kesayangannya.