
Langit tampak begitu cerah. Matahari menyinari bumi dengan sinar yang sangat terik. Hari ini tepat pukul 12.00 am. Waktunya tengah hari. Siang hari yang sangat begitu panas. Membakar kulit hingga terasa pedih.
Di dalam Hospital. Tepat di ruang kamar perawatan VVIP yang sedang di tempati oleh dokter bara yang masih koma. Begitu sepi. Tidak ada seorang pun yang menemani tubuh dokter bara yang masih terbaring. Yang dilengkapi dengan alat-alat medis yang menempel di tubuh dokter bara.
Koridor ruang VVIP pun tampak sepi. Lenggang. Tidak ada kunjungan dari para keluarga pasien. Termasuk Keluarga dari dokter bara. Hanya ada beberapa perawat yang berkeliaran ke tiap ruang perawatan VVIP pasien. Mengecek keadaan pasien. Memberikan perawatan yang ekstra. Sesuai jadwal dan titah dari dokter-dokter yang menangani tiap para pasien eksekutif.
Ruh dokter bara, tiba - tiba muncul di kamar ruang perawatan VVIP tempat di mana tubuhnya sedang berada. Ia berdiri didekat jendela kamar ruangan itu. Lalu perlahan mendekat ke arah tubuhnya berada. Berdiri disamping tubuhnya. Terus menatap seluruh tubuhnya dengan tatapan sendu.
Sementara, di koridor ruang VVIP yang terlihat lenggang dan sepi. Muncul seorang anak kecil. Dengan wajah mungil dan cantik. Rambut di kucir dua. Rambut hitam legam dengan bentuk keriting seperti sosis. Memakai baju warna hitam dengan model baju lolita. Dengan kaus kakinya yang hampir selutut dan sepatu khusus untuk gaun lolita yang juga berwarna hitam.
Gadis kecil yang seperti usia 8 tahun. Tengah berlari di koridor. Sambil memeluk sebuah boneka teddy bear berukuran sedang. Gadis kecil itu, berlari ke arah ruang perawatan VVIP milik dokter bara yang sedang koma.
Gadis itu menembus pintu ruang perawatan VVIP milik dokter bara. Lalu menghampiri tubuh dokter bara yang sedang terbaring di atas tempat tidur.
Ruh dokter bara sontak terkejut. Melihat gadis kecil yang tiba-tiba hadir dan satu ruang dengannya saat ini.
Gadis itu menatap ke arah tubuh dokter bara. Menatap dengan tatapan kesedihan yang mendalam.
Gadis kecil itu, lalu memalingkan pandangannya. Menjatuhkan pandangannya ke arah ruh dokter bara. Makin memberikan tatapan yang penuh dengan kesedihan. Terlihat ia ingin menangis.
Dokter bara sampai merasa bingung melihat gadis kecil itu.
Tapi, dokter bara hanya menatap gadis kecil itu dengan tatapan yang datar. Tatapan yang tanpa ekspresi. Sehingga membuat gadis kecil itu memecahkan tangisnya.
"Hey, kau anak kecil. Apa yang kau lakukan di kamarku? Kenapa kau menangis?" Tanya ruh dokter bara kepada gadis kecil itu.
Gadis kecil yang juga merupakan ruh, seketika menghentikan tangisnya. Tapi tidak menanggapi pertanyaan dari ruh dokter bara kepada dirinya.
"Kau ini kenapa diam saja? Aku sedang bertanya. Kau juga sedang tidak sadar?" Tanya ruh dokter bara lagi.
Gadis kecil itu kembali sesenggukan. Menatap kearah ruh dokter bara.
Ruh dokter bara menjadi semakin bingung. Ia terus menatap kearah gadis kecil itu.
"Hey anak kecil. Sebaiknya kau jangan ke kamarku. Kembalilah ke kamarmu sendiri." Ucap ruh dokter bara.
Anak kecil itu kemudian mendekati ruh dokter bara. kini ia ada disamping ruh dokter bara. Ruh dokter bara membalikkan tubuhnya. Hingga berhadap-hadapan dengan gadis kecil itu.
"Papa." Kata gadis kecil itu kepada ruh dokter bara.
Dokter bara terkejut mendengar ucapan dari gadis kecil itu.
"Apa?!" Tanyanya dengan ekspresi raut wajah terkejut.