Rie

Rie
Adik Alan Monte



Kediaman Alan monte, di rumah mewah seperti banglo. Lebih tepatnya di halaman belakang rumah alan yang luas. Dengan desain yang tampak sangat indah. Dan ada kursi dan meja khusus untuk bersantai bagi alan. Ada juga kolam renang yang biasanya sering di pakai oleh anaknya rie ketika masih tinggal dengan alan dahulu.


Alan duduk di kursi halaman belakang rumahnya. Sambil menikmati secangkir teh hangat dan pancake ala Amerika yang sudah tersaji di depannya. Menikmati indahnya cuaca pagi hari.


Alan mengambil sebuah benda pipih yang terletak di atas meja di hadapannya. Sebuah handphone miliknya. Terlihat dari wajahnya muram. Seperti memikirkan sesuatu hal. Sesuatu hal yang ia takutkan. Tentang ponakkannya mika.


Fikirannya terfokus pada suatu hal yang selama ini sudah disimpannya rapat - rapat. Dimana suatu hal ini cepat atau lambat harus naik ke permukaan. Kenyataan pahit yang akan dihadapi oleh ponakkan kandungnya yang sudah dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Alan menimang - nimang keputusan apa yang akan ia lakukan. Yang sebenarnya alan sudah tahu harus melakukan apa. Hanya saja dalam fikirannya, apakah mika akan menerima kenyataan yang sebenarnya jika ia tahu 'fakta' sebenarnya? Apakah mika bisa menerima jika ia tahu nanti?


'Oh yang benar saja. Ini benar - benar membuat kepala terasa akan pecah.' Gumam alan sendiri.


Tapi, fakta ini suka atau tidak suka tetap harus di ungkapkan. Sudah terlalu berlarut - larut disimpan selama hampir 30 tahun. Ini sungguh gila. Alan sudah tidak tahan memikirkan rahasia yang sudah sangat lama ia simpan dari mika dan rie. Pastinya ini akan membuat fatal pada kejiwaan mika nantinya. Dan anaknya rie pasti akan 'shock', serta akan memarahinya nanti.


'Menyusahkan saja.' Gumam alan lagi dengan rasa kesal yang membuncah di dalam dadanya.


Alan masih menatap pada layar handphonenya yang ada dalam genggamannya kini. Ia melihat satu nomor tanpa berkedip. Nomor seseorang yang selama ini masih disimpannya. Nomor seseorang yang sangat penting dalam hidupnya. Shane.


Alan akhirnya memutuskan untuk menelepon nomor itu. Yang sudah lama seseorang yang bernama shane itu menghilang dari lingkar kehidupan alan.


Alan menekan nomor itu. Dan panggilan itu pun berdering.


'Ternyata masih tersambung' Alan tersenyum sinis.


Seseorang yang bernama shane, mengangkat handphonenya yang berdering.


"Hello." Sapa shane ramah.


"Hey bocah nakal. Dimana kau sekarang?." Tanya alan pada shane.


Shane terlihat bingung mendengar suara seseorang yang sedang berbicara dengannya lewat sambungan telepon dari handphone miliknya.


Berani - beraninya seseorang itu memanggilnya dengan bocah nakal? Padahal shane sudah setua ini. Sudah berusia 62 tahun. Apakah itu sopan? Tapi shane berfikir dalam benaknya, seperti sangat mengenal suara seseorang yang tengah menghubunginya sekarang. Suara yang familiar dalam benak shane.


"Siapa ini?." Tanya shane dengan nada serius.


Alan memijit pelipisnya.


"Kau ini apa tidak mengenali suaraku? Apakah kau melupakanku? Apa aku tidak penting didalam hidupmu hah? Haruskah aku mendatangimu dan mengetuk kepalamu? Biar otakmu itu tidak 'alzhemeir' seperti saat ini bocah tengik." Ujar alan kesal.


"Apa alzhemeir?.' Tanya shane kepada alan yang sedang berbicara padanya saat ini lewat sambungan telepon miliknya.


"Ya ampun. Hey, kau dengarkan aku baik - baik. Akan aku beritahu siapa aku agar kau bisa mengingat masa lalumu!" Ucap alan sedikit emosi.


"Apa masa lalu?." Tanya shane lagi sedikit terkejut mendengar ucapan dari alan kepadanya.


"Perkenalkan tuan shane yang terhormat. Aku adalah Alan Monte. Sudahkah kau mengingatku tuan shane?." Sindir alan dengan nada lembut tapi menekan.


Sudah sangat lama ia tidak mendengar suara alan. Saat terakhir mereka bertemu sekitar hampir 30 tahun lalu. Saat ia pindah. Saat ia meninggalkan Negara ini untuk pindah ke Negara lain bersama anak dan istrinya. Dan shane menghilang dari alan. Tidak pernah mengabari alan atau pun mengunjungi alan. Hilang kontak dengan alan.


"Kakak." Kata shane sendu.


"Hmmm. Akhirnya kau mengingatku bocah tengik. Kau ini benar - benar menyebalkan sekali. Kemana saja kau selama ini? Kau menghilang seperti ditelan bumi saja. Tidak mengabariku. Tidak mengunjungiku. Dalam waktu yang sangat lama. Apa kau tidak menganggapku sebagai kakakmu hah?." Alan merong - rong dengan banyak pertanyaan kepada shane yang ternyata adalah adik dari alan.


"Maafkan aku kakak. Aku..." Ucap shane terputus.


"Kau itu sudah sangat keterlaluan shane." Celetuk alan kesal dan menyela ucapan dari shane.


"Iya kakak. Aku tahu aku salah. Jadi maafkan aku kakak." Pinta shane pada alan.


"Sebenarnya saat ini kau sedang ada dimana shane?." Tanya alan.


"Aku... aku... aku sekarang ada di Indonesia kakak. Baru saja kemarin aku tiba di Negara ini." Shane memberitahu alan.


"Apa?! Kau ini benar - benar... Huft..." Alan menghembuskan nafasnya kasar.


"Kenapa kau tidak mendatangiku? Aku tidak habis fikir tentang tingkahmu shane. Kau benar - benar membuatku sangat kesal. Sebaiknya kau menemuiku secepatnya. Aku ingin kau menyelesaikan masalah yang kau buat saat terakhir kali kita bertemu. Aku menunggumu di rumahku." Ujar alan.


"Masalah apa kak?." Tanya shane.


"Oh kepalaku mau pecah sekarang. Kau sepertinya memang memiliki alzhemeir tingkat akut. Apa kau lupa? kalau dahulu kau memberikan anakmu mika kepadaku dan istriku untuk dirawat? Apa kau tidak merindukan putrimu hah?." Skak mat dari alan kepada shane adiknya.


Di seberang sana, tiba - tiba tidak terdengar suara shane lagi. Shane terdiam membisu. Seperti kaku dan membeku ketika mendengar alan sang kakak yang menembaknya langsung dengan kalimat yang menyudutkan dirinya.


Perbuatan dan kelakuannya di masa lalu. Yang menyerahkan puterinya kepada kakaknya untuk dirawat. Padahal bukan ia tidak mampu merawat puterinya. Tapi ada alasan kuat sehingga ia harus melakukan hal itu di masa lalu. Waktu itu di masa lalu dalam fikiran shane saat itu. Apakah shane sudah menjadi ayah yang kejam? Ayah yang tidak memiliki hati? Ayah yang keterlaluan? Tentu saja iya. Karena tidak seharusnya seorang ayah, seorang orang tua yang dalam kondisi apa pun melakukan hal yang menelantarkan darah dagingnya. Lepas tanggung jawab untuk merawat darah dagingnya. Dan kesalahan shane di masa lalu sudah sangat fatal. Dimana shane tidak akan pernah bisa memutar waktu kembali pada masa itu. Dan tidak melakukan perbuatan yang dikatakan alan sang kakak padanya tadi.


"Shane kau dengar aku?." Tanya alan.


"Ya kak. Aku mendengar suara kakak." Jawab shane.


"Kita selesaikan masalah ini. Dan ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu shane. Jadi aku menunggu kedatanganmu secepatnya." Ucap alan penuh penekanan.


"Masalah apa kak?." Tanya shane linglung.


Alan menepuk keningnya.


"Arrgggh... Kau ini. Tentu saja masalah puterimu! Biar bagaimanapun mika harus tahu kenyataan ini. Kau harus menjelaskan kenyataannya. Jangan sampai kau tidak datang! Aku tunggu kau di rumahku." Kata alan kesal.


"Kenyataan apa paman?." Tanya mika yang ternyata sudah hadir di belakang alan bersama dengan rie.