Rie

Rie
Ruang Rawat VIP Tempat Mika



Pagi telah menjelang. Saat ini waktu menunjukkan pukul 06.00 am.


Mika terbaring kaku di atas tempat tidur. Dengan tatapan yang kosong. Dan bulir air mata yang masih mengalir keluar dari kedua kelopak matanya.


Dalam fikirannya tengah melayang - layang kejadian kemarin. Kejadian yang membuat dirinya sangat terpukul. Trauma berat yang mulai melingkar di jiwanya.


Yang sangat ia tidak bisa memperkirakan. Tidak terbayang oleh dirinya. Seorang pria yang notabene nya memiliki segalanya. Dalam segala aspek terlihat bagus, bisa - bisa nya melakukan tindakan tidak terpuji kepada seorang wanita. Ya, dirinya. Mika lah wanita itu. Semuanya terasa tidak masuk akal. Di luar nalar.


Kini pria itu masih tertidur pulas di samping mika. Melingkarkan tangannya diatas perut mika.


Dokter moza, perlahan kini mulai sadar dari dunia mimpinya. Terbangun dari tidur lelapnya. Memperbaiki posisi tidurnya yang miring. Terasa sempit memang. Walaupun kasur untuk ruang perawatan VIP memang lebih besar dari ruang pada umumnya.


Dokter moza menjatuhkan pandangannya ke arah wajah mika. Tampak wajah mika yang sembab dan masih terlihat bulir air mata yang mengalir dipipi mika.


Dokter moza mengusap bulir air mata mika dengan jemarinya. Kemudian mengecup pipi mika dengan lembut.


"Selamat pagi wanita-ku." Sapa dokter moza ramah.


Mika tidak bergeming. Ia tidak merespon sapaan dari dokter moza. Mika diam membisu. Tidak ingin dirinya mengeluarkan suara dan sepatah katapun dari mulutnya yang mungil.


"Diet-mu sebentar lagi akan diantar oleh bagian ahli gizi." Sambung dokter moza lagi.


Mika masih tidak bergeming. Tatapannya masih kosong menatap ke langit - langit plafon ruang perawatan VIP yang di tempatinya saat ini.


"Kenapa kau diam saja? Apa yang kau fikirkan?." Tanya dokter moza kepada mika.


Mika mulai merasa kesal. Semakin sering ia mendengar suara dokter moza, semakin membuat dadanya semakin sesak. Semakin kesal. Kebencian mulai tumbuh di dalam hatinya.


"Kau masih tidak mau meresponku?." Tanya dokter moza lagi.


Dokter moza kemudian bangkit dari tempat tidur. Menurunkan kedua kakinya. Berjalan menuju kamar mandi. Kemudian ia membasuh wajahnya. Lalu ia mengeringkan wajahnya. Mengelap wajahnya dengan handuk.


"Dengarkan aku baik - baik nona tawon. Terimakasih sudah memberikan mahkota-mu padaku. Aku sangat terkejut. Ternyata masih ada wanita zaman sekarang yang bersegel ya." Dokter moza tersenyum.


Mika menjatuhkan pandangannya dengan cepat ke arah dokter moza. Memicingkan kedua matanya. Tanda peringatan kepada dokter moza. Yang tidak difahami oleh dokter moza maksud dari tatapan mika kepada dirinya.


"Kau satu-satunya wanita yang menolakku. Tidak tertarik padaku. Dan itu menarik buat-ku. Jadi aku putuskan untuk memilikimu seutuhnya. Kau milikku dan akan selamanya menjadi milikku." Jelas dokter moza penih penekanan.


"Apa? Kau tidak bisa..." Ucap mika terputus.


"Aku akan bertanggung jawab. Kau tenang saja. Dalam waktu dekat aku akan Menikahi kau nona tawon." Kata dokter moza jelas memotong ucapan mika, sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Apa???!." Teriak mika kencang.


Sontak mika terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut dokter moza yang ditujukan kepadanya.


"Hey, kau jangan berteriak." Kata dokter moza mengingatkan mika.


Mika memasang muka masam. Menekukkan raut wajahnya. Ia tidak tahu harus mengeluarkan kata apa untuk dokter moza yang bersikap seenaknya kepada dirinya.


"Sebaiknya kau bersiap - siap. Karena siang ini kau sudah bisa keluar dari hospital. Tapi kau akan ikut aku. Agar kau tidak lari dari pernikahan kita nanti."


"Kau!." Teriak mika lagi tercekat.


"Permisi. Bolehkah saya masuk? Ini saya mau mengantarkan diet pagi ini untuk Nona mika." Ucap seorang wanita dari luar, depan pintu ruang rawat VIP tempat mika dan dokter moza sedang berada.


Mika dan dokter moza secara spontan melihat ke arah pintu masuk.


"Silahkan." Ucap dokter moza.