Rie

Rie
Perjalanan Menuju Rumah Paman Mertua



Dokter Moza mematikan sambungan teleponnya. Dengan cepat ia menyambar kunci mobilnya. Berjalan menuju halaman rumahnya. Membuka pintu utama rumah cluster miliknya. Menutupnya dengan sedikit kencang. Dan pintu itu terkunci secara otomatis.


Ia melangkah dengan tergesa-gesa. Membuka pintu mobil miliknya. Lalu dengan cepat ia masuk ke dalam mobilnya. Menyalakan mesin mobil. Dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan laju.


Waktu dini hari hampir menunjukkan pukul 2 pagi. Terasa jalanan agak sedikit lenggang. Suasana terasa begitu sepi.


Dengan cekatan dokter moza menyalakan lagu di dalam mobilnya. Terdengar lantunan lagu yang sedang trending saat ini. Lagu To The Bone yang disenandungkan oleh Pamungkas. Jelas terasa sedikit mewakili ungkapan gambaran perasaan dokter moza saat ini. Sedikitnya ia mulai terlena mengikuti tiap dentuman musik yang dibawakan oleh pamungkas ini.


Dokter moza menarik nafasnya dalam-dalam. Menghirup udara dini hari yang begitu dingin. Lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Tanda melepaskan sedikit beban yang dipikulnya. Seperti terasa sedikit berat.


Kaca jendela mobil dokter moza terlihat setengah terbuka.


Terlintas sejenak dalam benaknya, tentang apa yang dia lihat ketika ia memasuki rumah. Saat istrinya secara tidak sengaja menabrak tubuhnya. Kemudian melihat istrinya muntah-muntah di wastafel.


Terlihat raut wajah dokter moza seperti menggambarkan banyak pertanyaan. Rasa curiga dan rasa khawatir yang beda tipis. Keningnya sedikit mengkerut. Sementara mata dokter moza sedikit menyipit.


'Kenapa mika tadi muntah-muntah ya? Apa dia masuk angin karena telat makan dan kurang istirahat?'. Pertanyaan itu berputar-putar di dalam benak dokter moza.


Kembali ekspresi wajah yang penuh rasa penasaran menghiasi raut wajah dokter moza.


'Sebenarnya malam kedua setelah hari pernikahanku aku memasuki kamar yang ditempati oleh mika. Aku melihat dia tertidur sangat lelap. Dan saat itu posisi tidurnya benar-benar menggodaku. Jadi aku tidak bisa menahan hasratku. Dan aku sudah menjalankan tugasku sebagai suami malam itu. Aku memberikan nafkah bathinku. Tapi dia seperti tidur mati. Tidak sadar dengan perbuatanku kepada dirinya malam itu. Huft'. Kembali kepingan-kepingan kejadian di malam kedua setelah hari pernikahan dokter moza dan mika bermunculan di dalam benak dokter moza. Dimana membuat hatinya sedikit menghangat. Seperti ada desiran-desiran di dalam tiap aliran darahnya. Seperti sedang jatuh cinta. Rasa yang tanpa dokter moza sadari.


'Apa mika hamil? Makanya ia muntah-muntah.' Kata dokter moza lagi dalam benaknya.


"Ah... Membuatku penasaran saja. Apa aku sudah jatuh cinta kepada istriku ya?". Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut dokter moza.


Dokter moza menutup kaca mobilnya. Ia menambahkan kecepatan mobilnya. Melaju dengan indah. Hingga dalam waktu 35 menit kuda besi yang ia tunggangi telah sampai di pelataran halaman rumah paman mertuanya. Ayah dari rie. Istri sahabat baiknya. Yang kini telah menjadi kerabat dekatnya.


Dokter moza dengan cepat memarkirkan mobilnya. Ia dengan segera turun dari dalam mobil. Bergegas melangkah menuju pintu utama rumah paman mertuanya. Paman kandung dari mika istrinya.


Dokter moza dengan cepat membuka pintu utama rumah paman mertua. Melangkah menuju ruang tamu.


"Mika..." Panggilnya dengan suara yang sedikit terdengar serak.


Kala itu waktu menunjukkan hampir jam 02.35 Am. Terlihat semua orang masih berkumpul di ruang tamu.


Ada dokter zoey dan istrinya rie. Ada yuki dan alan. Serta ada istrinya mika.


Secara spontan suasana di ruangan itu menjadi hening. Tidak terdengar suara atau sepatah kata pun. Mata semua yang ada di ruangan itu tertuju kepada dokter moza. Dengan deru nafas yang masih sedikit terengah-engah. Membuat dokter moza menjadi terpaku dan sedikit kikuk.


"Hey moza. Bisakah kau sebelum masuk ke dalam rumah ini membunyikan bel? Jangan main masuk saja seperti saat ini. Kau sudah seperti maling saja." Sindir dokter zoey yang memecahkan keheningan malam itu.


"Eh... Aku... Aku...". Ucapnya terbata-bata.


"Sudahlah nak." Kata alan seperti mendamaikan suasana yang sedikit tergambar tidak enak di ruangan itu.


Yuki mengeluarkan suara dehemannya.


"Kau dari mana moza? Apa kau baru pulang dari hospital dan langsung ke sini?". Tanya yuki pada dokter moza.


"Aku..." Kalimat dokter moza terputus seketika.


"Iya paman. Suamiku baru saja pulang dari hospital. Karena ada banyak pasien yang ia harus tangani. Makanya tadi aku kesini paman. Karena aku takut sendirian di rumah. Soalnya suamiku akhir-akhir ini selalu pulang sangat larut malam. Seperti yang aku katakan tadi pada paman." Tukas mika memotong kalimat suaminya.


"Hmmm... Oh begitu. Paman fikir kalian berdua sedang bertengkar." Ujar Alan ikut menimpali.


"Tentu saja tidak paman. Aku dan suamiku baik-baik saja. Iya kan sayang?" Mika menekankan kalimat pertanyaan terakhirnya kepada suaminya, dokter moza.


"Eh iya paman. Benar apa yang dikatakan istriku." Dokter moza dengan cepat menanggapi kalimat yang dilontarkan oleh istrinya.


'Ah, sial. Berani sekali dia memanggilku dengan sebutan sayang ?. Dan Berani sekali dia seperti menekanku dengan kalimatnya itu? Hmmm... Sungguh menarik. Awas saja, aku akan pastikan memberikan hukumannya padamu istriku yang tersayang.' Kembali, kalimat itu mulai menghiasi benak dokter moza.


"Lantas kalau memang seperti itu, kenapa kau masuk tergesa-gesa dan tanpa membunyikan bel rumah ini? Seperti kata suamiku, kau seperti maling saja." Tembak rie kepada dokter moza yang telah menjadi sepupu ipar bagi dirinya.


Dokter moza menelan salivanya. Ia terlihat seperti mati kutu dengan perlakuan dari sahabat serta sepupu kandung dari istrinya. Tapi dia berusaha tetap tenang agar tidak terlihat bahwa sebenarnya ia memang ada sedikit salah paham dengan mika sang istri. Otaknya mulai berputar. Mulai merangkai kalimat yang masuk akal. Yang akan dilontarkannya kepada semua orang yang hadir di ruangan itu.


Senyum manis tercetak jelas di wajah dokter moza.


"Aku sangat khawatir dengan keadaan istriku. Soalnya tadi ia memberitahuku kalau ia merasa mual dan muntah-muntah. Jadi aku bergegas untuk segera menemui istriku." Ucap dokter moza dengan jelas.


Dokter zoey tersenyum penuh arti. Ia tahu bahwa sahabat terbaiknya sedang menutupi kelakuan absurdnya.


'Dasar bocah tengil. Berani sekali kau menipu Ayah dan papa mertuaku. Sungguh menarik.' Ucap dokter zoey dalam benaknya.


Semua mata tertuju kepada diri mika. Melihat mika dengan tatapan heran.


"Kau muntah-muntah mika? Tapi kau terlihat baik-baik saja. Tidak seperti masuk angin. Apa perutmu kembung? Tapi memang kau terlihat sedikit pucat." Ujar rie mulai merong-rong mika dengan pertanyaan.


"Apa kau hamil nak?" Tanya yuki kepada mika.


Kalimat yuki membuat ekspresi wajah mika menjadi terlihat sedikit panik.