Rie

Rie
Dokter Moza Yang Ketus



Di sebuah perumahan cluster. Terlihat mika sedang menyirami tanaman di pekarangan halaman rumahnya. Bunga-bunga miliknya yang terletak di dalam beberapa pot bunga. Tampak tersusun berjejer di depan teras rumahnya.


Sebuah mobil memasuki pelataran halaman rumah cluster milik dokter moza. Memarkirkan kendaraan roda empat di parkiran sebelah kiri samping rumah cluster. Sosok dokter moza tampak turun dari dalam mobil.


Dokter moza berjalan memasuki rumah cluster miliknya. Tanpa memperdulikan sosok istrinya yang masih berdiri di teras rumah sambil memegang alat untuk menyirami tanaman.


Perasaan mual mulai menghampiri diri mika. Sehingga ia meletakkan alat untuk menyirami bunga ke bawah. Mika berlari masuk ke dalam rumah, tanpa sengaja ia menabrak dokter moza. Membuat dokter moza terkejut.


Terdengar suara muntah mika di wastafel dekat dengan kitchen set yang berada didapur rumah cluster milik dokter moza.


Wajah mika terlihat pucat. Kepalanya terasa seperti berputar kencang.


"Hey. Kau kenapa? Kenapa kau tadi menabrakku? Dan apa-apaan kau bisa muntah seperti itu? Kau jorok sekali ya!". Umpat dokter moza.


Mika tidak menghiraukan perkataan dokter moza kepada dirinya.


Terlihat sikap dokter moza yang seperti orang asing bagi mika. Sedikit ketus, kasar dan acuh kepada mika. Padahal mika adalah istrinya yang baru ia nikahi sekitar dua minggu lalu. Seharusnya ia tidak boleh bersikap seperti itu kepada mika.


Mika mengelap mulut dan wajahnya dengan menggunakan tisu. Kemudian membuang bekas tisu yang ia pakai ke dalam tong sampah di dapur rumah cluster milik dokter moza.


"Hey! Aku bicara kepadamu. Apa kau tidak mendengarku?!" Teriak dokter moza kencang.


Mika menatap dokter moza dengan tatapan datar. Kemudian ia berjalan ke arah dokter moza. Behenti tepat di depan dokter moza.


Entah mengapa dokter moza menjadi dingin terhadap mika. Padahal beberapa hari lalu ia masih sedikit lembut jika sedang bercengkrama dengan istrinya. Apakah karena pertemuannya dengan leah? Apa karena ia mungkin masih memiliki sedikit rasa pada leah? Wanita dari masa lalunya yang pernah ia sukai. Padahal kenyataannya kini leah adalah kakak iparnya. Kakak kandung dari sang istri.


Seharusnya ia tidak boleh masih mengharapkan leah menerima hatinya. Bukankah ia tahu kalau leah telah memiliki seorang puteri, benih dari sahabatnya sendiri. Dokter bara mateo. Walaupun leah dan dokter bara belum terikat pernikahan suci, layaknya ia dan sang istri.


Berkat keegoisannya kepada mika, ia mengambil mahkota paling berharga milik istrinya itu. Jangankan rasa cinta, rasa suka saja tidak terlihat dari dokter moza untuk istrinya. Terlihat kejam memang. Namun mika tetap biasa saja menyikapi dokter moza yang kini telah menjadi suaminya.


Mika menatap wajah suaminya.


"Kau baru pulang? Sudah tiga hari kau tidak pulang ke rumah ini." Ucap mika datar.


Dokter moza tampak terlihat kikuk.


"Apa aku harus mendapat izinmu untuk pulang atau tidak? Kau tidak bisa mengaturku." Sangkal dokter moza ketus.


Mika tersenyum sinis. Pedih rasanya hati mika, mendengar kalimat tajam yang terlontar dari dalam mulut dokter moza kepada dirinya. Dalam benak mika, kenapa bisa ada seorang pria seangkuh dokter moza. Yang kini kenyataannya adalah suaminya sendiri.


Seandainya ia bisa memutar waktu, pasti ia akan menolak pernikahan antara ia dan dokter moza. Lebih baik ia menanggung bebannya sendiri. Mengganggap hal keji yang diperbuat dokter moza kepada dirinya tidak pernah ada.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?! Aku tidak suka. Berani sekali kau bersikap kurang ajar kepada suamimu ya?!". Hardik dokter moza.


Mika masih tetap diam. Tidak ada sedikitpun keinginan untuk meladeni sikap suaminya.


Mika menghela nafasnya panjang. Kemudian ia menatap suaminya dengan tatapan lembut.


"Maafkan sikapku jika telah membuatmu tersinggung. Aku memang tidak memiliki hak apa pun untuk mengatur hidupmu. Sekali lagi tolong maafkan sikapku tadi kepada dirimu. Aku permisi." Terang mika kepada dokter moza.


Kemudian ia berlalu dari hadapan dokter moza. Baru beberapa langkah, mika kembali memutar tubuhnya. Melihat ke arah suaminya.


"Oh iya. Aku sudah memasakkan makanan untukmu. Ada di atas meja makan. Maaf jika setiap masakkanku tidak sesuai dengan selera lidahmu. Semoga kau menyukai hidangan yang telah ku siapkan untukmu." Jelas mika ramah.


Mika kembali memutar tubuhnya. Membuka pintu kamarnya. Kemudian masuk kedalam kamarnya. Menutup rapat pintu kamarnya. Lalu menguncinya.


Dokter moza tampak masih berdiri tegak. Diam membeku. Menatap istrinya yang kini menghilang dari pandangan matanya.


Memang sejak hari pernikahannya dengan mika, ia memutuskan untuk tidak tidur sekamar dengan sang istri. Ia menempatkan mika di kamar lain. Yang memang letak posisi kamar mika ada di sebelah kamarnya.


Sebenarnya ini adalah rumah yang baru ia beli. Ia tidak mau membawa sang istri untuk tinggal di apartement miliknya, atau pun di mansion keluarganya.


Padahal keluarganya selalu memaksa dokter moza untuk segera membawa istrinya ke masion mereka. Untuk tinggal bersama keluarganya. Tapi dengan tegas dokter moza menolak keinginan keluarganya.


Dokter moza berjalan menuju kamarnya. Dengan cepat ia memasuki kamar mandi di dalam kamarnya. Membersihkan dirinya. Tidak membutuhkan waktu lama. Ia sudah memakai pakaian kasualnya.


Dokter moza bergegas menuju ruang makan. Melihat makanan yang tersaji di atas meja.


Ada sedikit perasaan bersalah di dalam hatinya. Seharusnya ia tidak boleh bersikap sekasar tadi kepada istrinya. Jelas itu salah. Seharusnya ia tetap bersikap lembut kepada sang istri.


Sebenarnya ia ingin memanggil sang istri. Ingin mengajak istrinya untuk makan bersama. Menikmati hidangan yang tersaji di atas meja. Yang telah di siapkan oleh istrinya. Hasil masakkan sang istri untuk dirinya.


Namun ia tetap dengan hatinya yang sedikit keras. Tidak menghampiri sang istri yang berada di dalam kamarnya. Tetap membiarkan sang istri di dalam kamar.


Dokter moza mulai menarik kursi makan. Mengambil piring makan yang sudah terletak di atas meja. Mengisi dengan menu yang sudah ada di atas meja. Kemudian ia mulai menikmati makanan yang ada di atas piring makan miliknya.


Tersungging lengkungan senyum dari bibirnya.


'Ternyata wanita ini jago memasak. Masakkannya selalu terasa enak di lidahku.' Gumamnya.


Dokter moza dengan cepat menghabiskan makanannya. Kemudian ia meletakkan piring bekas makanannya ke tempat pencucian piring.


Lalu ia berjalan menuju pintu kamar mika. Ingin mengucapkan terimakasihnya kepada mika.


Namun ketika ia membuka pintu kamar mika, tampak kamar itu tidak ada menunjukkan sosok sang istri. Membuat ia memicingkan kedua matanya.


'Kenapa ia tidak ada di kamarnya?'. Tanya dokter moza di dalam benakknya.