Rie

Rie
Cemburu???



Hujan membasahi bumi. Membuat lembab seluruh lapisan permukaan bumi dan segala isinya.


Terlihat air mata sang awan mengalir deras tanpa bisa terbendung lagi. Seperti sudah lama menahan sesak melihat bumi yang menjadi sedikit gersang dan kering.


Persis seperti gambaran hati sosok ruh dokter bara. Yang tampak tengah berdiri di dalam ruang rawat VVIP tempat tubuhnya berada.


Ia melihat suasana di luar hospital melalui kaca jendela. Tampak, kaca jendela pun di selimuti oleh lapisan embun. Pertanda cuaca yang semakin dingin dan bisa saja membuat orang menjadi membeku.


Tatapan sendu terpancar di wajahnya. Kala memori ingatannya menerawang ke beberapa waktu lalu. Saat pengakuan dari dirinya kepada sosok wanita yang telah mencuri hatinya. Membuat ia malu dan enggan untuk bertemu lagi dengan wanita itu.


Kilas balik memorinya terus berulang-ulang terputar secara rinci di dalam benaknya.


Entah mengapa sejak pengakuan dirinya saat itu tentang perasaannya tiba-tiba saja sosok ruhnya hilang sendiri dari hadapan sosok ruh wanita itu. Seperti ia tidak mampu mendengar jawaban dari wanita yang ia sukai sudah sejak lama. Ia tidak siap menerima penolakkan. Takut jiwanya kembali terguncang kelak. Takut keterpurukkan menghampiri untuk yang kedua kali.


Ia sadar kalau tindakkannya sangat salah dan brutal. Seharusnya ia tidak boleh mengatakan kejujurannya kepada wanita itu. Seharusnya ia tidak boleh mengakui perasaannya kepada wanita itu. Seharusnya perasaan ini tetap dipendam di dalam hatinya. Atau bila perlu dikubur saja sedalam-dalamnya.


Terlalu jahat ia jika bersikap seperti itu. Bukankah ia sendiri sudah tahu kalau wanita itu tidak lagi sendirian? Wanita itu sudah memiliki pasangan. Sudah memiliki seorang suami. Dimana suami dari wanita yang di sukainya sejak ia remaja adalah istri dari kembarannya sendiri. Yang artinya adalah iparnya sendiri. Jelas itu sangat salah.


Namun, keegoisannya selalu memberondong otaknya untuk memaksa sang benak meyakinkan sang hati. Bahwa harus mengungkapkan perasaannya kepada wanita yang sudah lama ia sukai. Tidak boleh membendung perasaan yang terlalu melimpah rasa sayangnya pada wanita itu. Karena nantinya akan bisa terpatri goresan luka yang dalam di hatinya. Yang mungkin saja bisa merusak kehidupannya kelak. Bisa membuat ia frustasi berkepanjangan.


Apalagi wataknya yang tidak pernah bisa mengalah dan tidak mengerti perasaan atau keadaan orang lain. Karena apapun yang ia kehendaki selalu saja di turuti oleh sang Ayah.


Namun, ia tidak memiliki kepribadian yang dingin seperti kembarannya. Sifatnya yang humble dan gampang berbaur dengan orang-orang adalah salah satu pesona dari dirinya. Ditambah lagi ketampanannya yang membuat setiap kaum hawa menjadi luluh. Sama seperti kembarannya yang memiliki pesona dan daya tarik kepada setiap mata yang memandangnya.


Sosok ruh dokter bara mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap langit yang terlihat sendu.


Sementara di perumahan mediterania tepatnya di rumah milik dokter zoey, sepasang suami istri masih terdiam membisu. Kecanggungan tercipta karena percakapan mereka tentang sosok dokter bara yang mengusik ketenangan jiwa dokter zoey.


Entah mengapa dokter zoey seperti enggan membahas tentang kembarannya. Seperti ada dinding pembatas diantara ia dan kembarannya yang sedang koma. Padahal selama ini hubungan antara keduanya baik-baik saja. Hubungan yang sangat rapat. Bagaikan pinang dibelah dua. Begitupun soal paras keduanya. Yang memang mereka adalah kembar identik. Dimana bayi kembar identik ketika lahir memiliki satu plasenta. Sehingga keduanya memang sulit di bedakan karena serupa. Yang membedakan hanya karakter dan watak. Dimana hanya orang tuanya saja yang bisa membedakan.


Namun, ada rasa tidak tega ketika ia menatap wajah istrinya yang polos. Apalagi memang sejak istrinya masih kecil dan ia masih remaja mereka bertiga sudah sangat dekat dan rapat.


Tapi rasa cemburu itu masih mencengkram erat hatinya. Sulit rasanya untuk menggenangkan rasa cemburu itu ikut mengalir bersama hujan deras seperti cuaca di luar saat ini.


"Bara sedang tidak baik-baik saja. Dia koma sejak hari pernikahan kita." Ucap dokter zoey memecahkan keheningan di ruang kamar mereka.


Rie terlihat biasa saja. Karena ia sudah tahu tentang kenyataan yang terjadi dengan dokter bara. Bahkan sudah bertemu dengan dokter bara yang masih dalam bentuk ruh.


"Sayang, aku sudah tahu kalau kak bara sedang koma. Saat kau menemukanku sedang melihatnya di ruang perawatan. Dan kau menculikku kala itu." Ucap rie mengingatkan.


Dokter zoey menatap rie dengan tatapan tajam.


"Lantas jika kau sudah tahu kenapa kau bertanya kepadaku?". Tanya dokter zoey sengit.


Kemarahan sepertinya sudah menyelimuti dokter zoey. Terlihat dari sikapnya terhadap istrinya saat ini.


Dokter zoey menghela nafas panjang.


"Belum ada kemajuan." Jawab dokter zoey sedikit ketus.


"Kasihan sekali kak bara. Aku berharap mudah-mudahan kak bara cepat sadar." Harapan rie kemudian.


Dokter zoey memicingkan matanya. Melihat" sinis kepada istrinya.


"Sudah? Belum cukup ingin membuatku semakin marah?". Tanya dokter zoey tajam dan menyudutkan istrinya.


Seketika wajah rie melongo. Ia tidak sadar karena sikapnya barusan membuat suaminya terbakar api cemburu dan dililit oleh amarah yang kian berkobar. Seperti api yang hendak membakar hangus sebuah bangunan hingga tidak bersisa.


"Apa kau cemburu sayang? Kau benar-benar marah padaku?". Tanya rie seperti tidak percaya.


"Menurutmu?". Dokter zoey membalikkan pertanyaan kepada istrinya.


"Ya ampun. Maafkan aku sayang, aku..." Ucapan rie terputus.


"Bukankah tadi sudah ku katakan kepadamu. Aku tidak suka kau membahas pria lain walaupun orang itu adalah saudaraku sendiri." Terang dokter zoey menyela ucapan istrinya dengan suara yang terdengar sedikit keras.


"Ya, tapi kan..." Kalimat rie kembali terputus.


"Aku ini pria normal Lanny Riecha! Setiap pria akan sama bersikap seperti diriku jika mengalami hal yang serupa. Bisa kah kau menghargai suamimu hah?". Tuntut dokter zoey sedikit lembut.


"Maafkan aku suamiku. Maaf karena aku sudah tidak memahami dirimu. Kan aku tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang pria. Mana aku paham. Ish..." Rutuk rie polos.


Dokter zoey memijit pelipisnya. Kemudian tatapannya yang tajam berubah menjadi lembut. Mungkin karena rasa sayang dan cintanya yang besar kepada sang istri membuat ia tidak bisa berlama-lama untuk marah kepada istrinya. Dan sikap kepolosan rie barusan membuat hatinya menjadi luluh. Terasa geli dan ingin tertawa.


Dokter zoey kemudian terlihat tersenyum tipis.


"Hisshh... Kau ini ya." Ucap dokter zoey.


Dokter zoey menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Memeluk tubuh istrinya dengan erat. Lalu ia mengecup pucuk kepala istrinya.


"Aku tahu sayang. Terimakasih kau sudah menjaga dirimu dan hatimu untukku. Walau kadang kau sedikit menyebalkan." Ujar dokter zoey.


"Ish..." Rutuk rie sambil memukul dada suaminya pelan.


Dokter zoey terkekeh melihat reaksi istrinya saat sedang di dalam dekapannya.


"Lalu, kapan aku boleh meminta hakku sebagai seorang suami hah?" Kata dokter zoey tiba-tiba.


"Hah?". Rie terkejut seketika.