Rie

Rie
Flashback



Beberapa tahun silam...


Alam terlihat keindahan yang hampir tidak bisa diukir dengan kata kata. Alam pegunungan. Berhamparan Pohon pohon yang merata. Berwarna hijau pekat. Suara kicauan kumpulan burung, yang membuat pendengaran seakan merasa bahagia. Bau hutan yang khas. Dan Tiupan angin yang sangat menyejukkan tubuh. Terasa hingga ke tulang. Cuaca yang memang tidak terlalu panas terik yang bisa menyengat kulit.


Terdapat beberapa rumah penduduk. Bangunan khas lama. Dengan kayu papan dan atap jerami. Rumah yang berbentuk rumah panggung. Tapi ada beberapa rumah yang dimiliki orang yang dianggap berada di pegunungan itu. Yang atapnya terbuat dari seng aluminium. dan memiliki aliran listrik yang berasal dari sebuah jenset. Dan ini bukan jenset yang biasa di lihat orang kota. Sebenarnya ini adalah alat untuk mengolah padi jika hari terang. Dan menjadikannya jenset ketika malam hari. Kala mereka hendak menikmati peraduan. Tertidur lelap.


Ada sekitar 8 Desa di alam pegunungan ini. Dan tiap desa terbagi menjadi lima dusun.


Tampak, di desa yang pertama, dusun pulai. Tiga orang anak manusia sedang bermain di halaman rumah seorang anak perempuan dari mereka bertiga. Sementara, dua lagi adalah anak laki laki kembar. Kembar yang tidak identik. Yang memiliki perbedaan 10 tahun lebih tua usianya dari anak perempuan kecil itu. Dua laki laki kembar yang masih remaja, sementara anak kecil yang masih berusia 7 tahun.


"Hey, gadis bayi. Kenapa kau terlihat seperti boneka barbie? Cantik sekali wajahmu" Ucap salah satu anak laki laki kembar yang berkulit putih dan memiliki warna mata yang Hazel.


Gadis kecil itu menekukkan raut wajahnya. Menandakan kalau ia tidak senang dipanggil seperti itu. "Aku bukan bayi, kakak tua" Jawab gadis kecil itu menyindir.


Dan anak laki laki kembar yang satunya lagi, langsung melepas tawanya pecah. Sambil memegang perut datarnya.


"Siapa namamu adik kecil?" Tanya laki laki yang tertawa tadi.


"Kakak muka datar. Aku tidak akan memberitahu kan nama ku. karena aku tidak ingin bertemu kakak kembar yang aneh" Umpat gadis kecil itu sambil menjulurkan lidahnya mengejek.


Laki laki yang tertawa itu seketika langsung terdiam. Lalu menatap wajah gadis kecil itu dengan serius. Sehingga membuat gadis kecil itu menjadi sedikit takut.


"Adik kecil. Tidak apa apa kalau kau tidak ingin memberitahukan namamu padaku. Tapi, Kakak tau dan sangat kenal dekat dengan Ayahmu." Laki laki itu tersenyum sinis. Hingga membuat gadis kecil itu menjadi sedikit pucat.


"Gadis kecil. Kakak menyukaimu. Kau memang sedikit berbeda dengan anak gadis lainnya. Dengar baik baik. Jika kau sudah besar nanti, kakak muka datar ini akan menikahimu. Menjadikanmu istri kakak." Kata lelaki yang di panggil kakak muka datar oleh gadis kecil tadi.


Gadis kecil itu memundurkan langkahnya. Lalu berhenti sejenak. menaikkan kedua tangannya. meletakkan nya ke pinggangnya.


"Kakak muka datar. Aku ini masih kecil. Sangat kecil. Dan kakak sudah besar. Sangat besar. Aku tidak mau jadi istri kakak. Tidak akan pernah mau.!" Teriak gadis kecil itu lantang.


Lelaki yang dipanggil kakak muka tua itu tertawa lepas mendengar teriakkan gadis kecil itu.


Sementara, tepat di belakang lelaki yang dipanggil kakak muka datar, berdiri sosok makhluk astral. Yang tidak memiliki tubuh. Hanya kepala saja. Berwarna hijau, dan rambut model rasta. Dengan wajah yang hancur. Yang tidak bisa digambarkan dengan kata kata.


Gadis kecil itu, melihat dengan jelas. Dan spontan berteriak dengan kencang.


"Aaaaaaaaaaaa!!!" Teriak gadis kecil itu sambil menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangan mungilnya.


Kakak muka datar, dengan cepat menghampiri gadis kecil itu. Gadis kecil imut dan cantik. Sangat cantik. Langsung di rangkul oleh kakak muka datar.


"Adik kecil. Kau kenapa?" Tanya kakak muka datar heran.


"Tidaaaaaaaak!" Teriak gadis kecil itu semakin kencang.