Rie

Rie
Penasaran



Sekitar hampir dua jam telah berlalu. Tampak sedikit ketenangan dari diri mika telah terlihat. Tanda ada perubahan lebih baik di tubuh mika. Walaupun mika masih sesekali memperlihatkan ekspresi meringis karena menahan rasa sakit pada kulit dan daging di mana tempat bekas gigitan tawon tadi.


Mika mulai terlihat tidak merasakan sesak nafas lagi. Tapi wajah mika masih terlihat pucat. Mika mulai merasa mengantuk. Karena rasa lelah yang telah melandanya sejak ia berjuang menahan rasa sakit yang kuat.


Pria berambut blonde masih terus menatap ke arah mika. Kemudian ia memanggil dua orang perawat untuk segera datang di hadapannya.


"Iya dok?" Kata kedua perawat itu serentak.


"Tolong pindahkan segera nona ini keruang perawatan. VIP. Sisanya akan menjadi urusanku." ucap pria berambut blonde.


"Baik dokter." Jawab salah satu perawat.


Dua perawat yang telah di perintahkan mandat oleh pria berambut blonde, sang dokter ahli jantung di hospital yang mereka tengah berada, segera melaksanakan tugasnya.


Memindahkan mika dengan segera keruang perawatan VIP.


Kini mika telah berada di ruang khusus perawatan VIP.


Saat dipindahkan, mika mengalami kesadaran yang tidak penuh. Mika terlelap. Tertidur. Sambil menahan rasa ngilu dan nyeri yang amat kuat.


Bisa digambarkan, bahwa racun yang di berikan oleh tawon tersebut ke dalam tubuh mika, sangat berbahaya.


Untung saja pria berambut blonde segera mengatasinya. Melakukan tindakan medis yang tepat sesuai standar yang telah ditentukan dalam ilmu kesehatan dan kedokteran yang ia pernah kecapi waktu masih di bangku kuliah.


Pria berambut blonde, telah ada di dalam kamar perawatan VIP yang mika tempati. Dia terus menatap ke arah mika.


Beberapa jam telah berlalu. Perlahan mika mulai tersadar dari tidur nyenyaknya. Mika masih meringis. Ia mulai mengerjapkan kedua kelopak matanya. Membuka perlahan kedua kelopak matanya.


Tanpa sengaja mika menangkap sosok pria berambut blonde dengan kedua retinanya, yang sudah berada di dekatnya. Sedang duduk di atas kursi, disamping tempat tidur yang tengah ada dirinya sedang terbaring.


Mika spontan terkejut saat melihat pria berambut blonde. Karena ia merasa tidak dekat dengan pria berambut blonde ini atau pria mana pun.


"Hey, kau sudah sadar?." Tanya pria berambut blonde kepada mika.


"Sudah." Jawab mika.


Pria berambut blonde tersenyum kepada mika. Ia masih menatap wajah mika dengan senyum yang lembut.


"Maaf, kau ini siapa?." Tanya mika polos.


'Sial. Wanita ini masa tidak mengenalku? Aku ini salah satu dokter terbaik di hospital ini. Dan juga terkenal tampan.' Gerutunya dalam hati pria berambut blonde.


"Hey, kau tidak mengenalku?" Tanya pria berambut blonde kepada mika.


Mika menggelengkan kepalanya perlahan. Mulai sedikit merasa bingung. Sambil sesekali meringis kesakitan.


"Aku yang telah menolongmu saat kau terjatuh dan hampir pingsan di depan halaman hospital ini." Jawab pria berambut blonde kepada mika.


Mika menepuk keningnya perlahan dengan menggunakan telapak tangan kanannya.


"Oh maafkan aku. Terimakasih sudah mau menolongku." Balas mika kepada pria berambut blonde.


Pria berambut blonde tampak tersenyum sinis kepada mika.


"Dan itu tidak gratis. Kau berhutang budi padaku nona. Nanti akan ku tagih padamu balasannya." Jelas pria berambut blonde serius.


Pria berambut blonde merasa sedikit kesal kepada mika, karena dia tidak merasa dihargai.


Bagaimana mungkin mika tidak mengenalnya. Padahal dia termasuk dokter ternama dan terkenal juga di hospital ini. Sama dengan dokter zoey dan dokter bara yang sedang koma.


Mika menggangguk dengan lemas. Ada sedikit rasa cemas terbentuk didalam hatinya.


"Kau terlihat melamun saat kau berdiri di halaman depan hospital. Memangnya ada apa? Kalau boleh aku tahu nona?."


Mika mulai meringis kembali. Kemudian ia mengatur nafasnya. Memposisikan tubuhnya dengan benar. Lalu ia menatap ke arah pria berambut blonde.


"Aku sedang berusaha menelepon sahabatku. Tapi dia tidak meresponku. Aku tidak tahu dia ada dimana. Namanya rie. Sudah beberapa hari ia menghilang dari hadapanku." Jelas mika.


"Oh, Rie yang seorang bidan itu? Yang juga bekerja di hospital ini bukan?." Tanya pria berambut blonde kepada mika.


Mika sedikit terkejut. Mika makin Menatap serius kepada pria berambut blonde.


"Bagaimana kau tahu?." Tanya mika kepada pria berambut blonde.


Pria berambut blonde tampak terlihat kembali, memberikan sebuah senyuman yang makin sinis kepada mika.