
Mika mengaduk teh hangat yang baru saja dibuatnya. Rie membuka pintu kamar mandi. Kemudian menutupnya kembali. Rie berjalan menuju tempat tidurnya. Lalu ia duduk dipinggir tempat tidurnya. Mika menatap rie sekilas, dan melangkah menuju kehadapan rie. Sambil membawakan segelas teh hangat yang ia buat tadi.
"Rie, ini teh hangat. Aku membuat untuk kau. Minumlah" Sodor mika kepada rie. Rie mendongak melihat mika yang berdiri tegap di hadapannya. Lalu rie mengambil gelas yang berisi teh hangat. Kemudian menyesapnya sedikit. Lalu ia meletakkan gelas itu di meja pas disamping tempat tidur.
Mika lalu menarik kursi dan duduk dihadapan rie. Lama ia diam sambil menatap rie. Rie masih sedikit bergetar. Hingga Mika ingin membuka percakapan.
"Apa kau sudah tenang rie?" Tanya mika lembut. Rie lalu menggeleng. Dia masih sedikit tegang. Rie mencengkram alas kasurnya.
"Hei. Kau jangan takut. Ada aku disampingmu rie. Kau tidak sendiri. Kalau kau masih merasa tidak nyaman, kau bisa istirahat. Tidurlah. Besok saja kau cerita kepadaku apa yang telah terjadi. Aku siap menunggu jika kau lebih tenang nanti rie." Celoteh mika panjang lebar.
Rie menghembuskan nafasnya. Ia mulai memberikan sugesti kepada dirinya sendiri. 'Ini baik baik saja. aku pasti kuat.' kata rie kepada dirinya sendiri. Lalu rie menatap mika. Mika tersenyum manis kepada rie. Sambil mengusap pucuk kepala rie.
"Aku sedikit tenang mika. Aku mau cerita sekarang saja." Terang rie pada mika.
"Baiklah rie. Aku siap selalu mendengar ceritamu" Ujar mika sambil tersenyum.
"Tadi aku berjalan untuk mencari makanan. Maksudku, aku ingin makan jajanan pinggir jalan. Padahal cuaca tadi itu mendung dan udaranya sangat dingin. Dan waktu juga sudah hampir tengah malam" Cerita rie.
"Terus?" Tanya mika.
"Kira kira 500 meter dari hospital, dekat jembatan. Di daerah itu kan memang sepi. Tidak ada siapa-siapa yang lewat. Tapi aku melihat gerobak. Ada orang yang menjual mie ayam. Tadinya aku sedikit ragu. Tapi aku tetap membeli disitu karena sudah sangat keroncongan lambung ini" Cerita rie lagi.
"Lalu?" Tanya mika lagi.
”Aku bertanya kepada sang penjual. Dan dia jawab masih ada satu porsi lagi. Dan aku langsung menyetujui untuk membelinya. Dan mau makan ditempat itu saja." Jelas rie.
"Setelah itu, sang penjual mengantarkan ke meja tempat aku duduk. Tapi mie ayam itu tidak berbau wangi seperti biasanya mika. Bahkan baunya sangat tengik. Dan rasanya tenggorokanku seperti tidak enak begitu."
”Tapi aku menepis rasa curiga itu. Pas aku ingin menyuapkan sesendok mie ayam itu, aku terkejut tiba tiba. Karena dihadapan ku muncul sosok dokter bara. Melihatku tajam. Terus melihatku. Tapi aku acuhkan saja"
"Apa? sosok dokter bara muncul?" Tanya rie terkejut.
Rie mengangguk membenarkan ucapan mika. "Dan aku menyuapkan kembali mie ayam tadi. Belum masuk ke mulutku, aku melihat di sendok itu terlihat banyak belatung dan cacing. Di Mangkuk itu juga. Lalu aku melihat ke belakang ke arah gerobak. Dan sang penjual itu ternyata bertanduk. Yang bertanduk itu Iblis. Mika aku terkejut. sangat terkejut dan sedikit takut" Cerita rie lagi.
Mika menepuk jidatnya. "Apa? Ya ampun rie" Kata mika kasian kepada rie.
Mika menatap wajah rie. Terlihat muka rie yang begitu tegang. Matanya berkaca kaca. Seperti tangis dari pelupuk matanya hendak pecah. Mika mengusap usap pipi rie.
"Dan aku otomatis berlari secepat cepatnya mika. sampai aku terkejut melihatmu ada didepan Mess kita." Jelas rie.
Mika mengangguk mengerti. kemudian ia pindah dari kursi. Mika lalu duduk disamping rie. "Hey. Kau yang tenang ya rie. Untung tadi kau cepat kembali dan bertemu denganku didepan Mess kita" Jelas mika. Sambil merangkul rie.
"Dan harusnya kau ber-terimakasih kepada Tuhan karena sudah mengirim sosok ruh dokter bara. Kau juga ber-terimakasih kepadanya. Kalau tidak apa yang akan terjadi padamu jika kau sempat memakan mie ayam belatung itu" Kata mika.
"Aku... aku... aku akan mengucapkan terimakasih ku pada dokter bara. Tapi kenapa dokter bara selalu ada didekatku? Itu sedikit aneh. Apa dia masih kritis dalam keadaan koma nya?" Tanya rie bingung.
Mika melepas rangkulannya terhadap rie. Kemudian duduk menyamping menghadap ke rie. "Rie, dokter bara sudah melewati masa kritisnya. Tapi beliau masih koma. Dan keluarga nya belum ada yang datang untuk menjenguk dan menjaganya." Jelas mika pada rie.
"Rie, besok kau akan aku temani. Kau menjenguk dokter bara ya. Sekalian kau ucapkan padanya rasa terimakasih mu itu rie. Sekarang sebaiknya kita istirahat. Kita tidur. Besok kita masuk shift siang" Lagi dan lagi mika menjelaskan pada rie. Rie mengangguk paham.
"Mika, jangan matikan lampu. Biar menyala malam ini" Pinta rie pada mika.